Aku ingin lebih sering pergi berlibur ke tempat-tempat jauh dan indah seperti anggota masyarakat kelas menengah lainnya. Tetapi, karena tidak mampu, aku kerap mengibur diri dengan membaca ulang kalimat Henry Miller yang kutulis di catatan harian. Penulis yang pernah memerankan diri sendiri di beberapa film itu bilang: One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.”

Maka, begitulah, setiap hari aku mencatat di jurnal beberapa perihal yang umumnya kecil dan biasa saja sembari mencari cara baru melihat dan memahaminya. Tidak mudah bagi pemalas sepertiku. Tetapi, di kamus, sulit berbeda dengan mustahil.

Jika kamu membaca catatan ini dengan harapan mendapatkan formula agar bisa berjumpa cara pandang baru, aku punya satu yang selama ini cukup membantu: Belajarlah tidak mempelajari hal-hal yang telah kamu pelajari.

Maaf. Itu sama sekali bukan cara pandang baru. Charles Bukowski, penyair bandel itu, pernah mengatakan: We are here to unlearn the teachings of the church, state, and our educational system.

Jika aku bilang membaca adalah cara terbaik, jelas jauh lebih usang lagi. Kamu barangkali bosan mendengarkan seruan basi semacam itu. Lagi pula, keliru besar. Kamu tidak malas membaca. Aku tahu. Kini kita hidup di zaman ketika anak-anak muda membaca jauuuuh lebih banyak dibanding rata-rata manusia generasi sebelumnya. Kita mampu membaca ratusan atau bahkan ribuan status di media sosial setiap hari. Barangkali setara dengan seratus halaman buku. Kamu, lima atau sepuluh tahu lalu, tidak sekuat itu!

Kamu baru saja membaca setidaknya 230 kata.

*

AKU, akhir-akhir ini, jatuh cinta kepada beberapa penulis Nigeria. Aku merasa tertinggal jauh karena sebagian dari mereka baru kubaca karyanya. Chinua Achebe, Wole Soyinka, Ben Okri, Femi Osofian, Chimamanda Ngozi Adichie, dan Teju Cole. Karya dari Nigeria yang terakhir kubaca sebelum menulis catatan ini adalah puisi berjudul Once Upon a Time. Penulisnya: Gabriel Imomotimi Okara.

Puisi Okara ini secara baik menjelaskan apa yang aku maksud belajar tidak mempelajari hal-hal yang telah kita pelajari. Aku menerjemahkannya secara lepas.

Pada Zaman Dahulu

Pada zaman dahulu, Nak,
mereka tertawa memakai hati
dan tertawa menggunakan mata:
tapi kini semata tertawa dengan gigi,
sementara sepasang mata dingin mereka
mencari entah apa di balik bayanganku.

Pernah sekali waktu, pasti,
mereka berjabat tangan dengan hati:
tetapi tidak lagi, Nak.
Kini mereka berjabat tangan tanpa hati
sementara tangan kiri mereka mencari
entah apa di saku kosongku.

‘Anggap rumah sendiri!’ ‘Datang lagi’:
begitu mereka bilang, dan ketika aku datang
lagi dan berlaku seperti di rumah
sendiri, sekali, dua kali,
tidak akan ada ketiga kali —
karena pintu mereka sudah tertutup bagiku.

Begitulah. Aku telah belajar banyak hal, Nak.
Aku telah belajar mengenakan banyak wajah
seperti wajah-pakaian-rumah, wajah-kantor,
wajah-jalanan, wajah-restoran,
dan semuanya dengan senyuman disesuaikan
bagaikan senyuman kaku di pas foto.

Dan aku juga telah belajar
tertawa hanya menggunakan gigi
dan berjabat tangan tanpa hati.
Aku belajar mengatakan,
‘Sampai jumpa!’,
ketika yang kumaksud ‘
Akhirnya aku bebas!’:
berkata
‘Senang berjumpa dengan Anda’,
dalam keadaan tidak senang sama sekali;
dan bilang
‘Senang bicara dengan Anda’
setelah aku mati karena bosan.

Tetapi, percayalah, Nak.
Aku ingin kembali jadi seperti dulu,
ketika aku masih seperti engkau. Aku ingin
melupakan semua hal yang mematikan suaraku.
Di atas segalanya, aku ingin mempelajari kembali
bagaimana cara tertawa, sebab tawaku di cermin
hanya menampakkan gigi bagai runcing taring ular!

Maka, tunjukkan kepadaku, Nak,
bagaimana cara tertawa; ajari aku.
Aku pernah benar-benar tertawa dan tersenyum
pada zaman dahulu ketika aku masih
seperti engkau.

*

DUA bulan lalu, ada dua perihal yang  kucatat di jurnalku dan ingin kuceritakan di sini. Di depan teman-temanku di Klub Buku Katakerja, dua minggu lalu, aku membahas keduanya. Selama dua bulan terakhir, kami mengkaji buku Ian Scoones, Sustainable Livelihoods and Rural Development, dan demi kepentingan itu kami mesti membaca beberapa buku lain. Jika kamu tertarik ikut, sila temukan alamat kami di sini.

Kamu baru saja membaca lima kata ‘dua’ dalam satu alinea yang dirangkai dengan buruk untuk mempromosikan perpustakaan komunitas kami. Maaf.

Ketika melakukan kesalahan, tampaknya akan selalu ada orang dengan sukarela mengatakan tindakan kita manusiawi. “Jangan terlalu dipikirkan. Namanya juga manusia!” Tidak jarang penghiburan semacam itu manjur meredam dan meredakan separuh rasa bersalah. Sebaliknya, ketika melakukan kebaikan, orang-orang akan menyebut kita berhati malaikat.

Si/apa gerangan yang telah membikin kita berpikir manusia sejatinya jahat?

Itu pertanyaan pertama yang membuatku membaca ulang beberapa buku. Perkara kedua berhubungan dengan foto di awal catatan ini.

Kamu barangkali jarang memerhatikan, tetapi anak kecil berusia kira-kira 3 tahun suka bermain (atau bahkan melakukan aktivitas lain seperti makan) dengan posisi seperti di foto itu. Aku berkawan dengan beberapa anak kecil. Mereka anak sahabat-sahabatku. Aku mulanya memerhatikan hal itu karena sering melihat kawan-kawan kecilku itu tidak betah duduk di kursi. Kenapa anak kecil gemar berpose buang air di kloset jongkok?

Untuk menjawab pertanyaan kedua itu, berdirilah dari tempatmu duduk sekarang. Rapatkan kedua kaki, luruskan punggung, dan tarik lutut ke belakang. Jika merasa ada bagian tubuhmu yang sakit, kamu terlalu lama duduk di kursi. Maksudku, meskipun kamu membaca catatan ini sambil tengkurap, jawabannya tetap kamu sudah terlalu lama duduk di kursi.

Posisi tubuh yang diperagakan anak kecil di foto itu, menurut para ahli tulang, adalah salah satu posisi istirahat normal tulang belakang kita. Itulah sebabnya anak kecil tidak suka duduk di kursi, karena buat mereka tidak nyaman. Mereka bukan mau kurang ajar.

Kita, sebaliknya, terbiasa duduk beberapa jam tiap hari sejak masih di bangku sekolah dasar, atau mungkin sejak taman kanak-kanak. Belum termasuk di tempat kerja. Hitung saja sudah berapa lama kita duduk. Intinya, cukup membuat kita merasa tidak nyaman kembali ke posisi jongkok.

Beberapa pembaca, usai membaca tulisan ini, akan mencari tahu mana yang lebih sehat kloset jongkok atau kloset duduk.

*

SEKARANG mari membayangkan pikiran sama dengan tubuh kita yang terbiasa duduk di kursi, dan kembali ke pertanyaan pertama di atas. Kenapa kita menganggap lumrah mengatakan “namanya juga manusia” saat ada kawan melakukan kesalahan?

Lebih 360 tahun lalu, pada 1651, Thomas Hobbes menerbitkan Leviathan. Di buku itu dia bilang manusia pada dasarnya jahat. Kondisi alaminya: berperang satu sama lain. Makanya dibutuhkan negara yang berkuasa mutlak agar mereka tidak saling membunuh. Pemikiran Hobbes ini memengaruhi banyak pemikir dan terutama politisi setelahnya — bahkan kita tampaknya masih bisa menemukannya di sekeliling kita.

125 tahun kemudian seorang ekonom, Adam Smith, menulis The Wealth of Nations. Sebagaimana Hobbes, di belakang Smith ada barisan panjang pengikut setia, termasuk orang-orang paling berkuasa di negeri kita. Dialah yang bertanggung jawab membuat umat manusia seantero bumi berpikir bahwa, dalam urusan ekonomi, manusia hidup semata demi menenuhi hasrat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Dialah yang membuat manusia menjadi sangat individualistis dan tidak berpikir bahwa fungsi uang adalah untuk memperbaiki kehidupan sesama manusia.

Abad berikutnya, pada 1859, terbit buku Charles Darwin yang hingga kini masih dilarang beredar di Malaysia, The Origin of Species. Pikiran-pikirannya dari buku itu kemudian disederhanakan jadi “survival of the fittest” oleh Herbert Spencer dan para pemikir lain. Pikiran Darwin menyelusup ke beragam bidang pengetahuan. Penyederhanaan pikirannya memperkuat eksistensi homo self-centricus bahwa, untuk bisa bertahan hidup, manusia mesti berkompetisi.

Pada dekade ketiga abad ke-20 terbit buku Sigmund Freud, Civilization and Its Discontents. Dia juga dewa dengan ajaran yang menelusup ke segala celah ilmu. Dia membuat banyak manusia yakin andai tidak ada hukum, demi memenuhi dorongan libido, setiap rumah di kota mereka memiliki penghuni yang pernah memerkosa tetangganya.

Kita terima atau tidak, sadari atau tidak, pikiran-pikiran mereka meresapi pembuluh darah nenek-kakek dan ibu-bapak kita. Itu pula yang kita pelajari karena sejak puluhan tahun lalu kurikulum disterilkan dari pandangan lain. Pelajaran-pelajaran di sekolah dan universitas di negeri ini bersih dari pikiran-pikiran kritis. Belum lagi kita mengomsumsi dengan lahap ajaran-ajaran serupa dalam bermacam bentuk melalui beragam media siang dan malam.

Itulah yang bikin sejumlah orang takut membaca buku-buku yang berbeda pandangan. Bahkan ada yang karena terlalu takut sampai membakar buku yang berhaluan beda dengan hal yang mereka yakini. Padahal membaca buku-buku kiri, misalnya, kalau tidak mau, tidak harus membuatmu kiri. Tapi setidaknya kamu bisa melihat sisi lain dari hal-hal yang kamu yakin.

Hasilnya: kita kian jadi manusia yang tidak berisi apa pun selain diri sendiri — dan terus saja begitu.

Kita bisa bilang, memodifikasi ungkapan Mark Fisher (yang dia pinjam dari Fredric Jameson dan Slavoj Žižek), tampaknya lebih mudah membayangkan akhir dunia daripada membayangkan akhir ketersesatan kita ini.

*

KESALAHAN tentu saja tidak melulu ada di pikiran orang-orang yang memengaruhi cara pandang kita. Keempat pemikir yang kusebut di atas merupakan orang-orang hebat. Buktinya: pikiran mereka masih menguasai pikiran dan tindakan milyaran manusia di bumi.

Ada banyak persoalan kita, terutama di zaman tergesa-gesa ini, selain masalah besar enggan meragukan keyakinan yang telanjur kita peluk dan kemalasan mempertanyakan hal-hal yang tampak apa adanya di sekitar kita.

Pikiran keempat raksasa itu sengaja kuambil contoh untuk menunjukkan beberapa kelemahan (untuk tidak menyebutnya kecerobohan fatal) kita mempelajari sesuatu. Perkara Hobbes, misalnya, salah satunya adalah urusan luput melihat konteks. Apa yang dibilang Hobbes bahwa manusia pada dasarnya jahat adalah imbas nyata dari apa yang dia lihat pada masa itu: Perang Saudara. Dia menyaksikan serangkaian perang saudara di Inggris. Dia melihat di depan hidungnya manusia saling membunuh.

Ihwal lain yang bisa dibaca perkara Hobbes yang acap kali menimpa kita ialah: bias personal. Kita cenderung berpikir persoalan orang lain sama dengan persoalan di sekitar kita (apalagi kalau ditambah pula dengan tidak sadar privilege). Persoalan tertentu di Jakarta bisa tampak sama di Makassar padahal keduanya mungkin amat berbeda.

Masalah lain: membaca sepotong-sepotong. Tidak utuh. Misalnya, ketika hendak memahami pemikiran Darwin. Kita tidak melihat perihal lain yang bikin mahluk hidup bertahan: adaptasi dan kooperasi. Dan, tentu saja, ada banyak penelitian ilmiah yang telah membuktikannya. Kecerobohan serupa akan sering menimpa kita di zaman segala-sesuatu-ada-di-media-sosial. Karena kita semakin terbiasa membaca potongan-potongan pemikiran melalui status di Twitter atau Facebook. Ini alasan kenapa aku lebih senang baca buku dan tulisan panjang di weblog, misalnya, daripada mengikuti atau jadi pemandu sorak twitwar.

Keteledoran lain: enggan membaca alternatif atau kritikan atas satu pemikiran. Kita, misalnya, malas membaca tulisan yang alamak banyaknya mengenai kenapa Adam Smith dan Sigmund Freud mungkin keliru. Contoh nyata di kehidupan Internet: biasanya kita punya web/blog tertentu yang melulu kita kunjungi dan baca — atau beberapa orang yang kita aminkan tiap kali memajang status. Kita kerap tidak sadar sedang memenjarakan diri di tempat yang kita sebut favorit itu. Kita lupa Internet adalah perpustakaan yang maha lapang untuk dijelajahi.

Setiap menit, kita (aku menyebut kita karena aku tidak lebih baik daripada kamu) berpikir sedang menambah pengetahuan baru ke batok kepala kita. Namun, pada akhirnya, kita ternyata tidak memahami satupun persoalan.

Di akhir catatan pagi ini, aku ingin mengutip Noam Chomsky: “The general population doesn’t know what’s happening, and it doesn’t even know that it doesn’t know.”

*

TERIMA kasih telah membaca. Apabila ada yang salah, semuanya datang dari keteledoranku belajar. Apabila ada yang benar, aku sama sekali bukan malaikat!

Kamu baru saja selesai membaca lebih 1.600 kata.

Sudah kubilang, kamu tidak malas membaca. Namun, jika kamu tetap menganggap dirimu malas, mempertanyakan ulang hal-hal yang kamu anggap wajar di sekitarmu dan meragukan hal-hal yang kamu yakini sebetulnya bisa memicu hasrat membaca. Cobalah!

*

Photo by Madi Robson