Foto: Herman Pawellangi (@chimankardus)

Dentingan bening dawai gitar akustik mengiringi suara seorang pria berkulit eksotis yang duduk di atas kursi. Terlihat dia begitu menghayati tiap lirik nyanyiannya, hingga penonton mengeluarkan raut muka mengernyit, pertanda tidak mengerti apa yang dinyanyikannya.

Di jeda  antara lagu pun dia berinteraksi sejenak dengan penonton yang mungkin lagi-lagi tidak mengerti apa yang diucapkannya, tapi dia tetap tidak perduli. Dia tampaknya percaya, bahwa setiap dentingan gitar dan larik lagu yang dinyanyikannya itu  mampu menyatukan semua kalangan yang hadir dari berbagai golongan dan strata sosial. Kepercayaan itulah yang membuat Geoffrey Gurrumul, sang musisi  di atas panggung itu bisa disaksikan tampil di Makassar Jazz Festival 2014.

Geoffrey Gurrumul, yang akrab dikenal dengan Gurrumul saja, adalah  seorang musisi world music  asal Australia yang terlahir buta dan tidak fasih berbahasa Inggris. Dari beberapa artikel daring yang saya baca, Gurrumul lahir di desa Galiwin’ku, Australia Utara, memakai bahasa Yolngu sebagai bahasa mayoritasnya.

Tanpa penglihatan yang sempurna, Gurrumul berhasil tampil dengan tepuk tangan dari penonton Makassar Jazz Festival 2014.

Tanpa penglihatan yang sempurna, Gurrumul berhasil tampil  sembari mengundang tepuk tangan dari penonton Makassar Jazz Festival 2014.

Di Makassar Jazz Festival 2014 hari pertama, Gurrumul menyanyikan beberapa tembang dari dua album yang dirilisnya. Memainkan gitar secara kidal, tangannya cukup lihai berpindah ketika ada perpindahan nada yang terdengar rumit. Beberapa musisi yang mengiringi Gurrumul pun terlihat sukses menjaga ritme nyanyian Gurrumul dalam bahasa Yolngu.

Saya yang merupakan satu dari ribuan orang yang menyimak Geoffrey Gurrumul malam itu, tidak menyangka bahwa dia seorang tuna netra. Hal ini baru saya sadari saat melihatnya dipapah oleh seorang temannya saat berjalan di sekitar area panggung. Bagaimana tidak, nyanyiannya yang syahdu dan meringkih mampu mengalihkan perhatian saya dari penampilan luar Gurrumul.

Kisah musisi inspiratif seperti Gurrumul ini membuat saya semakin yakin hanya musik yang bisa mempersatukan umat manusia. Kekuatan musik yang tidak terlihat secara kasat mata, membuat orang kaya atau miskin bisa berbaur dengan jelas tanpa ada sekat-sekat tertentu.

Gurrumul sempat berduet dengan seorang penyanyi wanita di Makassar Jazz Festival 2014.

Gurrumul sempat berduet dengan seorang penyanyi wanita di Makassar Jazz Festival 2014.

Gurrumul merupakan satu dari beberapa artis yang tampil di Makassar Jazz Festival 2014 yang berlangsung pada 1–2 November lalu di Fort Rotterdam Makassar. .Awalnya saya berekspetasi festival ini hanya menerima musik jazz saja, ternyata memasukkan ragam musik yang lainnya pula, walau masih tetap bersentuhan dengan ranah musik jazz seperti fusion rock, ethnic dan blues.

Salah satunya headliner Makassar Jazz Festival 2014 yang cukup langganan menyambangi Makassar yaitu Gugun Blues Shelter, yang sangat digemari para penikmat musik blues  maupun rock n’ roll di kota ini. Terlihat antusiasme tinggi penonton yang didominasi kaum belia yang merangsek ke bibir panggung saat mereka tampil. Gugun Blues Shelter tidak pernah tidak berhasil mengundang decak kagum dengan akrobatik jari dari Gugun, Jono dan Bowie sekalipun. Aksi panggung yang diletupkan bersama blues a la Stevie Ray Vaughan dipastikan selalu mengundang tepuk tangan di setiap penghujung lagu.

Gugun Blues Shelter penuh kejutan aksi panggung yang atraktif di Makassa Jazz Festival 2014.

Gugun Blues Shelter penuh kejutan aksi panggung yang atraktif di Makassar Jazz Festival 2014.

Shadu Rasjidi Band yang juga tampil pada hari pertama, berhasil mencuri perhatian saya dengan kekuatan fusion rock yang ditampilkannya. Sekilas nafas Jeff Beck dan Level 42 mengalun di tiap nada komposisi lagu yang mereka bawakan. Shadu Rasjidi semangat membetot bass-nya sambil memberikan sedikit arahan kepada koleganya. Putra kebanggaan musisi jazz kawakan Idang Rasjidi ini beberapa kali membuat takjub dengan teknik fingering cepat yang dimilikinya dalam lagu “Bad News for The World”.

Di hari kedua pun penampil Makassar Jazz Festival 2014 tidak kalah ciamiknya.  Beberapa yang tampil di antaranya Fusion Stuff yang dipenuhi musisi jazz kelas berat seperti Khrisna Siregar, Franky Sadikin dan Jeane Phialsa yang baru berusia 21 tahun. Ada pula Smart Reborn dari Manado yang mengalunkan lagunya dengan lirik berbahasa Manado, sekilas terdengar penuh dengan nuansa Timur pada beberapa lagunya.

Makassar yang menjadi tuan rumah tentu pula menghadirkan grup musik jazz yang permainannya ‘gila’ seperti La’biri, 51st Avenue dan Pakarena Etno Mission yang sempat menampilkan Dimas, drummer cilik berusia 10 tahun dengan membawakan lagu dangdut “Sakitnya Tuh Di Sini” yang di-recycle dalam versi jazz.

Imaniar yang lebih dikenal publik sebagai selebriti Indonesia yang wara-wiri di infotainment beberapa waktu lalu, tanpa diduga ikut tampil bersama Makassar All Stars Jazz Band pada hari itu. Kolektif jazz  yang diisi juga oleh Andi Mangara, Idham Noorsaid dan Devian Zakri ini, tanpa ba-bi-bu langsung membawakan beberapa lagu cover version yang akrab di telinga seperti Prahara Cinta (Heidi Yunus) dan Higher Ground (Stevie Wonder, yang juga dipopulerkan Red Hot Chili Peppers).

Petra Sihombing yang didaulat untuk menutup hari kedua Makassar Jazz Festival 2014, terlihat kurang berkharisma sebagai penampil utama. Membawakan cover version dari The Beatles – Come Together dan John Mayer – I Don’t Need No Doctor, Petra tampaknya masih perlu lebih atraktif menyuguhkan tampilannya dalam nuansa sebuah festival jazz.

Terlepas dari kekurangan sana-sini, Makassar Jazz Festival 2014 cukup mampu memberikan sumber referensi musik dan inspirasi yang berbeda untuk dinikmati warga kota Makassar yang semakin konsumtif dan terstratifikasi. Sekaligus berharap di tahun mendatang, Makassar Jazz Festival bisa dinikmati semua kalangan dengan harga terjangkau, agar mereka tidak berpikir lagi merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmati asupan musik yang bergizi.[]