Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Sulit untuk kreatif dalam kondisi ruangan tertutup yang terlalu sepi dan sunyi. Begitu menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuropsychologia. Sama halnya dengan kondisi ruangan yang terlalu ramai atau berisik, malah dapat menimbulkan rasa frustasi atau tidak dapat berkonsentrasi. Tetapi, jika kondisi ruangan masih berada di tengah-tengah kedua hal tersebut, maka ide-ide kreatif akan mengalir.

Salah satu bagian rumah yang diyakini bisa mendatangkan ide-ide kreatif adalah garasi. Seiring perkembangan zaman, garasi bukan lagi sekadar tempat mengamankan kendaraan. Namun, mulai berfungsi semakin luas dan dimanfaatkan oleh anak-anak muda di Barat. Mereka menyulap garasi menjadi tempat latihan band sekaligus berkumpul dengan teman-temannya. Terbukti, banyak band-band dari  belahan dunia yang mulai mengecap popularitas setelah disiplin berlatih di garasi. Dua reka adegan band yang berlatih dengan keras di garasi bisa ditonton di Spike Island (2012) atau Detroit Rock City (1999). (Silahkan tambahkan referensi lainnya di kolom komentar paling bawah 🙂 )

Selain reka adegan fiksi band yang berlatih di garasi, saya sempat menonton salah satu film dokumenter milik Foo Fighters pada tahun 2011 yang bertajuk Foo Fighters Garage Tour . Mereka merekam perjalanan tur mereka dari garasi ke garasi para penggemar Foo Fighters yang rela meminjamkan garasi rumahnya untuk dijadikan ‘tempat pesta’ oleh Foo Fighters. Sudah bisa dibayangkan betapa bisingnya suasana dalam garasi tersebut jika tata suara tidak dikelola dengan baik. Namun Foo Fighters yang ingin mengenang kembali masa-masa sulit mereka berlatih dengan keras di garasi, menjamin hal itu tidak menjadi masalah bagi mereka karena mereka telah mengatur segala sesuatu dengan baik agar penggemarnya bisa menikmati serta merasakan kembali perjuangan mereka menjadi band yang menginspirasi banyak orang.

Semangat Foo Fighters untuk mengakrabkan lagi  fungsi lain dari garasi inilah yang saya bisa rasakan ketika hadir dalam sebuah gig kolektif bernama Garage Live yang diadakan oleh Sabrina Music Studio. Setelah edisi pertama yang bertema Mempetisi Rasa pada 16 Maret 2014 sukses dilaksanakan, Sabrina Music Studio kembali melanjutkan kembali Garage Live edisi kedua yang bertema Bising Bising Tetangga pada 10 Mei 2015 pukul 16.00 WITA – 22.00 WITA, bertempat di garasi Sabrina Music Studio, Jl. Botolempangan No. 37.

Kehadiran edisi ke-dua gig ini semakin membuktikan besarnya semangat independensi yang ingin dikibarkan oleh penyelenggaranya yaitu Icangdead dan koleganya. Mereka menggelarnya tanpa ada sponsor atau bantuan birokrasi pemerintah sedikit pun. Nama temanya pun unik dan tampaknya sengaja dipelintir dari salah satu lagu dangdut berjudul “Bisik Bisik Tetangga” yang dinyanyikan Elvi Sukaesih. Hehehe.

Untuk edisi kedua yang bertema Bising Bising Tetangga ini, gig kolektif non-profit yang menghadirkan 12 band dengan beragam genre mulai dari folk hingga death metal yang bakal tampil adalah Harakiri, Speed Instinct, Freezer, W.A.R, Titik Bias, Night Fury, Anatomy, From Ashes of The Throne, Avara Volturi, Fun Just Fun, Discern Middle, dan Addict Motion.

Garage Live edisi kedua ini pun sepenuhnya didukung oleh Sabrina Music Studio, Revius, dan Bughats Clothing Company. Selain gig musik, band-band yang tampil  serta yang hadir juga diajak berdonasi untuk kaum dhuafa yang bakal disumbangkan sehari setelah Garage Live #2.

Garage #2 yang rencananya bakal dimulai pukul 16.00 WITA, akhirnya dimulai tepat pukul 17.30 dengan dibuka oleh Anatomy, salah satu eksponen death metal tergres asal Makassar, dengan lagu “Bangkai Penjilat Ludah”. Deru double pedal terus melaju diikuti anggukan para metalhead yang sudah berada di bagian depan ketika Anatomy memainkan berturut-turut lagunya, “Organ Tanpa Darah” dan “Gluttonus”.

 

Garage #2 Bising Bising Tetangga dibuka oleh Anatomy, salah satu eksponen death metal tergres asal Makassar.

Garage #2 Bising Bising Tetangga dibuka oleh Anatomy, salah satu eksponen death metal tergres asal Makassar.

Sempat terhenti sejenak karena telah memasuki waktu Maghrib, Anatomy pun melanjutkan dengan “Human Perfection”. Setelah Anatomy tampil, saya sempat berbincang sejenak dengan dua personilnya, Akbar dan Febi, seputar progres band mereka. Mereka pun mengatakan saat ini Anatomy sedang mengerjakan materi dan rekaman untuk drum di LoeJoe Studio.

Penampil selanjutnya di Garage #2 adalah Discern Middleunit hardcore dari Makassar yang baru terbentuk tahun lalu. Discern Middle sukses memecah moshpit menjadi semakin liar karena hardcore kid mulai banyak berhamburan ketika kuintet ini membawakan tiga lagu andalan mereka “Perubahan”, “We Are The One”, dan “Hardcore Life” yang saya tahu belakangan dari mereka kalau lagu ini diciptakan sehari sebelum tampil di Garage #2.

garagevol2_1

Discern Middle sukses memecah moshpit menjadi semakin liar di Bising Bising Tetangga.

W.A.R. yang tampil setelah Discern Middle pun menggempur kembali atmosfir yang memacu adrenalin di Bising Bising Tetangga. Band yang bakal tampil di Bone Lontara Attack pada 20 Mei nanti ini, tidak menyia-yiakan lowongnya moshpit dan mengajak para metalhead kembali maju di shaf terdepan.

Bising Bising Tetangga kembali mengobarkan semangat lagi lewat Night Fury yang memacu adrenalin para metalhead dengan dimotori DJ, sang vokalis, Akbar pada gitar dan Ichlas Nur Cahya di drum. Night Fury malam itu juga tampil bersama Eet Marshall dan Adhi, gitaris dan bassist dari Middle Finger. Letupan metalcore yang dimainkan pun tanpa ba-bi-bu membuat saya refleks headbang mengikuti hentakan lagu mereka.

Night Fury  memacu adrenalin para metalhead dengan dimotori DJ, sang vokalis bersama keempat personil lainnya, Asrul dan Bone pada gitar, Iwan Tede pada bass dan  Ichlas Nur Cahya di drum.

Night Fury memacu adrenalin para metalhead dengan dimotori DJ, sang vokalis, Akbar pada gitar dan Ichlas Nur Cahya di drum. Night Fury malam itu juga tampil bersama Eet Marshall dan Adhi, gitaris dan bassist dari Middle Finger.

Addict Motion menjadi penampil selanjutnya di Bising Bising Tetangga. Kuarter pop punk ini pun membawakan “Runaway”, “Hangover”, “Where I Left You” (lagu dari Man Overboard). Addict Motion yang saya temui setelah tampil, memberi kabar kalau mereka sedang mengerjakan album perdananya yang rencananya keluar bulan 9 yang direkam secara home recording serta membuat EP dengan memasukkan cover lagu band-band yg menginspirasi mereka.

Fun Just Fun, yang bergenre easycore pun melanjutkan kemeriahan panggung rendah tanpa barikade di Bising Bising Tetangga. Suasana musik pop punk yang bercampur dengan letupan gitar hardcore pun menjadi tipikal di tiga lagu yang dibawakan Fun Just Fun. Moshpit pun semakin meliar karena titik penonton yang paling ramai biasanya menjelang pertengahan line-up.

garagevol2_4

Fun Just Fun, yang bergenre easycore pun melanjutkan kemeriahan panggung rendah tanpa barikade di Bising Bising Tetangga.

Avara Volturi yang merupakan unit metalcore terkini dari Makassar pun tampil setelah Fun Just Fun. Dimotori Gita (vokal), Ian Hamzah (gitar), Anggar (gitar), Nyonk (bass) dan Wira (drum). Mereka langsung menggempur moshpit Bising Bising Tetangga dengan membawakan “Desctruction of Revolution”, “Sea Of Bloody Tears”, dan “Light” tanpa memberi jeda sedikitpun untuk menghela nafas sejenak. Vokal Gita yang mengingatkan saya pada ketangguhan Jill Van Diest di Stepforward, sekaligus berjibaku dengan para pejantan di depan moshpit. Kolektif yang baru terbentuk setahun lalu ini juga memberi kabar kepada saya bahwa mereka sedang mengerjakan materi untuk album perdana mereka. Menyimak penampilan mereka malam itu, saya semakin yakin album perdana mereka nanti bakal sangat layak ditunggu-tunggu kehadirannya.

garagevol2_5

Dimotori Gita (vokal), Ian Hamzah (gitar), Anggar (gitar), Nyonk (bass) dan Wira (drum), Avara Volturi langsung menggempur moshpit Bising Bising Tetangga dengan membawakan “Desctruction of Revolution”, “Sea Of Bloody Tears” dan “Light” tanpa memberi jeda sedikitpun untuk menghela nafas sejenak.

Kalau boleh saya menobatkan penampil yang unik  di Bising Bising Tetangga, pilihan saya jatuh pada Titik Bias. Mengusung warna musik folk akustik, Titik Bias pun tampil meredam segala keliaran moshpit dan mengajak audiens untuk duduk sejenak menikmati dentingan gitar akustik yang dimainkan oleh Amin beriringan dengan permainan xylophone yang dipukul oleh Rijal dan vokal yang dilantunkan oleh Nisa. Mengawali dengan “Abrupsi”, Titik Bias cukup ampuh memberi suasana garasi Sabrina Music Studio kembali tenteram. Saya sempat berkelakar dengan mereka soal folk apa yang bakal diusung di Bising Bising Tetangga dan membahas tentang folk yang mencekam. Tetiba saja saya teringat dengan Nick Drake dan Bryter Layter-nya.

 Titik Bias pun tampil meredam segala keliaran moshpit dan mengajak audiens untuk duduk sejenak menikmati dentingan gitar akustik yang dimainkan oleh Amin beriringan dengan permainan xylophone yang dipukul oleh Rijal dan vokal yang dilantunkan oleh Nisa.

Titik Bias pun tampil meredam segala keliaran moshpit dan mengajak audiens untuk duduk sejenak menikmati dentingan gitar akustik yang dimainkan oleh Amin beriringan dengan permainan xylophone yang dipukul oleh Rijal dan vokal yang dilantunkan oleh Nisa.

From Ashes of The Throne mendapat jadwal selanjutnya untuk tampil di Bising Bising Tetangga. Dimotori oleh Cangdead, From Ashes of The Throne yang seringkali disingkat FAOTT pun kembali meliarkan moshpit yang sempat tertidur sejenak oleh kesejukan musik Titik Bias. Harmonisasi dan kelihaian permainan setiap personil sekilas mengingatkan saya pada Nightwish. Saking terkesima dengan penampilan mereka juga, saya pun lupa menanyakan apa saja judul lagu yang mereka bawakan. Hahaha -_-”

Dimotori oleh Cangdead, From Ashes of The Throne yang seringkali disingkat FAOTT pun kembali meliarkan moshpit yang sempat tertidur sejenak oleh kesejukan musik Titik Bias.

Dimotori oleh Cangdead, From Ashes of The Throne yang seringkali disingkat FAOTT pun kembali meliarkan moshpit yang sempat tertidur sejenak oleh kesejukan musik Titik Bias.

Selepas FAOTT tampil, Harakiri yang merupakan salah satu line-up Bising Bising Tetangga yang saya tunggu pun tampil juga. Membawa “Inventress of III : Verse I : The Unsheathed Sword”, “Inventress of III : Verse III : A Shrine of Purity” dan “Inventress of III : Verse VII : Banquet of Hatred”, Harakiri dipastikan memberi jaminan mutu moshpit bakal semakin panas. Ketiga lagu yang mereka bawakan pada malam itu juga merupakan materi-materi baru yang bakal mereka hadirkan di album berikutnya yang sedang dalam proses rekaman.

Selepas FAOTT tampil, Harakiri yang merupakan salah satu line-up Bising Bising Tetangga yang saya tunggu pun tampil juga. Harakiri membawakan materi-materi lagu barunya yang berjudul "Inventress of III : Verse I : The Unsheathed Sword", "Inventress of III : Verse III : A Shrine of Purity" dan "Inventress of III : Verse VII : Banquet of Hatred"

Selepas FAOTT tampil, Harakiri yang merupakan salah satu line-up Bising Bising Tetangga yang saya tunggu pun tampil juga. Harakiri membawakan materi-materi lagu barunya yang berjudul “Inventress of III : Verse I : The Unsheathed Sword”, “Inventress of III : Verse III : A Shrine of Purity” dan “Inventress of III : Verse VII : Banquet of Hatred”

Speed Instinct yang merupakan unit alt-rap rock yang baru saja merilis album perdananya, Real Eyes Realize Real Lies pada 26 April lalu, mendapatkan giliran tampil berikutnya di Bising Bising Tetangga. Membawakan tiga lagu “Resurrection”, What Is Justice”, dan “Order Out Of Chaos”. Speed Instinct juga membagi-bagikan zine kolektif buatan mereka bernama Rapal, yang dibagi-bagi gratis saat mereka tampil di Bising Bising Tetangga. Zine ini menurut Dennis dapat menjadi semacam media perkenalan musik  Speed Instinct maupun ruang diskusi tentang apa saja untuk semua orang yang mau terlibat dalam pembuatan zine ini pada edisi selanjutnya.

Speed Instinct yang merupakan unit alt-rap rock yang baru saja merilis album perdananya, Real Eyes Realize Real Lies pada 26 April lalu, mendapatkan giliran tampil berikutnya di Bising Bising Tetangga. Mereka juga membagikan zine kolektif mereka bernama Rapal.

Speed Instinct yang merupakan unit alt-rap rock yang baru saja merilis album perdananya, Real Eyes Realize Real Lies pada 26 April lalu, mendapatkan giliran tampil berikutnya di Bising Bising Tetangga. Mereka juga membagikan zine kolektif mereka bernama Rapal.

Freezer yang menjadi penampil paling akhir di Bising Bising Tetangga pun sukses menutup helatan kolektif ini dengan dua lagu mereka. Di antaranya, “Albert Einstein” yang mulai mengakrabi kuping saya ketika mereka tampil di sebuah helatan musik tahunan. Freezer pun tak pelak menjadi klimaks dari keliaran moshpit Bising Bising Tetangga malam itu.

Freezer yang menjadi penampil paling akhir di Bising Bising Tetangga pun sukses menutup helatan kolektif ini dengan dua lagu mereka di antaranya, "Albert Einstein" yang mengakrabi kuping saya.

Freezer yang menjadi penampil paling akhir di Bising Bising Tetangga pun sukses menutup helatan kolektif ini dengan dua lagu mereka di antaranya, “Albert Einstein” yang mengakrabi kuping saya.

Melihat para penikmat  musik di Makassar berbondong-bondong mendatangi Sabrina Music Studio hanya untuk menyimak penampilan band-band lokal Makassar di Garage #2, memunculkan rasa salut yang luar biasa melihat semangat seperti ini.  Walaupun jumlah penikmat tidak mencapai ribuan, inovasi-inovasi sederhana seperti yang dilakukan oleh Garage Live seperti inilah yang diharapkan akan memajukan pola bermusik independen di kota Makassar dan menjadi pemicu musisi lainnya untuk menghadirkan hal yang sama pada tahun-tahun berikutnya. Seperti halnya Garage Live, semangat musisi Makassar untuk membuat gig kolektif serupa hingga berbelas-belas edisi yang telah eksis di antaranya Grindhouse Fest, Raw Is Rawa Rawa, No Control, Fight The War, KBJamming di Kedai Buku Jenny serta menyimak di katakerja.

Kehadiran gig-gig seperti ini diharapkan dapat memberi tamparan keras untuk gelaran musik kompetisi dan event musik komersil dukungan pemerintah yang alih-alih mendukung industri musik Makassar, namun pada pencapaiannya, memberi harapan palsu pada musisi-musisi di kota ini.

Sekali lagi, semangat mempetisi rasa yang ditimbulkan oleh Sabrina Musik Studio ini, seharusnya bisa menjadi jejak percontohan untuk komunitas musik lainnya yang ada di kota Makassar. Agar bisa menjunjung tinggi nilai kolektifitas dan tidak sekedar termakan oleh buaian para pemilik modal yang hanya menjalankan naluri bisnisnya semata tanpa mengindahkan kekuatan besar para musisi di kota ini.

Untuk penyelenggara Garage Live, ditunggu kebisingan garasinya dengan ide dan musik yang lebih liar lagi!