Teks: Wahid Affandi | Foto: Papermoon Puppet

Karya-karya Papermoon Puppet Theatre lebih bergaung di luar negeri dibanding di negaranya sendiri. Meski beberapa kali mengisi video klip musik seperti Band Mocca dan Tulus, serta menjadi bagian dari film AADC 2. Banyak orang-orang di Indonesia yang belum familiar mengenai seni teater boneka, terlebih mengetahui atau pernah mendengar nama Papermoon Puppet, terutama orang-orang yang berdomisili di Pulau Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan, meski pun seni pertunjukan seperti itu, semisal Rumah Dongeng, sudah ada di Makassar. Sejajar dengan hal tersebut, pengetahuan tentang seni teater boneka yang diusung oleh Papermoon Puppet Theatre akan segera diasumsikan orang-orang bahwa seni pertunjukan teater boneka itu ditujukan hanya untuk anak-anak dan bukannya orang dewasa. Jelas itu tidak sepenuhnya salah, tapi tak sepenuhnya benar juga. Kehadiran Papermoon Puppet di MIWF 2017 beberapa waktu lalu setidaknya berusaha membetulkan sedikit demi sedikit kekeliruan tersebut.

Berikut wawancara saya dengan suami-istri―Iwan Effendi dan Maria Tri Sulistyani, yang merupakan pendiri sekaligus bertindak sebagai art director, co. art director, sutradara sekaligus penulis naskah cerita dari setiap pertunjukan Papermoon Puppet Theatre.

 

seperti apa Papermoon Puppet Theatre itu?

Kami ini sekumpulan seniman yang bekerja melakukan eksperimen di bidang seni teater boneka. Berdirinya sudah dari tahun 2006. Jadi baru 11 tahun. Dan apa yang kami lakukan itu biasanya mulai dari membuat pentas, karya, mengerjakan proyek-proyek seni visual, dan mengadakan workshop. Setiap dua tahun sekali juga, kami pun menggelar Festival Pesta Boneka.

Biasanya, setiap orang yang berkecimpung di dunia seni, mau dengan medium apa pun, membawa kegelisahannya masing-masing. Kalau Papermoon sendiri membawa kegelisahan apa?

Kegelisahannya itu awalnya malah pada pendidikan seni untuk anak. Dan waktu gempa di Jogja, kami itu keliling di beberapa desa selama setahun di Bantul, Wonosari sama Klaten untuk bikin workshop dan pentas teater boneka. Jadi nanti mereka memunculkan cerita sehari-harinya itu kayak gimana di kamp pengungsian gitulah.

Awalnya bisa sampai dinamakan Papermoon itu gimana sih ceritanya?

Papermoon itu kan artinya bulan kertas―membuat bulan dari kertas. Atau, membuat sesuatu yang istimewa dari sesuatu yang sederhana. Sebenarnya, pesannya itu saja sih. Bulan itu kan sesuatu yang untouchable ya, itu kan kayak nggak mungkin ya kita menyentuhnya. Tapi ketika kita bilang bulan kertas―bulan dari kertas, ya semua orang bisa bikin sendiri dan semua orang bisa memilikinya. Dan semua orang bisa menyentuhnya. Itu bukan lagi sesuatu yang jauh dan tinggi. Jadi Papermoon ingin bikin mimpi yang istimewa dari hal-hal yang sederhana.

Ini pertama kali ya Papermoon ke Makassar, khususnya ke MIWF?

Ini pertama kalinya Papermoon ke Sulawesi. Sebenarnya MIWF itu pingin mengundang kita untuk pentas, tapi aku bilang kami belum kenal Sulawesi sama sekali jadi boleh dong kalau kita kenalan dulu. Ya siapa tahu tahun depan Papermoon datang ke MIWF dan pentas.

Pada MIWF 2017 ini, Papermoon Puppet Theatre mengadakan workshop dengan tema “Puppetry for Beginner”. Apa saja yang dibahas dalam workshop tersebut?

Sebenarnya judul workshop-nya kan Puppetry for Beginner ya, jadi teater boneka untuk pemula. Di situ kita memperkenalkan tentang dasar teater boneka yang Papermoon pakai itu seperti apa, jadi bukan yang hands puppet, yang bilang, “Selamat pagi teman-teman!” Pertunjukan teater boneka Papermoon Puppet sendiri itu pakai teknik yang dinamakan Table Top Puppet, di mana satu boneka dimainkan dua orang atau lebih.

Salah satu pementasan Papermoon Theatre

Dari yang saya lihat, Papermoon Puppet Theatre itu jarang sekali mempertunjukkan teater boneka untuk anak kecil. Kenapa bisa begitu? Apa ada alasannya?

Dulu sebenarnya kami dimulai dari tahun 2006 sampai 2008 itu justru membuat pertunjukan untuk anak-anak. Ya seni petunjukan teater boneka kan dasarnya seperti itu, untuk anak-anak. Lalu setelah tahun-tahun itu kami punya pertanyaan, kayaknya orang dewasa yang menonton pentas kita kok kelihatan lebih exited. Jangan-jangan kita bisa juga nih bikin tema-tema pentas teater boneka untuk orang dewasa. Terus kami bereksperimen dan mencoba pentas teater boneka untuk dewasa. Eh, ketagihan sampai sekarang.

Kok bisa sampai ketagihan membuat pentas teater boneka untuk orang dewasa hingga sekarang?

Ketagihannya sih lebih karena nggak ada rules ya kalau untuk orang dewasa itu, ya nggak banyak, jangan-gini-jangan-gitu-nya. Terserah saja mau bikin apa, dan eksperimennya, mungkin karena kami nggak membatasi usia jadi eksperimennya bisa lebih jauh. Jadi kalau nggak untuk dewasa, ya, untuk semua umur.

Salah satu pertunjukan Papermoon Puppet yang berjudul “Secangkir Kopi dari Playa” konon itu berdasarkan kisah nyata, ya?

Iya, itu kisah nyata. Awalnya kami dapat dari internet lalu dikembangkan dan dibayangkan sendiri. Singkatnya itu kan ceritanya tentang mahasiswa zaman Soekarno bernama Wi, yang punya kekasih bernama Widari, dan saat itu disekolahkan ke Uni Soviet. Terus pas peristiwa 65 pecah dia nggak bisa pulang ke Indonesia.

Sebelumnya di Jogja, Papermoon Puppet Theatre mengadakan Festival Pesta Boneka. Bisa berikan gambaran sedikit ke pembaca revi.us tentang Festival Pesta Boneka tersebut?

Itu sebenarnya acara perayaan seni dengan medium teater boneka internasional. Nah, setiap 2 tahun itu kita mengundang teman-teman pelaku seni teater boneka maupun bukan dan memberikan gambaran tentang seperti apa sih teater boneka itu. Festival ini juga, bisa dibilang, merupakan festival seni teater boneka 2 tahunan pertama yang diadakan di South East Asia.

Di film AADC 2 ada salah satu adegan, di mana saat di Jogja, Rangga dan Cinta menonton pertunjukan teater boneka “Secangkir Kopi dari Playa” yang dibawakan Papermoon Puppet Theatre. Awal keterlibatannya dalam film AADC 2 itu bagaimana?

Sebelumnya kami sudah saling tahu sejak lama. Maksudnya Mas Riri, Mbak Mira dan Papermoon itu, sudah saling tahu. Terus kebetulan karena temanya AADC 2 itu kepingin bikin di Jogja dan mengangkat hal-hal yang orang nggak tahu tentang Jogja, dan mungkin Mbak Mira dan Mas Riri melihat Papermoon sebagai salah satu pelaku seni yang menarik nih karena di Jogja juga, dan di Jogja tuh ada lho kayak gini, bukan hanya Borobudur, andong, Malioboro, tapi di Jogja itu juga ada sekitar 10.000 seniman yang tinggal di sana dan itu tuh nggak pernah terekspos ke orang di luar Jogja. Terus mereka (Mbak Mira dan Mas Riri) kemudian ngobrol, tanyain, tertarik nggak Papermoon jadi bagian dari AADC 2. Ya kami tertarik banget lah. Soalnya kan AADC itu film legendaris. Lalu mereka nanya, kira-kira karya apa dari Papermoon yang paling cocok untuk AADC 2. Waktu itu juga Mas Riri nggak ceritain AADC 2 itu ceritanya mau seperti apa, cuma aku bilang, kalau itu memang tentang Rangga sama Cinta dan satu-satunya cerita cinta yang kita punya, ya, cuma Secangkir Kopi dari Playa. Sebelumnya juga, mereka belum pernah nonton pentasnya. Jadi kami cuma kasih DVD-nya saja. Tapi Niko memang pernah nonton Papermoon saat pentas di Jakarta. Mungkin dia juga yang meyakinkan Mas Riri bahwa cerita itu memang bisa masuk atau cocok untuk jadi bagian di film AADC 2.

Setiap ekspresi dari setiap boneka Papermoon itu tampak seperti orang melamun, apa ada alasannya kenapa dibuat seperti itu?

Itu setelah kami membuat boneka kurang lebih selama 4 tahunan dan di tahun 2009 itu baru ketemu formula boneka yang paling cocok. Jadi ekspresi wajah statis itu bisa dibawa ke range ekspresi yang lebih luar dengan gerakan, dengan efek lampu, efek suara, dan efek-efek yang lain.

Saya pernah sekilas menyaksikan salah satu pertunjukan Papermoon di mana boneka yang digunakan di pertunjukan itu, badannya didesain seperti punya laci yang bisa dibuka dan ditutup, dan seolah menyimpan sesuatu. Bisa diceritakan tidak tentang konsep pembuatan boneka itu?

Kalau yang boneka itu sebenarnya terinspirasi dari salah satu karyanya Salvador Dali, kalau tidak salah, perempuan dengan laci. Kisahnya itu adalah tentang orang yang selalu menyimpan rahasia-rahasia yang dibuang sama orang lain.

Tema MIWF 2017 ini kan “Live in Diversity”, ada tidak hubungannya dengan pentas teater boneka Papermoon Puppet ini dengan tema tersebut?

Kalau secara langsung itu aku rasa nggak, tapi kami pernah menulis cerita tentang tokoh boneka yang laci-laci itu. Dia itu berbeda dengan lainnya dan dia dikucilkan. Maksudnya kita bikin banyak cerita dengan tema-tema berbeda sih. Kita coba menggali hal-hal yang bisa dikomunikasikan, yang kadang ngomongin hal seperti ini kan agak abstrak ya, kalau diomongin langsung juga agak aneh, jadi kalau diomongin dengan seni itu menurutku orang lebih melihat truthful position-nya.

Kalau mau mencari info lebih lanjut tentang Papermoon Puppet, baik itu dari jadwal pentas, workshop atau informasi yang lain, itu bisa dilihat di mana?

Semua agenda biasanya di update di media sosial Papermoon. Jadi kalau di instagram, twitter dan facebook, akunnya itu @papermoonpuppet. Sementara untuk website-nya kita itu bisa dibuka di www.papermoonpuppet.com

*