“Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.”

Nukilan pidato Bung Karno yang berapi-api di atas merupakan pidato kenegaraannya, “Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah”Bung Karno berupaya memantik kembali semangat nasionalisme setelah peristiwa G-30-S yang memilukan bangsa Indonesia di tahun 1965 .

Pidato tersebut juga merupakan pidato kenegaraan terakhirnya. Bung Karno mundur dari jabatannya di tahun 1967 akibat penggalangan opini sistematis terkait dirinya dengan peristiwa G-30-S. Beliau “dipaksa” menerima status sebagai pihak yang bertanggung jawab atas gerakan tersebut. Biang keladinya tidak lain dan tidak bukan adalah rezim Orde Baru.

***

Saya terusik untuk mengulas sedikit kisah nukilan pidato di atas. Penyebabnya adalah setelah menghadiri diskusi dan bedah buku “Why Nations Fail” (Mengapa Negara Gagal) di Kedai Buku Jenny yang menghadirkan Ashry Sallatu dan Muhaimin Zulhair sebagai pemateriSebelum diskusi, pihak Kedai Buku Jenny terlebih dahulu membagikan salinan dari ulasan buku tersebut.

Bedah buku diawali dengan moderasi oleh Bobby dari Kedai Buku Jenny. Selanjutnya kedua pemateri secara bergantian menjelaskan isi buku yang sarat jargon ekonomi politik. Saya masih sangat asing tentang seputar buku tersebut pada awalnya. Judulnya pun terasa janggal.

Pelan-pelan persepsi itu mulai berubah ketika mengikuti jalannya diskusi dan bedah buku ini. Ditambah dengan pemaparan pemateri yang cukup lugas, saya pun perlahan bisa mengikuti diskusi buku–yang ditulis oleh Daron Acemoglu dari Massachusetts Instute of Technology (MIT) dan James A. Robinson dari Harvard University– tanpa banyak mengernyitkan dahi.

“Why Nations Fail”  menjelaskan sebab-akibat negara gagal membangun dan mempertahankan kekuatan ekonomi. Di awal diskusi, pemateri mengemukakan istilah Extractive Institutions (EI) yaitu model dari banyak pihak ke sedikit pihak seperti mengeruk kepentingan masyarakat luas demi kepentingan segelintir elit dan pemimpinnya. Model ini umumnya tampil totaliter di mana angka kemiskinan terus meningkat di negara kaya seperti Indonesia.

Kebalikan EI adalah Inclusive Institutions (II) yaitu model dari sedikit pihak ke banyak pihak dimana beberapa golongan merangkul semua pihak untuk berpartisipasi mencapai tujuan yang disepakatiTermin creative destruction, merujuk pada pemusnahan sesuatu yang lama untuk menciptakan sesuatu yang baru. Ada juga istilah virtuous circles atau “lingkaran setan” yang menurut sang penulis berpusat pada model EI dan critical juncture yakni titik kritis atau kejadian yang menyebabkan patahan-patahan.

Menurut Ashry dan Muhaimin, isi buku memiliki contoh-contoh kasus negara dengan ekonomi gagal yang banyak dan didominasi model EI. James A. Robinson mengumpulkan data-data contoh kasus tersebut hampir selama 15 tahun. Umumnya data-data negara yang memperlihatkan otoritas politik yang tersentralisasi, seperti kerajaan atau negara komunis. Penjabaran kronik sejarahnya cukup lengkap terbentang dari awal bab sampai akhir bab. Hal-hal tersebut yang menjadi nilai lebih dari buku ini.

Tak ada gading yang tak retak, buku ini juga memiliki kekurangan dalam gaya penulisannya. Muhaimin menjelaskan bahwa seringkali penulis menggambarkan contoh-contoh kasus dengan “melingkar-lingkar”. Membuat kesan bertele-tele dan seringkali tidak langsung ke poin utama atau contoh kasus.

Kedua, penyajian yang seperti novel sebenarnya menarik. Sayangnya, tidak disertai dengan penggunaan tanda baca yang jelas pada kutipan. Akibatnya, pembaca bakal kebingungan menentukan mana pendapat sang penulis atau pendapat orang lain. Alur penulisan pun malah mundur ke perdebatan lama tentang fenomena pembangunan yang seharusnya menuju ke arah yang progresif.

Jujur saja, saya berusaha fokus menyimak setiap kalimat atau istilah yang dibahasakan oleh pemateri. Namun, perut mulai berdemonstrasi menuntut asupan nutrisi. Ringkasan buku yang cukup panjang pun saya simpan untuk dibaca di kesempatan lain. Akhirnya, saya urung menyimak lebih jauh dan memilih untuk menunggu berbuka puasa tiba.

NB:  Terima kasih teman-teman di Kedai Buku Jenny telah merangkaikan diskusi buku ini dengan buka puasa bersama yang memberi asupan nutrisi dan kognisi yang sama lezatnya.