Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Manusia dan alam semesta diciptakan Yang Maha Kuasa, merupakan dua sisi yang saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Alam semesta butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya. Hubungan manusia dan alam semesta yang serupa, ada dalam sebuah episode dalam kitab sastra Bugis I La Galigo yang berjudul Ritumpanna Welenrennge yang memiliki makna Tumbangnya Pohon Welenreng.

Episode Ritumpanna Welenrennge menceritakan tentang keinginan kuat Sawerigading untuk membuktikan keberadaan adik kembarnya, We Tenriabeng yang terpisah sejak lahir setelah mendengar keberadaan sang adik dari Pallawagauq, seorang raja di Tompo Tikkaq. Setelah menelusuri keberadaan dan bertemu langsung dengan adiknya, Sawerigading malah jatuh cinta dengan We Tenriabeng. Namun karena mereka bersaudara, pernikahan tidak boleh dilangsungkan karena pernikahan sedarah merupakan pamali.

We Tenriabeng pun mengusulkan Sawerigading untuk berlayar ke negeri Cina untuk menemui I Wecudaiq, seorang putri yang menyerupai kecantikannya. Untuk memuluskan perjalanannya ke sana, Sawerigading yang sudah kehilangan akal karena obsesinya mendatangi I Wecudaiq, tanpa ketakutan sedikitpun malah menebang pohon Welenreng yang merupakan pohon penyeimbang alam semesta untuk dijadikan perahu. Tumbangnya Pohon Welenreng yang ditebang oleh Sawerigading juga mengakibatkan ribuan jenis burung harus kehilangan habitatnya. Keserakahan Sawerigading seperti ini juga menjadi cerminan di kehidupan sehari-hari tentang semena-menanya orang-orang yang memiliki kekuatan untuk mengubah hidup orang banyak dan lingkungan hidup.

Bagaimana jadinya jika episode tersebut berusaha diinterpretasikan dalam sebuah sajian musik kontemporer? Kesempatan menyaksikan bentuk interpretasi seperti itu boleh jadi saya saksikan ketika Melismatis menampilkan karya terbarunya yang secara tersirat bersentuhan dengan episode I La Galigo itu dalam helatan Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-delapan di Rumata’ Artspace, pada hari Minggu (19/4) lalu.

Sekilas tentang Bunyi Bunyi Perhalaman, helatan ini merupakan sebuah music showcase berkonsep edutainment, sebuah pertunjukkan seni yang tak hanya menyuguhkan hiburan semata tetapi juga melibatkan unsur edukasi di dalamnya. Adanya keleluasan musisi untuk membicarakan karya dan ide dengan para audiens, membuat musik itu sendiri tidak mengenal kata ‘batasan’ sama sekali dan juga melahirkan pandangan menarik di setiap edisinya.

Bertepatan pula pada hari Minggu itu adalah merupakan perayaan Record Store Day atau Hari Toko Rekaman Sedunia. VonisMedia, Rumata Art Space dan Hivos selaku pemrakarsa music showcase ini tampaknya menyiapkan waktu yang tepat untuk  Melismatis tampil di Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-delapan ini.

Melismatis yang terbentuk di Makassar pada tahun 2006 dan lebih senang disebut grup ensemble ini berusaha memberikan sebuah penafsiran tersendiri dari episode tersebut dengan menyisipkan kisah tersebut dalam lirik dan suguhan musik kontemporer mereka.

Ketujuh personil Melismatis yang beranggotakan Juang Manyala (gitar/vokal), Ukka Manyala (gitar), Ardhyanta Sampetoding (vokal), Andi Hendra Saputra(bass), Arif Fitrawan (keyboard/synth), Muhammad Nur Adam (perkusi/bebunyian tradisional) serta Muhammad Iksan (drum) yang merupakan teman akrab sejak kecil ini sedang giat berusaha memadukan musik kontemporer mereka yang berada di jalur indie rock yang bertaut dengan bebunyian tradisional dalam karya musik terbarunya, setelah sebelumnya mereka merilis album pertama bertajuk Finding Moon pada tahun 2013 lalu.

Sebelum Melismatis tampil di Bunyi Bunyi Perhalaman di edisi ini, saya sempat menghadiri pre-event Bunyi Bunyi Perhalaman yang meliputi konferensi pers dan sesi akustik bersama Melismatis di Poin House Cafe pada 10 April 2015. Melismatis menyempatkan untuk berbincang seputar persiapan mereka untuk Bunyi Bunyi Perhalaman, mengobrol seputar album berikutnya dan memainkan tiga lagu mereka.

Melismatis juga mengunjungi beberapa stasiun radio di kota Makassar untuk promosi Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-delapan tiga hari sebelumnya. Pada saat mereka berbincang-bincang dalam sesi di sebuah radio dan saya menyempatkan diri untuk mendengarnya, Melismatis pun membeberkan nama album berikut mereka yaitu Semesta dan Rupa Pesona yang bakal dihadirkan dalam format double album. Wah! Tentu saja hal ini  membuat antusiasme saya yang semakin berlipat ganda semenjak pertama kali mengakrabi musik dan aksi panggung yang mereka sajikan sejak empat tahun lalu. Antusiasme yang semakin meninggi ini dikarenakan imaji tentang albumnya yang luar biasa, apalagi jika sudah bisa memegang rilisan fisik double album ini nantinya.

Masih diliputi suasana antusias tentang album kedua mereka, tanpa disadari pula Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-delapan pun sampai pada hari digelarnya. Linimasa di akun media sosial saya mulai ramai dengan cuitan dan update terbaru dari teman-teman penyimak Melismatis yang mengajak untuk segera merapat ke Rumata’ ArtSpace. Sepertinya ini merupakan hari istimewa untuk Melismatis dan yang ingin hadir menyaksikan mereka. Saya bahkan sempat memprediksi jika helatan bisa jadi diadakan tepat waktu pada pukul 15.00 WITA seperti tertera di poster, mengingat waktu yang terbatas hanya tiga jam saja karena acara hanya sampai pukul 18.00 seperti biasa. Terlebih lagi, Melismatis memiliki setlist lagu-lagu baru yang rata-rata berdurasi di atas lima menit.

Saya akhirnya tiba di gerbang pagar Rumata’ Art Space pada pukul 16.00 WITA, setelah sebelumnya ingin hadir tepat waktu, tapi masih harus berkutat mengurusi beberapa hal sebelumnya. Saya sempat mengira bakal terlambat satu jam untuk menyaksikan penampilan Melismatis karena mereka sudah siap dengan instrumen masing-masing di panggung yang terletak di halaman belakang Rumata’ Artspace. Usut punya usut, Melismatis ternyata belum memulai penampilan mereka setelah saya diberitahu oleh seorang teman yang duduk di samping saya. Hal ini sepertinya dikarenakan pada rentang pukul 15.00-16.00 WITA merupakan waktu shalat Ashar.  Langsung saja saya bernafas lega sejenak karena masih bisa menyaksikan penampilan mereka secara utuh.

Melismatis walhasil memulai penampilan mereka sore itu dengan lagu “Sepi” yang diambil dari album pertama mereka. Lagu yang diciptakan Hendra, sang bassis ini pun mengalun lirih perlahan dengan dentingan dawai gitar yang memuncak dengan harmonisasi vokal seluruh personil dan teriakan vokal Ardhyanta yang geram seolah-olah rasa sepi yang merasuk dan terucap dalam dirinya. Lagu selanjutnya yang disuguhkan Melismatis adalah “Hawa Biru” yang secara tersirat berkisah tentang perempuan-perempuan Bugis yang tangguh.  Lagu ini sebelumnya pernah diperdengarkan versi demo-nya oleh Arif, sang keyboardis kepada saya ketika belum menjadi lagu yang utuh. Akhirnya pada sore itu, saya baru kembali mendengar dan menyakini bahwa “Hawa Biru” telah menjadi bagian dari Melismatis.

Melismatis walhasil memulai penampilan mereka sore itu dengan lagu "Sepi" yang diambil dari album pertama mereka. Lagu yang diciptakan Hendra, sang bassis ini pun mengalun lirih perlahan dengan dentingan dawai gitar yang memuncak dengan harmonisasi vokal seluruh personil dan teriakan vokal Ardhyanta yang geram seolah-olah rasa sepi yang merasuk dan terucap dalam dirinya.

Melismatis walhasil memulai penampilan mereka sore itu dengan lagu “Sepi” yang diambil dari album pertama mereka. Lagu yang diciptakan Hendra, sang bassis ini pun mengalun lirih perlahan dengan dentingan dawai gitar yang memuncak dengan harmonisasi vokal seluruh personil dan teriakan vokal Ardhyanta yang geram seolah-olah rasa sepi yang merasuk dan terucap dalam dirinya.

Sesi diskusi penciptaan karya Melismatis pun dimulai setelah “Sepi dan “Hawa Biru” dibawakan. Beberapa orang termasuk saya pun menyempatkan bertanya tentang bagaimana penciptaan karya mereka yang tampaknya butuh proses panjang ini. Melismatis pun menjawab satu demi satu pertanyaan dan tanggapan atas karya mereka, salah satunya tentang proses penciptaan dan rekaman mereka memang butuh waktu panjang dan kesabaran ekstra.

Terlebih lagi untuk album kedua yang mana Melismatis berusaha lebih kuat memaknai lagunya di bagian lirik. Proses album kedua ini pun telah memakan waktu tiga tahun, yang juga sudah berjalan ketika album pertama mereka selesai. Perihal Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ini diadakan bertepatan dengan Record Store Day, dijelaskan oleh Abdi dari Rumata’ Artspace yang menyatakan pemilihan tanggal ini kebetulan saja, karena tanggal 19 April merupakan waktu lowong yang pas. Hal ini dikarenakan pada hari-hari sebelumnya pihak Rumata’ Artspace disibukkan dengan persiapan menjelang Makassar International Writers Festival 2015.

Selepas diskusi yang menarik, repertoar selanjutnya yang dibawakan Melismatis setelah sesi diskusi pertama yakni “Bahkan Langgit Pun Tersanggah”. Lagu ini sempat saya dengar ketika mereka tampil akustikan di pre-event pada 10 April lalu. Lagu yang berjudul cukup unik dan puitis ini otomatis jadi lagu favorit saya, begitu teduh rasanya dinikmati apalagi ketika sambil menutup mata untuk meresapi alunan nadanya. Setelah lagu tersebut dibawakan, Juang pun bercerita sedikit kalau lagu ini terinspirasi dari episode Ritumpanna Welenrennge yang ada di dalam kitab sastra I La Galigo. Bagaimana Pohon Welenreng ditebang oleh Sawerigading untuk dijadikan perahu dan pelayaran Sawerigading ke Cina menjadi bagian yang menginspirasi Juang dan Melismatis untuk menerjemahkan dalam bentuk musik yang ingin mereka tampilkan.

01

“Semesta” yang menjadi lagu berikutnya dibawakan oleh Melismatis tampaknya akrab terdengar di kuping saya. Lagu ini beberapa kali saya simak ketika mereka tampil di beberapa panggung mereka sekitar tahun 2012-2013, kalau tidak salah judul awalnya yaitu “Long Journey”. Ardhyanta yang sempat mengobrol sejenak dengan saya setelah helatan selesai, membenarkan kalau lagu yang pasti masuk dalam album kedua ini umurnya yang ‘paling tua’ dibandingkan lagu-lagu lainnya.

“Tirani” pun selanjutnya melengkapi repertoar Melismatis sore itu. Lagu ini sepintas mengingatkan saya pada perpaduan gaya musik Caspian, unit post-rock asal Amerika dan Mew, kuartet indie rock asal Denmark. Walaupun begitu, saya masih bisa merasakan sedikit ‘benang merah’ yang ingin diretas Melismatis untuk lagu baru ini.

Selepas membawakan “Tirani”, Melismatis pun membawakan “Mata Tertutup” yang tak perlu lama menjadi salah satu lagu kesukaan saya, karena pada bagian akhir lagu para personil saling koor bersamaan dengan lirik yang sayup-sayup memuat kata “meninggi” dan “benderang” . Lagu ini pula menjadi penanda bagi Melismatis bagaimana mereka meramu beberapa bagian lagu yang progresi akordnya berbeda dan telah dipikirkan matang-matang,untuk bisa saling bertautan satu sama lain. Saya menangkap sekilas semangat prog-rock a la Genesis, Yes bahkan Marillion yang bertemu dengan keriangan musik akordeon a la Beirut, hadir dalam ‘ruh’ lagu ini.

Perjalanan musik Melismatis yang berani mengeksplorasi bebunyian modern berpaduan dengan bebunyian tradisional di Bunyi Bunyi Perhalaman sore itu, terlihat usaha keras mereka sedang merintis jejak untuk membuka seluas-luasnya kesempatan kepada khalayak ramai mendengarkan lagu-lagu dari album Semesta dan Rupa Pesona. Sebuah karya yang cukup ambisius yang sudah wajib hadir dalam koleksi rilisan fisik setiap penyimak musik Melismatis. Album kedua Melismatis ini rencananya bakal dirilis pada akhir tahun ini bisa menambahkan semangat para personil khususnya dan tentunya para musisi independen Makassar lainnya untuk berkarya lagi dan lagi.

Selain eksplorasi musiknya yang memukau, perjuangan dan konsistensi mereka untuk menghidupkan kembali gairah scene  musik di Makassar tampaknya perlahan berbuah manis pada tahun ini. Banyak band yang mulai berani merilis karyanya masing-masing setelah Melismatis mampu menghadirkan sebuah terobosan seperti yang mungkin tanpa mereka sadari telah melakukannya: merilis album sendiri ketika rilisan fisik album musisi Makassar bisa dihitung jari pada tahun 2011 sampai 2013 dan secara tidak langsung membuka mata para musisi Makassar untuk bangga atas karyanya sendiri. Dalam tulisan ini, saya ikut mengamini do’a tersirat Melismatis dari karyanya: semoga ‘mata-mata yang tertutup’ itu turut benderang! []


 Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise