oleh: Abdullah Fikri Ashri (@abdullah_fikri)

Seseorang yang saya anggap sebagai guru bertanya, “kenapa kampus dan masyarakat terpisah?”.  Dia mengkritik kampus yang seolah-olah hanya nyaman dalam batasan ‘pagarnya’. Hal itu menunjukkan bahwa kampus seakan mengawang-awang dengan berbagai teori tanpa menyentuh masyarakat. Contoh sederhana, kampus semakin bertambah, tetapi kenapa permasalahan masyarakat juga bertambah?.

Penggusuran masih terjadi, kemiskinan utamanya di kota kian merebak, konflik antar warga masih berulang, akses untuk pendidikan juga masih sulit, harga pangan yang kian ‘mencekik’, dan lainnya. Ketika masyarakat mengalami permasalahan tersebut di mana peran kampus yang memiliki esensi tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat?

Apakah para mahasiswa dan dosen sekarang beralih peran dan fungsi? Mengapa mahasiswa lebih bangga dan antusias ketika tampil dalam acara stasiun televisi dengan jas almamaternya meski tanpa peran lebih selain menjadi penonton yang diatur kapan harus bertepuk tangan atau tertawa?

Mereka hanya berteriak, tertawa, dan mengikuti arahan kru televisi untuk ‘meramaikan’ acara tersebut. Hal ini membuat mahasiswa melupakan sejatinya sebagai agen mengabdi kepada masyarakat. Dosen pun kini hanya menjadi pengamat atas masalah-masalah sosial yang terjadi dan seakan-akan keluar dari bagian masyarakat yang seharusnya dapat menyelesaikan masalah sesuai intelektualitas mereka.

Dosen hanya menulis buku yang tidak dibaca orang dan hanya untuk kenaikan pangkat (mengumpulkan poin). Proyek penelitian berlimpah dengan dana yang lumayan besar tanpa memikirkan tepat guna penelitian yang dilakukan bagi masyarakat.

Kampus tidak boleh diam saja atas permasalahan dan ketimpangan yang terjadi. Menurut Donald Kennedy dalam academic duty (1998) tanggung jawab dan etika pengajar perguruan tinggi adalah mengajar, menulis,  dan yang terpenting menyampaikan kebenaran.

Kebenaran harus sesuai dengan ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi masyarakat, bukan kebenaran yang diartikan oleh penguasa. Kampus seharusnya menjadi bagian dari penyelesaian masalah. Penelitian yang dilakukan kampus seharusnya dapat berkontribusi langsung pada masyarakat.

Ketika ketergantungan terhadap pangan impor seharusnya kampus dapat memberikan masukan yang objektif kepada pemerintah dalam menentukan kebijakannya. Tidak hanya itu, kampus seharusnya dapat memberikan pengembangan terhadap tanaman lokal sehingga tidak bergantung lagi pada pangan impor.

Kampus seharusnya tidak hanya menjadi ‘pabrik’ para pembicara di seminar atau diskusi tetapi juga menghasilkan mahasiswa maupun dosen yang memiliki kontribusi langsung terhadap masyarakat.

Inti dari pendidikan adalah kebermanfaatan. Kampus harus bermanfaat langsung terhadap masyarakat. Setiap tahunnya begitu banyak skripsi, tesis, maupun disertasi yang objek penelitiannya adalah masyarakat.

Mahasiswa dan dosen akan mendapatkan gelar dan kenaikan pangkat, lantas masyarakat dapat apa?

Kampus, dan semua yang ada di dalamnya,  harus membumi bagaikan tanah yang memberikan manfaat langsung kepada makhluk hidup.

Ayo membumikan kampus!

image: Ivory Tower (2014) Poster