Foto: BEM FISIP UNHAS (@bemfisip_UH

“Jangan dipikirkan terlalu jauh. Tindakan itu (graffiti) dilakukan hanya karena kami ingin melakukannya.” Begitu kata Ucok yang telah pensiun dari kegiatan menulisi dinding kota pada 1990-an. Saya menemukan komentarnya dalam artikel Dinding Kota, Kanvas Kami yang dimuat Pikiran Rakyat.

Kegiatan yang dilakukan Ucok, juga pernah saya lakukan saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ketika geng-geng antar-siswa sedang subur bermekaran. Mencoreti tembok kota dengan nama geng menjadi salah satu tradisi. Tembok kota menjadi media yang baik sebagai penunjang eksistensi. Tembok pun menjadi seksi. Perebutan tempat tak terhindarkan dan cukup sering memantik kericuhan. Saat itu, graffiti bagi saya adalah menggambari atau menulisi tembok kota, hanya itu. Saat melakukannya saya tidak berpikir itu benar atau salah. Saya tidak ingin menyampaikan pesan, apalagi berpikir bahwa itu adalah bentuk protes atas komodifikasi ruang publik yang dimonopoli oleh pihak tertentu. Jika ditanya mengapa saya melakukannya, selain karena hanya ingin melakukannya, adalah untuk ajang pamer keberanian dan eksistensi geng kami.

Jauh setelah kenangan yang menggelikan itu, saya melihat karya street art makin berkembang, baik secara bentuk maupun isi. Tidak jarang, saya melihat sebuah karya street art, secara bentuk menarik, begitupun secara isi, dan ada juga sebaliknya, bentuk kurang menarik, isi kosong. Street art sedang tumbuh di Makassar dan layak untuk diperhatikan.

Dengan tema “Suara Dari Tembok Kota,” INSTORI (Instalasi Otak Kiri) yang digagas oleh BEM Kema Fisip Unhas yang bekerja sama dengan Penahitam dan STOFO, mencoba memberikan ruang untuk street art dan para pelakunya. Suara Dari Tembok Kota adalah sebuah usaha untuk memahami kegiatan street art. INSTORI berlangsung tiga hari, 26 Oktober hingga 28 Oktober 2016 di Fisip Unhas. Di hari pertama ada sesi diskusi yang membahas tentang Fenomena Mural dan Graffiti Dalam Persektif Sosial Politik yang dibawakan oleh Viny Mamonto, Swatantra, dan Dedi. Sayang sekali, saya tidak dapat mengikuti sesi diskusi ini.

img_0612

img_0613

Di hari ke dua ada live painting dan jamming.  Aws.one dan Kema Fisip artist adalah eksekutor untuk live painting, diiringi band-band indie seperti Kapal Udara, Wild Horse, Ruang Baca, Omorfi, Vahalla, dan Burning The Hawks. Walaupun tempat eksekusi dan live painting berdekatan, bahkan sangat dekat, perhatian saya pecah, antara menyaksikan live painting atau penampilan dari band-band menarik itu. Seperti ada dua wanita cantik mendekat, saya bingung memilih yang mana, keduanya menarik. Sangat dilematis. Di hari ke tiga, ada pemutaran film Banksy Exit Throught The Gift Shop dan workshop menggambar anatomi tubuh oleh Ikra-Man dari STOFO. Kesialan datang dua kali, saya absen di hari ke tiga. Di sela-sela kegiatan itu, kita bisa menikmati beberapa karya dari Penahitam, STOFO, dan Kema Fisip artist yang dipamerkan. Ada juga lapakan buku untuk membelanjakan rezeki di jalan yang benar dari Dialektika, Kedai Buku Jenny, Paradigma Group, dan Katakerja.

img_0615

“Jarang ada pesan yang ingin kita sampaikan. Itu hanya kegiatan untuk menampilkan ego kita di ruang publik. Tetapi tanpa pesan yang eksplisit sekali pun, sebenarnya kegiatan graffiti sudah merupakan bentuk perlawanan terhadap pembatasan menampilkan ekspresi di ruang publik. Graffiti itu sampai sekarang kan ilegal. Artinya kita dilarang menuliskan sesuatu di ruang publik, dan seniman graffiti melakukan hal itu untuk melawan pembatasan itu,” kata Ucok dalam tulisan yang sama. Itu terbukti lewat apa yang dikerjakan TAKI 183. TAKI 183 berhasil menginspirasi dan menjadi perbincangan dengan menulis namanya di tembok-tembok kota New York, membuat New York menjadi papan nama bagi TAKI 183. Tapi, Banksy, seorang writers asal Inggris melakukan hal yang berbeda. Dalam karyanya, Banksy ingin menunjukan dan menyampaikan sebuah masalah, sederhananya lebih provokatif. Menurut saya karya Banksy mewakili pernyataan Tisna Sanjaya, seorang perupa yang juga pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, “Seni graffiti yang bagus menyampaikan dua hal, pertama secara teknis, bentuk, format dan berbagai unsur visual dari seni graffiti sangat estetik, ekspresif dan yang kedua adalah isi, pesan dari seni graffiti itu sendiri dalam konteks situasi sosial, kebudayaan, politik, dan ekonomi di mana seni graffiti itu ditampilkan bisa memberikan inspirasi, menyentuh hati nurani kemanusiaan.”

Street art memang sampai hari ini masih pro dan kontra, baik keberadaan maupun bentuk dan isinya. Tetapi walaupun begitu, kehadiran street art juga perlu kita perhitungkan, karena saya pikir street art sebagai karya seni yang lain, mempunyai kekuatan sendiri dalam menstimulasi penikmatnya. Apalagi media yang digunakan adalah ruang publik yang tentu diakses oleh banyak orang. 

Street art adalah suara yang hadir di tembok kota dan setiap street artist tentu saja bebas bersuara. Tetapi, tidak semua suara nyaman didengarkan, bukan? Suara dari coretan saya sewaktu SMA contohnya.