Oleh: Artha Kusuma ( @nebulasenja ) | Ilustrasi: Andi Wirangga L. ( @andiwirangga )

Aku terlahir prematur, kata kakek.

Kakek yang pertama kali menceritakan kelahiranku, tentang bagaimana ibu mengandungku selama tujuh bulan. Dari yang kakek ceritakan, aku terlahir dengan berat badan yang rendah, juga memiliki jantung yang lemah. Ibu selalu diam ketika aku bertanya tentang masa kecilku. Aku bertanya kepada kakek, setelah berseragam biru putih. Semasa sekolah dulu ibu selalu berpesan padaku agar tidak terlalu capai, dan tidak usah mengikuti kegiatan olah raga di sekolah. Ketika bermain sepak bola, tiba-tiba kepalaku pusing lalu tak sadarkan diri. Itu yang diceritakan oleh temanku semasa duduk di bangku kelas enam SD. Bisa dibilang aku mampu pingsan dua kali dalam sehari, jika keadaan tubuhku benar-benar lelah. Aku selalu dimarahi, ketika pulang sekolah dalam keadaan berkeringat. Waktu itu aku belum sadar, bila dalam tubuhku memiliki kekurangan.

Namun sebelum kelulusan SD, ada hal aneh yang terjadi pada diriku. Aku mampu keluar dari tubuhku. Kulihat tubuhku sendiri, yang sedang terduduk. Tapi aku tak mampu menembus tembok atau benda-benda lain. Kulihat temanku yang sedang berjalan, kucoba merasuki tubuhnya, dan berhasil. Akhirnya ini kelebihan dari segala kekuranganku. Pelan-pelan kurasuki tubuhku sendiri. Antara cemas dan takjub akan kemampuanku yang di luar nalar manusia. Setelah aku berlatih cukup lama dengan kemampuan aneh ini, diriku sanggup merasuk ke tubuh orang lain dengan begitu cepat. Bisa dibilang seperti mesin waktu atau teleportasi. Kata orang Jawa dulu telepati. Sekarang aku mampu bermain bola tanpa perlu kecapaian, dengan cara diriku merasuki temanku, ketika sedang bermain bola, atau kegiatan apapun yang tak mampu aku lakukan.

Setelah kemampuan yang ajaib itu. Ibuku tidak pernah memarahiku lagi ketika pulang sekolah. Hingga sekarang duduk di kelas dua menengah. Aku tidak lagi menggunakan keanehan itu. Aku berpikir, semua yang kulakukan bukan kemampuanku, aku hanya sebuah arwah yang merasuki tubuh-tubuh orang lain. Semakin ke sini kondisi tubuhku semakin membaik, tidak ada lagi jantung yang lemah. Sekarang aku mampu bermain bola, berlari dan meloncat.

Nur. Perempuan pertama yang kusuka di sekolah, yang mampu melemahkan jantungku lagi. Nur memiliki mata yang bagus, mata yang seperti bulan. Sorot matanya begitu mampu menundukkanku. Setiap malam aku selalu bercerita tentang Nur kepada Ibuku. Dan ibuku selalu tersenyum saat mendengarnya. Ibu berpesan kepadaku, “Nak, bila kau mencintainya dengan perasaan sungguh-sungguh, jatuhkan dia ke dalam pelukkanmu.” Alangkah indahnya apa yang ibu katakan. “Jatuhkan dia ke dalam pelukanmu.” Itu yang membuatku semakin percaya diri. Nur, perempuan pertama yang kuceritakan kepada ibu. Nur, cinta pertamaku.

Tanpa ada angin dan hujan, diriku mendapat kabar buruk mengenai, Nur. Perempuan yang aku cintai. Dia tewas tertembak saat rumahnya dirampok pada malam hari yang sunyi. Saat itu juga hatiku benar-benar kehilangan.

Pada hari pemakamannya, kulihat teman-temanku menangis, kehilangan Nur. Perempuan yang lucu di mataku juga teman-temanku. Aku ingin mati tertembak seperti Nur, rasanya aku ingin merasakan apa yang dirasakan selama waktu kematiannya. Aku tidak ikut ke pemakaman, rasanya hatiku tidak kuat lagi. Selama di rumah aku lebih banyak mengurung diri di kamar, merenungkan Nur. Pintu kamar terbuka, kulihat ibuku tersenyum kepadaku. “Sudahlah nak, biarkan Nur tenang di alam sana. Bila kau terus merenungkannya, Nur akan selalu bersedih.” Apa yang diucapkan ibu memang benar. Perasaan bangkit mulai tumbuh, seperti pohon jati yang menguatkan akar-akarnya ke dalam tanah.

“Sudah jangan terus mengurung diri, nak. Menutup diri bukan tempat yang aman, sebab, luka, sanggup merasuki dari mana saja” ucap ibu sambil tersenyum padaku.

Aku tidak lagi melihat Nur melintasi depan kelasku, atau duduk di taman sekolah. Merindu memang seperti alat pembunuh, semacam artileri yang menembakan mortar ke arah tubuhku. Namun aku tak pernah mati walau sudah tertembak ribuan kali. Sepulang sekolah aku tidak mempunyai cerita untuk diceritakan kepada ibu. Ibu selalu menceritakan aku tentang orang yang selalu patah hati, Almarhum Ayahku. Ibu tidak pernah merampungkan ceritanya. Biarkan itu menjadi rahasia ibu.

***

Setelah lewat setahun, aku tidak begitu mengingat lagi, tak lagi sesedih dulu. Namun aku masih ingin mati tertembak seperti Nur. Selepas kelulusanku, aku mendapat jatah liburan yang cukup. Setiap hari aku habiskan dengan membaca buku puisi. Keinginan mati tertembak semakin besar.

Tanpa disadari aku sudah begitu lama tidak mencoba kekuatan anehku, kurasuki tubuh cicak itu, berkeliling ke seluruh ruangan. Lalu berpindah merasuki seekor semut dan kembali lagi ke dalam tubuh sendiri. Ibu sudah tidak lagi menonton televisi, jam di dinding menunjukan pukul sepuluh malam. Haruki kucing kesayanganku, sudah pulas tertidur di sampingku. Kupejamkan mata menuju alam mimpi. Kudengar suara aneh di belakang rumah, segera aku merasuki tubuh cicak yang sedang mengumpat di balik lemari. Kulihat seorang perampok memasuki ruang keluarga. Ibu! Itu yang teringat pada saat itu. Menuju ventilasi kamar ibu, kurasuki tubuh ibu. Untuk meloncat keluar jendela. Namun sebelum itu semua kulakukan, perampok itu berhasil memasuki kamar ibu lebih dulu. Aku di dalam tubuh ibuku, memilih menyerah. Kutunjukan semua uang dan perhiasaan yang tersimpan di dalam lemari. “Cepat ikuti saya!” ucap perampok. Perampok itu menuju ke dalam kamarku.

Segera aku mendudukkan tubuh ibuku, kurasuki tubuhku sendiri. Perampok menyuruhku duduk di samping ibuku. Ibuku masih tertidur. Aku tidak ingin merasuki tubuh perampok itu, karena aku berpikir akan terjadi apa-apa, bila saja perampok nekat lalu menembak ke arahku atau ke arah ibuku, itu yang aku takutkan.

Ibu terbangun dari tidurnya, “Ini apa-apaan!”

Perampok begitu panik ketika ibu terbangun dari tidurnya, dengan begitu terkejutnya. Duarr!!! Peluru itu berhasil keluar dari sarangnya. Kurasuki tubuh ibuku. Peluru berhasil menembus perutku, perut ibuku. Perampok memilih kabur sebelum orang-orang terbangun. Aku keluar dari dalam tubuhku. Kulihat tubuhku berdarah, dengan peluru yang bersarang di dalam perutku. Ibu bangkit dan berteriak sekeras-kerasnya meminta tolong, setelah melihatku mati tertembak. Saat itu juga orang-orang berkumpul di dalam rumahku. Kulihat banyak sekali orang berkerumun di halaman rumahku.

Sekarang aku menjadi seekor kucing, dan mimpiku telah dikabulkan, mati dengan cara tertembak. Tidak ada lagi tentangku, tidak juga tentang Nur. Sekarang aku adalah seekor kucing bernama Haruki.

Meeoww!


Baca artikel Prose lainnya

Menjadi Aktivis

Artefak Masa Depan

Dunia Sialan

Tiada Cinta yang Kekal dan Percuma

Benny Harus Kuat!