Foto: M. Ifan Adhitya (@ifandfun)

Indonesia selalu penuh dengan pesona yang indah untuk dibingkai dalam sebuah karya. Para seniman banyak yang terinspirasi membuat karya besarnya setelah menyimak dan merasakan kebesaran ciptaan Tuhan Yang Maha Esa untuk negeri gema ripah loh jinawi ini, baik dari seni audio, seni visual hingga seni audio-visual. Itu pun tidak bisa dipisahkan dari kuatnya akar budaya yang juga membuat semakin luasnya khazanah seni di Indonesia.

Budaya sehari-hari rakyat Indonesia pula juga tidak kalah menariknya disuguhkan dalam kanvas sebuah lukisan. Mulai dari kegiatan sehari-hari di pasar, maupun kesibukan nelayan di pesisir pantai pun menjadi ciri khas tersendiri untuk dituangkan dalam karya seni yang paling mengandalkan indera penglihatan ini untuk menyimaknya. Objek lukisan seperti itu yang ingin ditampilkan oleh seniman fine art atau seni rupa, Jung Keun Shin dari Korea Selatan dan Greys Lockheart dari Filipina yang menggelar pameran “Speaking Portraits, Shifting Spaces” di Rumata’ Art Space, dari tanggal 4 sampai 11 Januari 2015 lalu.

Curah hujan yang cukup rutin bagaikan shift kerja di beberapa hari digelarnya pameran, membuat saya pun harus merencanakan secara matang untuk hadir di pameran hanya pada hari penutupan. Ya, pada hari penutupan pameran pun bakal ditutup dengan apik oleh penampilan istimewa oleh Melismatis, kelompok ensembel post-rock asal Makassar favorit saya.

Saya pun menginjakkan kaki di Rumata’ Art Space menjelang pukul lima sore. Saat memasuki ruangan pameran, sudah terlihat lukisan yang mengundang mata untuk menyimak lebih dalam. Terlihat beberapa lukisannya penuh dengan warna-warna cerah, namun tetap membuat mata adem menyaksikannya.

Lukisannya pun menggambarkan secara lugas maupun tersirat suasana Indonesia dari mata sang perupa. Banyak yang bernuansa simbol-simbol yang umum ditemui oleh mata kita di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Ada mesjid, burung garuda, perempuan berhijab dan kala senja.

Acara penutupan untuk pameran ternyata dimulai pada pukul tujuh malam. Penutupan pameran pun dibuka oleh Jung Keun Shin dan Greys Lockheart  yang mengucapkan sepatah kata bersama Abdi Karya dari Rumata’ Art Space yang menerjemahkan ucapan mereka, karena  Shin dan Greys hanya mengerti dan bisa mengeluarkan beberapa kata Bahasa Indonesia saja. Abdi pun berpesan kepada audiens yang hadir untuk ikut berpartisipasi dalam membeli karya kedua perupa yang harganya berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Jung Keun Shin dan Greys Lockheart mengucapkan sepatah kata sebelum membuka pameran hari terakhir "Speaking Portraits, Shifting Spaces".

Jung Keun Shin dan Greys Lockheart mengucapkan sepatah kata sebelum membuka pameran hari terakhir “Speaking Portraits, Shifting Spaces”.

05

Salah satu lukisan karya Jung Keun Shin yang menggambarkan suasana Indonesia yang penuh dengan mesjid ketika dia menetap belajar S2 di Yogyakarta.

Jung Keun Shin dan Greys Lockheart yang saya temui saat pameran berlangsung memang berniat untuk membuat karya yang bernuansa Indonesia selama mereka menempuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Karya-karya ini pun dibuat selama mereka menetap di Makassar. Karena itulah mereka memilih Makassar sebagai kota pertama untuk menggelar pameran “Speaking Portraits, Shifting Spaces” ini.

Lukisan Jung Keun Shin yang umumnya didominasi gambar mesjid dan suasana aktivitas masyarakat di tempat Jung Keun Shin menetap selama di Yogyakarta. Kemudian yang paling menarik adalah dua lukisan besar yang menyerupai wajah perempuan berhijab yang diekspos sedemikian menarik oleh Greys Lockheart dalam media cat air.

Lukisan yang menampakkan beberapa perempuan berhijab menyambut saya di pintu masuk ruangan pameran.

Lukisan yang menampakkan beberapa perempuan berhijab menyambut saya di pintu masuk ruangan pameran.

Beberapa karya Jung Keun Shin yang didominasi lukisan mesjid dalam berbagai rupa yang diberi pigura putih di Speaking Portraits, Shifting Spaces.

Beberapa karya Jung Keun Shin yang didominasi lukisan mesjid dan perempuan berhijab dalam berbagai rupa yang diberi pigura putih di Speaking Portraits, Shifting Spaces.

Melismatis  pun sukses menutup pameran di awal tahun ini dengan menyuguhkan suguhan musik post-rock yang mampu menaikkan adrenalin di tengah suasana pameran penuh warna ini. Mereka pun memainkan beberapa lagu dari album pertama mereka, Finding Moon dan lagu baru dari album berikutnya yang rencananya rilis tahun 2015, Semesta.

Melismatis Setlist 11 Januari 2014

Setlist Melismatis di Pameran Speaking Portraits, Shifting Spaces, Rumata’ Art Space yang berhasil saya dapatkan setelah mereka menuntaskan penampilannya.

Juang Manyala, gitaris dari Melismatis yang saya temui sehabis tampil pun berbincang sejenak dengan saya mengapa Melismatis tertarik untuk terlibat di pameran ini. Dia pun mengungkapkan kekagumannya bisa terlibat dalam acara ini bersama Melismatis.

“Sejak 2012 kami mengenal Rumata’ Art Space. Di sini selalu menjadi tempat yg membahagiakan bagi kami. Itulah makanya, kami tidak pernah menolak diajak tampil di sini. Rasanya Rumata’ datang menemani dalam “misi” kami mencintai kota ini. Rata-rata yang datang menonton hampir semua keluarga dan kerabat. Rasanya seperti manggung di rumah sendiri. Ini cerita panggung pertama Melismatis di tahun 2015.”, ujar Juang panjang lebar.

Melismatis menjadi penampil yang menghipnotis pengunjung yang hadir di Speaking Portraits, Shifting Spaces.

Melismatis menjadi penampil yang menghipnotis pengunjung yang hadir di Speaking Portraits, Shifting Spaces.

Menyimak pameran seperti Speaking Portraits, Shifting Spaces ini memang tidak rutin ada setiap bulan di kota ini. Ekspektasi terbesar untuk pameran ini adalah bisa menjadi pembuka yang menarik di awal tahun yang bisa mencetuskan pameran serupa dari para seniman fine art di kota ini. Ya, banyak karya-karya yang seperti J.K. Shin dan Greys Lockheart yang tidak kalah dari perupa-perupa muda yang mulai merambah media sosial untuk menggunggah karyanya.  Apalagi Rumata’ Art Space sudah menyediakan tempat eksibisi yang memadai untuk para seniman bisa mempersembahkan karyanya untuk dinikmati bersama-sama. Tabik! []