Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

International Bitter Day, sebuah EP yang menjadi awal manis dari “tren” perilisan kaset dan CD. Rilisan dari Elevation Records ini terbilang niat dikerjakan mulai dari warna musik sampai desain packaging-nya. Secara visual, International Bitter Day mengambil gaya Bauhaus era untuk menceritakan isi EP ini. Seperti apakah gaya yang dimaksud? Jika anda belum punya gambaran sama sekali, tidak ada ruginya jika anda mulai melihat dan mendengarkan musik dari Fami_ di sini.

collage

Ilustrasi alien dikerjakan pacarnya, Jesse, dan sisanya dieksekusi oleh Lody Andrian, seniman berdarah campuran Jawa-Ambon yang jatuh cinta dengan literasi visual dan musik dari kecil. Sejak mengambil studi Desain Komunikasi Visual dan membentuk band thrash metal, Fakecivil, Lody lebih sibuk menerbitkan majalah independen; Crushing Magazine dan Rock N’ Roll Magazine.

Aktivitasnya itu membawanya ke bidang jurnalistik dan musik secara bersamaan. Sekarang Lody menjadi visual journalist di media nasional berbahasa Inggris dan contributor fotografer untuk Vice Magazine (U.S.) demi subsidi untuk majalah independennya.

10314588_10204369486504850_1117873974253427902_n

Bagaimana proses kreatif dari pembuatan artwork ini? 

Awalnya tentu mendengarkan lagu-lagu dari keseluruhan album, lalu brainstorming dengan label tentang bagaimana format yang akan dirilis; seperti packaging, insertion,dll. Nah disitu tercetus ide untuk membuat seri artwork dari kelima lagu Fami_ yang pada akhirnya menjadi sedikit eksperimental. Ide packaging design-nya sendiri berangkat dari televisi, karena televisi adalah media elektronik yang dianggap futuristik pada era-nya, sama halnya dengan dot-com-boom internet untuk masyarakat kontemporer seperti sekarang ini, yang di mana Elevation Records menemukan musik Fami_ juga di Internet (pada situs Soundcloud.com). Dengan packaging design seperti itu, album Fami_ akan terdistribusi dengan artwork yang berbeda-beda, dan menurut kami itu unik dan sedikit random. Hahaha.

Kembali lagi ke artwork, beberapa dari lagu tersebut adalah instrumental/ambience, tantangannya adalah bagaimana saya mampu membuat visualisasi yang mampu menyerap keseluruhan komposisi tanpa lirik. Akhirnya, saya mencoba menempatkan posisi saya sebagai musisi, mencoba merasakan apa yang dirasa dan yang ingin disampaikan lewat judul. Karena antara musik, judul dan ilustrasi, harus mempunyai korelasi di antaranya. Track demi track saya putar, alhasil sketsa seperti saluran televisi rusak, wajah manusia yang bolong, gelombang frekuensi, keluar begitu saja dari alam bawah sadar. Prosesnya lumayan memakan waktu yang lama, dari brainstorming, sketsa, lalu pindah ke kanvas digital dan finishing. Jadi sedikit molor dari jadwal rilis. Hehe. Beberapa track seperti “International Bitter Day” sudah ada kolase ilustrasi yang merupakan ilustrasi asli dari album ini, jadi saya yang membuat sisanya seperti lagu; Membusuklah Bersamaku, Delusional Permanence, My Schism Your Perspective, dan Gegap Gulana. 

Apa saja alat dan media yang digunakan dalam setiap artwork dalam International Bitter Day?

Eksekusinya, kelima artwork tersebut menggunakan graphic software di komputer, seperti Adobe Photoshop dan Illustrator. Kalau pada tahap sketsa saya coret-coret di mana saja. 

When did the project exactly start and for how long?

Saya lupa tepatnya kapan dimulainya, tapi sejauh saya mengingat prosesnya kurang lebih memakan waktu dua setengah bulan.

Mengapa memilih style the Bauhaus era untuk menggambarkan keseluruhan tema EP ini?

Dalam sejarah seni rupa barat, era itu adalah era di mana para seniman visual mulai mengabaikan acuan-acuan lama dan mencari gaya baru dengan mengandalkan berbagai medium, oleh karenanya era ini ditandai sebagai era modernitas. Ditandai oleh komposisi yang assymetrical, namun mempunyai displin-disiplin tertentu yang masih tergolong liar. Long story short, prinsip-prinsip tersebut yang akhirnya saya suntikkan untuk International Bitter Day. Seperti yang kita tahu, bahwa Fami_ adalah one man band yang mengolah instrumen dari sumber tak terbatas di jagad maya; Ia menyelipkan harmoni Sitar dari Youtube, meminjam bebunyian lain dari game Grand Theft Auto, yang bisa kita kategorikan sebagai karya kontemporer modern di Information age. Dan ketika hasil perkawinan antara lirik dan judul lagu Fami_ yang justru beraroma punk dengan tema yang saya pilih di atas, keseluruhan visual album ini tepatnya menjadi Bauhaus 2.0!

Saya penasaran dengan setiap artwork di EP ini. Pesan apa yang ingin disampaikan dari setiap artwork tersebut? 

Pesan yang saya ingin sampaikan adalah pesan yang ingin Fami_ sampaikan. Hahaha. Sebagai visual artist terhadap masing-masing judul, saya berusaha memperbesar imaji pendengar terhadap komposisi pada lagu-lagu ini lewat visual. Saling mengisi kekosongan satu sama lain, namun dari dimensi yang berbeda; sound and vision.

83525c3a5a5eb58798f901a683f7bd06

Apa yang pertama terlintas ketika pertama mendengarkan musik dari Fami_?

Musik Fami_ yang pertama kali saya dengar adalah Gegap Gulana. Dan pada saat itu, saya seperti sedang dibawa dalam situasi hura-hura namun suram. 

What do you think about this album?

Dari sudut pandang saya, album ini seperti mampu membawa saya ke tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya adalah pemuja rock and roll dan heavy metal, saya juga mendalami atau sekedar mendengar berbagai jenis genre musik, dan to be honest, kejelekan saya adalah selalu mencoba mencari kemiripan dengan musisi lain atau membandingkannya. Namun saya tidak bisa membandingkan musik pada album ini dengan album lain, atau musisi lain. 

What’s your favourite track?

Gegap Gulana

a1cf60319a6bc1c2dc09ea2f6bb7244f

Whats the most unusual stuff that you’re working with? 

Sejauh ini, melihat ayunan di dalam kamar mandi, singgasana imitasi, dan mewawancarai ketujuh belas umat Eden berjubah ‘ihram’ putih di Istana Eden adalah yang paling aneh di dalam hidup saya. hahaha. Saya rasa itu adalah pekerjaan yang paling aneh. 

Give us recommended indie musician from your hometown and tell us why.

Band horror-punk yang sangat-sangat Indonesia, Kelelawar Malam.

Last, do you believe in alien?

Saya percaya pada kemungkinan. Jujur saja saya belum pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri benda-benda langit yang aneh yang bisa saya asumsikan sebagai UFO. Awalnya saya tidak percaya dengan apa yang tidak saya lihat. Tapi bukannya langit diciptakan untuk menutup segala kemungkinan yang menurut kitab suci manapun tidak mungkin manusia bisa ketahui? Tapi kesimpulan saya menjadi berubah ketika mengetahui penelitian dari Harvard University telah mencapai planet yang bernama Super Earth. Dan kemudian saya mendengar kabar bahwa Harvard membuka kelas baru untuk menggali lebih dalam tentang Super Earth yang letaknya jutaan ribu cahaya dari galaksi Bima Sakti. Dan sekarang kampus nomer satu di dunia itu berkesimpulan bahwa Super Earth adalah planet di mana alien tinggal.


Baca seri artikel lainnya dari Local Album Artworker’s Story

Kisah Bagus tentang Alkisah

“Gambar itu Sebenarnya Asal Jadi”

“Kelelawar Menjadi Inspirasi Saya”

The Super Duper Grindcore Artworker

“Desain dan Musik menjadi Poligami Saya”

“Little Details Create Perfection”