Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Secara normal, manusia terlahir di bumi diiringi dengan tangisan. Sering atau tidaknya tangisan seorang bayi diprediksi akan berpengaruh pada kekebalan tubuhnya kelak. Dalam melakoni hidup sehari-hari, para bayi-bayi akan tumbuh besar seiring pertambahan tahun. Mereka kemudian tumbuh menjadi balita, remaja, dewasa, tua dan mati. Tidak bisa dipungkiri bahwa hidup sudah seperti bermain dadu. Siapa yang mendapatkan peruntungan yang baik tentu akan berbahagia. Begitu pula sebaliknya.
Jika mengaitkan antara menangis dan berbahagia tentu akan menjadi hal yang kontradiktif. Selama ini mungkin ada banyak orang yang berpikir bahwa menangis adalah suatu kewajiban yang harus kita lakukan ketika sedang terjebak dalam kesedihan. Beberapanya lagi meyakini bahwa menangis adalah suatu bentuk kelemahan yang menyedihkan. Bahwa berbahagia harus selalu dengan tertawa dan melepaskan beban tanpa sedikit pun air mata.

Namun jika kembali ditelisik lebih jauh, menangis adalah hal lumrah yang bisa dilakukan oleh semua orang. Tidak terbatas pada gender. Lelaki maupun perempuan setidaknya sekali dalam seumur hidup pasti pernah mengalaminya. Windy Ariestanty bahkan membuat sebuah tulisan dengan judul menangis di blognya. Iya beranggapan bahwa menangis benar tidak akan menyelesaikan persoalan. Tapi pada beberapa hal, menangis adalah bantuan yang sesungguhnya diperlukan. Sebuah bantuan kecil yang jarang mau diakui sebagai bantuan. Diam-diam membuat kita merasa lebih baik.

Berbahagia dan hidup dengan  baik tentu menjadi harapan setiap orang. Berusaha menghindarkan diri dari kesusahan dan segala macam pesakitan. Bahagia bisa datang dari mana dan dari siapa saja. Setiap orang berhak pula untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Seorang sahabat pernah menepuk pundak saya ketika sedang bersedih dan kemudian berkata, “Jika kau merasa belum mendapatkan kebahagiaan, kau bisa saja mencuri sedikit punya Tuhan.”

Saat sudah merasa terasing dan jauh dari apa yang diharapkan, perasaan sedih akan dengan mudah berkunjung. Sedih dan kemudian menangis sepertinya memang saling melengkapi. Fit Sugar bahkan mengadakan penelitian bahwasanya 85% wanita dan 73% pria mengaku rasa marah dan sedih akan berkurang setelah menangis. Menurut saya, menangis juga cara ampuh untuk mencuci bola mata yang kotor. Entah karena debu atau karena rindu atau apa saja itu yang menyakitkan.

Para ahli kemudian menambahkan, menangis bukan hanya respon tubuh terhadap kesedihan dan rasa frustasi. Tetapi juga adalah tanda dari aktifitas tubuh yang sehat. Sebab diketahui bahwa ketika seseorang menangis, maka tubuhnya akan mengeluarkan zat yang bernama endorfin. Suatu zat  yang bertugas menstabilkan mood dan keseimbangan emosi atau biasa juga disebut dengan hormon bahagia. Apa yang kemudian terjadi jika seseorang mengalami stres? Selain dihina oleh orang-orang yang sudah merasa dirinya waras, stres juga dapat meningkatkan resiko jantung dan kerusakan otak. Maka bisa disimpulkan bahwa menangis juga banyak mengandung manfaat. Selain itu, menangis dapat menjadi tanda bahwa kita sudah berusaha untuk hidup sehat dengan mengeluarkan semua yang jahat dari tubuh.

Akan ada kelegaan tersendiri yang hadir apabila seseorang mengeluarkan air mata karena menangis. Sebab mengeluarkan air mata bukan hanya semata-mata karena ingin menangis. Entah itu kelilipan atau sedang tertawa bergembira, air mata pun juga dapat muncul dari situ. Manusia sepertinya perlu untuk jujur dengan diri sendiri. Sebab terkadang tidak semua hal bisa diselesaikan dengan senyuman. Menjadi tidak baik-baik saja juga penting. Ketidakbaik-baik sajaan mengajarkan kita untuk lebih baik lagi. Untuk mengakui bahwa kita pun punya titik henti. Titik untuk berhenti dan bernapas sesekali.

Setelah membahas sedikit tentang menangis dan mengapa itu perlu, maka ini saatnya belajar untuk terbangun dan tersenyum kembali. Seorang daeng-daeng bakso sebelah pernah berkata bahwa manusia juga butuh sejenak untuk beristirahat. Seperti anak panah, dia harus rela mundur demi melesat lebih jauh. Tidak ada hal yang mudah di dunia ini meski sudah dinalar berulang kali. Tidak ada. Kita hidup di suatu masa yang mengharuskan untuk berakulturasi. Bertemu dengan banyak orang. Mendapat banyak kebahagiaan atau malah banyak kesakitan.

Jadi, kepada siapa pun kamu yang sedang membaca ini; bersegerahlah bahagia. Entah setelah mengucurkan banyak air mata, atau karena sudah mendapat hasil curian bahagia punya Tuhan.


Baca tulisan lainnya dari Nurul Fadhillah

Panggung Menjadi Ruang-Ruang Kebebasan

Tentang Keheningan di Sela Acara Tawa

Ketakutan Saya tentang Makassar di Masa Depan

Sebut Saja ini Keberuntungan Pemula

Belajar Mengingat Hari Bersama Yetti