Oleh: Imam Rahmanto (@Imam_Rahmanto)* | Ilustrasi: Aisyah Azalya (@syhzly)

“Air mata itu hadir untuk membasuh jiwa”

Ada banyak hal yang sering terjadi dengan kita. Beragam persoalan yang menimpa hidup, menimpa kita, bahkan yang menimpa orang lain pun kadang kala membuat kita meneteskan air mata.

Sudah seringkali saya menemukan teman-teman saya meneteskan air mata. Kebanyakan sih perempuan. Entah karena persoalan pekerjaan, tersinggung, terharu, tersakiti, atau hanya sekadar menonton sebuah film. Sebulan lalu, minggu lalu, bahkan kemarin.

Tapi, ada pula loh perempuan yang sama sekali taidak bisa menangis di depan orang lain, meskipun itu teman-temannya. Setengah mati mereka menahan air mata yang keluar, biasanya jelas tergurat di wajahnya, tapi toh ketika sudah menyendiri ia menumpahkan semua. Nah, jenis wanita yang kuat.

Tidak hanya perempuan yang biasanya sangat mudah meneteskan air mata. Bahkan, seorang laki-laki, seperti saya pun pernah menangis. Dulu, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya juga sering menangis,kok. Kenapa? Haha.. ada banyak hal sepele yang berhasil membuat saya menjadi anak cengeng di seumuran saya. Bahkan, menonton film India pun saya biasanya menangis terharu.

Masih jelas dalam ingatan saya label “cengeng” yang selalu disematkan teman-teman pada saya.

“Dasar cengeng,” ledek salah seorang teman masa kecil saya sambil melet-melet di hadapan saya. Ia menjulurkan lidahnya dengan melebarkan jemarinya di kiri-kanan kepalanya sembari terus meledek saya.

Saya yang masih kecil dan belum bisa berbuat apa-apa (sebagai orang lemah) hanya bisa memasang tampang sebal. Oh ya, malah jika kejengkelan saya memuncak, terkadang saya memungut batu (sebesar-besarnya) di sekitar saya dan mengancamkannya pada teman yang meledek itu. Pernah loh saya nyaris melemparnya. Haha…nyaris saja kepala teman saya bocor. 😛

“Jadi laki-laki tidak boleh gampang menangis!” pesan ayah saya selalu ketika melihat saya menangis. Seperti yang saya ketahui, ia tak pernah suka melihat anak lelakinya menangis memperlihatkan kelemahannya.

“Wajar kalau teman-temanmu suka ledekin kamu,” tegas ayah saya. Akh, ketika hal seperti itu terjadi, saya malah berharap ayah saya bisa menjadi pelindung bagi anaknya. Anaknya yang dianiaya, lha kok malah anaknya pula yang dimarahi? Setidaknya dibela biar gak nangis terus. Jika terjadi seperti itu, saya terkadang membayangkan kepengen memiliki seorang kakak yang akan melindungi saya dari olok-olok teman saya.

Gara-gara cengeng itu, saya juga minder untuk bergaul dengan teman-teman seumuran saya, yang pada masanya bisa dibilang “gaul”. Beruntung saja, saya punya kelebihan lain ketika SD dulu, sehingga bisa sedikit mengaburkan label “cengeng” itu. Apalagi ketika salah seorang guru saya pernah mewanti-wanti, “Kalau terlalu banyak menangis akan menghabiskan air mata loh. Jadinya kalau air mata habis, bisa buta.”

Namanya juga anak kecil, ya wajar kalau percaya. Lantas saya pun berusaha untuk tidak sedikitpun lagi menangis di hadapan teman-teman saya.

 “Ketika wanita menangis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat,”  —Let Go–

 

Yah, ada banyak orang yang mengatakan bahwa menangis itu menjadikan seseorang terlihat lemah, meskipun pada kenyataannya memang seperti itu. Akan tetapi, tahukah kita, menangis tidak hanya sebatas menunjukkan seseorang lemah, melainkan menangis bisa melegakan sesuatu dan menyadarkan sesuatu.

Karena menangis adalah hal yang wajar bagi kita, sebagai seorang manusia, maka tidak salah kok ketika menangis. Justru dengan menangis bisa semakin membangun kesadaran diri kita. Memberikan kita sedikit waktu untuk menyelami alam bawah sadar kita. Mungkin saja, hanya dengan menangis kita bisa sedikit merefleksi sesuatu yang terjadi pada diri kita itu. Entah itu kesalahan, keyakinan, ataupun hubungan dengan orang lain.

Saya juga menyadari, ketika orang menangis itu sedikit menunjukkan kelemahannya. Rapuh. It’s real! Menangis katanya bisa membasuh jiwa yang terluka. Menangis bisa melupakan semuanya. Menangis pun bisa melegakan kita dari beban yang menimpa kita. Menangis pula lah yang mendekatkan doa kita pada Tuhan.

Tapi, tak jarang pula saya banyak menemukan orang-orang yang mampu belajar jadi kuat dari air matanya itu. Ia mampu mengelola hatinya melalui air mata yang senantiasa ia cucurkan. Tentu saja dengan bantuan teman-temannya. Teman itu selalu ada ketika kita rapuh. Tangan kanan melengkapi tangan kiri.

 Menangis bisa membantu kita mencapai pemahaman yang lebih baik tentang keadaan yang melibatkan kita di dalamnya.

Tidak mengapa ketika seseorang menangis di depan orang lain. Menangis bukan berarti seseorang itu “cengeng”, melainkan menunjukkan seseorang itu adalah hakikat seorang manusia. Seseorang , pertanda bahwa ia memiliki perasaan. Akan tetapi, bukankah lebih baik ketika kita mampu menunjukkan diri pada orang lain bahwa kita kuat?

Nah, teruntuk siapa saja, menangislah ketika kalian sudah menemukan seseorang yang bakal dengan rela hati menghapus air mata itu.

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Penggiat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi UNM