Oleh: Alfian Meidianoor ( @saratdusta ) Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Mencari makna semantik Bulan lewat nada, sebuah repertoar dari pendengar perdana yang tercemar dengan depresi dan menjuluki mereka sebagai Anomali dari Timur.

Ensemble

noun (n)

ɒnˈsɒmb(ə)l / ahn-sahm-buh

(Music) A piece of music or passage written for performance by a whole cast, choir, or group of instruments.

– oxforddictionaries.com

Tiga tahun terlewat, kesempatan mendengarkan “Anomali dari Timur” ini kali pertama, menimbulkan keniscayaan. Bahwa sekecil apapun karya yang dirilis tidak akan pernah mati untuk menemukan penggemarnya. Mengulasnya menjadi frase dan membuat siapa saja yang punya kemungkinan menjadi pendengar perdana akan mengamini potensi unit ensemble post rock asal Makassar ini.

Serupa definisi kata ensemble, mendengarkan keseluruhan album ini adalah sebuah pengalaman audio yang dinamis dan menggugah. Melismatis adalah pengayaan dari vokal pop yang mendayu ke emosionalnya jeritan lalu bersanding dengan instrumen berupa string, percussion, keyboard, bahkan oscillator. Elemen yang masing-masing seolah berdiri sendiri itu melebur dalam aransemen yang cenderung matematis.

Walau di ‘Musicalab’ mereka berujar “Hate the mess with your tones/Masterpiece never be a math…”, merunut lagu per lagu hingga detik terakhir, tak pelak tercetus elemen math rock di album ini. Menyebut mereka (secara personal-red) sebagai “Anomali dari Timur”, karena tak banyak yang bermain dengan pola serupa di ranah (katakanlah) eksperimental Indonesia. Sebut saja jika mereka harus digeneralisasi menjadi post rock. Padanan yang serupa di level nasional adalah Korine Conception asal Medan, yang kental dengan atmosfer shoegaze. Berkebalikan, Melismatis cenderung agresif dan tak terprediksikan walau memberi efek emosional yang serupa. Rangkaian pedal stompbox dengan racikan sederhana antara reverb, delay, overdrive dari satu lagu ke lagu lainnya. Terkadang dapat ditemukan elemen etnik khas folk, petikan dawai akustik yang harmonik, bassline yang groovy dan eksploratif, melodi crescendo, dan distorsi rock yang ampuh menggugah sendi. Balutan vokal screamo yang mengingatkan kedigdayaan post hardcore 90-an seperti Envy, lirik yang ditulis dengan sentuhan personal, penggunaan belira yang mengajakmu bernostalgia akan polaperkusi bell milik Sigur Ros dan tak luput sempalan nada elektronik dari synthesizer dan oscillator yang memperkaya pendeteksian suara di indera para pendengar.

Adalah ‘Suara Hingga Terang’, lagu pembuka yang memancing indera pendengar untuk memulai penjelajahan. Instrumen sepanjang empat menit yang teritorial. Dominasi dawai akustik di 8 bar pertama yang kentara, disusul dengan keriuhan tamborine, tepuk tangan, dan gumaman “Huuu huuu” serupa hopelandic yang menyeru respon tubuh untuk bergerak. Terdengar folkish? Tunggu dulu hingga pemutar musik menuju ke lagu kedua, ‘Saya Suka Itu Setiap Senyummu di Bawah Hujan’. Seruan yang sudah ditulis secara kentara di inlay CD sebanyak dua kali, Kurru Sumange. Seruan itu membuncah di menit 1:20 yang memanggil kembali spirit hidup pendengarnya. Kesan emosional yang terbangun dari partitur akustik yang mengawang disusul dengan kocokan distorsi serta lengkingan jeritan Ardhyanta dalam prosa Inggris, menyoal ironi. Di titik ini mengingatkan akan candu terhadap Envy.

Dibuka dengan bassline yang ketat, ‘Autisme’ menyusul sebagai kerja presisi yang melelahkan antara foot-work, pedal, panduan rhythm beserta delay dan distorsi gitar listrik yang bersahutan. Sementara di lapisan yang lain, dengung oscillator yang chaotic mendampingi jeritan vokal yang menyampaikan kegelisahan. ‘Gloria’ termasuk orkestra yang eksploratif, tempo naik turun yang menyesuaikan karakter vokal. Ketika backing vocal bersenandung “Menyenangkan, menyenangkan, menyenangkan” berbaur dengan jeda bass di antara jeritan dan vokal lirih “Telanjang/Melayang”, lalu outro yang matematis bergemuruh mencampur tiga karakter suara di penghujung lagu.

Tak hanya konstan bermain dengan kecenderungan math rock yang membawamu ke Don Caballero ataupun sensasi orkestra yang multi-perangkat serupa Glen Branca, Melismatis mencoba funk-fusion di ‘Musicalab’. Overdrive dalam level maksimum! Menggiring pendengar pada percabangan blues yang eksotis. Rekomendasi favorit yang membuat tubuhmu tak bisa menolak groove-nya. Reaksi kontan seperti efektifitas kinerja kimia yang disuarakan lewat liriknya! Deru musikal yang semakin melaju hadir di ‘Sempit’, lagu ini berpotensi anthemic ketika dibawakan secara live, berpatokan pada ritmik perkusi drum, lalu melodi harmonik menghasut pita suaramu untuk menyumbang suara menambah riuh dengan “Ooohhh…” secara repititif! Melismatis sebagai kata berarti satu suku kata dari teks memperoleh lebih dari satu nada melodi, maka perhatian terhadap melodi akan lebih besar jika sebuah lagu disusun secara melismatis(1). Lagu ‘Melismatis’ adalah terjemahan yang signifikan tentang kompleksnya unit ensemble ini. Intisari dari album ini, layaknya antologi yang fraksinya dapat ditemukan di beberpa lagu sebelum dan sesudahnya.

2 mm

Penyusunan tracklist di album Finding Moon seperti mengikuti tiga alur emosional yang berbeda, empat lagu di awal seperti pemanggil jiwa, tiga lagu sampai ke ‘Melismatis’ layaknya perombakan sebuah struktur, dan tiga lagu sebagai penutup yang cenderung kontemplatif. Terbukti di ‘Sedikit ke Timur’ (yang sekilas terinspirasi dari lagu seminal milik Sigur Ros, Hoppipolla) menjadi titik balik setelah agresi dan kerumitan tujuh lagu sebelumnya. Sisi renungan yang memaksa pendengar memperhatikan kekuatan syair. Pun begitu dengan ‘Finding Moon’ dan ‘Sepi’ yang diisi masing-masing oleh vokal wanita sebagai polar lain yang bersifat natural, earthling. Lawan dari kekacauan yang ritmik. Bahkan jeritan Ardhyanta tidak terlalu ditonjolkan, lebih kepada latar dan menutup klimaks mengganjal di ‘Sepi’. Dominasi dua vokal alto ini malah menghadirkan gelisah yang akut. Entah apa yang dimaksud di syair ‘Finding Moon’ seperti pengingat akan suatu fase, pemujaan akan malam hari dan benda langit, serta mimpi yang belum tertunaikan selama 10 menit barangkali? Melodi minor menghanyutkan yang terasa antiklimaks tapi sebenarnya membuat candu ketika diputar di gawai, apalagi dimainkan di publik dengan konsep yang lebih intim. Introspektif sembari tertunduk, dengan pikiran mengawang menjelajah? Pencapaian audio yang eargasm dengan feedbacksebagai penutup. Menggantung mencari tanya. Dengan kegelisahan yang sama, repertoar ini adalah bentuk salutation terhadap mereka, Anomali dari Timur!

Septet ini akan mengeluarkan album kedua mereka dalam format double album. Layak ditunggu.

Kurre Sumange!

 

Referensi Tambahan

(1) Soeharto, M. 1986. Belajar Membuat Lagu. PT. Gramedia. Jakarta

1 mmMusisi: Melismatis Album: Finding Moon Genre : Post Rock, Post Hardcore, Math Rock, Experimental | Label: Vonis Records| Tahun: 2013 | Format:  CD | Opini: Envy, Thursday, Don Caballero, M83, Glenn Branca, dan Sigur Ros dalam satu orkestrasi yang harmonik.

Baca tulisan lainnya terkait dari Alfian Meidianoor

Saya Benci Homophobe!

Dunia Nirkata Selepas Jatah 130 Kata