Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Berawal dari rasa bosan saya di kelas jurnalistik media cetak semester lalu. Kelas dari Asisten Dosen yang juga merangkap jabatan sebagai Redaktur di media “graha pena”. Beliau menjelaskan materi tentang tata cara menulis berita yang baik. Yaitu dengan metode klasik: piramida terbalik. Suatu Teknik menulis berita di mana informasi penting berada pada awal paragraf. Jadi, tidak perlu membaca beritanya sampai habis untuk mengetahui maksudnya. Berita “kurang” penting biasanya disimpan di akhir. Namun, bukan berita “tidak” penting.

Menulis dengan metode tersebut menjadi kiblat untuk hampir semua jurnalis media cetak. Selain karena gaya penulisan yang langsung ke pokok berita, metode ini juga membuat tulisan lebih ringkas, dan pas untuk space iklan yang lebih luas.

***

“Mereka yang membawa kabar adalah mereka yang membentuk dunia. Ada yang memulai perubahan dengan berdiri di gerbang tembok kota atau di bukit gurun tandus mengabarkan turunnya perintah yang suci dan datangnya hari pembalasan. Ada juga yang memulainya dengan menulis di ruang sepi perpustakaan mengabarkan hadirnya momok revolusi…..” –Nirwan Ahmad Arsuka, Pengantar Buku Makassar di Panyingkul!.

Panyingkul.com, sebuah website bernafaskan “jurnalisme warga” hadir di tahun 2006. Media alternatif ini menjadi “saingan” dari media mainstream yang semakin jauh dari kepentingan publik. Saya sendiri masih duduk di bangku sekolah dasar tingkat enam saat panyingkul hadir. Namun, tulisan-tulisannya masih bisa saya baca dalam buku Makassar di Panyingkul! Yang saya pinjam dari temannya teman saya.

Gaya menulis Panyingkul terlihat berhelai-helai. Tidak padat dan terurai. Jatuh dan mengalir. Juga tidak menghilangkan prinsip jurnalisme, berlandasakan fakta. Terlebih lagi, tema yang dekat dengan keseharian kita yang luput dari penglihatan dan dikemas dengan diksi kata yang nyaman.

Panyingkul.com memiliki slogan: Jurnalisme Orang Biasa. Penulisnya adalah penulis lepas yang terdiri siswa SMA, aktivis LSM, peneliti, mahasiswa yang baru lulus, penyair, seniman pensiunan, warga di pelosok desa, bahkan perantau yang bertahun-tahun tidak pulang ke Makassar. Berbagai penulis dari beberapa latar belakang tersebut, membuat tulisan di Panyingkul lebih ramai dengan beragam perspektif.

Namun, Panyingkul telah tutup usia. Ibarat pahlawan, walau raganya telah tiada, namanya akan selalu dikenang. Upayanya membuka jalan praktek demokrasi partisipatif dengan menulis. Menginspirasi orang-orang yang lahir di zaman sekarang ini. Revius kemudian menjadi salah satu cucu dari Panyingkul.com.

***

Suatu pagi di perhelatan Makassar International Writers Festival 2015, saya duduk di sebuah ruangan dengan pemateri seorang Profesor Jurnalistik dari George Washington University, Janet Steele. Materi Jurnalisme Naratif yang inspiratif dibawakan Janet dengan bahasa Indonesia yang fasih untuk level warga asing.

“Ada gaya yang menarik untuk memikat  perhatian pembaca melihat persaingan media yang semakin ketat. Banyak orang suka menulis jadi semakin menarik jika menuliskan sesuatu lebih mendalam dibandingkan piramida terbalik” –Janet Steele

Jurnalisme Naratif kemudian menjadi gaya penulisan “baru” untuk karya-karya jurnalistik. Gaya penulisan di mana jurnalis diharapkan memiliki kemampuan layaknya penulis skenario film dan cerpenis. Karya jurnalistik yang memiliki adegan, tokoh, konflik, alur cerita yang mengalir dan juga dialog. Mencoba bercerita dengan berita. Menggambar berita, bukan menjelaskannya. Namun tetap berada dalam pagar aturan nilai-nilai berita.

Berbeda dengan metode penulisan piramida terbalik, metode penulisan ini menempatkan bagian penting di seluruh badan tulisan. Olehnya, kita dipaksa untuk menyelesaikan bacaan untuk mengetahui maksudnya. Jurnalisme Naratif mendekati mustahil diterapkan di media mainstream. Namun, beruntunglah kita dengan hadirnya media online alternatif. Media alternatif ini sedikit-banyak dapat menyegarkan asupan berita yang kita peroleh. Lebih berwarna alami dan mudah dicerna.

Menulis dengan gaya jurnalisme naratif di media alternatif membuat kita lebih terbuka untuk bertukar cerita kepada banyak orang. Melihat hal dengan sudut pandang yang beragam dan jujur tanpa intervensi. Dikenal dengan slogan Write Whatever The Hell That You Want to Read, Revius dengan senang hati menerima tulisan ber-genre jurnalisme naratif dari siapa saja, kapan saja, dan tentang apa saja.


Baca tulisan lainnya dari Chairiza

Melestarikan Ingatan akan Sang Penakluk

Eat Clean with Clean Eating

Literasi Media dalam Drama Korea

Makanan, Permainan, Musik, Belanjaan dan Komunitas

Anarki, Hadist Nabi dan Band asal Jogja

Sumur, Bersin, Mangga dan Jahitan di Makassar in Cinema

Cuplikan Ide Cerita Makassar In Cinema #2

Berkampanye di Media Sosial

Yang Berbatu, Yang Ber-AKSI

Tujuh Postingan Mengganggu di Instagram

Wabah Positif Bernama Flu Hijab

Menyibak Rahasia Gemerlap Malam Ibukota

Tujuh Buku Bagus yang (Ternyata) Ditulis oleh Teman-Temanku

Appabotingeng ri Tana Ugi

Ruang Kreatif: Wadah Baru untuk Karya Indie Makassar

Berburu Barang Berkualitas dengan Harga Miring

Ada Apa dengan Gelar Bangsawan?

Berkreasi dengan Pipa