Benang, benda hasil lilitan kapas berwarna-warni yang selalu  dilupakan bahkan dibuang oleh saya. Terdiri dari lilitan yang digunakan untuk membuat kain. Benda ini tidak saya masukkan dalam segmen benda yang wajib saya miliki. Mungkin karena saya tidak paham cara menjahit apalagi pandai. Namun saat mengikuti Bom Benang kemarin, pandangan saya terhadap benang berubah. Bahwa benang berfungsi bukan hanya sebagai penyatu celana yang robek.

Jika dicermati dari partikel katanya, wikipedia beropini bahwa bom adalah alat yang menghasilkan ledakan yang mengeluarkan energi secara besar dan cepat. Energi yang digunakan pastinya kreatifitas. Di bom benang ini, tentu saja benang yang digunakan sebagai alatnya. Alat pengeboman tanpa hukuman.

“Bagaimana kita melibatkan warga dengan tujuan mendekatkan warga dengan rajutan. Bahwa seni itu tidak ribet dan mudah dijangkau. Seni itu tidak berjarak dan lebih dekat. Menjadi Seni Kewargaan” — Fitriani A Dalay @fadalays

Saya beruntung menemukan komunitas Qui-qui di Bom Benang 2014 kemarin. Komunitas ini adalah komunitas perajut Makassar. Kegiatan seperti rajut-merajut, jahit-menjahit, sulam-menyulam adalah kegiatan yang mungkin akan menaikkan standar kualitas saya sebagai perempuan sejati.

Bom Benang tahun ini mengangkat tema “Yarn on Yard”. Halaman rumah kemudian menjadi sasaran utama pengebom benang ini. Saat saya datang di hari kedua, saya sudah bisa merasakan suasana penuh warna benang. Ini terlihat dari jejeran rumah yang dililitkan benang warna-warni. Sampai pada rumah yang paling ramai, Kampung Buku. Saya takjub melihat warna-warni benang yang terlilit di berbagai sudut di halaman kampung buku ini.

Selang  pun tak luput dari lilitan benang.

Selang air dan ember pun tak luput dari lilitan benang.

Konsep karya dalam Bom Benang tahun ini cukup unik. Lilitan benang pada selang dan ember adalah salah satu hasil bom benang yang paling unik menurut saya. Lilitan benang warna-warni tersebut membuat benda tersebut berbeda dari biasanya. Melilit selang air ini sendiri terkonsep saat si pembuat merasa jengkel saat air di rumahnya selalu mati. Mungkin ini adalah cara dia melepaskan jenuh menunggu air yang tak kunjung mengalir. “Menunggu” yang kreatif.

Cuteness Overload.

Cuteness Overload. I can’t keep my eyes off these stuffs!

Benda-benda di atas adalah contoh lain dari karya yang saya sukai. Benda-benda tersebut seketika membuat saya menyesal tidak memperhatikan guru SMP saya saat kelas seni yaitu merajut. Tapi, saya tidak terlambat untuk belajar. Karena di Bom Benang ini juga dirangkaikan dengan kelas-kelas kreatif nan ekonomis.

Crafter-crafter handal diturunkan untuk memberi ilmu akan seni merajut. Kelas menyulam pita, kelas merajut, kelas kreasi kain, kelas flanel dan kelas membuat pouch dengan menjahit adalah beberapa menu kelas yang disajikan secara gratis dan menyenangkan. Kelas tersebut mengajarkan saya untuk berhemat. Bahwa barang-barang lucu yang hendak kita beli sebenarnya bisa dibuat sendiri. Sesuai selera warna dan bentuk pribadi. Lebih pas!

Hasil kreasi saya dan @lia_lestari1 sehabis menimba ilmu di Bom Benang.

Hasil kreasi saya dan  @lia_lestari1
sehabis menimba ilmu di Bom Benang.

Selepas menghadiri Bom Benang kemarin, daya kreasi dan inovasi saya berkembang. Bahwa benang dapat membuat sesuatu yang awalnya biasa dan tidak dilirik menjadi sebaliknya. Membulatkan tekad saya untuk memperdalam seni merajut ini ketingkat batas normal wanita. Bahwa merajut bukan hanya pekerjaan nenek di pagi hari. Merajut milik semua wanita (dan laki-laki, kalau tertarik) untuk dapat melatih keuletan dan kesabaran.