Usia remaja dan masa muda adalah periode kehidupan yang memiliki nilai-nilai, selera, dan bahasa yang berbeda. Fase yang meletakkan semangat dan keceriaan di atas hal lainnya. Bukan lagi anak kecil, namun belum pula menjadi dewasa. Keunikan itulah yang membuat kata “muda” selalu punya segmentasinya sendiri, termasuk di dalamnya : media. Wadah untuk berkomunikasi dan mencari informasi.

Namun fakta tidak melulu seindah teori. Tidak banyak media anak muda di Indonesia yang mampu berumur panjang. Apalagi di skala lokal seperti kota Makassar. Dan Madama FM adalah satu dari sedikit nama yang mampu melakukan itu hingga hari ini, menjadi media anak muda hingga beberapa kali lipatan generasi. Untuk ikut merasakan bagaimana bahagianya radio Madama memasuki usia ke-27, beberapa nama dari Revius akan berbagi kisah mereka tentang Madama. We believe Madama FM won’t be the first radio station to join the 27th club. Happy birthday !


Rieski Kurniasari

Radio anak muda Makassar yang paling pertama saya tahu itu Madama Radio, karena studionya sampingan dekat SD-ku dulu. Waktu itu masih jarang mendengarkan. Lama-lama kenalan saya satu per satu bergabung di radio ini, beberapa kali juga saya menang kuisnya mulai dari hadiah minuman gratis sampai tiket konser gratis. Hahaha. Gara-gara itu juga saya jadi keranjingan dengar siaran Madama, selain faktor kuis tadi, Madama FM mampu mengakomodir selera musik saya. Yuhuuu.. Saking nge-fansnya, skripsi saya membahas tentang pendengar Madama di Kota Makassar. Hahaha. Terima kasih banyak, Madama, happy anniversary yang ke-27 ya.

Achmad Nirwan

Saat masih menimba ilmu di bangku SMP dari tahun 2002 hingga 2005, saya termasuk individu yang cukup sering mendengarkan siaran radio. Faktor utamanya bisa dibilang cukup brengsek; karena ingin membajak lagu-lagunya dengan cara merekam melalui kaset pita dan yang paling canggih, menggunakan aplikasi perekam audio di PC, supaya bisa disimpan dalam bentuk file audio. Hahaha. Stasiun radio di Makassar yang seringkali jadi incaran saya untuk membajak waktu itu hanya dua yaitu Mercurius Top Radio yang sering memutar lagu-lagu klasik rock kesukaan saya seperti Gary Moore, Led Zeppelin,Black Sabbath, Van Halen, Nirvana, serta Madama Radio yang rajin memutar lagu-lagu rock modern buat referensi musik terbaru saya seperti Godsmack, The Darkness, Dashboard Confessional, dan sebagainya.

Selain itu saya punya pengalaman menarik lagi dengan lagu milik The Darkness – “I Believe in A Thing Called Love” yang sedang rajin wara-wiri di chart radio anak muda Makassar tahun 2003. Saya sedang keranjingan mendengarkannya di radio, walaupun saya sudah punya albumnya dalam format kaset pita. Sampai-sampai saya memberanikan diri untuk menelepon atau mengirim SMS request ke Madama Radio sekali hingga lima kali dalam setiap hari, hanya untuk mendengarkan lagu itu terputar di tapenya mobil pete-pete langganan sepulang sekolah. Mungkin karena penyiarnya bosan lihat permintaan lagunya yang itu-itu saja, walhasil hanya satu hingga dua kali sukses diputarkan selama saya rajin me-request saat itu. Hahaha. Itulah dua pengalaman saya mendengarkan siaran radio yang jangan seutuhnya ditiru, tapi masih layak dikenang.

Teruntuk untuk Madama Radio 87,7 FM yang telah memasuki usia ke-27, tetaplah berkibar dalam menyajikan asupan musik bergizi (kalau bisa musik-musik rock saja, jangan musik menye-menye dan ajep-ajep di’, hahaha bercanda) untuk paramuda Madama. Semangka~

Fami Redwan

Sebagaimana umumnya remaja Makassar di era 90-an, saya menyimak radio Madama sesering saya bermain tamiya. Kebutuhan akan akses informasi tentang hal-hal yang saya minati pada waktu itu cukup terpenuhi dengan mendengarkan stasiun radio yang dulu frekuensinya masih di 100.2 FM itu, di mana kak Iko, yang belasan tahun kemudian menjadi mentor saya dalam mengenal seluk beluk industri musik, adalah music director-nya.

Dan jujur saja, saya dan teman-teman saya dulu pernah me-request lagu untuk kemudian direkam ke kaset via tape recorder. Semua orang pun melakukannya pada zaman itu. Namun ada satu pengalaman saya yang mungkin tidak banyak orang merasakannya, dan kalaupun sekarang sudah banyak yang mengalami, mungkin rasanya sudah tidak sama lagi. Adalah suatu hari di tahun 1997 ketika saya dan Mochdy Akil bertemu di koridor FISIP Unhas, dan dia bilang kalau Madama tertarik untuk memutar lagu milik band saya, The Hotdogs. Di zaman ketika soundcloud dan facebook belum terbayangkan, menerima informasi bahwa stasiun radio anak muda terkemuka di Makassar mau memutar lagu punk rock lokal itu rasanya jauh lebih mengagetkan dibanding menjadi juara festival musik rock, plus mendapat gelar gitaris dan vokalis terbaik sekaligus. Lewat semua itu, lewat. Lagunya bandku mau diputar di radio Madama. Apa tonji artinya juara festival ? Haha. Ya, sebrutal itu rasanya.

Tak lama kemudian, pada suatu malam yang indah, lagu kami pun terputar. Dan hingga 18-20 jam kemudian kami masih merayakannya. One of the weirdest moments of my life, but it felt so great, tho.

Novidia

Ketika saya di kelas 3 SMP, saya menjadi teman sekamar sepupu saya yang pada saat itu sedang menjalani hari-hari menjadi mahasiswi. Sepupu saya ini, suka sekali mendengarkan radio sebelum tidur. Jadilah saya, remaja SMP yang tiap malamnya sebelum tidur di-nina bobo-kan oleh penyiar Madama.

Sepupu saya suka sekali mendengarkan Madama, yang membuat saya berpikir mungkin hanya ini stasiun radio di Makassar. Dia sampai hapal penyiar mana yang sedang siaran, acara apa yang sedang berlangsung. Saya ingat, kami pernah ke sebuah acara di Mall pada suatu hari, dan sepupu saya menunjuk MC yang sedang heboh di panggung, dia bilang, “itu penyiarnya Madama”. Saya jadi penasaran, mungkinkah dia yang sering menidurkan saya tiap malam?

Lucunya, ketika saya berkuliah, secara tidak sengaja saya tahu kalau sahabat saya adalah keponakan dari Music Directornya Madama, Om Iko. Tentu saja sepupu saya mengiyakan ketika saya bertanya apakah dia mengenal Om Iko. Dari cerita saya, dia akhirnya tahu kalau selama ini, kami tetangga seberang lorong.

Barzak

Pada masa remaja saya, sekitar 300 tahun yang lalu, Madama adalah media yang paling berjasa melebarkan wawasan saya. Obrolan para penyiarnya yang cheerful, tapi sarkastik dan witty, berperan besar dalam membentuk sense of humour saya. Belum lagi pilihan-pilihan lagunya (yang sepertinya) tidak akan ditemukan di radio lain, berkontribusi sangat sangat sangat besar dalam membentuk selera musik saya.

Saya, sincerely, mengagumi Mochdy Akil, Kaka Kahar, Jojo, dan tentu saja sang Music Director, Iko Md. Sampai sekarang.

To me, Madama Radio was my guiding light. People at Madama were my heroes. Madama was ma damn master!

Sayangnya, kalimat di atas menggunakan past tense.

Perubahan, katanya, adalah satu hal yang pasti dan tak terhindarkan. Anda tidak akan mampu menahan gilasan perubahan (atau berkah perubahan— tergantung anda berada di pihak mana). Saya menyukai perubahan, kadang-kadang. Pada kasus Madama, saya tidak menyukainya, at all.

Saat ini, bila mendengarkan radio dan menyetel ke frekuensi terbarunya, 87.7 FM, saya mendengarkan lagu-lagu yang saya rasa anak-anak Madama sendiri tidak begitu sukai, like a chef who doesn’t enjoy his/her own cookings. The question is, why is that?

Pun ketika saya mendengarkan para penyiarnya, I didn’t get new things or new ideas, I didn’t get a well-thought opinion or a thought-provoking conversation yang disampaikan dengan ceria dan lucu (Oh I’m missing program “Bonceng Tiga”-nya Kaka-Jojo-Mochdy).

I also didn’t get the good vibes I used to get. Dulu saya sering manggut-manggut ketika mendengarkan siaran Madama karena mendapatkan hal baru, ide baru, atau sudut pandang baru. Sekarang, saya lebih sering geleng-geleng karena hanya mendengarkan orang-orang yang belajar berbicara dengan logat Jakarta. Ugh.

Saya tidak tahu isi dapur Madama, saya pun bukan pakar penyiaran radio dan musik, tapi sebagai mantan pendengar setia, saya merasa Madama perlu melakukan perubahan (lagi).

Kasarnya, bila selama ini Madama meminta kita untuk mendengarkan, saatnya Madama yang mendengarkan kita. Fair enough?

Selamat Ulang Tahun yang ke-27, Madama Radio!

Cheers!

P.S. : Please don’t join The 27 Club. :-p

*Hari ini, 2 November 2016 merupakan ulang tahun ke-28 untuk Madama Radio. Selamat menjadi #PROUD28!

Silakan mendengar siaran radio Madama melalu frekuensi 87,7 FM atau streaming melalui madamafm.com


Baca artikelnya lainnya dari Revius’ Editors

We Believe, Food is Social Glue!

Makassar, In-The-Not-So-Distant Future

Dunia Nirkata Selepas Jatah 130 Kata

Lomba-Lomba yang Dirindukan

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Produk-Produk Lokal yang Patut Dilirik

Oh, The Masjids You’ll Go!

Tempat “Ngabuburit” dan Berbuka Puasa

Tips Berpuasa di Bulan Ramadhan

Komunitas Sinergi, Harmoni, Aksi!

Mengingat Kembali Karaeng Pattingalloang

Orang-Orang yang Harus Kami Temui di MIWF 2015

The Most Memorable Events

Akun Instagram Favorit

Mari Melihat Api Bekerja

Film Makassar In Cinema 2015 Pilihan Kami

Musisi Indie Makassar Favorit

Mitos-Mitos yang tidak Masuk Akal

Tempat Makan Favorit Kami

Selamat Hari Film Nasional!

Situs-Situs Web Favorit Kami

Video Musik Pilihan Kami untuk Kamu

Kuntilanak Jatuh Cinta (dan Cerita-Cerita Lainnya)

Apa Itu Hari Valentine

10 Seniman Mengartikulasikan Kota di PechaKuchaNight Makassar Vol.6

Alasan Orang-Orang ke Sepiring Culinary Festival