Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Seperti jenjang hidup seorang manusia, usia enam tahun adalah salah satu titik awal. Bukan hanya tentang usia yang telah terhitung untuk memasuki bangku sekolah, namun juga kesiapan untuk berbagai jawaban dan pertanyaan yang baru. Usia enam tahun, titik baru bagi sebuah perubahan dalam satu kehidupan.

Begitu pula Rock in Celebes. Memasuki usia enam tahun, tanda sebuah titik baru juga dimulai. Tahun ini, RIC 2015 hadir dengan konsep tur yang digelar di berbagai kota besar di pulau Sulawesi. Palu (Sulawesi Tengah), Kendari (Sulawesi Tenggara), Gorontalo, Manado (Sulawesi Utara), dan hari ini 14 November 2015 juga besok 15 November akan diadakan di Kota Makassar. Pelaksanaan tur tersebut seperti sebuah tindak lanjut dari kata “Celebes” yang dijadikan sebagai titel event.

Konsistensi selama enam tahun membuat Rock in Celebes patut diberikan apresiasi. Bagaimanapun, sebuah event musik yang mampu digelar rutin adalah tanda bahwa hal tersebut dikerjakan dengan penuh dedikasi dan kecintaan terhadap perkembangan scene musik, khususnya di Kota Makassar. Selain konsistensi, tentu event ini, selama pelaksanaannya telah memberi beragam kesan bagi pengamat, pelaku, hingga penikmat musik yang ada di kota ini. Kesan-kesan tersebutlah yang mampu menjadi alasan mengapa Rock in Celebes 2015 menjadi event yang wajib disaksikan bagi penikmat musik dari seluruh Nusantara.

Dari bincang-bincang Revius dengan beberapa pengamat, pelaku, hingga penikmat musik yang ada di Makassar, beberapa kesan tersebut adalah:

Rock In Celebes hadir sebagai Ruang

Seperti event musik lainnya, Rock in Celebes tentu melahirkan berbagai interaksi di dalamnya. Baik itu antara sesama pemusik, pemusik dan penonton, maupun sesama penonton. Seperti kata Bobhy, salah seorang yang turut aktif mengikuti perkembangan dunia musik di Makassar dan sering mengadakan gig-gig lewat Kedai Buku Jenny yang dikelolanya, “RIC bisa jadi ruang berbagi informasi, bertukar ide tentang apa saja yang terkait dengan musik dan perkembangan scene musik di Kota ini.”

Dari Bobhy, pendapat lebih lanjut diutarakan Ade Cakra Irawan, sosok yang telah lama berkecimpung di dunia musik Makassar, salah seorang yang mengikuti perkembangan musik di kota ini dari zaman analog hingga digital. “Panggung seperti ini harus ada, melihat semangat bermusik anak muda yang semakin besar. Kalau tidak, bahaya, bisa terjadi Revolusi,” kata Cakra dengan sedikit humor.

Sementara menurut Achmad Nirwan, musisi sekaligus orang yang cukup aktif menulis tentang musik di Kota ini, “RIC menjadi ruang edukasi sebagai penikmat musik yang baik. Dari tiket, merchandise, dan CD, mampu menjadi bentuk dukungan bagi kelangsungan band hingga event.”

Pendapat yang lebih menarik diungkapkan Fami Redwan, musisi asal Makassar yang telah cukup lama dan konsisten dalam berkarya, “RIC ini senada dengan apa yang digaungkan Efek Rumah Kaca: Pasar bisa diciptakan. Kalau memang musik yang ditampilkan di RIC, tidak memiliki pasar, mustahil mereka bisa tetap ada sampai sekarang dan malah lebih berkembang”

Rock In Celebes memberikan peluang

Rock in Celebes yang mampu menjadi ruang, tentu juga melahirkan peluang. “RIC adalah peluang bagi band-band Makassar dan kota lainnya. Begitu ada panggung, band-band tersebut akan mematangkan diri. Itu adalah bagian dari iklim yang cocok untuk pertumbuhan dan kesemarakan sebuah scene musik di kota ini,” Ujar Anwar Jimpe Rachman, penulis buku Chambers, Makassar Urban Culture Identity ( salah satu buku yang mendokumentasikan perkembangan scene musik di Makassar). Dia melanjutkan, “Kehadiran Apresiator di RIC ibaratnya seperti tanah. Tempat band-band bisa bertumbuh dan mengokohkan akar.”

Rock In Celebes sebagai ajang reuni

Dari kesan yang hadir sebagai Ruang dan Peluang, Rock in Celebes juga melahirkan hal lain: Reuni. “Biasanya banyak teman-teman lama yang sudah jarang bertemu, dan biasanya hanya bisa bertemu kalau ada event besar seperti ini,” Ungkap Andre, Vokalis No Time To Run. Menurutnya, ajang reuni tersebut bisa menjadi pertukaran pengalaman dengan suasana yang lebih santai, jadi prosesnya bisa lebih mudah.

Kesan tersebut cukup menarik. Semoga mampu membuat RIC betul-betul menjadi reuni dalam artian kesatuan kembali. Terutama menjadi langkah awal sinergitas antara mereka yang turut membangun perkembangan scene musik di Makassar.

Mampu menjadi referensi

“Sebagai pemusik, tidak ada yang lebih enak selain referensi musik dari Kota sendiri,” ungkapan dari Fami Redwan yang sejalan dengan apa yang dikatakan Mutiah Wenda Juniar, salah seorang penikmat musik di Kota ini, “Di RIC saya bisa mendapat referensi musik baru karena banyak band yang tampil dan saya belum pernah mendengar musik mereka,” Dan dari berbagai genre yang hadir, Artha Kantata, vokalis Tabasco menambahkan dengan lebih analogis, “Seperti Jus dengan banyak rasa. Variatif dan nikmat.”

Pendapat lebih jauh diungkapkan Bobhy, menurutnya, RIC patut menjadi referensi karena tampilnya band-band yang “tidak biasa” dan banyaknya band asal Makassar. Lebih spesifik, dia menyebut dua nama: FSTVLST dan Speed Instinct. “Dari album yang baru mereka rilis, secara musikal dan esensi lagu, sangat jelas bahwa mereka adalah band yang ‘membaca’. Gagasan yang diusung dalam karya mereka mengajak kita untuk mempertanyakan kembali hal-hal yang mungkin kita lupakan,” jelasnya.

Rock In Celebes sebagai selebrasi

“Ini adalah selebrasi dari apa saja yang baru. Dari band, lagu, hingga album,” tutur Artha. Dari kesan tersebut, banyak hal yang mampu dilakukan di Rock in Celebes. Salah satunya, “buat mengurangi stress,” hal yang diungkapkan Mutiah sebagai penikmat musik.

Musik sebagai sesuatu yang universal, tentu membuat Rock in Celebes sebagai sebuah perayaan memiliki makna yang lebih dalam. Seperti yang diungkapkan oleh Andi Muhammad Ikhlas yang akrab disapa Iko, figur yang juga telah lama ikut terlibat dalam perkembangan dunia musik di Makassar, “RIC adalah paket lengkap dari arti sebuah kebersamaan. Karena dikerjakan banyak orang dari berbagai kalangan dan profesi.”

Dari kesan sebagai ruang hingga momen selebrasi, Iko menambahkan, “RIC nantinya akan menjadi penanda zaman. Dan kita patutnya bukan hanya tahu, tapi turut melihat dan menjadi saksi,” Harapnya.

Rock In Celebes sebagai ungkapan terima kasih

“Band-band itu ada karena penggemarnya. Makanya para penggemar tersebut harus datang untuk mereka.” – Anwar Jimpe Rachman

Ungkapan yang menyiratkan sebuah proses ungkapan terima kasih. Hal yang sama menurut kami dari Revius bahwa menghadiri sebuah event musik adalah ungkapan terima kasih yang paling sederhana bagi musik itu sendiri; balasan atas kehadirannya menemani kita selama ini di kehidupan sehari-hari.

Well, akhir pekan ini di Makassar (14 dan 15 November 2015) dan dua pekan berikutnya di Gorontalo dan Manado, Rock In Celebes melanjutkan tur festivalnya. Selamat menikmati dan menemukan kesan-kesan yang baru di Rock in Celebes 2015!


Artikel lainnya terkait Rock In Celebes

Pencapaian Nyaman Gelaran Musik Rock Indonesia Timur

Momen Panggung Musik Cadas di Indonesia Timur

“Berkreasi itu Bukan Masalah Uang”

Rock In Celebes 2015

Rock In Celebes 2015 Makassar