Di antara rilisan khusus Record Store Day dari musisi Makassar di Physical Record Fest lalu, Dead Of Destiny akhirnya ikut serta merilis 20 keping pertama album terbarunya, The Black. Unit metalcore asal Makassar dengan formasi terkini, yakni Rico (vokal), Endi (gitar), Fadly (gitar), Didi (bass), dan Radit (drum), patut berbangga setelah melewati proses pengerjaan album yang panjang yang juga termuat ceritanya dalam artikel Menuju Kegelapan.  Album yang dikerjakan sejak 2013 ini menjadi penerus karya Dead Of Destiny yang sebelumnya mengeluarkan EP yang bertajuk Kotak Berisi Dosa yang diproduksi oleh MMC Production. EP yang menuai sukses yang membuat nama Dead Of Destiny bergemuruh dan patut diperhitungkan di skena musik underground kota Makassar.

Saya beruntung dapat mendengarkan album The Black ini jauh sebelum dirilis kemasan fisiknya. Kebetulan saja, saya termasuk salah satu crew-nya Dead of Destiny. Sehingga, setelah produksi albumnya selesai, Endi membagikan soft file seluruh repertoar untuk diperdengarkan kepada seluruh tim.Walaupun begitu, sebagai penggemar rilisan fisik, saya tetap membeli satu dari 20 keping pertama The Black yang tersedia di Physical Record Fest. Salah satu alasannya adalah saya senang dengan kemasan album dengan format digipack.

Sebelum mendengarkan The Black secara utuh, saya ingin mengupas tentang kemasan albumnya terlebih dahulu. Tampak dari depan album ini, artwork yang merepresentasikan secara singkat arti dari The Black. Seakan terhisap lebih dalam ke black hole atau lubang tengkorak menuju kegelapan yang bernyawa dengan permainan warna yang suram, dengan sedikit warna merah mirip bercak darah. Menuju ke bagian belakang album ini, terpampang dengan jelas judul sembilan lagu yang menjadi media menghantar menuju ke dalam gelap yang lebih jauh.

Bagian belakang album yang menampilkan judul sembilan lagu dari album The Black.

Bagian belakang album yang menampilkan judul sembilan lagu dari album The Black.

Pada bagian dalam kemasan The Black bila dibuka akan terdapat credit pembuatan album The Black yang lengkap. Pada bagian kiri memuat nama personil dari Dead Of Destiny serta yang bertanggungjawab dalam penulisan lirik dan pembuatan materi lagu, LoeJoe Studio sebagai tempat merekam album ini, Oscar LoeJoe sebagai produser album, Unrough Production yang menjadi executive producer hingga Dedepbronsive sebagai additional player yang dipercayakan mengisi intro di tiga lagu dalam album ini. Sedangkan pada bagian kanan album termuat nama Benangbaja yang mengerjakan artwork, AsnurSV untuk layout, design font oleh Darmankah dan foto band oleh Ifan Adhitya.

Bagian dalam dari The Black yang menampilkan credit pembuatan album.

Bagian dalam dari The Black yang menampilkan credit pembuatan album serta booklet berisi lirik, foto band, dan ucapan terima kasih.

Sayangnya, gambar dan logo Dead Of Destiny pada bagian CD–yang merupakan bagian vital dari suatu album ini, tidak tajam dan memberikan kesan seperti habis terkena tumpahan air sehingga membuat gambar menjadi tidak semenarik cover depannya. Logo Dead Of Destiny sendiri menjadi tipis dan sedikit blur. Lingkaran pada pinggiran kaset pun tampak tidak jelas dan tegas. Entah ada apa yang terjadi saat proses produksinya. Pada bagian kanan, ada booklet yang berisikan lirik dari tiap lagu di album ini. Tulisan untuk liriknya sangat kecil sehingga ada kesulitan saat membacanya. Di bagian tengah booklet, ada foto band dari Dead of Destiny dengan formasi terkini.

Gambar dan logo Dead Of Destiny pada bagian CD terlihat tipis dan sedikit blur.

Gambar dan logo Dead Of Destiny pada bagian CD terlihat tipis dan sedikit blur.

Di luar dari kekurangan yang mungkin disebabkan oleh ketidaktelitian pada saat proses produksi kemasannya, sekarang waktunya melakukan perjalanan menuju dalamnya kegelapan yang bernyawa seperti yang saya sebutkan di atas. Setelah memasukkan kaset, tak berselang lama, The Black yang menjadi nama album baru Dead Of Destiny bukanlah nama semata yang hanya ingin menunjukkan kesan sangar. Alunan musik yang cepat, dentuman drum yang memantik adrenaline, teriakan yang seakan meriuhkan suasana saat mendengarkan album ini merupakan sensasi tersendiri yang dijanjikan.

Tulisan untuk liriknya sangat kecil sehingga ada kesulitan di saat membacanya.

Tulisan untuk liriknya sangat kecil sehingga ada kesulitan saat membacanya.

Into The Fallen dibuka oleh permainan piano dengan suara yang suram menjadi penyambut di depan portal kegelapan yang siap menarik siapa saja untuk masuk ke dalamnya. Permainan snare dan twin pedal dipadukan dengan permainan dua gitar dan satu bass yang beriringan layaknya sebuah parade yang beda dari parade mainstream di luar sana. Tidak membutuhkan waktu yang lama, penyambutan pun berakhir di detik ke 50.

Seperti dihempaskan masuk lebih jauh ke dalam gelap, The Black adalah lagu kedua yang menyuguhkan raungan distorsi, hentakan drum, teriakan yang menggetarkan adrenaline, dan Agresivitas musik Dead Of Destiny yang belum pernah didengarkan sebelumnya. Bukan hanya menampilkan hal tersebut, Dead Of Destiny melakukan gebrakan yang sebenarnya tidak asing di telinga penggemar Metalcore, yaitu clean/soft vocal yang tidak terdengar cengeng, tidak bertele-tele, dan tetap merepresentasikan The Black secara sempurna.

Masuk lebih dalam lagi mengarungi kegelapan, Wrath Of The Underworld adalah lagu ketiga yang sebelumnya telah dirilis sebagai single ke berbagai akun dunia maya milik Dead Of Destiny. Wrath juga merupakan track yang pertama kali dirilis oleh Dead of Destiny di bulan Desember lalu. Simak cerita tentang Wrath di artikel Meneruskan Konsistensi di Jalur Musik Metal.

Kemudian Di Belakang Garis Musuh menjadi track keempat pada album ini yang sering dibawakan Dead Of Destiny saat live performance di berbagai gigs. Seakan menjadi downhill dengan medan yang sangat terjal, Menghujam Peluru merupakan lagu kelima yang bisa saya katakan liar! Saya pribadi menjagokan lagu ini. Musikalitas yang tidak sekadar garang, tapi memperhatikan sisi logis dari bermusik. Karena bukan hanya pengakuan sangar yang dibutuhkan dalam menciptakan musik, khususnya Metal. Akan tetapi, sisi ke-logis-an diperhatikan agar diterima ditelinga tiap pendengarnya. Dengan lantang Rico menyalak, “Siapkan amunisi! Lebarkan sayap, menghentak bumi! Kibarkan jiwa! Hujamkan Mata Melawan Hitam!” diiringi dengan musik yang seakan ingin perang, lagu ini berhasil membuat adrenaline terpacu ditambah komposisi musik yang apik, menghantar sensasi mengarungi sisi liar dan agresifnya kegelapan. Breakdown yang diselipkan sedemikian rupa kemudian masuk permainan double pedal yang menurut saya lebih dari cukup untuk membuat circle pit yang liar.

Prayer adalah lagu keenam dalam album ini. Terdengar liar nan teratur. Menampilkan ciri khas Metalcore dengan bumbu ala Dead Of Destiny, permainan yang cepat, diselipkan riff, dan yang pasti breakdown. Akan tetapi breakdown di lagu ini mempunyai dua versi yaitu, breakdown yang singkat di mana diselipkan ke dalam lagu dan diisi oleh rapatnya vokal. Breakdown yang kedua pada lagu ini mempunyai space yang sengaja disediakan besar.

“Semua menangis melihat dunia terbakar!” Demikian sepenggal lirik yang ada dalam lagu ini. Sesuai dengan lirik di atas, Sudah bisa menerka-nerka judulnya bukan? Yeah! Melihat Dunia Terbakar yang menjadi lagu ketujuh. Jika disinkronkan dengan keadaan bumi yang sekarang, hutan terbakar, asap di mana-mana, polusi semakin tak terkendali, sinar matahari semakin ganas dengan radiasi sinar UV, lapisan ozon semakin menipis, bukan hal yang mustahil lagu ini bisa menjadi kenyataan. Kengerian di liriknya menyinggung keadaan sekitar, di mana tingkah laku banyak orang tega merusak bumi demi pundi-pundi. Menyuarakan alam yang sekarat lewat lagu yang beda dari biasanya–masih di dalam kegelapan yang bernyawa, Dead Of Destiny berhasil menyampaikan pesan tersebut.

Only God merupakan lagu berikutnya. Lagu yang sebelumnya sudah ada di EP Kotak Berisi Dosa kembali dimasukkan ke dalam album The Black. Setelah memutuskan untuk dimasukkan ke dalam album ini, Dead Of Destiny sepakat mengubah beberapa part dan tempo lagu ini. Dalam EP, Only God mempunyai tempo yang cenderung lambat. Seakan dengan perkiraan Radit selaku drummer dari Dead Of Destiny, dari sisi musik, mengalami perubahan yang signifikan sehingga membuat lagu ini menjadi lebih fresh dari format lagu sebelumnya.

Tibalah di penghujung gelap dan disambut oleh Messiah yang merupakan lagu terakhir di album The Black. Bercerita tentang penantian akan Isa Almasih yang disiksa dan disalibkan di bukit Golgota. Di mana dunia ini dipenuhi oleh amarah, benci, dan caci maki, sehingga membutuhkan kedatangan-Nya untuk kali kedua.

Portal terakhir yang diberi nama Messiah menjadi penyambut selepas melakukan perjalanan jauh dalam kegelapan yang pada akhirnya kita ketahui bernyawa. Dengan selesainya gemuruh The Black, waktunya mengembalikan CD ini kembali ke singgasana untuk menunggu waktu yang tepat untuk kembali memenuhi raungan dan pikiran dengan kegelapan. Sembilan lagu dengan sound yang mewah, dibarengi dengan komposisi musik yang ideal, membuat Dead Of Destiny menuju ke level selanjutnya, di mana dimensi kegelapan lainnya menanti untuk disambangi. []

*Foto merupakan dokumentasi pribadi dari penulis


Baca tulisan lainnya

Meneruskan Konsistensi di Jalur Musik Metal

Menuju Kegelapan

Musisi Indie Makassar Favorit

Selebrasi Monumental dan Sentimentil di Penghujung April

Video Musik Pilihan Kami untuk Kamu