Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun)

“When words fail, music speaks”

Kutipan kalimat Hans Christian Andersen  di atas bukan dari buah pemikirannya yang tiba masa, tiba akal. Pengaruh musik yang begitu luar biasa terpatri dalam kisah hidupnya ketika sering bernyanyi dalam pementasan drama sebelum menjadi penulis legendaris. Musik pula yang mempengaruhinya untuk menulis berbagai kisah dongeng anak-anak yang masih sering dipentaskan secara musikal di berbagai belahan dunia.

Kalimat inspiratif H.C. Andersen ini lestari beberapa era setelahnya. Banyak peristiwa terjadi berkaitan erat dengan kutipan tersebut. Seringkali kalimat ini dikutip oleh banyak orang terutama para musisi di panggung-panggung musik, karena mereka yakin hanya musik yang bisa ‘berbicara’ menggantikan berbagai bahasa yang ada di muka bumi ini.

Mulai dari John Lennon hingga Franky Sahilatua, mereka mengandalkan musik untuk menyampaikan semangat pesan-pesan perdamaian kepada seluruh manusia dan para pemimpin dunia. Lambat laun, musik menjadi satu-satunya media yang bisa mempersatukan hidup banyak orang dan menghilangkan sekat-sekat suku, agama, ras dan bangsa. Saya pun merasakan kembali semangat mendalam dari kalimat tersebut ketika menyimak sebuah pertunjukkan musik dari seorang musisi bernama Alif Naaba pada Selasa (31/3) malam.

Ya, Alif Naaba merupakan musisi world music asal Burkina Faso yang baru-baru saya ketahui ketika seorang teman mengabarkan jadwal pertunjukkan musiknya pada siang hari kemarin. Dari informasi yang saya dapatkan dari web Institut Francais de Paris, Alif dibesarkan dalam buaian nyanyian tradisional sang ibu, musik yang merupakan percampuran dari berbagai ritme tradisional Burkina Faso.

Alif juga baru saja mengeluarkan album terbarunya Yiki pada tahun 2014 yang tercipta di sepanjang perjalanan dari Paris (Prancis) ke Ouagadougou (Burkina Faso) ini bagai jendela telinga tentang dunia yang dinyanyikan dalam bahasa Mooré (bahasa yang paling banyak penuturnya di Burkina Faso) dan bahasa Prancis. Selain dianugerahi penghargaan “Visa pour la Création 2012” dari Kementerian Luar Negeri Prancis dan Institut Prancis, Alif Naaba juga terpilih sebagai Seniman Terbaik Burkina Faso pada 2014 dan mendapatkan “Kunde d’Or”, penghargaan musik tertinggi di Burkina Faso.

Kehadiran Alif Naaba dan teman-teman musisinya ini ternyata merupakan rangkaian perjalanan turnya sekaligus sebagai bagian dari Pekan Francophonie yang diadakan setiap tahun di Perancis. Pekan Francophonie adalah peringatan berbahasa Inggris di kalangan negara penutur dan pecinta bahasa Perancis. Pekan Francophonie yang diadakan setiap tahunnya di Prancis dan di banyak negara untuk merayakan bahasa Prancis, ruang ekspresi budaya bersama para penutur dan pecinta bahasa Prancis.

Penyelenggara Pekan Francophonie di Indonesia adalah Institut Francais yang menggelar tur empat kota di Indonesia untuk Alif Naaba. Alif Naaba telah tampil sebelumnya di Surabaya pada 29 Maret di Atrium Surabaya Town Square. Kota selanjutnya yang bakal disambangi adalah Yogyakarta pada 2 April di Auditorium IFI Yogyakarta dan Bandung pada 4 April di Auditorium IFI Bandung.

Untuk di kota Makassar sendiri, Alif Naaba bisa tampil di Baruga A.P. Pettarani Universitas Hasanuddin Makassar pada kemarin malam berkat kerjasama Institut Francais de Paris dan Jurusan Sastra Prancis Unhas. Pertunjukkan musik serupa ini sebelumnya pernah saya hadiri selama dua tahun berturut-turut . Pada 2013, ada Limousine, kuartet pop jazz experimental dan tahun lalu kedatangan Dissonant Nation, trio indie rock asal Prancis.

Saya memantapkan niat untuk hadir di pertunjukkan musik ini dengan hadir tepat pada pukul 20.00 malam. Betul saja, helatan pun dimulai beberapa menit kemudian. Setelah masuk ke dalam, saya melihat banyak juga penonton yang hadir untu menyaksikan Alif Naaba tampil. Rata –rata mahasiswa dari Universitas Hasanuddin. Ada juga beberapa dosen dan juga petinggi kampus. Saya juga bertemu dengan teman saya yang mengabari tentang konser ini.

Sebelum Alif Naaba naik panggung, ada kata sambutan dari pihak universitas oleh Wakil Rektor IV, Prof. Dr. dr. Budu dan perwakilan pihak Institut Francais. Bagian sambutan ini cukup terkesan bernuansa acara formal untuk sebuah pertunjukkan musik. Sepertinya sudah menjadi tradisi layaknya tahun-tahun sebelumnya.

Sebelum Alif Naaba naik panggung, ada kata sambutan dari pihak universitas oleh Wakil Rektor IV, Prof. Dr. dr. Budu dan perwakilan pihak Institut Francais.

Sebelum Alif Naaba naik panggung, ada kata sambutan dari pihak universitas oleh Wakil Rektor IV, Prof. Dr. dr. Budu dan perwakilan pihak Institut Francais.

Setelah bagian kata sambutan selesai, MC pun memanggil Alif Naaba beserta teman-teman personil bandnya untuk tampil. Personil yang mendukung Alif Naaba malam itu muncul terlebih dahulu, dimulai dari Achille Ouattara yang membetot bas, lalu  Julien Pestre pada gitar dan Mohamede Fahade Sana yang memainkan Calebasse dan perkusi pada departemen penjaga ritme.

Intro lagu pertama pun dimainkan oleh ketiga musisi handal ini sambil mengiringi masuknya Alif Naaba ke panggung. Sudah diduga lagu pertama Alif yang saya ketahui belakangan berjudul “Nogouftedo” ini pun memecah suasana malam itu dengan nuansa ritmik Afrika yang kental. Penonton yang tidak notabene dipastikan tidak memahami apa yang dinyanyikan Alif, ternyata ikut larut dengan berteriak-teriak sembari memanggil nama Alif, entah itu pujian atau sekedar ingin meramaikan suasana saja.

 Personil yang mendukung penampilan Alif Naaba malam itu adalah Achille Ouattara yang membetot bas, lalu  Julien Pestre pada gitar dan Mohamede Fahade Sana yang memainkan Calebasse dan perkusi pada departemen penjaga ritme.

Personil yang mendukung penampilan Alif Naaba malam itu adalah Achille Ouattara yang membetot bas, lalu Julien Pestre pada gitar dan Mohamede Fahade Sana yang memainkan Calebasse dan perkusi pada departemen penjaga ritme.

Berturut-turut dua belas lagu dimainkan oleh Alif Naaba dalam setlist-nya malam itu, yang umumnya diambil dari album terbarunya, Yi-Ki. Mulai dari “Assalamou Allekum” yang sepertinya merupakan ucapan Assalamu Alaikum dalam bahasa Afrika sampai lagu “Afrika” yang bercerita tentang keinginannya melihat perdamaian di seluruh Afrika.

Berturut-turut dua belas lagu dimainkan oleh Alif Naaba dalam setlist-nya malam itu, yang umumnya diambil dari album terbarunya, Yi-Ki.

Berikut setlist Alif Naaba semalam. Berturut-turut dua belas lagu dimainkan oleh Alif Naaba dalam setlist-nya malam itu, yang umumnya diambil dari album terbarunya, Yiki tahun 2014.

Alif tampaknya mengerti bahwa liriknya tidak bisa dimengerti oleh penonton semalam. Maka Alif  pun tampil atraktif sambil berdansa khas a la Afrika sembari diiringi oleh teman-teman musisinya. Alif juga menyiasati kekakuan komunikasi  dengan berinteraksi  penonton dengan berbahasa Inggris sambil mengajak untuk ikut bernyanyi bersamanya.

Alif Naaba yang tampil interaktif malam itu sejenak mengingatkan saya pada sosok Freddie Mercury yang sering mengomandoi penonton untuk mengikuti apa yang dinyanyikannya. Tidak pelak, malam itu nuansa Afrika pun langsung merasuk ke dalam telinga-telinga para penonton termasuk saya yang baru bisa menyaksikan langsung pertunjukan musik kontemporer world music dengan mata dan telinga sendiri.

Alif Naaba yang tampil interaktif malam itu sejenak mengingatkan saya pada sosok Freddie Mercury yang sering mengomandoi penonton untuk mengikuti apa yang dinyanyikannya.

Alif Naaba yang tampil interaktif malam itu sejenak mengingatkan saya pada sosok Freddie Mercury yang sering mengomandoi penonton untuk mengikuti apa yang dinyanyikannya.

“I hope you enjoy our music. Come closer, come. Please, light the spot into audience,” ujar Alif  yang ingin lampu sorot yang disediakan di atas panggung, menyorot ke penonton agar ia bisa melihat antuasiasme penonton, yang didominasi dosen dan mahasiswa yang berdiri dekat di depannya. Tampil dalam waktu sejam tanpa henti, pertunjukan diakhiri foto bersama dari kalangan dosen, mahasiswa, serta warga Makassar yang datang melihat pertunjukannya. Meski masih letih dan berkeringat, Alif dan teman-teman musisinya tetap meladeni sesi foto tersebut.

“I hope you enjoy our music. Come closer, come. Please, light spot into audience,” ujar Alif  yang ingin lampu sorot yang disediakan di atas panggung, menyorot ke penonton agar ia bisa melihat antuasiasme penonton, yang didominasi dosen dan mahasiswa yang berdiri dekat di depannya.

“I hope you enjoy our music. Come closer, come. Please, light the spot into audience,” ujar Alif yang ingin lampu sorot yang disediakan di atas panggung, menyorot ke penonton agar ia bisa melihat antuasiasme penonton, yang didominasi dosen dan mahasiswa yang berdiri dekat di depannya.

Melihat penampilan Alif Naaba semalam, saya semakin yakin kalau kutipan Hans Christian Andersen di atas memiliki daya magis yang luar biasa. Alif yang berasal dari Burkina Faso dan saya yang termasuk penonton dari Indonesia, merasakan ada kedekatan yang tidak digambarkan oleh apapun karena musik, namun bisa bersatu dalam satu bagian dari pertunjukkan musik.  Musik yang tidak punya bentuk bahasa, namun bisa menginspirasi setiap orang untuk bisa bersatu dan saling bergandengan tangan tanpa pandang bulu. So, let’s give music a chance! []


Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise