Oleh: Muhammad Al Maliki ( @almalikikky )

Jomblo seperti Matematika. Sering dianggap sebagai sesuatu yang sulit. Hanya sedikit orang yang menyukainya. Dan yang termasuk sedikit itu, biasanya adalah orang-orang berkualitas tinggi.

Rata-rata orang-orang pintar, cerdas, dan juga pejuang kemerdekaan. Konon lebih senang menyendiri. Ia lebih suka ditemani buku-buku daripada ditemani pasangannya. Seperti Wakil Presiden pertama Indonesia, Moh Hatta. “Dengan buku, kau boleh penjarakan aku di mana saja. Karena dengan buku, aku bebas!”

Betapa sederhana kebebasan menurut Moh. Hatta. Hanya dengan buku, penjara apapun bukanlah penjara.

Dari zaman ke zaman, orang-orang yang membawa buku ke mana-mana, dinilai cupu. Kita memang senang menilai orang-orang. mengkotak-kotakkan berdasarkan penampilan. Ciri-ciri orang yang tidak disukai dan menjadi bulan-bulanan sehari-hari adalah mereka yang kuno, rapi, serta kutu buku. Kita lebih senang menikmati dan memuja-muji orang-orang yang berpakaian minim, suka hura-hura, dan “kekinian”.

Menyikapi fenomena tersebut, saya tersentak dengan sentilan Aan Mansyur. Suatu kali, ia pernah berkata kepada saya dan para pustakawan Katakerja,”Saya berpikir akan membina para jomblo. Misalnya, membuat jomblo berkebun.” Ide yang luar biasa dan mulia. Entah apa yang dipikirkannya, mungkin untuk mengangkat derajat para jomblo yang jumlahnya lebih kecil dari derajat sudut segitiga paling lancip.

Kala melihat penampakan Aan Mansyur, saya tidak pernah mengira ia digilai oleh para pengikutnya–untung saja ia bukan nabi– di media sosial. Aan Mansyur dengan segala kesederhanaannya, bisa mengubah cara pandang orang-orang tentang bagaimana menjauhi televisi dan lebih dekat dengan dunia yang lebih luas. Rupa orang seperti Aan Mansyur adalah orang yang sering saya lihat di televisi. Berkacamata tebal, kutu buku, pendiam, dingin, dan apa saja yang sering menjadi bahan olokan di Televisi.

Ketika anda bertemu dengannya, pasti anda tidak percaya lagi dengan televisi. Kecuali berita-berita aktual, yang mendidik anak bangsa kita, bukan acara-acara yang menjerumuskan kita mengkotak-kotakkan apa saja seperti kotak Televisi.

Berpaling dari Aan Mansyur. Bahaya laten televisi menurut Emha Ainun Nadjib di bukunya yang berjudul “Tuhan Pun Berpuasa” saya simpulkan bisa seperti ini, “Di televisi, saya belajar bagaimana bulan puasa itu menjadi bulan agamais. Orang-orang latah untuk menutup aurat, dan kita disuguhkan dengan drama kenyang islam dari shubuh hingga berbuka puasa”

Kita begitu gampang menilai seseorang karena Televisi. Misal, orang berpakaian gamis atau kerudung besar bisa dituduh teroris atau pun orang alim. Begitupun sebaliknya, berpakaian minim akan dicap orang berperangai buruk.

Televisi itu adalah industri. Di dalam Industri tersebut, orang-orang di belakang layar punya misi khusus untuk membodohi siapa saja. Misinya adalah, kita mengikuti programnya, hingga menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Maka buah bibir tersebut akan memacu kita untuk segera mengambil remote dan membuktikan doktrin-doktrin sekitar agar menonton televisi maupun program-program yang menjadi kegemaran orang masa kini.

Ada beberapa alasan saat ini orang-orang senang sekali menyendiri. Mungkin karena hari ini di tempat atau kota manapun selalu ramai. Hingga akhirnya BBM menghantui (Batu dan Begal Motor) .

***

Selain pembegalan, hampir setiap orang di kota–menyusul desa–sama sekali tidak ingin menyendiri. Karena propaganda layar flatron yang senang memperolok kesepian. Seakan-akan jomblo itu minoritas.

Dalam kesendirian kita, hampir tiap hari berbicara pada diri sendiri. Apa guna menjalin hubungan menanggalkan lajang, jika membikin resah. Sebab kita atau mereka tanpa henti menuntut bahagia.

Propaganda stereotipe jomblo saya simpulkan dengan acara televisi yang bertajuk “Inikah Rasanya” atau “Tersanjung”. Anak-anak yang terlahir 24 tahun lalu, pasti mengerti dengan judul di atas. “Tersanjung” membuat hari-hari kita bercita rasa kenyang cinta sampai ribuan episode lamanya. Juga “Inikah Rasanya”, otak kita distimulus dengan hedonisme, keren yang entah dari mana asal keren tersebut. Padahal, tentu saja, isi kepala kita harus lebih besar dari kotak Televisi. []

Image Credit: Aan Mansyur | @hurufkecil


Baca tulisan lainnya terkait dengan Aan Mansyur

Sembilan Kekuatan Super yang Kamu Kira Bukan

Jika Kami adalah Tokoh Film

Beberapa Jam Sebelum Seseorang Menemukan Mayatku

Sejumlah Kumpulan Cerpen Indonesia yang Saya Baca Dua Kali atau Lebih

Daftar Tidak Kelar tentang Daftar

Buku, Hari-Hari Kasih Sayang dan Siasat Kecil Mempromosikan Diri

Apa Judul yang Cocok untuk Tulisan ini Menurut Kamu?

Kisah-Kisah yang saya Bayangkan ketika Mendengarkan Alkisah

Menulis Kreatif seperti Memecahkan Soal Matematika tanpa Kalkulator