Sumber Foto: Legendary Pictures

Alasan pertama saya untuk akhirnya memutuskan menonton film ini adalah Coldplay. Saya bukan penggemar fanatik, tapi saya suka sekali lagu mereka yang berjudul “Miracle”, yang juga menjadi soundtrack film ini.

Kemudian saat film ini muncul, saya baru tahu kalau Angelina Jolie lah yang menyutradarainya. Dan kedua alasan itu cukup untuk kemudian mendapati diri saya menonton dalam studio yang isinya kurang dari sepuluh orang.

“Kita nonton apa?” Dini bertanya sebelum sampai di bioskop.
“Unbroken”, saya menjawab mantap.
“Yaah, ini tinggal setengah jam sebelum pemutaran. Semoga tiketnya belum habis”, katanya.
“Tak mungkin habis. Siapa yang mau nonton Unbroken? Siapa yang tahu film itu?” kataku mengurangi kekhawatirannya.

Dan dugaanku benar.

Namun, jika dengan dua alasan diatas tadi belum cukup membuat kalian menonton filmnya, saya pikir mungkin kalian akan tertarik setelah membaca ulasan ini.

Unbroken diangkat dari kisah nyata Louis Zamperini dalam buku non-fiksi karya Laura Hillenbrand berjudul Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience and Redemption. Film berdurasi 137 menit ini mengambil dua fokus cerita dengan alur maju mundur; kisah keemasan Zamperini sebagai atlit maraton Olimpiade dan titik terendahnya sewaktu ia menjadi tawanan perang di kamp Jepang saat Perang Dunia II merebak.

Unbroken memuat kisah keemasan Zamperini sebagai atlit maraton Olimpiade dan tawanan perang di Perang Dunia II.

Unbroken memuat kisah keemasan Zamperini sebagai atlit maraton Olimpiade dan tawanan perang di Perang Dunia II.

Bayangkan Forrest Gump, Pearl Harbour dan sedikit rasa Life of Pi jadi satu (tanpa harimau Bengal dalam sekoci). Tapi tak ada yang benar-benar menjadi ‘punch’ dalam film arahan aktris Angelina Jolie ini. Padahal semua orang-orang di balik layar sudah nyaris sempurna.

Ada duo Joel-Ethan Coen dan Richard LaGravenese yang cerdas meramu skenario. Kemudian ada Roger Deakins yang menjadi D.O.P film-film pemenang Oscar, semisal The Shawshank Redemption, Skyfall hingga No Country for Old Men. Dengan tim seperti itu, saya pikir Unbroken harusnya bisa lebih baik lagi.

Louis Zamparini yang diperankan oleh Jack O'Connell di Unbroken (2014), harus memerankan tokoh yang cukup legendaris di dunia atletik sekaligus pahlawan perang di era Piala Dunia II.

Louis Zamparini yang diperankan oleh Jack O’Connell di Unbroken (2014), harus memerankan tokoh yang cukup legendaris di dunia atletik sekaligus pahlawan perang di era Perang Dunia II.

Tapi bukan berarti film ini tak layak nonton. Malahan film yang dirilis Christmas tahun lalu di Amerika ini direview 7.1/10 di Internet Movie Database alias imdb.com. Unbroken juga mendapat tiga nominasi Oscar tahun ini dalam kategori Cinematography, Sound Mixing dan Sound Editing.

Unbroken (2014) adalah film pertama arahan langsung dari Angelina Jolie. Kesungguhan Jolie dalam meramu skenario menjadi adegan dibuktikan dengan turun langsung mengarahkan pemainnya.

Unbroken (2014) adalah film pertama arahan langsung dari Angelina Jolie. Kesungguhan Jolie dalam meramu skenario menjadi adegan dibuktikan dengan turun langsung mengarahkan pemainnya.

Jack O’Connell didaulat menjadi pemeran utama Louis Zamperini. Aktor Inggris kelahiran Agustus 1990 ini berhasil dengan amat baik menjadi atlit dan ‘survivor’ yang keras kepala dan tak mudah tunduk pada Jepang. Namun, aktor pendukung yang cukup mencuri perhatian saya adalah Takamasa Ishihara, yang berperan dengan amat kejam sebagai Sersan Watanabe, pimpinan kamp tahanan.

Aktor pendukung yang cukup mencuri perhatian saya di Unbroken (2014) adalah Takamasa Ishihara, yang berperan dengan amat kejam sebagai Sersan Watanabe, pimpinan kamp tahanan.

Aktor pendukung yang cukup mencuri perhatian saya di Unbroken (2014) adalah Takamasa Ishihara, yang berperan dengan amat kejam sebagai Sersan Watanabe, pimpinan kamp tahanan.

Unbroken yang berarti continuous and with no pauses atau terus menerus, menjadi sebuah film yang meminta kita agar terus bertahan dalam segala hal buruk yang terjadi pada hidup. Karena seperti yang dikatakan kakak Louis, Pete: “A moment of pain is worth a lifetime of glory“. Jadi tetaplah bertahan untuk berjuang, pada akhirnya kita akan berhasil.

Have a nice watching everyone! []