Pergerakan dunia perfilman khususnya di Makassar, dapat dikatakan sangat dinamis. Ditandai makin banyaknya penggiat film di Makassar yang mulai berani berkarya. Sebagaimana kita ketahui, proses produksi film adalah sesuatu yang mahal, tentu bisa jadi kendala bagi para pemilik ide untuk merealisasikannya ke dalam film. Tapi menyampingkan kenyataan tersebut, banyak yang tetap berjuang sehingga film-film dari sineas Makassar akhirnya bisa diperhitungkan di tingkat nasional bahkan internasional.

Karya tetaplah karya, dan itu membahagiakan saat ada yang mengapresiasi bahkan jika itu berbentuk kritikan sekalipun. Penggiat film di Makassar bisa dikatakan sangat beruntung. Banyak pihak di Makassar yang peduli kepada kreatifitas mereka, sehingga banyak pihak yang bersedia terlibat dalam pembuatan film. Baik itu bersentuhan secara langsung dalam proses produksi ataupun sebagai penyedia wadah film Indie dari sineas Makassar untuk memulai debutnya. Bukti nyatanya terlihat jelas dalam beberapa waktu belakangan ini banyaknya event pemutaran film2 karya sineas Makassar.

Prolog Art Building pun tergerak menjadi wadah untuk para penggiat film, melalui kegiatan Makassar En Scene : Mise en Scène Analysis #1st Edition sebagaimana disampaikan Andi Burhamzah (Anca): “Cita-citanya program ini menjadi sarana edukasi bagi semua antusias film di Makassar dari semua kalangan mulai dari antusias film dari organisasi Universitas di Makassar, cita-cita kedua semoga tidak berakhir pada saat event ini diadakan saja dan selalu  ada interaksi di antara antusias film setelah semua ini.”

Datang lebih cepat dari jadwal yang ditentukan ternyata membawa keberuntungan tersendiri bagi saya. Menikmati angin sejuk yang bertiup, menggerakkan jejeran bendera kecil yang mengiringi lampu-lampu neon remang-remang yang menambah suasana romantis di bawah bulan sabit yang terlihat seperti tersenyum. (Suasana begini yang membuat saya sedikit menyesal masih jomblo )

Walaupun baru dimulai tepat pukul 20.00 WITA dan terbilang telat dari jadwal yang tertera di poster, Rizcky De Keizer akhirnya memecah sunyi dengan membawakan beberapa lagu sekaligus sebagai tanda dimulainya Makassar en Scène di rooftop Prolog Building Art yang saat itu turut dihadiri Rektor Institut Kesenian Makassar, Bapak Syahriar Tato. Setelah sesi penampilan musik selesai, rooftop berubah gelap gulita, bintang dan bulan tampak lebih jelas saat film Berburu Harimau arahan Arman Dewarti mulai diputar, dengan ditemani sejuk hembusan angin penonton dengan khidmat mengikuti alur cerita.

Bagi beberapa orang termasuk saya, ini bukan pertama kalinya saya menonton Memburu Harimau. Tepatnya tahun 2012 lalu, saya telah menonton film ini saat diputar di Societeit de Harmonie. Tapi baik yang sudah ataupun baru pertama kali mungkin akan sekadar ingin tahu alur cerita dan setting-nya, film ini wajib ditonton.

Setelah pemutaran film, sesi diskusi dibuka oleh moderator dengan Arman Dewarti selaku sutradara film Memburu Harimau sendiri yang menjadi narasumbernya. Dalam sesi ini Arman Dewarti menjelaskan pengertian Mise en Scène itu sendiri, “Mise en Scène itu berasal dari bahasa Prancis yang berarti ‘meletakkan sesuatu di scene‘ dan sebenarnya hal ini awalnya diterapkan dalam dunia teater, lalu diadaptasi dalam dunia perfilman,” jelasnya. Arman Dewarti pun melanjutkan, ” film ini terinspirasi dari masa kelam saat maraknya Penembak Misterius di Indonesia, walaupun latar waktunya tidak mengikuti langsung ataupun hanya memperhatikan tokoh Sinar, Soraya, dan Timur dengan segala intrik dan konfliknya. Kita tidak tahu lebih mendalam, bagaimana Mise en Scène dalam film ini, atau bahkan kita tidak tahu apa Mise en Scène itu sendiri.”

Suasana diskusi Makassar En Scene bersama Arman Dewarti, sang sutradara Memburu Harimau.

Suasana diskusi Makassar En Scene bersama Arman Dewarti, sang sutradara Memburu Harimau.

Beliau juga mengatakan, “Dalam dunia film,  sendiri mempunyai dua pengertian : 1) Dilihat dari segi penonton, Mise en Scène adalah semua hal yang tampak pada layar, 2) Dilihat dari segi pembuatnya, Mise en Scène adalah proses mendirect apa yang akan dimasukkan ke dalam scene (pencahayaan, properti, ekspresi, pergerakan figur,dsb).”

Dalam sesi ini juga muncul pertanyaan  mengenai fungsi dan seberapa pentingnya Mise en Scène.”Mise en Scène itu sendiri berguna untuk membangun mood penonton untuk menangkap suasana dalam film, sebagaimana film Memburu Harimau sendiri yang bergenre noir (gelap) atau dalam dunia perfilman dapat diartikan suram. Dari satu kata “suram” itulah digunakan untuk menyusun kondisi, dan membangun suasana kota yang sepi atau tidak bahagia, itulah proses Mise en Scène dalam film ini. Selain itu beberapa pertanyaan tentang teknis langsung dijawab singkat oleh beliau. Menjelang akhir acara beliau menyarankan, “Ke depannya yang dibahas tidak sekedar Mise en Scène, namun lebih luas ke instrumen semiotikanya agar lebih mendalam.”

Sayangnya, moderator kurang interaktif dalam mengawal alur diskusi, juga kurangnya partisipasi peserta yang hadir untuk mengkritik atau mengomentari, malah membuat atmosfer diskusi kurang terbangun dalam forum ini. Namun, di luar itu Makassar En Scene edisi pertama ini, bisa dikatakan sangat berhasil memenuhi tujuan itu. Penjelasan narasumber sangat jelas dan mudah dimengerti. Tampaknya selaras dengan yang disampaikan oleh Andi Burhamzah (Anca) tentang tujuan Makassar En Scene adalah memperkenalkan apa itu Mise en Scène, dan membuatnya familiar di kalangan penikmat film di Makassar.

Makassar En Scene malam itu juga dihadiri Rusmin Nuryadin, staf pengajar film pada Institut Kesenian Makassar. Rusmin juga merupakan sutradara dari film pendek "Cinta Sama dengan Cindolo na Tape" yang populer itu.

Makassar En Scene malam itu juga dihadiri Rusmin Nuryadin, staf pengajar film pada Institut Kesenian Makassar. Rusmin juga merupakan sutradara dari film pendek “Cinta Sama dengan Cindolo na Tape” yang menjadi official selection di berbagai festival film.

Selanjutnya, kegiatan Makassar Mise en Scène semester pertama ini dijadwalkan akan terus berlanjut dan berlangsung pada Agustus-Desember 2015 dengan jadwal pemutaran tiap dua minggu sekali,  jadi setelah Memburu Harimau, Prolog Art Building melalui kegiatan Makassar En Scene akan memutarkan lagi delapan film terbaik lainnya dari sineas independen Makassar dan membahas hal-hal lain yang berbeda dan lebih menarik. Jadi,Mari berkumpul lagi! []


Artikel Lainnya Terkait dengan Perfilman

Film Pencitraan vs. Film Prestasi

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Selamat Hari Film Nasional!

Jika Kami adalah Tokoh Film

“Sebenarnya Film Sepatu Baru itu Salah Acuan”

Pesan untuk Film Bombe’

Lima ‘Bioskop’ Alternatif di Makassar