Tradisi masyarakat kita senang berkumpul, bertemu, dan merayakan pesta. Kegiatan-kegiatan yang memiliki peran tersendiri untuk membangun sistem sosial dalam masyarakat. Pertemuan-pertemuan yang terjadi kemudian menjadi instrumen yang membangun rasa persaudaraan. Kita bertemu dan merayakan semua pesta, mulai dari kelahiran, pernikahan, masuk rumah baru, kelulusan, kematian, hingga sunatan.

Tradisi ini telah melampaui waktu. Menembus sekat peradaban dan masih terawat hingga saat ini. Meskipun harus diakui bahwa zaman telah mengubahnya ke dalam bentuk yang lebih sederhana. Pesta yang biasanya kita lakukan di rumah – atau paling tidak di halaman rumah, berpindah ke warung kopi, cafe, atau hotel.

Kesenangan berkumpul ini kemudian menjadi budaya yang turun temurun. Siapapun yang pertama kali membuat pesta korontigi, atau pelamaran tidak pernah membayangkan bahwa kegiatan itu akan bertahan hingga saat ini. Dan sekarang, korontigi telah sampai di masa kita sebagai sesuatu yang tak terpisahkan. Begitupun dengan kebiasaan-kebiasaan lain yang masih terpelihara hingga saat ini.

***

Ada ungkapan yang sering terdengar jika menghadiri acara di kampung saya. Jika sudah sampai di pintu, tuan rumah berdiri dan mempersilakan tamu untuk masuk seraya mengucapkan antamaki mae/katte mami nitayang/punna tena nakintama/tena na angganna ilalang yang dalam arti bahasa Indonesia yang tidak baku, masuk-ki ke dalam, sisa kita ditunggu, kalau tidak masuk-ki tidak genap-ki. Meskipun si pemilik rumah tidak pernah menghitung, apakah tamu yang datang itu sudah genap atau masih ganjil.

Sekilas kalimat dalam bahasa Makassar tadi terdengar biasa saja. Tapi pernahkah kita bayangkan bahwa penggunaan kata “angganna” yang dalam bahasa Indonesia diartikan genap adalah ungkapan keakraban yang mengandung makna keakraban yang tinggi.

Bahwa mengundang orang untuk bergabung dengan menggunakan kata genap berarti bahwa pesta ini ganjil jika orang tersebut tidak bergabung. Kata genap juga dapat diartikan cukup atau utuh.

Kalimat bahasa Makassar tadi masih digunakan meskipun saya lebih sering mendengarnya dilafalkan dengan bahasa Indonesia. Masuk-ki, kita mami yang ditunggu, kalau tidak masuk-ki, tidak jadi acara. Kata angganna dan tidak-jadi memang memiliki efek sosial yang sama. Tapi angganna jauh lebih kuat untuk membangun keakraban sosial. Entah mengapa, mungkin memang dalam budaya kita sengaja diciptakan pengomunalan kelompok masyarakat.

***

Disadari atau tidak, berkumpul adalah salah satu cara untuk membangun keakraban. Bahkan lebih dari itu, bisa membangun kekuatan yang sangat besar. Bayangkanlah, seandainya pada tahun 1914 Henk Sneevliet dan Pak Yahya tidak bertemu, maka Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda pasti tidak didirikan. Jika Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) tidak didirkan maka tidak ada kongres ISDV. Jika kongres ISDV di Semarang pada Mei 1920 tidak ada, maka penggantian nama dari ISDV ke Perserikatan Komunis Hindia tidak pernah terjadi.

Jika perubahan nama dari ISDV menjadi PKH tidak terjadi maka Partai Komunis Indonesia juga tidak ada. Jika PKI tidak lahir pada tahun 1924 maka pada tahun 1965 tidak ada pengganyangan. Jika pengganyangan itu tidak ada maka Soeharto tidak pernah jadi Presiden. Jika Soeharto tidak jadi presiden, maka reformasi yang mahasiswa perjuangkan pada tahun 1998 tidak pernah terjadi. Jika tidak ada reformasi, mungkin negara kita masih dikuasai oleh rezim Soeharto – bahkan bisa saja lebih buruk dari saat ini.

Henk Sneevliet dan Pak Yahya sebagai pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, tidak pernah bertemu dengan Soeharto. Tapi apa yang dilakukan oleh Sneevliet pada tahun 1914 masih punya kaitan dengan apa yang kita rasakan saat ini.

Sneevliet tidak pernah membayangkan bahwa ISDV yang ia dirikan pada tahun 1914 akan berubah menjadi Partai Komunis Indonesia. Apa lagi membayangkan bahwa partai non-penguasa terbesar di dunia itu akan dijadikan korban. Simpatisan dan pendirinya ditangkap dan dituduh sebagai biang onar.

Sneevliet, Soeharto, Mahasiswa 1998, dan kita semua adalah sebuah kegenapan. Kegenapan yang tercipta tanpa kita sadari. Terbangun dari akar sejarah yang sama. Ini termasuk ke dalam konsep kegenapan dalam tradisi kita. Kegenapan yang membangun ikatan yang dapat menembus ruang dan waktu. []

 

image: Makassar.us