Rentang waktu World War II yang panjang dan dengan tokoh utama Adolf  Hitler yang luar biasa kejam, melahirkan ide-ide kreatif para filmmaker dunia. Tahun 2008, Bryan Singer mengangkat tema sejarah Operasi Valkyrie yang bertujuan untuk mengambil alih kepemimpinan Hitler. Tom Cruise berperan dengan begitu meyakinkan sebagai Kolonel Claus von Stauffenberg. Tahun 2009, Quentin Tarantino membuat Inglourious Bastard dengan jajaran cast yang tidak main-main: Brad Pitt, Diane Kruger hingga Christoph Waltz yang memerankan Kolonel Hans Landa dengan sangat mengagumkan. Kedua film penuh aksi itu mungkin terdengar biasa untuk kisah-kisah yang mengangkat tema perang dunia. Tapi ada The Boy in the Striped Pajamas muncul pada November 2008. Film drama perang pertama ini begitu unusual. Ceritanya berpusat pada Bruno, anak laki-laki 8 tahun yang menjadi korban kamp konsentrasi Yahudi.

Belum cukup sampai di situ, film dengan setting Perang Dunia II yang unusual saya berikan kembali ke film The Monuments Men.

Film ini diangkat dari kisah nyata perburuan harta terbesar dalam sejarah. Tujuh laki-laki yang menamakan dirinya The Monuments Men terdiri dari kurator museum, pecinta karya seni, arsitek dan professor seni. Mereka ditugaskan untuk terjun ke medan perang dan mengumpulkan kembali seluruh karya seni yang telah dicuri oleh Nazi. Masalah muncul sebab mereka lebih mengenal siapa Michaelangelo dibandingkan bagaimana menggunakan M-1 dan teknik menembak dengan jitu.

Sutradara film, George Clooney, mengajak Matt Damon, Bill Murray, John Goodman, Jean Dujardin, Hugh Bonneville dan Bob Balaban dalam tim Monuments Men. Mereka dibantu oleh Claire Simone, perempuan Perancis yang diperankan oleh Cate Blanchett.

Apa hal terakhir yang dianggap penting saat perang berlangsung? Mungkin jawabannya adalah karya seni. Siapa yang peduli pada patung Madonna of Bruges karya Michaelangelo jika di luar sana, gedung, rumah dan gereja sedang dibom? Siapa yang akan peduli pada Ghent Altarpiece? Dan pada ribuan lukisan karya Picasso dan Rembrandt, ratusan permadani, perhiasan, buku-buku? Siapa yang mau repot-repot peduli?

Ada pertanyaan yang begitu membahana bagi saya saat film hampir berakhir. Apakah kehilangan nyawa setimpal untuk mempertahankan sebuah karya seni? Apakah orang akan peduli jika mereka suatu saat melihat patung Madonna of Bruges and Child mereka tahu kalau ada nyawa yang telah hilang?

Saya punya adegan favorit di film ini. Saat Letnan Stokes (Clooney) memberitahu rekan-rekannya melalui radio. “Misi ini tidak pernah dirancang untuk sukses. Mereka bilang dengan sebegitu banyaknya orang mati, siapa yang peduli dengan karya seni? Mereka salah, karena itulah yang kita perjuangkan, untuk kebudayaan kita. Kalian bisa menghapus habis keturunan seseorang, membakar rumah, tapi semua hal itu akan kembali. Tapi kalau mereka menghancurkan karya pencapaian dan sejarah kita, itu seperti takkan pernah ada, hanya abu beterbangan. Itulah hal sederhana yang takkan kita ijinkan terjadi”

Have a nice watching, everyone!