Ilustrasi: Randy Rajavi ( @randy_rajavi )

(Tulisan yang akan Anda baca berikut ini tidak lebih dari 25% hasil wawancara yang sebetulnya berlangsung tidak santai sambil minum segelas kopi diiringi lagu-lagu Theory of Discoustic pada suatu malam yang lengang di ruang baca Katakerja. Selebihnya, sengaja dihapus karena berisi curahan hati dan tidak berhubungan dengan topik bahasan yang semula direncanakan.)

*

Perkembangan musik di Makassar, sebagaimana dunia kreatif lainnya seperti film dan sastra, sejak beberapa tahun terakhir, menurut saya, semakin menggembirakan. Kian banyak musisi menghasilkan karya menarik dan apreasiasi terhadap karya-karya tersebut juga kian marak. Kamu punya pendapat mengenai hal ini?

 Punya.

Jadi, apa pendapatmu mengenai perkembangan musik di Makassar? Barangkali kamu ada sesuatu yang cukup cerdas yang bisa kamu utarakan. Saya pikir orang-orang perlu tahu apa yang kamu pikirkan tentang skena musik di Makassar.

 Ah, tidaklah!

Tahun lalu, ketika sedang galau karena sejumlah hal, saya datang ke acara bernama Musik Hutan dan, di luar dugaan, saya sangat menikmatinya. Para musisi dan penonton lain juga tampak menikmati acara tersebut. Musik Hutan adalah acara kreatif yang penuh keceriaan dan paling saya nantikan tahun ini. Kamu setuju?

Iya. Biar cepat.

Apakah kamu memang senang memberikan jawaban yang singkat-singkat semacam itu kalau diwawancarai? Atau, jangan-jangan, kamu sedang…

Kamu sadar tidak kalau kamu diminta oleh Revius untuk mewawancarai diri sendiri? Jadi, sebagai pewawancara, kamu tidak perlu terlalu cerewet dan sok tahu, karena saya tidak mau cewek-cewek yang membaca tulisan ini menganggap saya, Aan Mansyur, kamu, kita, sebagai cowok yang menyebalkan. Kamu mau hidup tanpa pacar sampai berapa kali pemilihan presiden?

Santai, Bro! Minum kopi dululah.

 (Minum kopi)

 Apakah wawancara ini sudah bisa kita lanjutkan?

 (Diam)

 Kamu akan hadir di acara Musik Hutan tahun ini?

 Kalau kamu pergi, tentu saja, saya juga akan ada di sana.

Selain untuk menikmatinya sebagai penonton dan mencari pacar baru, kamu punya tujuan lain?

Menghambur-hamburkan uang.

Demi Tuhan, sama sekali tidak lucu!

Selain untuk meringankan tugasnya, kamu pikir untuk apa Akbar Zakaria meminta kita melakukan hal semacam ini jika saya tidak punya tujuan lain di Musik Hutan? Seperti tahun lalu, saya akan tampil membaca satu atau dua puisi. Bersama teman-teman di Katakerja dan Revius, saya juga akan memfasilitasi pelatihan menulis kreatif di sana.

Menarik.

(Tersenyum)

(Minum kopi)

Bisa kamu ceritakan tentang pelatihan menulis itu?

Bisa.

Ya, sudah, ceritakanlah!

Menulis hasil wawancara pura-pura semacam ini ternyata susah juga. Tapi, menghasilkan tulisan yang bagus tentang apa pun sebetulnya memang tidak pernah mudah. Dan, saya pikir, itu salah satu alasan kenapa pelatihan menulis perlu lebih sering dilakukan. Beberapa kali, di acara-acara komunitas, saya dengar ada yang mengatakan bahwa kurangnya orang yang melakukan pencatatan dengan baik termasuk persoalan yang dihadapi skena musik di Makassar. Oleh karena itu…

Di Musik Hutan nanti kamu mau berkolaborasi dengan siapa?

Penjelasan saya tentang pelatihan penulisan kreatif tadi belum selesai! Lagi pula, itu pertanyaan andalan Akbar Zakaria untuk band-band yang akan tampil di Musik Hutan dan sebaiknya kamu tidak perlu mengikutinya.

Baiklah. Jika saya berminat ikut pelatihan menulis di Musik Hutan tersebut, ada syaratnya?

Semua hal di dunia ini ada ketentuannya. Jangan pernah percaya jika ada orang bilang akan mencintaimu tanpa syarat. Kalau dia tidak berbohong, dia pasti tidak tahu bahwa dirinya bodoh. Tetapi, syarat untuk ikut pelatihan menulis ini jauh lebih gampang daripada menemukan seorang kekasih yang setia.

Mantan pacarmu dulu selingkuh ya?

Kita sedang bicara tentang Musik Hutan, jangan ajak saya untuk curhat! Lagi pula, yang pacarnya selingkuh itu teman kita editor Revius yang sebaiknya tidak perlu disebutkan namanya di sini. Begini, jika kamu mau ikut pelatihan menulis di Musik Hutan, ini syarat-syaratnya: Pertama, bikin tulisan minimal 500 kata mengenai kenapa kamu tertarik ikut Musik Hutan. Kedua, kirimkan tulisan tersebut ke talktous@revi.us atau bisa juga mention link tulisan kamu ke @revius_ di Twitter paling lambat 20 Agustus 2015. Kami akan memilih 15 orang yang berhak mengikuti pelatihan gratis yang akan berlangsung di sela-sela acara Musik Hutan ini. Terakhir, peserta yang terpilih akan diminta menulis tentang Musik Hutan selepas acara.

Semudah itu?

Cukuplah menjalani hari-hari tanpa pacar yang sulit!

Konon akan ada pop-up library dari Katakerja juga di sana. Betulkah?

Area pelatihan menulis tersebut rencananya akan dibuat seperti perpustakaan kecil di tengah hutan. Katakerja akan membawa kira-kira seratus atau dua ratus judul buku yang bisa dipinjam dan dibaca oleh pengunjung secara cuma-cuma di tenda masing-masing atau di mana saja di lokasi acara. Bayangkan, di bawah pohon-pohon yang teduh di tengah hutan pinus kamu membaca bersama pacar atau teman-temanmu—sambil menikmati penampilan band-band Makassar di panggung Musik Hutan.

Terdengar menyenangkan! Jadi, setelah bertahun-tahun, kamu akhirnya akan menemukan pacar baru di Musik Hutan 2015?

Doakan saja cewek yang sedang saya ondos-ondos datang!

Pertanyaan terakhir, bagaimana kabar buku-bukumu?

 Ssst, nanti Akbar Zakaria marah kalau saya mempromosikan buku-buku saya di wawancara ini. Tapi, intinya, siapa pun yang membaca hasil wawancara ini sebaiknya membeli buku-buku saya.

 Please.

 Iya, dan peace!


Kamu bisa mengikuti pelatihan menulis kreatif di Musik Hutan 2015 bersama Aan Mansyur dengan syarat-syarat seperti yang telah dijelaskannya di atas. 15 orang berhak mengikuti pelatihan gratis yang akan berlangsung di sela-sela acara Musik Hutan ini. Ayo, tunggu apalagi. Pelatihan menulis kreatif ini GRATIS!

INFO terkait reservasi, daftar penampil, atau pemesanan merchandise Musik Hutan 2015, bisa anda temukan di @musikhutan atau Facebook fanpage “Musik Hutan” dan musikhutan.com


Musik Hutan official Account


Baca seri wawancara lainnya dengan penampil Musik Hutan 2015

Ferry Febriansyah: “Disiplin dengan Kebersihan Sekitar”

DJ Austyn: Kuncinya, Tetap Berkarya dan Jalan Terus!

R.A.V.D.: Anak Band Harus Tahu Musik Hutan

10 Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang FirstMoon

Galarasta: “Musik Hutan adalah Ajang Temu dan Berbagi para Musisi”

Didit Palisuri: “Dengan Musik Hutan, Kita Bisa Sejenak Beristirahat dari Hiruk Pikuk Kota”

Speed Instinct: “Hutan adalah Nyawa untuk Kehidupan Manusia”

The Joeys: Ubah Pola Pikir, Jangan Buang Sampah Sembarangan!

Theory of Discoustic: “Musik Hutan adalah Salah Satu Perhelatan Musik yang Paling Serius Digodok”

Ska With Klasik: Sadar Lingkungan Mulai dari Diri Sendiri

Hollywood Nobody: Musik & Hutan are The Best Gifts