Foto: Sofyan Syamsul (@pepeng__)

Bisa dihitung dengan jari kunjungan saya ke Rumata’ Artspace. Setiap ke sana, tidak tahu mengapa, saya selalu masuk melalui pintu belakang. Dan, dari nilai-nilai bugis yang sedikit saya tahu, salah satunya mengindahkan bahwa tamu atau orang lain masuk lewat pintu depan dan keluarga masuk lewat pintu belakang. Hal ini tentu saja menyebabkan saya merasa diri sebagai keluarga di Rumata’. Atau mungkin saya yang terlalu ge’er. Entahlah. Tapi, didukung atau tidak oleh rasa ge’er tadi, bagi saya, tempat ini mempunyai kemampuan gaib untuk menegaskan betul secara harfiah arti dari kata Rumata’ itu sendiri kepada para pengunjungnya. Terutama bagi pengunjung penganut cocoklogi macam saya.

Lepas dari asumsi metafisik, dari pintu belakang itu pula saya menyimak instalasi dari pameran hasil karya Farid Wajdi. Ruangan persegi yang Ia sulap menjadi deretan karya yang menyerupai museum mini. Terdiri dari lima sosok portrait before-after bergaya ala Aru Palaka,  sebuah layar yang menyajikan interview sosok di balik portrait tadi, dan sebuah pigura jumbo dengan tulisan “radja palacca de koningh der bougies” yang dilengkapi properti berupa ikat kepala Aru Palaka bagi pengunjung yang ingin futu-futu.

Muhammad Farid Wajdi, demikian nama lengkapnya, adalah fotografer muda yang mempunyai segudang pengalaman dari media sampai ke musik tur. Dari studio foto yang kaku sampai ke panggung musik terliar sekalipun. Dari official fotografer band lokal sampai fotografer untuk koran Tempo di tahun 2013. Farid Wajdi kini berperan sebagai kontributor untuk irockumentary.com dan terlibat sebagai salah satu pengajar di Akademi Berbagi.

Saya mengenal Farid Wajdi kurang lebih empat tahun lalu. Dia bersama Melismatis melakukan tur Finding Moon jilid I. Setelah membaca profile-nya untuk artikel ini, saya baru tahu bahwa beliau ternyata adalah senior saya di SMP dan SMA. Ya, butuh 12 tahun untuk akhirnya kami saling mengenal. Yang menggiring kita semua ke pertanyaan paradoxical berikut: berapakah umur si penulis dan Farid Wajdi apabila mereka baru kenalan 7 tahun pasca Farid Wajdi lulus SMA? *hint: tidak lebih tua daripada Awkarin.

Ai’ (panggilan akrab Farid Wajdi) adalah satu dari tak ada lagi orang saya kenal yang berhasil bertahan hidup melalui fotografi di kota ini. Yang menarik adalah dia memulai kariernya di fotografi sebagai fotografer musik. Dan sekarang, wujud dari ke-survive-annya, dia telah membangun sebuah studio foto mumpuni di bilangan Pabaeng-baeng. Lengkap dengan dua karyawan yang siap membantu segala kinerjanya.

Di suatu pagi saya berkunjung ke studio foto Ai’ dengan sebelumnya harus sigea’ (berdebat -Red) dengan orang rumah perihal keabsenan saya di rutinitas beli sayur pagi hari. Pergea’an diakhiri dengan multi-tafsir kata ‘pergi interview’ yang menjadi alasan saya cus pagi itu. Orang rumah mengira saya ke interview penerimaan pegawai lembaga anti-rasuah yang infonya sedang gencar di grup Whatsapp keluarga. Maklum, sebagai pengangguran, alasan saya untuk ‘pergi interview’ tentu sangat menyenangkan mereka semua. Minimal sebagai selingan obrolan grup Whatsapp yang percakapan utamanya adalah diskusi ceramah.

Oke, cukup tentang saya dan curhat grup Whatsapp. Mari kita cari tahu tentang sosok Farid Wajdi dan keterlibatannya di pameran Rethinking Local Heroes yang, tentu saja, jauh lebih menarik dibanding paragraf sebelum ini. Berikut adalah perbincangan kami:

Saya: Halo Ai’!

Ai’: Halo juga…

Jadi bemana?

Bemana apa ini hahaha.

Hahahahha. Bagaimana bisa terlibat di Rethinking Local Heroes?

Sebenarnya dari beberapa bulan lalu saya sudah dihubungi oleh kak Abdi (Abdi Karya, red) tentang pameran ini. Setelah berbincang dengannya, saya langsung tertarik untuk ikutan. Kebetulan saya juga memiliki agenda pribadi untuk mengadakan pameran tiap tahun. Dan apabila ada kesempatan untuk berpameran pasti saya mau ikut serta. Jadi mumpung ada ajakan dari kak Abdi dan menurut saya temanya bisa bikin saya lebih explore tentang fotografi, kenapa tidak.

Jadi info tentang pameran ini sudah lama kau tahu? Berarti cukupji persiapannya?

Iya infonya sudah lama. Setelah lebaran idul fitri tahun ini. Tiga atau empat bulan yang lalu kalo nda salah. Namun, karena tidak mendapat kabar lanjutan dari kak Abdi, Kemal, ataupun Kak Abe, saya kira pameran ini tidak jadi diadakan. Saya pun tidak mempersiapkan apa-apa. Tapi kemudian, satu bulan yang lalu tiba-tiba ada kabar dari kak Abdi kalo ternyata pameran ini jadi. Hahahaha.

Tapi ketika diinfokan empat bulan lalu, sudah ada idemu mau dikasi bagaimana ini pameranmu?

Belum hahaha. Waktu diberi info mengenai ini saya baru mau mencari siapa kira-kira sosok  yang saya mau angkat. Dan saat itu saya juga masih bingung local hero seperti apa yang dimaksud. Apakah local hero saat ini atau yang di masa lalu. Apakah local hero versi personal atau yang diakui buku sejarah sekolah. Tetapi setelah dihubungi kak Abdi sebulan lalu, dan setelah intense ngobrol serta bertemu dengan semua yang terlibat, terjawab semua kebingunganku sebelumnya. Pula lebih jelas mi karya seperti apa yang harus saya sajikan di pameran ini. Tetapi, sebelum lebih jauh, saya akui riset saya mengenai local hero yang saya angkat, Aru Palaka, ini tidak terlalu dalam. Mungkin karena persiapan yang singkat tadi dibarengi dengan deadline kerjaan saya yang beriringan di sekitar waktu yang sama.

Dari awal memang idenya melibatkan empat seniman?

Iya. Sudah diberi tahu sebelumnya bahwa nanti ada empat seniman yang pameran bersama. Dan satu bulan terakhir ini kita intense bertemu dan saling sharing.

Yang bikin kau tertarik ikutan, selain karena tadi agenda pribadimu harus berpameran tiap tahun, adakah alasan lain?

Menurut saya tema pameran ini sangat menarik. Dan saya tipe orang yang malas membaca kalo tidak menarik untuk saya. Tema ini (Rethinking Local Heroes) berhasil membuat saya membaca banyak tentang sosok local hero yang saya angkat. Dari sebelumnya saya tidak tahu apa-apa tentang Aru Palaka, sampai saya akhirnya tahu beberapa hal. Seperti ternyata banyak sekali julukan yang dia peroleh. Satu yang  paling bikin saya tertarik yaitu Petta Malampe Gemmena. Yang berarti raja yang panjang rambutnya. Dari proses belajar itu pula saya jadi tahu alasan beliau mendapat julukan itu adalah karena sumpahnya kepada masyarakat Bone untuk tidak memotong rambutnya sebelum dia memerdekakan rakyatnya. Jadi lebih ke ilmunya yang bikin saya semakin tertarik. Saya menambah banyak sekali pengetahuan baru tentang local hero itu sendiri.

Dikenal lebih dulu sebagai fotografer musik, ada kesulitan mempersiapkan karyamu untuk pameran yang temanya betul-betul di luar hingar-bingar dunia musik?

Di setiap pemotretan, kesulitan pasti ada. Bahkan di fotografi musik sekalipun. Sesering apapun saya motret untuk musik, di panggung atau bukan, pasti selalu ada hambatan. Di pameran ini kebetulan saya menyajikan portrait, yang saya sedang tergila-gila mendalami tentangnya, yang menurutku kesulitan terberatnya ada di persiapan properti. Terutama ikat kepala. Saya baru kali itu melihat model ikat kepala seperti yang Aru Palaka kenakan. Saya bingung mau dibagaimanakan modelnya karena banyak versi yang saya dapat dari sumber gambar yang berbeda pula. Menurut yang saya baca, beda sedikit bentuk atau model ikat kepala bisa berbeda pula maknanya. Kalo nda salah istilahnya pattunru’. Dan saya takut sekali salah di situ. Jadi sebagian besar risetku adalah tentang itu. Tentang bagaimana ikat kepala yang benar. Saya harus betul-betul tahu tentang itu. Dan kak Abdi, salah satu narasumber andalan saya menyangkut sosok Aru Palaka, sedang tidak di Makassar pada saat saya meriset mengenai ikat kepala. Jadi agak susah untuk dapat info darinya tentang itu. Dan seminggu sebelum pameran saya masih kaya’ “bemana ikat kepalanya ini?!” Di saat bersamaan, saya belum juga foto. Hahah.

Beuh hahaha. Untuk waktu persiapan pameran 1 bulan, menurutmu kesulitan juga atau biasa ji karena biasa ji ko juga berhadapan dengan deadline?

Shock ka’ sebenarnya hahahaha. Karena saya belum pernah di-deadline untuk pameran dengan persiapan hanya 1 bulan. Apalagi ini baru pameran ke dua saya. Pameran pertamaku saja, yang persiapannya lama, pas eksekusinya masih tetap ada hambatan di mana-mana. Apalagi ini yang hanya dalam waktu satu bulan. Itupun nda satu bulan penuh karena diselingi kerjaan lain saya yang deadline di waktu yang bersamaan hahaha. Tapi di pameran ini ada pengalaman baru yaitu meriset seseorang yang sejarahnya banyak versi. Dan itu saya nda dapat di pameranku sebelumnya. Pengalaman menarik ini iya. Itu tommi juga letak keasyikan dan serunya ikut serta di pameran Rethinking Local Heroes.

Ada alasan mengapa memilih Aru Palaka?

Nah, sebenarnya pilihanku sebelumnya itu ada dua; antara Sultan Hasanuddin atau Aru Palaka. Setelah meriset tentang Sultan Hasanuddin, ada beberapa hal yang menarik untuk saya angkat dari sosok beliau. Tapi tidak ada hal yang betul-betul bikin klop hatiku. Setelah saya berdiskusi dengan narasumber, kebetulan orang Bone dan dia membahas tentang julukan Petta Malampe Gemmena tadi, langsung saya rasa “inimi! Ada juga banyak pengalaman personalku dengan rambut gondrong yang bikin tambah mantap ka’ pilih Aru Palaka. Seperti dulu ada senior saya di kampus yang berambut gondrong dan tidak akan dia potong rambutnya bede’ sebelum ujian meja. Itu kan kurang lebih sumpahji juga. Sayangnya dia tidak mendapatkan gelar hahaha.

Hahahaha. Adakah relevansi antara ketertarikanmu terhadap rambut gondrong dengan profesimu sebagai fotografer musik yang banyak menjumpai sosok gondrong di atas panggung?

Hahahaha. Nda ada ji. Cuma diantara lima sosok yang saya ambil potretnya ini, ada salah satunya yang anak band. Ketika saya tanya “kenapa kau kasi gondrong rambutmu?” dia jawab “karena keren ki saya rasa di atas panggung dengan rambut gondrong”. Alasan eksistensial iya hahaha. Dari lima orang yang saya ambil potretnya; satu orang anak band, satu videografer, satu penata rambut, dan dua orang mahasiswa, macam-macam jawaban dari mereka. Yang menarik menurut saya itu jawaban si videografer. Datang mi saja di Rumata’ sebelum selesai ini pameran kalo mau tahu apa alasan dia menggondrongkan rambutnya. Hahaha. Lanjut jawab pertanyaanmu tadi, sebenarnya nda ada sama sekali hubungannya dengan musik. Lebih ke keingintahuanku terhadap orang gondrong sekarang di Makassar, “kenapa sih dia kasi panjang rambutnya?” Lalu saya bandingkan dengan alasan Aru Palaka. Dan jawaban dari ke lima sosok ini semua ada di layar yang saya sandingkan dengan karyaku di pameran ini.

Seperti sudah dibahas sebelumnya, ada lima potret sosok gondrong yang anda pamerkan, ada alasan khusus memilih lima orang itu?

Nda adaji. Random saja sebenarnya. Dan saya selalu mulai dari orang yang saya kenal. Sebenarnya niatnya ada alasan khususnya. Tetapi mentok karena si orang yang dengan alasan khusus itu nda mau difoto hahaha. Seperti contoh; ada saya dapat sosok gondrong yang adalah seorang dokter dan juga  pengajar. Saya rasa cocok sekali ini orang untuk saya foto. Dan tersampaikanmi pasti pesan yang mau saya sampaikan di pameranku dengan sosok seperti itu. Tapi itumi, nda pede ki difoto. Hahaha.

Apa sebenarnya yang seorang Farid Wajdi ingin sampaikan ke orang-orang di setiap pamerannya?

Selalu ada hal-hal di keseharianku yang saya ingin angkat dalam bentuk fotografi yang menurutku menarik untuk dibicarakan. Contoh seperti pameran pertamaku to, Creactive Portrait. Hal pertama, yang untuk diriku sendiri, saya ingin bertemu dengan orang-orang kreatif dan belajar berbagai ilmu dari mereka. Kedua, saya ingin memperlihatkan ke orang-orang bahwa “ini e, ada tonji orang-orang di Makassar yang sukses di dunia kreatif. Tidak hanya di Jawa saja ada.” Untuk pameranku yang sedang berlangsung ini, bercermin dari diriku’ yang masih selalu menilai orang dari tampilannya, dalam bentuk before-after portrait saya ingin memberi wacana ke orang-orang : apa yang kau lihat di ini orang ketika dia bergaya dengan mengenakan pakaian sehari-harinya? Terus apa yang kau lihat setelah ini orang bergaya ala Aru Palaka? Mempengaruhi judgment-mu kah? Menjadi persepsi yang lebih buruk terhadap sosok ini? ataukah lebih baik? Itu sih yang saya mau tawarkan. Berdasarkan dari pengalamanku yang sering tertipu dengan penampilan sopan seseorang hahaha. Dan di setiap pameranku sebenarnya selalu ada ide yang tiba-tiba datang untuk pameran selanjutnya. Seperti misalnya di pameran ini, kak Luna semalam tanyakan “apa kontribusinya ini pameranmu untuk perdamaian?” Itu bikin saya bertanya-tanya “iyo di’, kalo hanya berpameran saja kosong ji kalo nda ada impact-nya. Kemudian saya kepikiran untuk pameran selanjutnya harus lebih jelas pesan dan lebih ada impact-nya. Bukan kepada orang-orang seni saja tapi juga ke masyarakat awam.

Kalau mengenai frame berukuran jumbo tempat berfoto dan layar televisi ada maksud tertentu?

Nah itu yang frame jumbo sebenarnya ide iseng. Sesuai paham kekinian: di mana ada hajatan, di situ ada photobooth. Saya pikir kenapa tidak di pameran fotografi juga dibikin begitu. Biar sedikit ada fun-nya. Kalau yang televisi itu isinya memutarkan video secara berulang interview saya dengan lima sosok di balik potret tadi. Dengan durasi dua menit dan hanya dengan dua pertanyaan: apa alasannya memanjangkan rambut? dan, apa pandangan orang di sekitarmu terhadap rambut gondrongmu? Video itu menunjukkan ke pengunjung latar belakang kelima sosok ini dan alasan mereka berambut gondrong. Seharusnya televisi itu dilengkapi dengan headphone untuk mendengar interview tadi agar interaksinya lebih personal. Tapi ada kendala yaitu belum ada sa dapat headphone dengan kabel panjang hahaha. Jadi itu, alasan dua hal tadi ada di pameranku karena sebisa mungkin mauka kasih interaktif ki ini pameranku.

Memilih lokasi di ruang belakang Rumata’ iya kenapa?

Waktu pemilihan lokasi, saya terus-terusan berpikir “di mana ka’ saya ini di’?” Awalnya saya mau di tengah. Tapi sudah dipetak sama Ina dan lainnya hahaha. Lalu saya bergeser ke sekitar pintu samping yang ternyata terlalu sempit. Nah, ruang yang di belakang ternyata nda ada yang ambil. Saya pikir di belakang ma’ deh. Mauka bikin ruangan sendiri. Ruangan ala museum. Dan ada ketakutanku’ kalau saya ikut nimbrung di tengah jadi terlalu padat dan berkurang ki estetikanya ini pameran. Makanya saya di ruang belakang saja.

Ada kau terapkan disiplin ilmu yang sudah kau dapat di pengalamanmu sebagai fotografer musik ke karya-karyamu di pameran ini?

Untuk persoalan teknis pasti ada. Seperti di-default ma ini berdasarkan pengalamanku. Samaji misalnya, kau main gitar dan ingin bunyikan gitarmu seperti intro more than words, kau taumi pasti dikasi bagaimana itu gitar supaya begitu bunyinya. Sama mi kayak saya. Se-avant garde bin cutting edge apapun pameranku nanti, tetap disiplin yang saya pake berdasarkan pengalamanku sebagai fotografer musik. Ditambah lagi kebanyakan buku yang tertarik saya baca itu adalah tentang fotografi musik. Jadi pendekatanku pasti berdasarkan pengalaman dan ketertarikanku ituji nantinya.

Pertanyaan terakhir, sebagai fotografer yang erat dengan estetika visual, bagaimana menurutmu tentang revius? Terutama tampilannya?

Tampilannya simpel dan menarik. Content-nya jauh lebih bermanfaat menurutku dibanding media lainnya. Terutama dibanding media mainstream. Tapi ada keluhanku’ ini. Kenapa setiap saya klik link artikel Revius selalu nda bisa terbuka. Selalu ki maintenance.

hahaha masa? Saya nda pernahji.

Iyo nah. Selalu. Kalo saya mau baca artikel atau buka homepage-nya selalu nda bisa. Saya coba mi malah dua-duanya. Lewat Hp dan komputer. Tetap nda bisa. Tapi mungkin kalo nda pernah ji terjadi sama kau ada yang salah dengan IP address-ku hahaha.