Teks: Wahid Affandi | Foto: Tim Media MIWF 2017

Bersamaan dengan perayaan Hari Buku Nasional (17/5), penyelenggaraan MIWF kali ini sangatlah ditunggu-tunggu tidak hanya oleh para penggiat dan penyuka literasi di Makassar saja, tapi juga di berbagai wilayah di Indonesia. Ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya animo pengunjung selama festival ini berlangsung di tiap tahunnya.

Salah satu keunikan dari MIWF ialah, selalu memiliki tema berbeda di setiap edisi. Di tahun ini, yang menjadi tema MIWF adalah “Living in Diversity”. Untuk perayaan festival literasi sekelas MIWF, pemilihan tema ini tentu tidak sembarangan sebab tema-tema yang kerap diangkat tentu tidak hanya menyangkut semangat literasi saja tetapi juga menyorot isu sosial-politik yang sedang berkembang di masyarakat. Menurut Lily Yulianti selaku Direktur Festival, selain tema tersebut merupakan refleksi dari kegelisahan orang-orang yang terlibat di balik festival literasi ini, kaitan keberagaman dengan sastra pun sangatlah erat. Sastra yang sebenarnya menantang narasi tunggal adalah muara dari keinginan agar kita menghargai keragaman.

Setelah dibuka oleh pameran manuskrip sajak Sapardi Djoko Damono di Rumata Art Space (16-21/5), hari pertama MIWF berlanjut di Fort Rotterdam, ditandai dengan kegiatan panel diskusi bertajuk Ruang Bersama. Melalui tema “Living in Diversity”, panel diskusi tersebut menghadirkan empat orang pembicara, yaitu Yerry Wirawan (budayawan), Sofyan Syamsul (fotografer), Eko Rusdianto (peneliti), dan Maman Suherman (penulis) yang dipandu oleh Olin Monteiro.

Tepat pada pukul 14.00 WITA, sesi dibuka oleh Olin yang menjelaskan secara ringkas mengenai tujuan diadakannya Ruang Bersama, yaitu untuk membicarakan keberagaman dari berbagai konflik yang berkembang di masyarakat, baik itu meliputi: agama, suku maupun sosial-politik hingga ekonomi. Dikarenakan bertambah banyaknya peserta diskusi, Olin pun menyarankan agar para peserta duduk secara melingkar sebagaimana tradisi Tudung Sipulung masyarakat Bugis-Makassar saat sedang bermusyawarah. Setelah memperkenalkan masing-masing pembicara, diskusi pun berjalan asik dengan penggambaran Yerry Wirawan tentang sejarah suku Tionghoa yang ada di Makassar.

Meski lahir di Jakarta, Yeri sendiri memiliki keturunan Tionghoa-Makassar dari neneknya. Ia bercerita tentang keberagaman suku di Makassar yang tinggal dan menetap di kampung-kampung yang ada di sekitar pusat pemerintahan VOC pada saat itu, yang adalah Benteng Fort Roterdam. Menurut Yery, keberagaman suku Tionghowa di Makassar bisa dilihat dari tiga aspek, yaitu: dari aspek suku (meliputi pernikahan campuran antara Tionghowa dan suku lokal), agama (baik Kong Hu Cu maupun agama yang berasal dari garis keturunan orangtua), dan juga bahasa. Ia pun menyoroti tentang masalah yang selama ini masih terdapat di masyarakat mengenai penggunaan istilah Tionghoa dan Cina, yang ternyata kurang tepat. Tionghoa sebenarnya berasal dari kata Zhong Hua (baca: Chung Hua) yang dibawa oleh warga keturunan Tiongkok ke Indonesia, sementara penggunaan istilah “Cina” sendiri digunakan oleh pemerintah Indonesia, di tahun 1967, di mana pemerintah ketika itu menerbitkan sebuah peraturan yang sesungguhnya dimaksudkan untuk merendahkan orang-orang Tionghoa.

Berkaitan dengan topik sebelumnya, Sofyan Syamsul atau lebih dikenal sebagai Pepeng, yang pada saat bersamaan sedang mengadakan pameran foto-fotonya tepat di depan lokasi panel diskusi, menceritakan sedikit mengenai pameran fotonya tersebut. Diberi judul “Perkawinan Cina”, ide awal dari kemunculan proyeknya itu di mulai sewaktu ia sedang ngopi di salah satu kedai kopi yang pengunjungnya kebanyakan dihadiri oleh orang Tionghoa. Saat itu ia memberanikan diri bertanya ke salah satu pengunjung tersebut; apakah ada orang Tionghoa yang menikah dengan suku lain selain Tionghoa? Jawaban yang ia terima cukup mengejutkan. Ternyata ada banyak orang dari suku Tionghoa yang menikah dengan suku lain, di mana konsekuensi dari tindakan tersebut yaitu mereka harus meninggalkan wilayah pecinan dan tinggal di tempat lain di lingkungan mayoritas, misalnya Muslim, untuk menghindari pertentangan atau ketidaksukaan dari pihak keluarga mereka.

Berbeda dari Pepeng yang menyoroti pernikahan campuran dalam proyek fotografinya, pembahasan Eko lebih menyoroti konflik Timor Timur. Setelah membaca buku Seno Gumira Adjidarma yang membahas tentang peristiwa Santa Cruz, Eko yang berprofesi sebagai peneliti, tertarik meliput orang-orang Timor Leste yang pada saat terjadi konflik antara TNI dan Fretilin di tahun 1975, dibawa paksa dari tempat tinggalnya ke beberapa tempat di Indonesia, terutama di wilayah Sulawesi. Setidaknya, berdasar penelusuran yang dilakukan Eko, ada 34 orang yang dibawa paksa oleh TNI dari Timor Leste ketika itu. Orang-orang tersebut harus menjalani kehidupan tragis saat tinggal dan menetap di daerah lain di Indonesia. Eko pun bercerita tentang salah satu korban penculikan, Delina. Saat diculik, gadis itu masih berusia 9 tahun. Ia diculik oleh tentara dan dibawa hingga ke Sulawesi Barat. Di tempat tinggal barunya itu, Delina ditugasi memasak dengan konsekuensi jika tiba jam makan dan di meja makan belum terhidang makanan, maka kepala gadis kecil itu akan dibenturkan ke tembok. Di akhir kata-katanya, Eko menyimpulkan; agak susah memang baginya membahasakan bagaimana kekejaman era Orde Baru saat itu yang membawa paksa puluhan anak Timur ke Indonesia.

Lahir pada saat pengganyangan Cina di Makassar, Maman Suherman mengawali pembahasannya dengan menceritakan sedikit tentang masa kecilnya. Sewaktu kecil, teman-teman di sekolahnya kerap mengolok-oloknya suka makan kutu dikarenakan ia sebagai orang Jawa. Tak berhenti sampai di situ, kekeliruan tersebut pun berlaku saat seorang gurunya salah menuliskan nama yang seharusnya Muhammad Suherman, menjadi Maman Suherman dikarenakan kesukuan Sunda-nya. Saat itu pun ia membeberkan fakta mengapa ia menulis tentang LGBT dan memerlukan waktu dua tahun melakukan penelitian untuk menyelesaikan buku tersebut.

Saat tiba sesi pertanyaan, salah satu yang menarik adalah pertanyaan seputar self censorship yang sedang marak terjadi belakangan ini. Pertanyaan tersebut dijawab Maman bahwa hal tersebut tak hanya di mulai di waktu dekat-dekat ini. Isu tersebut justru di mulai sejak orde baru. Yeri menambahkan dan memberi contoh, di Jogja sendiri rasisme terjadi dengan sangat intens. Untungnya di masyarakat kita juga masih memiliki kepekaan dan inisiatif mengenai isu-isu tersebut.

Tak hanya soal self censorship, seorang peserta juga bertanya apakah insting kekerasan itu memang sudah ada sejak dulu? Untuk menjawabnya, Yeri mengatakan perbedaan konflik itu bergantung pada priodenya. Seiring peadaban, konflik akan tetap ada, tetapi kekerasan makin berkurang. Kekerasan inilah pada saat sekarang diwujudkan dengan hukum dalam bentuk pengadilan. Sementara Maman yang tak ingin kembali ke Orde Baru, menjawab bahwa kekerasan yang terjadi memang telah ada sejak dulu, dan ia mengambil contoh di mana akibat dari masa tersebut baru terasa saat ini.

Tepat pada pukul 15.30 WITA, acara panel diskusi tersebut pun ditutup dengan pernyataan bahwa semua perbedaan apa pun bentuknya itu, haruslah dihormati.