Oleh: Suhardi | Foto: Panitia Munir Fest

Munir Said Thalib, masihkah ada yang tak mengenalnya? Salah satu tokoh pejuang Hak Asasi Manusia yang paling dikenal di Indonesia. Sosok yang disapa Munir ini adalah aktivis yang menjunjung toleransi, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, dan pejuang yang lantang menyuarakan keadilan dalam melawan praktik-praktik otoritarian serta militeristik yang menindas. Ia lahir di Malang, 08 Desember 1965 dan tewas terbunuh dengan racun Arsenik pada 7 september 2004 di langit Rumania, dalam pesawat garuda yang perjalanannya ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan di bidang hukum.

Semasa hidupnya, Munir dikenal sebagai orang yang memiliki jiwa kepekaan sosial yang tinggi. Ini terbukti dengan tindakan semasa hidupnya yang totalitas dan konsisten membela orang-orang yang hak-haknya dirampas oleh penguasa. Berdasar pengalaman advokasinya, beberapa kasus pelanggaran HAM seperti kasus Tanjung Priok 1984, Talangsari lampung 1989, penculikan aktivis 1998, penembakan mahasiswa di Trisakti-semanggi dan tragedi mei 1998, hingga kasus pelanggaran HAM masa referendum Timor Timur (1999). Karena perjuangannya, ia berhasil membongkar keterlibatan Tim Mawar Kopassus sebagai dalang dari penculikan aktivis kala menumbangkan Rezim Soeharto dan beberapa jenderal TNI yang terlibat dalam kasus yang ditangani Munir.

Sejak kematiannya hingga hari ini, Munir hadir di jiwa orang-orang yang memperjuangkan kebenaran dan kemanusiaan. Munir Fest merupakan kegiatan menolak lupa terhadap sosok Munir sebagai bentuk kampanye merawat ingatan tentangnya baik itu pikiran dan perjuangannya melawan penindasan. Selain itu, menggaungkan gagasan-gagasan yang dicetuskannya hingga hari ini masih kompatibel dengan kondisi berbangsa dan bernegara kita.

Menolak Lupa, Melawan Dengan Bentuk Karya

Sebagai anggota dan pernah menjabat sebagai Ketua HMI komisariat Hukum Unibraw Malang, Munir mengasah dirinya dengan beragam bacaan untuk menjadi manusia yang sadar akan nilai kemanusiaan. Dengan bacaan yang disuguhinya, tentu akan membentuk pandangan hidup serta mengilhami tindakan yang mengantar kepada perubahan yang lebih baik. Tentu, hal ini selaras dalam pandangan islam yang mengharuskan umatnya untuk menambah wawasan pengetahuan agar kiranya dapat menelaah kebenaran secata otentik. Selain itu, Islam pun mengajarkan tentang perjuangan membela kebenaran dan membela kaum yang dirampas hak-haknya oleh para penindas. Sebagaimana apa yang dilakukan Munir.

Diskusi Publik “Penegakan HAM: Setengah Mati, atau Setengah Hati?”

Memperingati hari kematian Munir yang dilaksanakan pada 29 September 2017 di taman Ekonomi Unhas, merupakan suatu kegiatan refleksi akan gagasan yang dicita-citakan Munir dalam memperjuangkan keadilan dan penegakan HAM di Indonesia. Program kegiatan ini salah satu bentuk kerja sama yang dilakukan oleh HMI Komisariat Hukum, Ekonomi dan ISIPOL Unhas Cabang Makassar Timur. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.15 hingga 18.00 wita, tampak begitu hidup dengan adanya lapak baca, poster Munir dan informasi perjalanan kasus kematian Munir yang selama 13 tahun (sengaja) dibungkam.

 

akustikan di kegiatan Munir Fest

Di kegiatan ini juga, menampilkan akustikan dan pembacaan puisi yang sarat akan kondisi pelanggaran-pelanggaran HAM yang tidak kunjung tuntas. Penegakan hukum yang setengah hati hanya akan menguntungkan segelintir penguasa untuk bertindak dengan cara represif, tidak manusiawi dan semena-mena mengambil keputusan hanya karena mengatasnamakan integrasi nasional, stabilitas nasional, kewibawaan negara dan seterusnya.

Lapak baca di Munir Fest

Selain itu, pemutaran film dokumenter “kiri hijau, kanan merah” yang menceritakan tentang sosok Munir semasa hidupnya. Dan juga, kegiatan ini membuka ruang bagi para peserta untuk menyampaikan aspirasi menyoal penegakan HAM di Indonesia dan diskusi publik menyoal “Penegakan HAM; Setengah Mati, atau Setengah Hati?” yang menghadirkan Muhammad Ridha (Dosen UIN Alauddin, Direktur Cara Baca Institute dan Penulis di Indoprogress) dan Firmansyah (perwakilan LBH Makassar) sebagai narasumber.

Taman fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin yang menjadi venue Munir Fest

Kegiatan Munir Fest, sebagai bentuk karya merawat ingatan tentang perjuangan Munir dan sebagai bentuk “melawan” pemerintah yang hobinya menggantung kasus pelanggaran-pelanggaran HAM di Indonesia. Selama 13 tahun kebenaran itu dibungkam, bukannya ingatan tentang Munir itu tergerus, melainkan sebaliknya. Munir akan terus dikenang hingga terungkapnya kebenaran tentang kematian tragis yang dialaminya. Akan terus ada dan berlipat ganda dalam menjiwai perjuangan Munir hingga tegaknya keadilan itu.