Foto: Albar Nur Rahman ( @albarnr

Jika konser dengan penonton yang mencapai ribuan menawarkan sensasi menikmati musik yang Wah! atau Yeah!, maka micro gig dengan penonton puluhan atau belasan membuat sensasi menikmati musik lebih terasa akrab dan meneduhkan.

Sebagai penikmat musik dengan efek gitar berdistorsi, saya berusaha tidak menutup telinga terhadap musisi-musisi atau band-band lain yang menganut paham di luar dari kiblat saya bermusik atau menikmati musik. Saya percaya bahwa bagi mereka yang menciptakan musik di dalam atau di luar band, semakin banyak dan beragam musik yang didengar, maka referensi mereka akan semakin kaya dan musik yang dihasilkan akan jauh lebih berwarna dan bergairah. Terlebih lagi, apabila saya bisa menyaksikan band-band tersebut di panggung yang lebih dekat dengan penonton dan tanpa barikade. Walhasil, Peeple Private Gig bersama Kapal Udara pada 11 Maret 2017  juga merupakan event musik kedua saya di tahun 2017 yang disuguhkan dengan bentuk micro gig.

Saya tiba di venue kira-kira lima belas menit sebelum Maghrib. Sambil menunggu gig-nya dimulai, saya menyempatkan untuk melihat Kapal Udara sedang soundcheck. Tempat yang tidak luas juga tidak sempit, sejuk, dan membuat saya berpikir bahwa Peeple Cafe adalah tempat yang sesuai bagi Kapal Udara, band akustik asal Makassar yang membawakan nuansa folk di aransemen dan liriknya, untuk mengudara lebih akrab dan hangat dengan penikmat musiknya.

Tepat pukul 20.15 WITA, MC BarZak membuka landasan pacu bagi Kapal Udara untuk segera mengudara. Dua gitar akustik yang diisi oleh Ayat dan Ale yang juga mengisi vokal, gitar bass yang diisi oleh Dadang, dan drum dimainkan oleh Bobby. Setelah perkenalan singkat, unit folk ini membawakan lagu mereka berjudul Menyambut. Lagu yang mereka ciptakan tersebut layaknya penyambutan bagi pengunjung. Di sela-sela lantunan Menyambut, saya terkejut dengan pengunjung lain yang masuk perlahan-mungkin karena sedikit ragu-dan duduk manis menyaksikan band yang terbentuk pada tahun 2015 ini. Setelah Menyambut dibawakan, lagu Menari kemudian disajikan. Sembari curi-curi pandang tapi tidak meminta perhatian, pengunjung mulai larut dengan penampilan empat pemuda ini. Saya pun kali ini sukses menahan kantuk karena antusias menikmati musik yang disajikan. Sabtu malam saya terselamatkan.

Sebelum lagu ketiga dikumandangkan, BarZak kembali membuka ruang diskusi dan membuat suasana Private Gig ini terasa ruang obrolan bersama teman-teman. Bincang-bincang seputar lagu Kapal Udara yang mengandalkan kata kerja dan didominasi dengan awalan ‘me’ perlahan mengalir seiring Ale mengambil alih percakapan yang diiringi bebunyian gitar akustiknya sebagai pendamping. Menurut pengakuan Ale, mereka saat ini merasa pas membuat lagu yang menggunakan kata kerja dengan awalan ‘Me’. Sebagai juru bicara di Kapal Udara, saya rasa, Ale punya kharisma dalam menjelaskan berbagai hal tentang Kapal Udara, teknis maupun non teknis.

BarZak a.k.a Akbar Zakaria, yang menjadi MC Private Gig edisi Kapal Udara.

Memasuki lagu ketiga, Kapal Udara membawakan cover lagu Home milik Dotan, dan mereka tetap konsisten menciptakan suasana teduh. Bukan hanya karena genre musik yang mereka usung, tapi pendingin di Peeple Cafe juga konsisten menyejukkan ruangan tanpa pandang bulu. Melaut adalah lagu keempat yang dibawakan Kapal Udara yang masih dibawakan dengan khidmat. Sebagai lagu kelima, Menanam adalah lagu yang tidak asing di telinga saya. Apalagi part melodi yang dimainkan Ale yang mendentingkan senar satu gitarnya secara cepat namun santun, membuat lagu ini sedap didengar. Kuartet ini kembali membawakan cover dari lagu milik Mumford & Sons yang berjudul The Cave, dieksekusi dengan penampilan khas Kapal Udara.

Sebelum membawakan lagu terakhir, seperti sebelumnya, diskusi kembali dibuka. Andre Chefuk, salah seorang penonton yang sepertinya cukup mengenal dekat Kapal Udara sempat ditunjuk oleh mengutarakan pendapatnya tentang kesukaannya terhadap Kapal Udara, di mana ia merasa mengudara saat mendengarkan band ini. Lebih tinggi lagi mengudara seiring melodi yang dihasilkan oleh Ale bersama gitar akustiknya.

Ayat, vokalis/gitaris Kapal Udara di Peeple Private Gig, 11 Maret 2017.

Selain itu, permasalahan yang sempat dibahas pada private gig ini adalah tentang melebarkan dan memperluas resonansi karya yang diciptakan agar pendengar tidak melulu berputar pada orang-orang yang sama. Sehingga, penonton yang datang untuk menyaksikan Kapal Udara atau band-band lain tidak itu-itu saja yang datang. Permasalahan yang sementara masih bersandar di Makassar. Rekan saya, Achmad Nirwan langsung menanggapi, memberi masukan dan pendapatnya tentang hal ini. Ia mengaku bahwa yang lebih rajin mengirimkan press release mengenai single atau album ke berbagai media, salah satunya yaitu Revius, adalah band-band di luar Sulawesi. “Sebagai musisi, untuk memperlebar lagi koneksi, ada baiknya lebih rajin untuk berkolaborasi atau, berjejaring dengan teman-teman di luar (Makassar),” ucap Nirwan mantap.

Dadang menjaga ritme permainan Kapal Udara dengan gaya permainan bassnya yang unik.

Saya sependapat dengan perkataan Nirwan. Dalam melihat permasalahan soal stagnasi pendengar atau penikmat, saya setuju dengan poin “rajin berkolaborasi”, sebuah upaya memperluas jejaring musisi atau band dengan pelaku di luar musik, seperti komunitas non musik ataupun organisasi nirlaba, misalnya. Dalam berkolaborasi, sebaiknya ada sesuatu yang unik untuk “dijual”. Bagi sebagian orang, berkolaborasi adalah penyokong. Namun, hal tersebut jangan selalu disepelekan meski poin utama dari bermusik sebagai musisi atau dalam band adalah karya yang dihasilkan. Apakah karya tersebut mampu menembus ke pulau seberang atau hanya mampu berkeliaran dalam suatu tempat saja, kembali lagi kepada positioning musisi kepada pendengarnya. Menanggapi pendapat Nirwan, Ale pun mengungkapkan bahwa Kapal Udara juga membuat hashtag #MusikMencariTeman di media sosial agar informasi tentang Kapal Udara bisa didapatkan lewat hashtag tersebut.

Bobby tampil prima menjaga tempo di balik drum kit elektrik yang dimainkannya.

Sebagai lagu penutup yang mengiring Kapal Udara mendarat adalah Merantau. “Lagu ini spesial untuk teman-teman perantau yang hadir malam ini. Terima kasih banyak,” pungkas Ale. Di panggung ini, sepertinya Ale yang tampil superior layaknya Cristiano “El Loco” Gonzales. Dengan cedera pada salah satu kakinya dan membuatnya harus tampil duduk di kursi, tetap membuat gitaris ini untuk tampil maksimal bersama rekan-rekannya.

Ale tetap tampil maksimal meski tumit kakinya sedang cedera dan membuatnya mesti tampil duduk dengan kursi.

Bukan sekadar tampil, kuartet ini juga belajar bahwa Private Gig di Peeple Cafe yang disokong oleh Resolusi dan Revius ini mendapat banyak apresiasi. Kapal Udara sebagai penampil di gig kali ini mengaku sangat bersyukur bisa tampil di event spesial ini. Selain itu, mereka baru sadar tentang pentingnya kualitas tata suara yang diatur oleh sound engineer dan segala hal teknis lainnya yang menunjang penampilan. Seluruh personil Kapal Udara pun kompak mengatakan kepada saya, “Kami tertarik tampil karena Peeple Private Gig ini khusus satu band, dan ini salah satu metode baru di Makassar setelah berbagai event yang genre-nya dicampur dalam satu event. Metode ini bisa buat kita lebih fokus dan lebih intim kepada pendengar kami. Event ini semoga berkelanjutan karena, menurut kami, inimi event yang support local hero yang heroes”. Penonton yang hadir di Private Gig pun mengaminkan hal tersebut. “Acara musik yang diadakan malam ini saya rasa wajib untuk dihadiri,” ucap Nugraha Pramayudi.

Kalimat “Support your local hero” atau sejenisnya itu memang sudah basi dan menjamur bila hanya berkoar kosong di media sosial tanpa aksi nyata. Saya berpendapat Peeple Private Gig ini membuktikan makna support your local hero yang sesungguhnya dengan menguntungkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Peeple Private Gig yang merupakan gig berskala mikro, yang selalu menarik untuk disimak serta menyimpan potensi dan memberi oksigen baru bagi musik, khususnya di kota Makassar.