Foto: Aswan Pratama (@aswan_pratama)

Aku benci berada di antara orang-
orang yang bahagia. Mereka bicara
tentang segala sesuatu, tapi kata-
kata mereka tidak mengatakan
apa-apa. Mereka tertawa dan
menipu diri sendiri menganggap
hidup mereka baik-baik saja.
Mereka berpesta dan membunuh
anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada di antara
orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur
dan berbahaya. Mereka tahu apa
yang mereka cari. Mereka tahu
dari diri mereka ada yang telah
dicuri.

Hujan membuat saya harus membacakan puisi itu di dalam tenda. Di depan teman-teman saya. Saya merasa gugup, bukan karena membacakan puisi di hadapan teman-teman, tetapi karena saya berada di hadapan puisi. Puisi itu, sama dengan kesedihan, selalu mempunyai kekuatan untuk membuat saya lebih banyak diam.

Hujan juga memaksa jadwal di Creative Camp diam. Malam itu saya berada di Ta’deang, kabupaten Maros untuk mengikuti Creative Camp yang digagas oleh Sipulung Carita, sebuah acara yang ingin meluaskan cara berpikir kreatif kita sambil berkemah menyenangkan, begitulah caption gambar yang disebarkan akun Instagram: Sipulung Carita.

Terpisah waktu dua jam antara Makassar dan Ta’deang, dua jam yang terasa cepat. Perjalanan yang diisi dengan hal-hal yang kita sukai selalu terasa cepat secara psychological time dan tidak membosankan. Saya rasa, hal-hal yang kita sukai itulah yang tidak ada dalam banyak rutinitas. Hal yang menjadikan akhir pekan sering menjadi pelarian untuk berlibur.

Tiba di venue Creative Camp, sekitar jam delapan malam, kami disambut dengan botol bening yang telah diisi air yang berpendar warna-warni oleh light stick, cahaya-cahaya itu tergantung pada sisi kiri dan kanan jembatan. Lalu ada tanah yang tidak begitu lapang yang setiap sisinya telah dipenuhi tenda-tenda dan menyisakan ruang di tengah. Karena hujan, belum ada aktivitas seperti yang dijadwalkan, kecuali orang-orang yang telah kekenyangan setelah bersantap malam. Di dalam tenda, karena merasa bosan dan berada di Creative Camp, maka kami merasa harus tahu cara menyiasati kebosanan, agar kami menjadi pribadi-pribadi kreatif yang hakiki. Setelah mencoba beberapa permainan dan tetap merasa bosan, saya mengusulkan untuk bergantian membaca puisi, karena bukan sebuah kebetulan saya membawa buku puisi Melihat Api Bekerja-nya Aan Mansyur. Itulah mengapa saya membacakan puisi seperti di awal tulisan ini.

“Sayangnya panitia tidak siapkan rencana B,” teman saya mengeluh. Saya tersenyum mendengarnya dan melihat keluar tenda. Di luar, pantia berusaha memasang sebuah atap dari tenda berwarna biru, sebuah usaha yang belum atau mungkin sudah terlambat. Lewat pukul sepuluh, hujan reda dan ajakan panitia untuk memulai aktivitas sudah terdengar.

Diskusi awalnya berlangsung sangat tenang pada materi Website Window of the World yang dibawakan oleh Andi Rudini, bahkan teman saya berkomentar jika dia seperti berada di ruang perkuliahan, saya tertawa mendengarnya.

image-4

Serius tidak melulu di kelas, keleus! Andi Rudini membawakan salah satu materi di Creative Camp.

Lalu, diskusi selanjutnya Creative Media dari Revius Webzine yang dieksekusi oleh Akbar Zakaria. Saya bingung menentukan, ini sebenarnya materi atau curahan hati. Kak Abe, saya memanggilnya begitu, banyak membahas keadaan kota kita, Makassar. Kota yang ingin membunuh dirinya sendiri. Celakanya, orang-orangnya seolah tidak peduli, atau jangan-jangan, orang-orangnya itulah yang membunuh kota mereka sendiri. Entah. Lalu itu menjadi alasan mengapa media seperti Revius harus ada di Makassar. Saat saya mendengar apa yang ia katakan, saya seperti mendengar diri sendiri. Orang-orang yang sedih, selalu lebih jujur dan berbahaya. Saya percaya itu. Di penghujung diskusi hujan turun lagi, dan membuat jadwal selanjutnya, yaitu pemutaran dan diskusi film dari Imitation Film Project harus ditunda dan akhirnya batal diputar.

image-3

Creative Media, materi yang dibawakan oleh Akbar Zakaria sambil berdoa.

Kantuk belum datang, malam makin malam dan lapar menyerang. Saya dan kak Abe memutuskan untuk keluar mencari tempat makan. Di warung tempat kami makan, kami bercerita mengenai banyak hal. Mulai dari hal yang paling jauh dari diri kami hingga yang paling dekat. Sampai kemunculan matahari membuat kami untuk kembali ke venue Creative Camp.

Di sekitar venue, ada banyak motor-motor custom dari JBI Ewako yang bisa dipakai untuk berfoto, tidak bisa dibawa pulang, padahal mauki. Sampai di venue, panitia menyiapkan panggung untuk pertunjukan musik dan saya mencari pohon untuk mengikat hammock. Penampil pertama bernyanyi, hammock terpasang, dan saya tertidur. Saat saya terbangun, saya sempat menyaksikan beberapa band yang mengisi panggung, yaitu Next Delay, akustik perform dari Akram Hadinata dan RSB Topadatindo. Ada juga perempuan-perempuan mengisi panggung untuk mengenalkan usaha mereka, yaitu Nurrifqa Annisa (Pita Gift), Rezki Ramadhani (Pelangi RR), dan Sri Rezki (Landorundun). Mereka begitu semangat mengenalkan usaha mereka, dan jujur saja, mereka tampak cantik. Acara ditutup dengan makan-makan dan foto bersama.

image-5

Next Delay, ber-Shoegazing ria di Creative Camp.

Creative Camp telah berlalu, walaupun kenyataannya tidak sesuai dengan harapan, tapi bukan berarti tidak patut diapresiasi. Tiba di rumah saya baru sadar, kalau akhir pekan kali ini, sama dengan Menikmati Akhir Pekan-nya Aan Mansyur, puisi yang saya bacakan.