oleh Saleh Hariwibowo ( @alengaseng )| Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Segera daftar! Kompetisi Aktivis 2016. Buat kalian yang butuh pengakuan dan penghargaan serta peluang pekerjaan, silakan mengikuti kompetisi ini. Berhadiah jutaan rupiah.

Hanya itu yang sempat saya baca. Saya merobek poster itu dan membersihkan sisa-sisa kertasnya. Banyak tulisan seperti itu di dinding, meskipun tidak semua saya paham maksudnya. Tetapi, sebelum merobeknya, saya selalu mengejanya, untuk melatih keterampilan membaca, juga menjadikannya hiburan. Menjadi petugas kebersihan memang berat, apalagi petugas kebersihan di kampus.

Lembaran-lembaran milik mahasiswa tidak ada habisnya tertempel di mana-mana. Selain mengepel dan menyapu lantai, salah satu tugas saya adalah mencabut lembaran-lembaran yang mereka tempel sembarangan. Menjadi petugas kebersihan, meskipun berat, tidaklah terlalu menyedihkan.

“Kebersihan adalah sebagian dari iman,” kata seseorang di perusahaan outsourcing tempat saya bekerja. “Tugas seorang petugas cleaning service adalah tugas keimanan, dik.” Kalimat tersebut, selain menambah semangat, membuat saya ingat Bapak. Sesaat sebelum berangkat, dia berpesan kepada saya.

“Segala hal di kota mungkin sangat cepat, Nak,” kata bapak saya. “Berpeganglah pada iman!” Bapak saya ada benarnya. Kota membuat segala hal berubah dengan cepat. Termasuk keimanan seseorang.

*

Saya berasal dari keluarga yang tinggal di perkampungan terpencil di balik gunung Langgo. Bapak saya seorang petani. Dia tidak ingin anaknya juga menjadi petani. Ketidakinginan itu berawal saat rumah kami menjadi posko kuliah lapangan untuk pertama kalinya. Beberapa mahasiswa tinggal di rumah kami. Mereka mengubah cara berpikir bapak saya.

Beliau merasa dunia terlalu kecil bila hanya berputar dari ladang ke rumah, dan sebaliknya. Dia ingin anaknya hidup di dunia yang tak punya batas. Para mahasiswa mengatakan hal seperti itu kepadanya. Mereka menunjukkan kepada kami beberapa teknologi canggih. “Laptop dan handphone mampu menembus batas-batas ruang dan waktu,” kata mereka. Mereka banyak mengatakan hal-hal rumit yang susah saya pahami.

Sederhananya, dunia teknologi tersebut sangat menggiurkan. Hal itulah yang membuat saya setuju dengan anjuran Bapak. Saya tidak mau menjadi petani.

*

Setelah setahun tinggal di Makassar, saya merasakan dengan jelas perbedaan antara petugas kebersihan dengan petani di kampung saya. Perbedaan tersebut terlihat pada cara menyikapi cuaca.

Petani menanam padi pada musim hujan dan menanam jagung pada musim kemarau. Sementara itu, petugas kebersihan harus membersihkan lantai yang kotor pada musim hujan, dan pada musim kemarau membersihkan taman yang penuh daun kering. Tiap-tiap pekerjaan melelahkan, tergantung cara kita menikmatinya.

Namun, akhir-akhir ini, saya dan petugas kebersihan lain, sulit menikmati pekerjaan. Sudah tiga bulan gaji kami belum dibayar. Menurut informasi terakhir, perwakilan perusahaan outsourcing mengatakan bahwa gaji menunggak karena pihak universitas belum membayar tender. Kepala dan perut kami tidak mengerti soal tender ataupun istilahnya. Kami juga tidak mau mengerti urusan keterlambatan universitas. Akhirnya, salah seorang dari kami mengajak untuk melakukan demonstrasi di depan gedung perusahan outsourcing.

*

Saya berdiri di barisan paling depan. Saya menyimak dengan serius pidato Bu Inah, salah satu petugas kebersihan yang saya kenal. Dia menggunakan pengeras suara. Dia menyampaikan keluhan anaknya yang lapar, berhari-hari belum makan. Dia juga mengajak kami untuk bertahan, tidak pulang sebelum tuntutan kami dipenuhi.

Namun, sebelum Bu Inah selesai menyampaikan pidatonya, beberapa polisi membubarkan kami. Suasana memanas. Para polisi menyemprotkan air dari mobil khusus mereka. Kami kedinginan dan memilih pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya, beberapa mahasiswa mengundang kami. Mereka ingin membantu kami membahas demonstrasi selanjutnya. Tidak semua petugas kebersihan datang. Hanya saya dan beberapa petugas kebersihan yang masih berusia muda lainnya yang bisa hadir. Setelah para mahasiswa menanyakan banyak hal yang saya tidak mengerti, saya berkata, “Kami mengikut saja apa yang akan kalian lakukan.”

Mereka, para mahasiswa itu, kemudian membahas siasat dan hal-hal lainnya mengenai demonstrasi. Di sela-sela pembahasan, salah seorang teman berbisik, “Mangge’, kita sudah menjadi aktivis.”

Aktivis? Rasanya saya pernah membaca kata itu entah di mana.


Baca artikel lainnya terkait dengan katakerja

Darah di Atas Salju

Khotbah yang Tak Terbungkam

Menyimak Puisi dan Musik Bekerja

Kota, Musik, dan Cita-Cita(ta)

Diet, Sehat yang Jahat