Sumber Foto: Protocol Afro ( @protocolafro )

Bila kamu menyukai musik dari band-band indie rock yang bisa membuatmu berdansa seperti The Killers, Phoenix, atau Bloc Party, dijamin bakal menyukai warna musik yang ditawarkan Protocol Afro. Namun, Protocol Afro sendiri menyebut aliran musiknya dengan julukan Inconsistent Pop, sebuah perpaduan pop sebagai substansinya yang seiring dengan penambahan aliran apa saja ke musik mereka. Grup musik asal Jakarta ini terbentuk pada tahun 2007 dan sejak tahun 2011, mereka konsisten dengan formasi Aryadita “Ditto” Utama (vokal), Giano Valentino (gitar), Mayo Falmonti (bass), Kristian Harahap (Drums), Panji Prasetyo (Gitar), dan Ferdy Salim (Synthesizer).  Protocol Afro juga telah merilis album perdana bertajuk The Youth pada 2014 silam dan dirilis melalui Indische Partij Records (indie label bentukan salah satu personel Protocol Afro) bersama Organic Records.

Walau sudah terbentuk selama sembilan tahun, nama Protocol Afro sepertinya masih asing di telinga penikmat musik Indonesia, terkhusus di Makassar. Padahal band-band independen dari kota mereka sudah lumayan banyak yang dikenal di sini. Tapi, tunggu dulu. Mereka tidak hanya fokus mengenalkan karyanya di dalam negeri, namun juga membawa musiknya hingga ke festival-festival musik di luar negeri seperti Baybeats Festival di Singapura pada tahun 2011 dan ASEAN Pride Music Festival 2014 di Hanoi, Vietnam. Walhasil, musik Protocol Afro lebih banyak diapresiasi para penggemarnya di luar negeri dan album mereka banyak disanjung dalam music review dari berbagai media musik internasional.  Album The Youth versi repackaged bahkan dirilis di Jepang serta dijual oleh toko rekaman legendaris, HMV dan Tower Records Japan.

Music For Brighter Day Se7en menjadi salah satu panggung Protocol Afro di akhir pekan ini. Dan istimewanya, Music For Brighter Day Se7en juga menjadi panggung yang pertama untuk Protocol Afro setelah istirahat tampil selama sembilan bulan. Sebelum mereka tampil besok, saya berkesempatan mewawancarai dua personelnya, Mayo dan Ferdy melalui e-mail mengenai persiapan tampil di Makassar. Selain itu, obrolan pun semakin panjang membahas tentang dua lagu terbaru untuk Record Store Day 2016, musik pop yang inkonsisten menurut mereka, arti nama Protocol Afro sebenarnya dan alasan Protocol Afro mesti memilih untuk menjadi musisi di akhir pekan atau istilah kerennya, weekend rockstar.

Saya senang mendengar kabar Protocol Afro akan tampil pertama kali di Makassar. Seberapa antusias dan penasaran kalian tentang Makassar dan apa yang sebenarnya membuat kalian tertarik datang ke Makassar, selain kulinernya?

Kami juga senang sekali akhirnya bisa manggung di Makassar. Tentunya kami sangat antusias dengan kota Makassar bukan cuma karena kami bisa rehat sejenak dari kepenatan ibukota dan mencicipi kuliner khas Makassar. Tapi juga karena masih banyak orang-orang yang terlalu fokus dengan scene musik lokal di sekitaran Pulau Jawa, jadinya scene musik di Sulawesi (terutama Makassar) sering terlewatkan, padahal dari yang kami dengar dan baca, scene musik di sini sangat seru.

Penampilan Protocol Afro yang pertama kali di Makassar ini tentu mesti all out. Bagaimana persiapannya? Apakah ada gimmick atau sesuatu yang berbeda yang bakal ditampilkan Protocol Afro untuk menambah pendengar baru untuk musik kalian?

Kami telah sembilan bulan tidak tampil di acara manapun, karena kami masing-masing sibuk dengan pekerjaan tetap kami sehari-hari. Karena absen manggung yang lama ini justru membuat kami sangat semangat dalam persiapan untuk penampilan perdana di Makassar nanti. Bahkan kami mempersiapkan set list khusus yang terbilang cukup berbeda dari sebelumnya.

Kalian telah merilis dua lagu baru saat Record Store Day 2016. Seberapa pentingnya Record Store Day untuk Protocol Afro dan mengapa merilisnya dua lagu tersebut hanya melalui digital, bukan secara fisik?  

Record Store Day (RSD) tentu penting buat kami sebagai band indie. Walau sekarang pasar fisik sudah mulai lesu, tetapi kami melihat rilisan fisik itu sebagai suatu memorabilia atau collectible item yang memberi nilai lebih untuk pendengar dan pihak band/musisi sendiri juga. Sayangnya untuk RSD tahun ini, kami memiliki keterbatasan waktu untuk merilis 2 lagu khusus RSD tersebut secara fisik. Tapi karena kami tetap ingin meramaikan RSD 2016, maka kami memutuskan untuk merilis secara digital.

Apa saja perbedaan mencolok dari dua single tersebut dengan album pertama?

Perbedaan mencolok untuk dua single ini dari yang sebelumnya, yang pasti itu dari segi bahasa, di mana lagu Music (Dance With Me) kami ganti sebagian liriknya dengan Bahasa Jepang dan dinyanyikan oleh Puti Chitara (Barasuara). Lalu, cara rekaman juga berbeda, di mana kami merekam lagu Borneo secara live.

Wah, bagaimana ceritanya kalian bisa featuring dengan Puti Chitara dalam Music (Dance with Me) yang juga punya aransemen baru?

Kenapa Puti Chitara? Semua berawal dari album perdana kami (The Youth) yang repackaged untuk dirilis di pasar Jepang. Kami merasa harus ada setidaknya satu lagu yang berbahasa Jepang untuk rilisan itu, dan vokalis yang kami rasa cocok warna suaranya dan sekaligus bagus lafal Bahasa Jepangnya adalah Puti. Kami sendiri juga sudah menyukai musik dan vokalnya Puti semenjak kami ada satu acara yang sama, yang diadakan oleh Deathrockstar di Jakarta beberapa tahun lalu.

Saya mendengarkan lagu-lagu Protocol Afro cenderung ke arah indie rock, padahal Protocol Afro menyebut musik yang diusungnya inconsistent pop. Menurut kalian, menamai genre seperti itu apakah pernah menghambat proses kreatif Protocol Afro menciptakan lagu? Karena mungkin saja kalian harus berpikir tetap berada di lingkaran music easy listening atau pop sebagai dasar musik Protocol Afro.

Memang banyak yang menyebut musik kami sebagai indie rock. Untuk kami, bebas saja orang mau menyebutnya apa, intinya yang penting musik kami itu enak didengar(pop) dan beragam sehingga bisa menjangkau banyak orang (inconsistent), tanpa membatasi kreativitas kami. Hasilnya, seperti bisa didengar di album perdana kami The Youth, ada lagu yang lebih rock (Owl, Freedom Freedom), ada lagu yang lebih dancey (Streetside, Electrified), tapi juga ada yang lebih radio friendly (Paris).

Lagu-lagu Protocol Afro pun diberi judul yang tak biasa untuk aliran yang diusung, seperti Freedom, Freedom atau Borneo. Apa yang membuat kalian terinspirasi memberi judul seperti itu? Apakah punya pengalaman unik dari setiap lagu?

Serupa seperti persoalan melabeli genre musik tadi, untuk pemberian judul lagu juga kami tidak ingin terbatasi oleh genre atau bahkan sub genre. Kami memberikan judul lagu sesuai dengan apa yang kami mau atau yang kami rasa cocok.

Mengapa The Youth dipilih sebagai nama album perdana?

Nama The Youth dipilih sebagai nama album perdana karena pertama, lagu The Youth merupakan lagu pertama yang kami ciptakan dan aransemen bersama dengan formasi yang sekarang (formasi inilah yang akhirnya mengeluarkan album perdana original & repackaged, dan tampil di luar negeri). Kedua, kebanyakan lagu di album perdana ini memiliki tema-tema seputar anak muda atau youth, seperti having fun tanpa beban, kebebasan dan percintaan. Selain itu juga, beberapa lagu di album ini diciptakan sudah dari beberapa tahun lalu, di saat kami (jauh) lebih muda sekarang.

Protocol Afro berkesempatan tampil di festival-festival musik luar negeri seperti di Singapura dan Hanoi. Bagaimana cara kalian bisa punya kesempatan di sana? Dan bagaimana suasana scene musik di tempat yang kalian datangi? Terkait tampil di festival luar negeri, apakah kalian bisa merasakan suasana yang berbeda saat tampil di luar negeri dengan festival musik di Indonesia?

Kami bisa berkesempatan untuk tampil di luar negeri itu basically dengan sistem jemput bola. Kami tidak menunggu untuk dipanggil, tapi kami yang aktif untuk approach berbagai acara dan promotor di luar negeri. Memang yang akhirnya terjadi itu sementara ini hanya Singapura dan Vietnam saja, padahal kami ditawarkan untuk berkunjung ke beberapa negara lain, seperti India, tapi akhirnya kami memutuskan tidak berangkat karena beberapa faktor seperti kesibukan dengan pekerjaan keseharian, waktu, dan/atau dana.

Suasana festival musik di Jakarta dengan kota-kota yang kami kunjungi terasa cukup berbeda. Crowd di festival luar negeri itu terasa jauh lebih apresiatif dan lebih antusias, meskipun mereka belum pernah mendengar musik bandnya sama sekali atau bahkan tahu bandnya. Di Singapura dan Vietnam, crowd-nya tidak ragu untuk joget bersama, sing along (padahal baru tahu lagunya di gig itu juga), dan sampai akhirnya membeli CD kami (bahkan stok CD yang di Singapura sampai sold out), lalu meminta tanda tangan dan mengajak foto bersama. Cukup berbeda dengan yang kami alami di negeri sendiri.

Apakah Protocol Afro masih mengingat gigs pertamanya? Dan di mana gigs yang paling berkesan buat kalian sejauh ini?

Tentunya kami masih ingat dengan gig pertama kami, baik itu dengan formasi awal dulu maupun formasi yang terkini. Gig pertama dengan formasi awal dulu itu gig akustik di fashion bazaar tahun 2010 yang diadakan oleh Diana Rikasari, teman dari bassist/manager kami, Mayo. Masih ingat betul dengan kejadian di mana gitaris terlambat karena terjebak macet, tapi akhirnya semua berjalan lancar.

Kalau gig pertama dengan formasi yang sekarang itu di acara Baybeats Festival, Singapura pertengahan tahun 2011. Gig di Singapura ini sekaligus menjadi gig yang paling berkesan untuk kami sejauh ini, selain gig di Hanoi, Vietnam. Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, mereka tidak pernah mendengar musik kami, atau bahkan tahu band kami, penonton di kedua acara tersebut sangatlah apresiatif dan antusias menyambut kami.

Album perdana kalian bertajuk The Youth juga dirilis dalam versi repackaged di Jepang pada tahun 2015 dan dijual di toko legendaris Tower Records. Boleh diceritakan bagaimana caranya bisa sampai seperti itu? Sejauh ini, album fisik Protocol Afro sudah tersebar di mana saja selain di dalam negeri?

Rilisan di Jepang itu awalnya dari Yuya, pendiri Moorworks Records, label kami di Jepang, yang tertarik dengan band kami setelah melihat video-video live performance kami di YouTube. Dia kemudian menghubungi bassist/manager kami, Mayo, mengenai kemungkinan untuk musik Protocol Afro dirilis di Jepang dan singkat cerita, tidak lama setelah itu akhirnya album perdana kami (versi repackage) rilis di sana. Album fisik kami lebih banyak tersebar di kota-kota di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dll. Tersedia juga di Makassar, di Kedai Buku Jenny dan Musick Bus Store.

Hal apa yang membuat Protocol Afro mau merilis karya melalui indie label Indische Partij (terlepas dari sang empunya label merupakan bassist Protocol Afro)? Padahal musik kalian bisa saja masuk di major label? Dan, seandainya Protocol Afro punya kesempatan masuk major label, apa yang akan kalian lakukan?

Kami lebih memilih jalur independen, terlepas dari label itu punya pribadi atau bukan, karena memang kami ingin lebih bebas saja. Mulai dari proses kreatif sampai produksi fisik/digital, kami ingin semuanya dikontrol oleh kami sendiri. Kalau misalnya di major label kan pasti pergerakan lebih terbatas dan juga pastinya akan diminta untuk lebih mengikuti selera pasar pada umumnya, sedangkan musik kami aja tidak ada pengkotakan genrenya. Selain itu juga karena kami lebih melihat musik sebagai sampingan atau hobi atau bahkan sebagai jalur kami untuk bisa jalan-jalan (ke Makassar ini contohnya), kalau major label kan berarti menjadi musisi full-time, sedangkan kami itu lebih memilih untuk jadi weekend rockstar.

Sebenarnya apa arti nama Protocol Afro menurut setiap personel? Mengapa nama tersebut bisa terpilih dan apakah salah satu personelnya pernah memiliki rambut model afro?

Jujur, nama Protocol Afro itu tidak ada artinya sama sekali. Nama ini didapatkan dari situs random band name generator. Kami input kata “Mayo” lalu muncul “Mayo and The Protocol Afro”. Lalu kami ambil saja nama Protocol Afro dari situ. Tapi lucunya, ada beberapa orang yang berspekulasi artinya ini itu, bahkan ada yang pernah menulis tentang nama band kami, dikiranya band ini semacam sekumpulan orang-orang berdarah Afrika dengan rambut afro yang ingin menerapkan protokol-protokol tertentu dengan tujuan menguasai dunia (kreatif sekali!). Padahal kami ini hanya enam orang Indonesia, dengan tidak satupun yang berambut afro, yang memang mempunyai ambisi hidup masing-masing, tapi sudah pasti bukan berambisi untuk menguasai dunia, hahaha.

Menurut kalian, apa yang menyebabkan industri musik di Indonesia masih berpatokan dengan apa yang terjadi pada scene musik di Pulau Jawa? Bila diberi kesempatan mengubah sentralisasi ini, hal sederhana apa yang akan kalian lakukan?

Kami pikir hal ini karena media lebih banyak berpusat di Pulau Jawa, jadi fokusnya lebih banyak dengan apa yang terjadi atau ada di Pulau Jawa saja. Padahal kalau dilihat, banyak sekali band-band lokal berkualitas dari luar Pulau Jawa.

Sama halnya dengan yang terjadi dengan band dari Barat versus band di benua Asia. Kenapa selalu band-band Barat yang mempunyai kesempatan lebih besar untuk dikenal luas secara global, padahal tidak sedikit band Indonesia atau negara Asia lainnya yang kualitasnya setara atau bahkan di atas dari band-band Barat. Tapi karena media internasional lebih banyak fokus ke scene musik yang ada di dunia barat, band-band berkualitas Indonesia atau negara Asia lainnya tidak tersorot dan tidak memiliki kesempatan apa-apa sama sekali.

Yang paling bisa dilakukan mungkin adalah untuk mengajak rekan-rekan musisi/band di luar Pulau Jawa untuk lebih aktif dan kreatif lagi mempromosikan karyanya melalui platform digital. Membuat karya yang bagus itu sudah pasti harus dilakukan. Tetapi mempromosikan karyanya itu sendiri juga harus lebih diperhatikan lagi. Contohnya, tapi di luar dunia musik, ada seorang YouTuber terkenal dari Kalimantan bernama Agung Hapsah. Dia bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa harus menginjakan kakinya dan berkarya di Jakarta. Semuanya dia lakukan melalui platform digital, yaitu YouTube.

Pendapat yang menarik. Lalu, apa saja rencana berikutnya dari Protocol Afro untuk tahun ini dan jangka panjangnya?

Rencana berikutnya kami untuk tahun ini lebih fokus memperbanyak manggung lagi aja, karena seperti yang tadi dibilang, kami udah hampir total 9 bulan gak manggung. Jadi kami sangat antusias sekali untuk kembali manggung, dan gak cuma di Jakarta saja, tapi ke kota-kota lainnya. Kalau jangka panjang sudah pasti nulis lagu baru, rilis EP/album baru, dan tentunya promo tour untuk EP/album tersebut di dalam dan luar negeri.

***

Saksikan Protocol Afro di panggung Music For Brighter Day se7en pada 6 Agustus 2016. Mereka akan tampil pada pukul 20.50 WITA.

MUSIC FOR BRIGHTER DAY se7en 7_6 Agustus 2016_rundown


Baca tulisan lainnya

Persepsi tentang Kebohongan dan Cita-cita dari From Hell To Heaven

Penghormatan untuk Lemmy dari Trendy Reject

Perkara Judul dan Kisah Romantis yang Satire dalam lagu Hipotesa Asmara milik The Clays

Mengenang Mixtape bersama Good Morning Breakfast

Death Metal dengan Sentuhan Futuristik dari Nocturnal Victims

Meluluhkan Seluruh Daya dalam lagu terbaru dari Suhu Beku

Sebuah Observasi dan Motivasi dalam video Non Observance milik Theogony

Filastine dan Sebuah Proyek Pembebasan