Foto: Jumardan Muhammad ( @jumardanm )

Ava takut kepada ayah dan kasihan kepada ibunya. Perempuan berusia enam tahun itu nama lengkapnya adalah Salva, ibunya yang menamai. Tapi ayahnya berkeras menamainya Saliva, yang berarti liur. Menurut ayahnya, dia tidak berguna.

Ava memiliki kamus, pemberian kakeknya, Kakek Kia. Dia selalu membawanya ke mana-mana. Sebagai anak kecil yang belum paham banyak kata-kata, kamus Bahasa Indonesia tersebut adalah penyelamatnya. Kakek Kia meninggal di awal novel dan ini merupakan pengantar untuk memasuki cerita. Ava, ayah, dan ibunya harus pindah rumah ke Rusun Nero. Ayahnya yang memaksa, agar bisa bermain judi dengan leluasa. Di sana, Ava berkenalan dengan P, anak laki-laki yang ia cap sebagai anak pengamen karena selalu membawa gitar dengan pakaiannya yang lusuh, padahal P bukan anak pengamen, dia hanya selalu membawa gitar dan berjalan berkeliling. P berumur 10 tahun, tinggal bersama ayahnya. Dia tidak boleh pulang sebelum jam 7 malam.

Buku dengan ilustrasi anak kecil di sampul depannya yang digambar sendiri oleh penulisnya adalah pemenang kedua sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Buku ini dipinjam teman kostan saya dari Perpustakaan Katakerja. Karena dia sedang keluar kota dan novel ini ditinggal di kamarnya, maka jadilah saya membacanya. Saya yang telah membaca Puya ke Puya (pemenang IV sayembara novel DKJ), penasaran untuk membaca si pemenang ke-dua ini.

Di Tanah Lada bercerita dari sudut pandang anak kecil, perempuan pula. Menggunakan sudut pandang anak perempuan dalam bertutur memang selalu menarik. Imajinasinya liar, percakapan-percakapannya lucu, menggemaskan, tak jarang menohok, penarikan kesimpulannya membuat logika orang dewasa kadang terputarbalikkan. Seperti kesimpulan Ava tentang kopi, bahwa dia tidak pernah minum kopi, tapi takut dengan minuman itu. “Soalnya, warnanya hitam. Kalau warna hitam, biasanya jahat,” katanya. Ava membeberkan isi kepalanya secara rinci, termasuk pembacaannya terhadap kata-kata yang ia temukan di kamus. Ava dan P di pertengahan cerita mencoba melakukan perjalanan menuju rumah Nenek Isma. Rencana disusun rapi sekali, tidak ada ketakutan. Padahal perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh. Tanah lada adalah hasil imajinasi Ava tentang sebuah tempat di mana dia akan tumbuh bersama kebahagiaan.

Kalau aku membuat kamus, aku akan memasukkan ini di dalamnya :

Tanah [kb.] : (1) permukaan bumi atau lapisan bumi yang di atas sekali (2) keadaan bumi di suatu tempat; (3) permukaan bumi yang diberi batas; (4) daratan; (5) permukaan bumi yang terbatas yang ditempati suatu bangsa yang diperintah suatu negara atau menjadi daerah negara; negeri; negara.

–Lada [kb.] : Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.

Dalam perjalanan menuju rumah Nenek Isma, P yang sebelumnya diberi nama Pepper oleh Ava —karena Pepper berarti lada dan lada katanya menghangatkan, seperti Ava yang merasa hangat ketika bersama P berencana untuk ganti nama lagi, mereka mencari nama dan menemukan Patibrata Praharsa yang berarti sehidup semati dalam keadaan bahagia. Dan dalam perjalanan inilah si penulis dengan tega membunuh tokoh utama. Ava dan P menceburkan diri ke laut, dengan harapan menuju bintang di mana kata mereka ada kebahagiaan dan kedamaian. Sebab laut kata Ava adalah akhir dari perjalanan semua bintang yang selama ini mendengarkan harapan P. Jika mereka telah berada di bintang, mereka juga berharap bereinkarnasi menjadi macam-macam, yang jelas berpasangan. Entah itu menjadi sepasang pinguin, ayam betina dan ayam jantan, hingga lada dan garam.

***

Yang membuat Ava dan P akrab adalah permasalahan yang dihadapi Ava dan P memang pada dasarnya sama, mereka merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga. Kedekatan mereka terjalin dengan sangat alami, ala anak-anak. Penulis yang merupakan dara kelahiran Bandar Lampung 1993 mengangkat isu penting yang saya rasa akan laku sepanjang masa. Ava bosan melihat pertengkaran papa dan mamanya. Dia sering dipukul sisir oleh papanya, belum lagi lontaran kata-kata kasar.

“Itu anak didikanmu! Dari kecil sudah jadi jalang!” Bentak papa Ava ke mamanya ketika melihat Ava dan P di dalam kamar.

P pun mengalami kekerasan oleh papanya yang ternyata bukan papanya, berupa penyetrikaan di tangan kanannya. Dia juga tidak tahu mamanya siapa dan ada di mana. Jadilah mereka pesimistik dalam menjalani hidup di usia belia. Ada tekanan psikologis yang sangat berat menerpa mereka. Saya kemudian dibuat marah oleh papa dan mama Ava, juga orang tua P yang menjadikan keduanya korban.

***

Ava dengan ranselnya yang berisi kamus dan boneka penguin. Sedangkan P dengan gitarnya. ( Ilustrasi : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie )

Ava dengan ranselnya yang berisi kamus dan boneka penguin. Sedangkan P dengan gitarnya. ( Ilustrasi : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie )

Jika kamu membaca ulasan-ulasan tentang buku ini di Goodreads.com, banyak hal yang orang pertanyakan di sana, sampai kenapa Ava bisa sejenius itu, kenapa pemikirannya sampai segitu, hal-hal apa yang membuatnya seperti itu. Namun untuk kontra-kontra semacam itu, saya rasa Ziggy sudah punya jawaban di halaman 197.

“Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. —Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut.”

Buku ini memang merupakan buku pinjaman. Sebentar lagi dikembalikan ke Katakerja. Tapi setelah saya membuat tulisan ini saya akan ke toko buku untuk membelinya. Di Tanah Lada harus ada di rak buku saya, setidaknya kelak dapat menjadi pengingat bagi saya agar tidak menjadi papa yang jahat.

Processed with VSCO with a6 preset

Judul : Di Tanah Lada | Penulis : Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie | Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit : Agustus 2015 |Jumlah Halaman : 244 | ISBN : 978-602-03-1896-7

Baca tulisan lainnya dari Jumardan Muhammad

Toa di Persimpangan Jalan

Makassar Mencakar Langit

Menjadi Kekinian di Novel Akhir Abad 19

Kita adalah Pemilik Sah Ruang Publik Kota Ini

Belajar dari Barcelona dan Bandung

Menulis Bukan Pekerjaan Orang Malas!

29 Maret 2014, Bersama Gelapkan Makassar!

Diskusi Desain: Persepsi Masyarakat dan Eksistensi Desainer