Dead of Destiny is gonna back with The Black!

Setelah merilis album EP Kotak Berisi Dosa pada akhir tahun 2011 lalu, kuintet metalcore asal Makassar ini segera merilis album penuh pertamanya bertajuk The Black di tahun 2015.  Rico ( vokal ), Endi ( gitar), Fadly ( gitar ), Didi ( bass ) dan Radit ( drum) telah menyelesaikan proses rekamannya yang berjalan sejak Desember 2013 hingga Februari 2014 dan berlanjut pada proses mixing and mastering kurang lebih setahun.

“Proses rekaman ini lumayan sulit dimana proses transfer materi ke Fadly yang begitu cepat dituntut deadline untuk masuk recording,” ungkap Endi ketika saya berbincang dengannya melalui sebuah messenger app. Fadly yang bertandem dengan Endi di departemen gitar baru saja bergabung dengan Dead of Destiny pada akhir tahun 2013, tepatnya ketika tampil di Menunjuk Timur Vol. 2 pada 23 November 2013 lalu. Dua pekan sebelum Fadly bergabung, Dead of Destiny sukses menyelenggarakan Live Unrough, sebuah music showcase inisiatif mereka sendiri di Beat Stone’s Cafe pada 12 November 2013.

Pembuatan The Black dipastikan melibatkan pihak-pihak dalam proses rekaman. Radit yang saya hubungi juga melalui messenger app mengatakan kalau proses rekaman ini merupakan kolaborasi yang lebih luas sumbangsihnya dalam bentuk apapun. “Ada Oscar LoeJoe yang mengambil peran sebagai sound engineer dan juga technician assistant untuk band. Beliau juga salah seorang yang sedari awal dekat dengan kita dan mengetahui proses kami ngeband.” Radit pun menyebut Dede dari Paniki Hate Light mempunyai peran sentral pada lagu “Messiah” ikut berpartisipasi mengisi part synth orchestra untuk menambah daya magis pada lagu ini.

Tentunya pembuatan The Black yang membutuhkan proses panjang semakin menegaskan bahwa ‘kegelapan’ yang ingin diungkapkan Dead Destiny sangat serius. “Karena hal yang mendasari pemilihan judul The Black ini adalah warna kegelapan hitam yang kami tafsirkan sebagai sesuatu yang kelam suram dan kejam,” ujar Radit secara singkat.

Untuk seputar penulisan lirik-lirik yang diusung dalam The Black ini lebih banyak menceritakan masih seputar sisi gelap dari seluruh perjalanan perubahan peradaban manusia. “Mulai dari primitif-barbarian hingga modernis-hipokrit  yang masih saja bangga menunjukkan sisi gelapnya atas nama apapun. Ada yang tersembunyi maupun terang-terangan.”

The Black yang memuat sembilan lagu berbahaya ini sebelumnya pernah dimainkan Dead of Destiny ketika mereka tampil di beberapa panggung musik di Makassar selama proses rekaman. Sayangnya sembilan judul track tersebut belum bisa dibocorkan sepenuhnya menurut Radit.  “Hanya track yang sering kami bawakan pada gigs-gigs belakangan ini yang bisa kami sebutkan yaitu “The Black” , “Di Belakang Garis Musuh”, “Messiah” dan “Prayer”. Selebihnya kita tunggu di peluncuran album saja ya.”

Proses perwujudan The Black dalam bentuk rilisan fisik oleh Dead of Destiny sedang dalam tahap proses negosiasi dengan salah satu indie label yang bakal merilis album ini. “Jika negosiasinya deal dengan pihak label, maka pihak label yang bakal mengumumkan tanggal kepastian rilisnya, tergantung hasil  kesepakatan negosiasi dengan indie label tersebut. Kalo tidak, kami yang bakal umumkan dan Revius mungkin bisa diajak kerjasama sebagai media partner untuk mengumumkan jadwal rilis The Black ini,” jelas Radhit panjang lebar.

Dead of Destiny yang mantap dengan formasi terkini yaitu Rico ( vokal ), Endi ( gitar), Fadly ( gitar ), Didi ( bass ) dan Radit ( drum), bersiap merilis album penuh pertama mereka, The Black (sumber foto: Dead of Destiny)

Dead of Destiny yang mantap dengan formasi terkini yaitu Rico ( vokal ), Endi ( gitar), Fadly ( gitar ), Didi ( bass ) dan Radit ( drum), bersiap merilis album penuh pertama mereka, The Black (sumber foto: Dead of Destiny)

Salah satu bentuk keseriusan yang saya sangat salut dari Dead of Destiny  sebelum merilis The Black dalam bentuk cakram padat ini ada pada video dokumenter pendek yang merekam secara visual bagaimana proses pembuatan album ini dilakukan. Menurut Radhit, dokumenter pembuatan album ini lebih kepada merekam jejak-jejak proses demi proses dari pencapaian pembuatan album sendiri. “Ini penting karena album merupakan capaian, sementara proses untuk mencapai itu yang harus lebih jauh dilihat dan diabadikan karena atas nama proses tidak pernah mengkhianati hasil,” pungkasnya mantap.

Proses pendokumentasian yang penting sekali ini dikerjakan kolektif bersama M. Aminsyah, yang akrab dipanggil Amin. Penggiat sineas yang juga bassist dari Paniki Hate Light ini berperan besar dalam merekam dokumentasi dalam video dokumenter. Amin memvisualisasikan segala sudut peristiwa pembuatan album ini. “Amin mampu mengeksplorasi sisi band dengan cara berbeda dalam dokumenter yang dia buat,” Radhit memberi kesan terhadap hasil video yang dibuat oleh Amin.

Melihat seluruh proses interpretasi ‘kegelapan’ yang dilakukan Dead of Destiny ini digarap dengan serius dan teliti dari segi teknis maupun non-teknis, saya memiliki ekspetasi tinggi terhadap The Black bisa dinikmati semua penikmat musik di kancah nasional. Sudah saatnya unit metalcore berbahaya dari Makassar  ini mampu berbicara banyak tentang ‘kegelapan’ yang mereka suguhkan agar nama mereka semakin berkibar di jazirah musisi metal nasional hingga internasional kelak.

Daripada basa-basi tanpa aksi, mari simak lebih dekat proses pembuatan album The Black dari Dead Of Destiny lewat video karya M. Aminsyah berikut ini. Bersiaplah menuju kegelapan or tell Dead of Destiny which colour darker than The Black.

Sumber Foto: Dead of Destiny / Muh. Aminsyah


 Baca artikel lainnya dari Achmad Nirwan

“Konsisten Plus Nekat!”

“Musik Kontemporer itu Seperti Virus”

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Berjuang Membangun Halusinasi Secara Nyata

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise