oleh: Eka Besse Wulandari (@ekbess)

Tahukah kamu bahwa di Indonesia ada sekitar 745 bahasa daerah? Semakin ke timur, semakin banyak jumlahnya. Di Papua misalnya terdapat 250 bahasa yang tiap bahasa kini tak lebih digunakan oleh 2.500 orang. Di Sulawesi Selatan sendiri? Ada berapa?

Dan tahukah kamu bahwa dalam kurun waktu 20 tahun terakhir 30% dari 745 bahasa daerah mengalami kepunahan? Bisa membayangkan setiap tahun ada bahasa daerah yang punah karena tak lagi memiliki penutur asli,  saya sendiri tak mau membayangkan bahasa daerah saya, yakni bahasa Bugis sepuluh atau dua puluh tahun akan datang tidak ada lagi. Bagaimana dengan bahasa daerahmu?

Peneliti dari UNESCO  sendiri memprediksikan bahwa dalam kurun waktu 100 tahun ke depan dari 6.000 bahasa dunia akan mengalami kepunahan 50%. Dari prediksi inilah UNESCO sejak tahun 1991 menetapkan setiap tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Sedunia.

Kenapa bahasa itu penting? Karena bahasa menunjukkan suatu bangsa bahwa kita bisa memahami satu kebudayaan masyarakat melalui bahasanya. Bahasa adalah suatu produk kebudayaan, tentu mesti dijaga.

Karena alasan-alasan di ataslah saya memutuskan untuk pindah jurusan dari Sastra Jepang ke Sastra Daerah tahun 2009 lalu. Saya ingin ada yang tetap memiliki pengetahuan mengenai seluk beluk bahasa daerah saya di saat kebanyakan orang tak lagi peduli karena mungkin dianggap tidak perlu. Tentu juga ada alasan lainnya, saya sudah pernah menceritakan itu di blog saya.

Intinya sejak kecil saya selalu bertanya-tanya, bagaimana caranya dua suku yang berbeda bahasa mampu berkomunikasi? Bagaimana cara mereka belajar bahasa asing pertama kali? Bagaimana si penerjemah bahasa belajar bahasa asing pertama kali? Hal itu selalu membuat saya takjub dan selalu penasaran ingin mempelajari banyak bahasa asing, hingga kini.

Lalu saya pindah ke jurusan Sastra Daerah. Membayangkan saya akan menjadi guru atau dosen sastra daerah agar bisa tetap mengajarkan banyak orang bahasa daerah yang saya tahu. Studi saya selesai di akhir Februari tahun 2014.  Tapi sungguh saya malas berurusan dengan birokrasi, mengurus berbagai macam persuratan bla bla bla. Keinginan menjadi guru apalagi dosen tak lagi menjadi prioritas, bagaimana bisa menjadi guru? Ijazah saja tak diurus sampai saat ini he he he.

Kemudian apa yang ingin saya lakukan?

Bangga karena bisa berbahasa Bugis, sama bangganya saat saya bisa berbahasa Inggris meski tak meguasai, sama bangganya saat saya sedikit-sedikit bisa berbahasa Jepang.  Karena kebanggaan itu, saya masih tetap ingin mengajarkan pada lebih banyak orang mengenai apa saja yang saya pelajari.

Kelas Aksara Lontara di katakerja adalah jawabannya agar saya masih ingin tetap mengajar. Bukankah semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah? Kelas Aksara Lontara dibuka pertama kali di bulan September. Saya senang karena ada yang tertarik.

Awalnya dibuat hanya dua kali pertemuan setiap bulan karena ada juga kelas daur ulang di katakerja. Tapi Randi, salah satu peserta kelas ini meminta saya menambah jadwal Kelas Aksara Lontara karena ada banyak yang memang harus dipelajari. Maka di bulan Oktober kelas ini rutin tiap hari Selasa setiap pukul 4 sore.

 

Saya senang karena berkat adanya kelas ini saya kembali punya alasan untuk tetap membaca dan belajar, sehingga saya tidak lupa. Dan yang menyenangkan juga karena ada peserta kelas yang antusias meski tak banyak. Tiga peserta tetap kelas ini adalah Randi dari Makassar, Viny dari Manado, dan Kiky dari Kalimantan.

Di awal pertemuan saya menjelaskan kepada mereka bahwa yang bisa saya ajarkan lebih banyak adalah bahasa Bugis, sedangkan bahasa Makassar hanya sedikit. Kelas ini dibagi 4 tahap: menulis, membaca, berbicara, dan menyimak.

Di empat tahap itu saya menyelipkan belajar bahasa dan hal lainnya yang berkaitan dengan aksara lontara, sejarah, perkembangan, dan ada banyak hal. Saya berusaha menyusun kurikulum yang sederhana agar mereka yang notabene bukan penutur bahasa Bugis bisa cepat mengerti.

Suatu hari seorang wartawan mewawancarai saya mengenai kelas ini. Saya diminta menjelaskan secara panjang lebar apa motivasi saya mengadakan kelas ini agar kiranya bisa mempengaruhi lebih banyak orang mempelajari bahasa daerah. Apa yang bisa saya jelaskan? Yang saya tahu kebanyakan orang ingin mempelajari satu bahasa berdasarkan apa kepentingannya.

Misalkan ada orang yang belajar bahasa Inggris karena ingin ke luar negeri, bisa diterima bekerja di perusahaan, bisa mengajar, dan kepentingan karir lainnya. Bagaimana dengan bahasa daerah? Untuk alasan-alasan yang bisa mencerahkan masa depan ataupun karir, adakah kepentingannya? Cukupkah alasan melestarikan budaya agar seseorang bisa termotivasi mempelajari bahasa daerah?

Saya balik bertanya kepada wartawan itu, “Kamu sendiri, kalau saya minta ikut Kelas Aksara Lontara ini apa motivasimu?” Dia tertawa dan mengatakan dia belum tentu mau. Maka saya diminta olehnya memberikan motivasi lebih banyak lagi.

Saya hanya bisa mengulang bahwa motivasi itu selalu berdasarkan kepentingan. Jika seseorang menganggap belajar bahasa daerah tidak sesuai kepentingannya maka tidak akan tertariklah dia, seperti apapun motivasi yang diberikan.

Dengan kata lain, motivasi belajar berasal dari orang itu sendiri, bukan dari saya yang mengajar. Apa yang bisa saya janjikan dari Kelas Aksara Lontara ini? Bahwa kelak kamu akan menjadi seorang pengusaha sukses dengan belajar bahasa daerah? Mungkin bisa saja jika dikaitkan dengan sebuah nilai lebih. Tapi saya tak ingin muluk-muluk. Atau mungkin saya yang tidak pandai memotivasi banyak orang?

Lalu bagaimana dengan motivasi tiga peserta tetap kelas ini? Saya meminta mereka menuliskan alasan mengapa mereka ingin ikut Kelas Aksara Lontara.

Randi menuliskan alasannya ikut kelas karena dia ingin membaca buku harian kakeknya yang berbahasa Makassar dan ditulis aksara lontara. Buku itu ia dapat di lemari beberapa hari sebelum kelas aksara lontara dimulai pertama kali. Randi menganggap sepertinya buku itu adalah catatan penting untuk ia baca, siapa tahu ada warisan untuk dia. Ha ha ha.

 

Kiki ingin mengenal budaya Bugis Makassar lebih jauh. Karena sudah tiga tahun ia tinggal di Makassar, jadi wajarlah jika ia kini harus mempelajari budaya tempat tinggalnya saat ini. Dimulai dari tulisan, bahasa, dan perilaku. Sedangkan Viny dengan singkat menuliskan “mauka sombong sama temanku”.

Bagi yang berminat belajar tentang  Aksara Lontara, ada kelasnya setiap Selasa di Katakerja.

Bagi yang berminat belajar tentang Aksara Lontara, ada kelasnya setiap Selasa di Katakerja.

Apakah kamu sudah cukup tertarik untuk belajar Aksara Lontara? Bila belum, mari menyambangi katakerja setiap Selasa 🙂 []