“Writer’s block adalah istilah keren yang digunakan penulis yang malas”—Windy Ariestanty

Untuk kali ke-47, Akber Makassar sebagai komunitas edukasi dengan penuh semangat mengadakan kelas dengan tema “Menulis dan Menembus Penerbit”. Tema yang cukup berat bagi saya sebenarnya, tapi karena terlanjur ketagihan menyimak aksi Windy Ariestanty–setelah sebelumnya terpukau ketika editor Gagas Media ini membawakan workshop “How to Craft Travel Stories” di Makassar International Writers Festival 2014–saya bertekad untuk tidak melewatkan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Saya mendoakan semua aktivis Akber Makassar masuk surga.

Saya tiba di Djuku Resto Wisma Kalla pukul 13.10 WITA. Dugaan saya, peserta kelas kali ini akan membludak ternyata salah. Hanya ada enam orang di Djuku Resto ketika saya datang, hingga kelas berakhir hanya ada sekira 15 orang. Sekitar 30 menit kemudian, Windy Ariestanty masuk kelas bersama kepala sekolah Akber Makassar dengan menarik koper, menenteng kardus, dan memanggul ransel. Dia adalah Windy Ariestanty dan saya tidak akan mampu marah meski dia datang telat 2 jam dari jadwal seharusnya.

Diskusi dibuka oleh Kepala Sekolah Akber Makassar, Dhila Yaumil. Kemudian, langsung diserahkan kepada Windy. Penulis yang suka jalan-jalan ini mengawali diskusi dengan menegaskan bahwa kelas ini tidak akan membahas proses penulisan–sebab akan membutuhkan waktu yang panjang, kelas akan fokus mendiskusikan strategi untuk menembus penerbit.

“Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sebagai asosiasi profesi penerbit di Indonesia mencatat ada 1.400 penerbit di Indonesia dan sejumlah 15.000 buku diterbitkan tiap tahunnya,” ungkap penulis Life Traveler ini ketika memulai kelas. Nama-nama penulis yang familiar bagi saya tidak banyak, koleksi buku saya pun bisa dihitung dengan abacus warna-warni milik anak SD.  Jadi wajar saja bila saya sedikit tersentak mendengar jumlah sebesar itu.

Beberapa menit kemudian, saya menyadari bahwa meski besar, jumlah tersebut tentunya hanya menggambarkan ‘puncak gunung es’ dari dunia penulisan dan penerbitan di negara kita. Lima belas ribu buku yang diterbitkan tiap tahunnya adalah jumlah yang sama sebagai naskah yang disetujui oleh penerbit. Berapa jumlah naskah yang tidak atau belum disetujui untuk diterbitkan? puluhan ribu? ratusan ribu? atau bahkan jutaan? dan yang terpenting, kenapa?

Karena kelas baru saja dimulai ditambah belum waktunya untuk sesi tanya-jawab, saya menyimpan rasa penasaran tersebut. Tentunya dengan harapan, pertanyaan tersebut akan terjawab beberapa menit kemudian.

BplfSZmCUAAVX07

Syukurlah, harapan saya dijawab oleh Tuhan Yang Maha Esa karena beberapa saat kemudian, Windy menjelaskan bahwa naskah yang diterima oleh penerbit sangat banyak dan alasan utama kenapa naskah-naskah tersebut tidak diterbitkan adalah karena minimnya pemahaman terkait tata cara mengirimkan naskah ke penerbit. Tata cara yang bila dipahami dan dilakukan dengan baik akan memperbesar peluang naskah kita untuk diterbitkan.

1. Mencari Penerbit yang Tepat.

Tepat yang dimaksud adalah kesesuaian antara jenis tulisan kita dengan genre penerbit. Bila tulisan kita adalah novel Islami, maka carilah penerbit yang menerbitkan buku-buku fiksi Islami. Kemudian, gali informasi sebanyak-banyaknya mengenai penerbit tersebut, seperti hal-hal penting untuk mengikuti aturan administrasi dari sebuah penerbit. Jika tidak, petualangan naskah kita hanya akan berakhir di meja sekretaris redaksi, tidak sampai ke editor, apalagi diterbitkan.

2. Ketik dengan Rapi

Windy mengatakan bahwa meski merupakan hal yang sangat mendasar tapi ternyata masih ada yang mengirimkan naskah yang ditulis dengan tangan. “Naskah yang harus kami pelajari cukup banyak, dan akan sangat menyulitkan bila naskah tersebut tidak diketik, tidak semua orang bisa membaca tulisan tangan orang lain.” Bila sulit dibaca, bisa diprediksi apakah naskah tersebut disetujui di rapat redaksi atau dikembalikan.

3. Menyiapkan Sinopsis.

Naskah yang disertai deskripsi ringkas tentang alur cerita, tokoh-tokoh beserta konfliknya sangat berguna untuk menunjukkan sepintas kilau dari naskah kita kepada pihak penerbit. Sepintas kilau lewat sinopsis tersebut bisa mencuri perhatian editor yang kemudian “dipaksa” oleh rasa penasarannya untuk mencari kilau-kilau lain dari naskah tersebut. “Sinopsis cukup 1 halaman saja, tidak perlu sampai 7 halaman karena sinopsis bukanlah cerpen. Oiya, jangan pernah mengakhiri sinopsis dengan pertanyaan” kata Windy dengan gemas. Saya menangkapnya sebagai disuasi untuk berhenti menonton sinetron.

4. Kenapa Naskah tersebut Layak Diterbitkan?

Bila tujuan sinopsis adalah untuk “memaksa” editor mengintip naskah anda lebih jauh, memaparkan argumen-argumen yang mendukung kelayakan naskah anda untuk diterbitkan bisa mencuri perhatian editor lebih dalam. Bagi penulis sendiri, proses membuat pemaparan juga bisa menjadi penyuntingan mandiri dalam bentuk lain, introspeksi tulisan, memberi si penulis pemahaman yang lebih dalam tentang tulisannya dan tentu saja, dirinya sendiri.

5.  Jangan Susah Dihubungi!

Satu lagi hal mendasar tapi sering terlupa, jangan lupa sertakan nama, alamat email, nomor kontak serta nomor kontak alternatif untuk jaga-jaga” Katanya, membuat saya penasaran orang macam apa yang melupakan hal sepenting itu. “Logikanya sederhana, bagaimana caranya kami bisa menerbitkan bila identitas penulisnya menjadi misteri?”, lanjutnya. Saya lantas berniat mengacungkan tangan dan bertanya tentang kemungkinan menerbitkan buku dengan menuliskan “Hamba Allah” sebagai nama penulis, tapi urung karena tidak mau membuat Windy ilfil.

Ngomong-ngomong soal ilfil, cewek berambut pendek ini mengatakan sesuatu tentang betapa ilfil-nya editor ketika melihat naskah yang tidak mencantumkan judul. (what’s wrong with these people?)

Penulis yang malas membuat judul untuk karyanya sendiri hanya akan membuat pihak penerbit malas mempelajarinya.Ya, menulis memang bukan pekerjaan orang malas.

Bplo8ksCMAAv86y

Penulis dan penerbit itu layaknya jodoh. Kenali dengan baik penerbit yang akan diajak untuk membesarkan “anak” anda. Penerbit yang pas akan merawat anda dan “anak” dengan baik, membantunya untuk bertumbuh dan membuat anda bangga di kemudian hari. Mungkin saja Gagas Media dan Bukune “jodoh” yang anda cari selama ini.

“Bagi saya, the real writer’s block adalah ketika penulis yang—meski tetap menulis—mengalami stagnasi, tidak berkembang.”—Windy Ariestanty

Foto oleh: @AkberMks