oleh: Armin Hari (@arminhari) | ilustrasi: Adi Gunawan (@benangbaja)

Saya dan Bobel, di beranda Kampung Buku, terlibat perbincangan sore selayaknya wawancara antara jurnalis hiburan dengan pengamat film. Dia berperan sebagai kritikus film, dan saya, tentu saja, menjadi jurnalis hebat. Perbincangan kami lepas dari mikrofon, buku catatan, alat perekam suara, dan kamera.

“Film apa yang terakhir Bobel tonton?”

“Ada film terakhir di bioskop. Saya, Mami, dan Om Ikbal pergi menonton di MaRI. Filmnya at-hirah.” Gadis berusia tujuh itu melafalkan Athirah dengan At-hi-rah.

“Filmnya tentang ibu-ibu yang melahirkan dua orang anak kembar. Suaminya menikah lagi. Itu ibu dibantu melahirkan oleh tiga anaknya. Suaminya tidak ada di rumah. Bercerai,” lanjutnya. Anggapannya memang demikian. Sang tokoh utama, seorang ibu, melahirkan sekaligus dan anaknya kembar.

“Kalau menurut Bobel, baik kira-kira kalau ada perceraian?” Meski usianya masih belia, ia bisa mengerti tentang kata perceraian.

“Tidak baik. Kasihan ibu itu melahirkan sendiri dan hanya anak-anaknya yang membantu, karena suaminya sudah tidak ada di rumah.”

Setelah percakapan tersebut, ia sibuk main lompat tali. Ia memperlihatkan kemampuannya melompati tali berpegangan karet dan bergambar Barbie. Wawancara seolah-olah kami pun berakhir.

*

Mungkin, seperti itulah penggambaran tentang film Athirah. Hal sederhana tersebutlah yang tampak secara visual dan dimengerti oleh seorang gadis kecil berusia tujuh tahun. Menyaksikan perpindahan frame dengan durasi yang singkat namun cepat dan tidak banyak bahasa verbal yang mengiringi. Tentu saja, itu akan mengernyitkan para penyimaknya.

Saya yakin, orang dewasa pun akan mengalami hal serupa saat mengikuti alur cerita yang coba dibangun dengan perpindahan frame yang cepat dan minim dialog. Hanya mimik dan beragam metafora yang ditampilkan. Apalagi, jika penyimaknya adalah mereka yang sama sekali tidak pernah bersentuhan langsung dengan budaya orang Bugis. Pesan-pesan dalam film akan terkuras, dan hanya sedikit yang akan sampai dan dimengerti.

Alasannya sederhana. Orang Bugis, suku besar yang mendiami jazirah selatan Pulau Sulawesi ini, menurut para antropolog dan Sulawesianis sangat pandai menyembunyikan makna. Mereka tidak terlalu banyak berekspresi dengan bahasa verbal; biasanya lebih ekspresif dalam menyampaikan sesuatu melalui tingkah laku dan mimik. Mereka bahkan diyakini tidak memiliki kosa kata “terima kasih”. Ini bukan berarti bahwa mereka tidak tahu berterima kasih. Mereka lebih mengekspresikan ucapan tersebut dibandingkan dengan mengucapkannya.

Dan, sepertinya hal tersebut yang coba ditangkap dan dituangkan Riri Riza. Tidak mengherankan bila frame-frame yang disajikan pun sarat simbol, singkat, dan minim bahasa verbal.

Beberapa hari yang lalu pula, saya baru berkesempatan menonton film terbaru dari Miles Films tersebut. Tidak banyak film Indonesia yang saya tonton selama ini. Alasannya sederhana, film-film tanah air kebanyakan memiliki tema dan cerita yang sama: percintaan anak remaja, permusuhan keluarga, perempuan-perempuan yang hanya mampu membalaskan dendam mereka ketika sudah meninggal dan gentayangan, kisah cinta kekasih atas kekasihnya yang sedang sekarat, cerita perjalanan anak muda di luar negeri, dan lain sebagainya. Ada satu hal yang mendorong saya menonton Athirah hari itu, saya ingin melihat seperti apa seorang Riri Riza, dan beberapa anak muda di Makassar yang membantu pengerjaan film tersebut, menggarap sebuah isu yang dekat dengan latar belakang budaya sang sutradara. Singkatnya, mungkin bisa dikatakan bahwa seberapa Bugis-kah Riri Riza menggarap film ini. Dan, hal lain yang memicu saya adalah seperti apa ia menanggapi “film pesanan” yang diproduksinya tersebut. Apalagi, ini adalah film pertama yang dia garap di kampung halaman dan menghadirkan kebudayaannya sendiri.

Kemudian saya tiba pada satu kesimpulan, menyaksikan Athirah sama halnya menyimak elong ogi secara visual. Kepiawaian sang sutradara dan juru rekam meramu fragmen-fragmen simbolik dan singkat untuk menyampaikan pesannya. Berisiko memang. Seperti yang diungkap sebelumnya, menyampaikan pesan-pesan simbolis tersebut ke hadapan para penonton yang belum pernah bersentuhan dengan kebudayaan Bugis. Karena menurut saya, film ini akan sepenuhnya berhasil ditangkap oleh para penikmatnya hanya jika mereka mengenal seperti apa orang Bugis itu.

M. Aan Mansyur pernah menuliskan bahwa sejatinya orang-orang Bugis itu sangat piawai menyembunyikan maksud dalam menyampaikan makna bahasa verbal mereka. Ia melihatnya dari bagaimana orang Bugis menggunakan salah satu bentuk puisi Bugis (elong ogi) yang bernama elong maliung bettuanna (puisi yang dalam maknanya). Meskipun elong [kelong] secara harfiah berarti lagu, namun dalam pembahasan sastra ia dikategorikan sebagai sebuah bentuk puisi. Lebih lanjut dikatakan bahwa menurut Salim (1990:3-5) sedikitnya ada 14 jenis elong yang bisa dibedakan menurut isi (keluarga, agama, nasehat, dan hiburan), peristiwa (lulabi, perang, pernikahan, melamar, dll), dan kepelikan atau keanehannya (bentuk dan permainan bahasa). Contoh-contoh elong bisa ditemukan dalam beberapa buku yang ditulis oleh Muhammad Salim, Muhammad Sikki, Rahman Daeng Palallo, dan paling komprehensif ditulis oleh B.F Matthes.

Memahami tiap baris dan tiap kata dalam elong ogi, memerlukan usaha yang berlipat-lipat untuk memahami makna yang dikandungnya. Untuk memperoleh makna tersebut secara komprehensif, semuanya harus diartikan berlapis secara keseluruhan. Tidak boleh hanya baris per baris atau kata per kata saja. Kekuatan utama dari elong ogi, sebenarnya adalah kemampuan para sastrawan Bugis mampu melihat celah yang memungkinkannya mengeksploitasi karakteristik ortografi. Dengan cita rasa seni yang tinggi, mereka mampu menciptakan sebuah genre puisi teka-teki yang tidak ditemukan dalam budaya manapun di dunia. Tidak ditemukan teori bahasa dan sastra ataupun teori yang bisa menjembatani keduanya. Semisal semiotika dan stilistika yang cukup memadai untuk mengkajinya.

Riri Riza mampu menjelma menjadi seorang “sastrawan Bugis.” Ia berbahasa melalui permainan visual dalam Athirah. Baris-baris elong ogi ia transformasikan ke dalam bingkai-bingkai rana. Sesuatu yang hanya bisa disatukan artinya dengan kajian semiotika visual yang dipadupadankan dengan pengetahuan tentang karakteristik orang Bugis. Potongan-potongan singkat tanpa bahasa verbal yang ia sajikan dalam bingkai tersebut adalah sebuah potongan teka-teki penuh makna tentang orang Bugis itu sendiri. Bagaimana posisi lipa’ sabbe (sarung sutera) bagi perempuan Bugis yang disetarakan dengan harkat dan martabat, nasu bale bolu (masakan ikan bandeng kuah kunyit dan asam) yang harus selalu hangat selayaknya keharmonisan keluarga, barongko (penganan dari pisang dan santan kelapa) yang melambangkan nilai-nilai kehidupan yang tidak selamanya manis, dan lain sebagainya.

Penyampaian teka-teki visual tersebut juga sangat didukung oleh permainan karakter yang dimasukkan dalam bulir warna. Hanya mimik dan ekspresi sang tokoh yang mewakili alunan kata-kata verbal. Alur yang dibangun untuk menyambung pesan teka-teki dan interpretasi makna visual yang ditampilkan. Sangat berisiko memang. Tapi itulah yang coba dihadirkan Riri Riza dalam Athirah ini. Menjelmakan elong ogi dengan strukturnya yang singkat dan penuh makna. Hal yang hanya bisa dipahami secara utuh bagi mereka yang mengenal seperti apa orang Bugis–orang-orang yang piawai menyimpan maksud dalam menyampaikan pesan sesungguhnya.