Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Ketika mendengar kata ‘musik pop’, pemahaman yang langsung tergambar di pikiran saya saat masih di bangku sekolah menengah pertama adalah musik yang mudah dicerna oleh indera pendengaran. Pola musiknya lebih banyak didominasi nada-nada mayor dan aransemen yang sederhana dan bersemangat. Liriknya pun pada umumnya berkisar pada keseharian, romantisme dua sejoli, menye-menye, atau pun yang lebih sepele lagi. Lalu, dengan sok tahunya, saya pun menafsirkan sendiri bahwa ‘musik pop’ adalah musik yang sedang populer di tangga-tangga lagu musik di radio atau pun televisi.

Sebagai anak ingusan yang lebih menggemari musik yang beraroma rock ketika itu, saya pun tidak mau ikut-ikutan mengikuti latah musik yang sedang populer. Saya merasa musik rock lebih cocok  untuk saya di usia belasan yang masih mencari jati diri. Bayangkan saja, saya pernah berdebat dengan kakak sepupu saya yang lebih dulu mengenalkan musik rock kepada saya tentang corak musik pop yang dimainkan Lenny Kravitz, sampai-sampai karena kalah debat, saya tidak mau mengapresiasi musik yang dimainkan Lenny Kravitz waktu itu.

Ternyata semua pemahaman tentang musik pop di masa lalu tersebut mulai terpatahkan satu-per-satu seiring bertambahnya usia. Banyaknya wawasan serta informasi yang masuk tentang musik pop akhirnya membuat saya mulai dikalahkan oleh pemahaman yang lebih mantap tentang musik pop. Selain sederhana dalam lirik dan musik yang cenderung bertemakan hal-hal komersial, keistimewaan lain yang dimiliki oleh musik pop adalah penggunaan berbagai inovasi teknologi untuk menunjang musiknya. Misalnya proses mixing yang dapat menghasilkan nada-nada yang enak didengar dan lebih bervariasi. Hal itulah yang kemudian menjadi alasan mengapa musik pop banyak digemari, terutama oleh para remaja.

Ditambah lagi informasi yang saya rangkum secara acak mengatakan bahwa musik pop adalah salah satu genre musik yang merupakan bagian dari musik populer. Musik populer sendiri adalah musik yang tidak terbatas pada satu jenis aliran tertentu. Kriteria utamanya adalah bagaimana jenis aliran musik itu dapat populer dan digemari. Itulah sebabnya mengapa musik pop sering diidentikkan dengan musik populer. Padahal, musik pop dan musik populer itu adalah dua hal yang berbeda. Seperti halnya musik-musik lain yang saling memengaruhi, musik pop pun demikian. Musik pop banyak dipengaruhi oleh “anggota” dari musik populer lainnya. Seperti, gabungan antara genre musik rock, jazz, blues, reggae, Rhythm and blues, rock and roll, tradisional, dan lain-lain.

Pemahaman musik pop yang seperti di atas, kembali melintas di kepala saya saat menghadiri Bunyi-Bunyi Perhalaman, sebuah pertunjukkan musik yang digelar oleh Vonis Media dan Rumata’ Art Space yang didukung oleh HiVOS, lembaga kesenian dari Belanda. Memasuki edisi  ke-tujuh ini, penyelenggara menggaet musisi solois Rizcky De Keizer yang  juga merupakan salah satu personil The Finalist untuk tampil dan membicarakan karya, ide, dan proses kreatifnya ke dalam ruang yang lebih terbuka dan santai. Pada edisi ini pula terbilang istimewa karena selain mendapat dukungan baru dari Telkomsel Loop, Bunyi-Bunyi Perhalaman juga tepat berusia satu tahun semenjak digelar setahun lalu dan lebih menariknya lagi digelar bertepatan dengan Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret.

Rizcky De Keizer merupakan salah satu musisi serba bisa yang pernah saya kenal. Untuk penampilannya, dia mengusung corak musik yang didominasi musik pop serta tagline One Man Show untuk menegaskan bahwa dia memainkan semua instrumen secara langsung dengan teknik live looping. Melihatnya tampil beberapa waktu lalu bersama bandnya maupun secara sendiri, Rizcky memang selalu menghadirkan penampilan yang mengundang decak kagum bagi yang menyaksikannya, termasuk saya. Mendapatkan kesempatan untuk hadir menyaksikannya kembali tampil di Bunyi Bunyi Perhalaman pada sore hari itu tentunya tidak boleh dilewatkan.

Membuka penampilannya  di sore itu dengan nomor instrumental “Interstellar”, Rizcky berusaha memadukan kemampuan efek-efek serta instrumennya secara simultan untuk menghasilkan bunyi-bunyian ala luar angkasa.  Lagu yang sarat dengan teknik looping dengan frase padat ini dibuat olehnya memang terinspirasi saat menonton film Interstellar yang notabene, berkisah tentang perjalanan luar angkasa. Tambahnya lagi, setelah menyelesaikan lagu tersebut, Rizcky sebetulnya malah tidak terlalu menyimak filmnya, alih-alih berpikir untuk membuat lagu yang terinspirasi dari scoring film-film tersebut.

Membuka penampilannya  di sore itu dengan nomor instrumental "Interstellar", Rizcky berusaha memadukan kemampuan efek-efeknya serta instrumennya secara simultan untuk menghasilkan bebunyian a la luar angkasa.

Membuka penampilannya di sore itu dengan nomor instrumental “Interstellar”, Rizcky berusaha memadukan kemampuan efek-efeknya serta instrumennya secara simultan untuk menghasilkan bebunyian a la luar angkasa.

Kemudian dilanjutkan dengan lagu “Jalani Saja” yang mengandalkan formula musik pop akustik yang sederhana namun memiliki lirik yang cukup kuat. Setelah memainkan lagu tersebut, Rizky sempat berkisah tentang proses penciptaan lagu tersebut yang terinspirasi ketika dia harus memilih ke arah mana setelah menamatkan gelar sarjananya. Sudah tentu dia memilih untuk menjadi musisi. “Siapa teman-teman musisi yang juga sarjana? lebih baik simpan saja ijazahmu,” ujarnya menutup penjelasan tentang karya lagu tersebut.

Saat sesi diskusi di sela-sela penampilannya, saya sempat bertanya tentang bagaimana proses kreatifnya menciptakan lagu dan bagaimana kota Makassar bisa mempengaruhinya berkaryanya, setidaknya dituangkan dalam lagu. Seperti halnya proses kreatif yang didapatkan untuk lagu “Interstellar”, Rizcky lebih banyak mendapatkan ide dari pengalamannya dalam menjalani hidup sehari-hari. Hal itu sudah mulai dibiasakannya sejak kecil, karena bapaknya seorang yang ulet dalam pekerjaan rumah termasuk membuat sesuatu dari kayu. Rizcky pun mau-tidak-mau harus terbiasa dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh perkakas ayahnya. Justru dari bebunyian tersebut, Rizcky malah banyak terinspirasi menghasilkan sebuah komposisi lagu.

bbph 01

Di Bunyi-Bunyi Perhalaman edisi ke-tujuh ini, Rizcky de Keizer bisa membicarakan karya dan ide ke dalam ruang yang lebih terbuka dan santai serta berbagi kisah tentang proses kreatifnya.

Soal bagaimana kota Makassar bisa mempengaruhinya dalam berkarya, walaupun secara jujur dia tidak terlalu mengikuti perkembangan kota Makassar, suasana kota ini sempat dia tuangkan dalam sebuah lagu berjudul “Eclipse” yang katanya penuh bunyi loop dengan distorsi padat karena terinspirasi suasana demonstrasi yang lagi marak di kota ini.

Kemudian setelah sesi diskusi bagian awal, Rizcky kemudian melanjutkan penampilannya lagi dengan membawakan lagunya bertajuk “Kembalikan Hatiku” dengan bass di tangannya setelah sebelumnya bermain gitar akustik. Lagu berikutnya ini tampak terdengar seperti dua lagu milik Ed Sheeran “You Need Me, I Don’t Need You” atau “Sing”, tapi bagusnya memiliki lirik berbahasa Indonesia. Teknik looping yang sarat konsentrasi tinggi pun dipertontonkannya sambil dia atraksi meliukkan senar bassnya di lagu ini.

Sesi diskusi kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan yang menarik dari Andi Burhamzah yang akrab disapa Anca’, yang bertanya tentang musik pop menurut Rizcky itu seperti apa. Rizcky berpendapat kalau musik pop itu sebenarnya musik yang populer di zamannya. Bee Gees menurutnya salah satu musisi pop yang menjadi inspirasinya. Tambahnya lagi, musik pop itu sesuatu yang mudah dicerna. Dia juga termasuk musisi yang peduli dengan hal teknis, baik dari segi sound maupun teknik. Karena dalam memainkan musik pop versinya, tetap ada part yang rumit dimasukkan untuk memberi penanda bahwa inilah ciri khasnya. Rizcky menambahkan musik pop juga merupakan jalan baginya untuk mengenalkan musisi lintas genre seperti Red Hot Chili Peppers, Marcus Miller dan Victor Wooten.

Proses diskusi kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan yang menarik dari Andi Burhamzah yang akrab disapa Anca', yang bertanya tentang musik pop menurut Rizcky itu seperti apa.

Sesi diskusi Bunyi Bunyi PerHalaman kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan yang menarik dari Andi Burhamzah yang akrab disapa Anca’, yang bertanya tentang musik pop menurut Rizcky itu seperti apa.

Rizcky pun berbagi kisah sedikit perjuangannya untuk menghadirkan teknik looping dalam permainannya. Terinspirasi saat mengikuti music camp bersama Victor Wooten pada tahun 2008, yang mana dia memainkan loop machine dalam coaching clinic-nya. Kemudian tertarik memiliki loop machine tersebut dengan cara memesannya di sebuah toko alat musik di Makassar walaupun harus menunggu enam bulan untuk menanti barangnya tiba. Tidak cukup sampai di situ, Rizcky pun harus mengutang selama 4 bulan karena belum bisa membayarnya secara lunas. Pengalaman menariknya lainnya, ketika harus tampil sendiri, Rizcky terkadang  bingung untuk mencari minus one yang pas dengan permainannya. Di situlah, dia kemudian berpikir untuk menggunakan loop machine untuk memainkan teknik loopingnya.
Rizcky akhirnya terbiasa serba bisa untuk memainkan beberapa lagu karya lagunya sendiri dan lagu milik musisi lain yang sering dia bawakan ulang. Tapi, di balik fasihnya memainkan lagunya dengan teknik looping, Rizcky juga menyadari kelemahan looping yaitu pada dinamika lagu. Kemudian soal birama, Rizcky bisa melakukan shuffle birama dalam looping walaupun harus tetap berpatokan sesuai kebutuhan lagu. Memainkan teknik looping pun harus bisa ingat frase perpindahan looping-nya.

Sebagai penutup dari sesi diskusi, Juang Manyala dari Vonis Media pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada Rizcky apa saja treatment khusus yang dilakukannya untuk menghasilkan lagu-lagunya. Rizcky pun menjawab dengan cukup lugas kalau dia punya sifat tidak pernah cepat puas dalam mendalami berbagai macam teknik looping. Ada saja hal baru yang ingin dilakukannya dalam bermusik. Dia pun menambahkan kalau ingin bermain teknik live looping, harus sering membagi-bagi kemampuan otak untuk segera berinisiatif cepat, sering-sering perbanyak referensi, kemudian perjelas saja jalur bermain teknik looping-nya mau kemana. Setelah sesi diskusi, Rizcky pun menutup aksinya dengan penampilan satu lagu instrumental karyanya sendiri yang mengundang riuh-rendah-tepuk-tangan audiens yang hadir di Bunyi-Bunyi Perhalaman sore itu.

Sebagai penutup dari sesi diskusi santai di Bunyi-Bunyi Perhalaman, Juang Manyala dari Vonis Media pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada Rizcky apa saja treatment khusus yang dilakukannya untuk menghasilkan lagu-lagunya.

Sebagai penutup dari sesi diskusi santai di Bunyi-Bunyi Perhalaman, Juang Manyala dari Vonis Media pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada Rizcky apa saja treatment khusus yang dilakukannya untuk menghasilkan lagu-lagunya.

Saya yang masih teringat momen-momen menakjubkan sore itu saat menuliskan artikel ini, tampaknya harus banyak lagi menggali informasi tentang musik pop. Seperti musik pop yang ditampilkan Rizcky, banyak memadukan segala genre namun diaplikasikan dengan teknik live looping. Ini menambah referensi baru lagi seperti saran Rizcky di penutup sesi diskusi Bunyi-Bunyi Perhalaman. Dari penampilan Rizcky tersebut pula, tampaknya saya harus lebih banyak lagi mengapresiasi musik pop yang bisa hadir di waktu yang tepat dan di ruang apa saja. Salut! []


Bacaan tulisan lainnya dari Achmad Nirwan:

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise