Weekend Kino Club bisa jadi surganya penikmat film yang bisa menonton tanpa dipungut biaya. Bagaimana tidak, pemutaran film yang menjadi agenda baru Rumata’ Art Space ini rutin diadakan setiap bulan dengan tema-tema yang berbeda dan menginspirasi.

Di bulan Januari 2015, Weekend Kino Club yang merupakan program rutin kerjasama Cinema Appreciator Makassar dan Rumata’ Art Space, resmi dimulai dengan mengangkat tema “City on Crisis. Salah satu yang menarik perhatian saya untuk datang menghadiri edisi kali ini karena melihat e-flyer tentang pemutaran film berjudul Lovely Man.

Film Lovely Man ini sendiri bercerita tentang kehidupan kaum waria di Ibu Kota. Bagaimana perjuangan seorang waria bernama Syaiful, yang di malam hari dipanggil Ipuy (diperankan oleh Donny Damara). Konflik dimulai ketika anak dari Ipuy bernama Cahaya kemudian nekad untuk mencari ayahnya yang sudah belasan tahun tidak bertemu dengannya. Cahaya yang berlatar belakang seorang anak pesantren ini kemudian menggunakan kereta api menuju Jakarta seorang diri.

Syaiful yang di malam hari dipanggil Ipuy, berjuang melawan kerasnya gemerlap malam di Ibu Kota ( Sumber foto: Karuna Pictures )

Syaiful yang di malam hari dipanggil Ipuy, berjuang melawan kerasnya gemerlap malam di Ibu Kota ( Sumber foto: Karuna Pictures )

Kekecewaan mendalam kemudian menimpa Cahaya (Raihaanun) saat melihat ayahnya sedang bekerja mencari “pelanggan” di  sebuah jembatan dengan penampilan layaknya seorang wanita. Potret kehidupan malam Ibu Kota Jakarta juga banyak dibingkai cukup lugas oleh film ini. Konflik-konflik kemudian satu persatu hadir. Ipuy terlibat perampokan uang dan Cahaya yang ternyata hamil 8 minggu.

Film ini pertama kali diputar di Q! Film Festival 2011 dan hanya bertahan beberapa hari, karena mendapat kecaman dari Front Pembela Islam. Tetapi di tingkat Asia, khususnya di Festival Film Asia yang ke-6, Donny Damara berhasil menjadi Aktor Terbaik dan Teddy Soeriaatmadja dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik.

Cahaya ( Raihaanun) nekat ke Ibu Kota untuk menjenguk ayahnya yang telah meninggalkannya selama 14 tahun. ( Sumber Foto: Karuna Pictures )

Cahaya ( Raihaanun) nekat ke Ibu Kota untuk menjenguk ayahnya yang telah meninggalkannya selama 14 tahun. ( Sumber Foto: Karuna Pictures )

Ya, kehadiran waria memang tidak bisa disembunyikan dari perkembangan kota. Besarnya penghasilan menjadi seorang waria yang bekerja malam dibandingkan sebagai kuli bangunan menyebabkan banyak pria kemudian memutuskan menjadi seorang waria menurut film ini.

Pemutaran film telah usai, diskusi film pun dimulai. Ada banyak pendapat yang dikemukan penonton yang hadir pada malam itu mengganggap bahwa waria itu sendiri dalam tatanan agama adalah sesuatu yang disalahkan keberadaannya. Namun manusia tidak berhak untuk menghakimi toh itu akan menjadi urusannya dengan Tuhannya. Salah satu penonton berpendapat.

image

Suasana setelah menonton film Lovely Man yang penuh dengan diskusi menarik yang dilontarkan dari penonton. (Foto: Chairiza)

Ada lagi yang berpendapat dalam konteks budaya. Budaya masyarakat bugis klasik yang meyakini bahwa keberadaan waria ini (bissu) adalah mahasiswa setengah dewa yang diduga memiliki kekuatan supranatural yang dapat menghubungkan manusia dengan roh.

Keberadaan waria ini sendiri tidak terlepas dari faktor agama dan keluarga. Ungkap penonton selanjutnya. Bagaimana pengawasan keluarga dan kokohnya agama dapat menghindarkan seseorang dari sesuatu yang tidak diinginkan.

image (1)

Antusiasme penonton yang masih setia mengikuti diskusi setelah pemutaran film. (Foto: Chairiza)

Satu penonton lagi berpendapat bahwa keberadaan waria ini tidak selamanya harus dipandang sebelah mata. Harus dilihat dari konteks dimana ia mencari uang. Ada yang bekerja di salon-salon dan itu tidak dipandang sebagai sesuatu yang salah. Namun mencari uang dengan cara bekerja malam seperti yang ditayangkan film ini adalah cara yang salah. Bagaimana dengan pendapatmu? []