Kuliah di zaman saya sangat membosankan. Suatu siang, jenuh dengan ceramah dosen yang membuat saya lapar dan mengantuk, saya mengajak teman yang duduk di sebelah bangku untuk mengobrol. Awalnya kami asyik menertawakan teman sekelas yang tersiksa rasa suntuk di bangku terdepan. Tapi entah bagaimana, percakapan bisik-bisik itu membawa kami pada topik yang asing bagi mahasiswa ilmu sosial politik, anatomi. Saya tidak tahu dia baru membaca buku apa, dia menjelaskan kepada saya tentang anatomi kepala. Menurut teman saya yang relijius itu, Tuhan mendesain kepala kita dengan sangat sempurna, mulai dari bentuk, fungsi, serta posisi. Masih dengan bisik-bisik, saya menanggapi “ya iyalah, namanya juga Tuhan, tentu saja hasil ciptaan-Nya sempurna”. Menanggapi komentar tak bermutu saya itu, dia berkata “nah, orang sepertimu lah yang tidak memahami kenapa posisi telinga lebih tinggi dibandingkan mulut”. Saya tersinggung, saya diam saja dan mengabaikan semua ucapannya setelah itu. Saya terpaksa kembali mendengarkan bapak dosen yang saya curigai ingin membuat kami tidur siang.

***

Di dunia medis, Myxomata adalah bentuk prulal myxoma, sejenis tumor jinak yang ada di organ hati, kadang juga terdapat di jantung. Karena bukan lulusan fakultas kedokteran, saya tidak tahu persis sejinak apa tumor ini, silakan bertanya sendiri ke Google atau pada dokter kesayangan anda. Bila “bertanya” ke SoundCloud, akan kita temukan Myxomata dalam bentuk lain. Beberapa kali mendengarkan musik-musik ambient elektroniknya, secara instan “menjangkiti” hati saya dengan rasa berbeda. Membawa saya ke dunia dan dimensi lain, terkadang melankolis, seringkali kelam. Tanpa ragu, saya langsung mengikuti “tumor” ini.

Dari semua lagunya, ini 3 favorit saya:

***

Sejak tahun lalu, saya hanya mengenal dua orang bernama Jenny, itu pun tidak akrab. Pada pertengahan 2013 lalu, saya bertemu Jenny yang ketiga. Jenny ketiga adalah Jenny yang istimewa, Jenny paling menarik yang pernah saya kenali. Dia senang mengajak orang-orang bermain musik di pekarangan rumahnya, sambil mendiskusikannya. Salah satu kegemarannya yang lain adalah mendengarkan kisah-kisah orang yang tidak dia kenal, bila perlu dalam bentuk sajak. Semua kawannya dia sapa “teman pencerita”. Bukan, bukan menceritakan gosip terbaru selebritis atau aib pribadi orang lain. Dia dan sahabat-sahabatnya lebih senang bercerita tentang Pramoedya atau Pure Saturday, Food not Bombs atau Detektif Buran.

Jenny juga suka melamun, karena baginya tidak ada yang mampu mengalahkan kekuatan imajinasi. Saban bulan, dia mengajak teman-temannya untuk melamun bersama. Semoga suatu hari dia mengajak saya.

Dia juga baik hati. senang meminjamkan buku-buku miliknya. Dia mengaku koleksinya tidak banyak. dia kadang merasa sedih setiap kali ada seorang kawan ingin membaca buku yang belum dia punyai. Syukurlah dia memiliki sahabat baik di kota lain yang selalu membantu mencarikan. Kadang, bila dia mengeluhkan jumlah bukunya yang masih sedikit, saya selalu menghiburnya dengan berkata “kamu belum melihat koleksi buku sebagian besar dosen-dosen saya dulu”. Dia diam saja. Merendahkan orang lain bukan perangainya. Saya pun terdiam.

Saya sering meminjam buku padanya. Saya malu mengatakan ini, tapi masih ada satu buku Jenny yang belum saya kembalikan setelah 2 bulan. Saya mengenalnya sebagai orang yang teliti, saya yakin dia pura-pura lupa menagih. Saya yakin dia menunggu saya sadar sendiri bahwa buku itu hak kawannya yang lain juga. Dia memang tidak suka menceramahi orang. Saya menyayangi Jenny, dan saya yakin tidak sendiri.

***

Sebagai anak ketiga di keluarga, saya senang mempercayai bahwa angka tiga adalah angka keberuntungan. Salah satu buktinya adalah keberuntungan telah mengenal Jenny yang ketiga. Bukti lain, pada selasa malam lalu (24/6) saya bertemu lagi dengan Jenny dan Myxomata, di Menyimak edisi ketiga. Malam itu, selama 1 jam 40 menit saya menyimak (kembali) kisah kasih Jenny diselingi alunan nada elektronik melankolis si “tumor-tumor hati”. Saya berterima kasih pada Myxomota, Jenny dan Kata Kerja yang telah membangunkan kekuatan sejati kedua telinga saya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya saya paham maksud teman kuliah “anatomi” tadi.