Oleh: Hafsani H. Latief ( @CupliSani )| Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Acara bulanan Katakerja yang satu ini telah sampai pada volume 14. Menyimak kali ini diadakan di Fort Rotterdam pada sabtu, 9 Mei 2015 dan menjadi salah satu acara dalam rangkaian kegiatan Soundset Festival.

Tema untuk volume 14 adalah “Menyimak Puisi dan Musik Bekerja”, yang bertepatan pula dengan perayaan buku puisi terbaru Aan Mansyur. Berjudul, Melihat Api Bekerja. Penampil yang membacakan puisi adalah beberapa sahabat Aan Mansyur dengan latar yang berbeda dan tentu saja sang penulis puisi juga ikut membacakan beberapa puisinya.

Meskipun acara telat beberapa menit dari waktu yang sebelumnya dijadwalkan yaitu pukul 19.00 WITA, penonton cukup sabar menantikan rangkaian acara Menyimak dimulai. Paling tidak belum ada yang meniupkan peluit sebelum Mawar Lestari mulai memandu acara.

Saya yakin pengunjung yang lain, sebagaimana saya, juga menikmati suasana Fort Rotterdam yang malam itu sangat indah dengan temaram cahaya lampion warna-warni yang digantung di area acara. Beberapa duduk berkumpul dengan kain alas piknik bercorak kotak-kotak merah muda yang disediakan panitia Soundset Festival sedang yang tidak kebagian alas, cukup santai dengan duduk langsung pada rumput yang sedikit lembab.

Beberapa duduk berkumpul dengan kain alas piknik bercorak kotak-kotak merah muda yang disediakan panitia Soundset Festival sedang yang tidak kebagian alas, cukup santai dengan duduk langsung pada rumput yang sedikit lembab.

Beberapa duduk berkumpul dengan kain alas piknik bercorak kotak-kotak merah muda yang disediakan panitia Soundset Festival sedang yang tidak kebagian alas, cukup santai dengan duduk langsung pada rumput yang sedikit lembab.

Acara dibuka oleh penampilan Kapal Udara, salah satu band folk alternative Makassar yang membawakan dua lagu dan disambut dengan riuh tepuk tangan penonton. Puisi pertama yang dibacakan adalah “Ketidakmampuan” oleh Akbar Zakaria, seorang graphic designer dan Editor in Chief Revius Webzine. Setelah puisi kedua, kita lalu menyimak Ibe S. Palogai, seorang penulis, membaca dua buah puisi. Salah satunya, “Catatan Seorang Pedagang di Pasar Terong Makassar”.

Acara dibuka oleh penampilan Kapal Udara, salah satu band folk alternative Makassar yang membawakan dua lagu dan disambut dengan riuh tepuk tangan penonton.

Acara dibuka oleh penampilan Kapal Udara, salah satu band folk alternative Makassar yang membawakan dua lagu dan disambut dengan riuh tepuk tangan penonton.

Puisi pertama yang dibacakan adalah "Ketidakmampuan" oleh Akbar Zakaria, seorang graphic designer dan Editor in Chief Revius Webzine.

Puisi pertama yang dibacakan adalah “Ketidakmampuan” oleh Akbar Zakaria, seorang graphic designer dan Editor in Chief Revius Webzine.

Sejak Abe membacakan judul puisi pertamanya, keriuhan penonton turun sedemikian hening sehingga betul-betul menciptakan suasana yang cukup nyaman untuk menyimak puisi yang dibacakan. Selang dua penampil, Kapal Udara kembali menghibur dengan dua lagu yang mereka cover dari band yang berbeda.

Saya lalu menyimak Ibe S. Palogai, seorang penulis, membaca dua buah puisi. Salah satunya, “Catatan Seorang Pedagang di Pasar Terong Makassar”.

Saya lalu menyimak Ibe S. Palogai, seorang penulis, membaca dua buah puisi. Salah satunya, “Catatan Seorang Pedagang di Pasar Terong Makassar”.

Menyambung riuh dan groove yang masih tersisa setelah musik yang tidak membiarkan tubuh untuk tetap diam. Seorang peneliti dan penulis, Anwar Jimpe Rahman, membacakan “Mendengar Radiohead”. Setelahnya, seorang penulis asal Amerika Serikat, Brian Whalen, juga ikut membacakan puisi. Bukan salah satu puisi dalam Melihat Api Bekerja melainkan puisi berbahasa Inggris yang dia tulis tentang pulau Samalona dengan gaya naratif yang sangat santai.

Seorang peneliti dan penulis, Anwar Jimpe Rahman, membacakan “Mendengar Radiohead”.

seorang penulis asal Amerika Serikat, Brian Whalen, juga ikut membacakan puisi. Bukan salah satu puisi dalam Melihat Api Bekerja melainkan puisi berbahasa Inggris yang dia tulis tentang pulau Samalona dengan gaya naratif yang sangat santai.

seorang penulis asal Amerika Serikat, Brian Whalen, juga ikut membacakan puisi. Bukan salah satu puisi dalam Melihat Api Bekerja melainkan puisi berbahasa Inggris yang dia tulis tentang pulau Samalona dengan gaya naratif yang sangat santai.

Selepas riuh sorakan untuk Whalen, kita kembali dihibur oleh musik Ruangbaca, band folk duo yang merupakan campaign project Katakerja. Ruangbaca yang malam itu tampil bersama pustakawan Katakerja lainnya yaitu Ale Said, Zaid Rasyid, dan Andi Ilhamsyah. Mereka membawakan empat lagu yang tiga di antaranya adalah musikalisasi puisi dari tiga karya penulis berbeda, Diam-Diam karya Ibe S. Palogai, Terbangnya Burung karya Sapardi Joko Damono, dan Di Balik Jendela yang merupakan interpretasi dari puisi Aan Mansyur, serta Disleksia yang merupakan lagu yang mereka tulis.

Selepas riuh sorakan untuk Whalen, kita kembali dihibur oleh musik Ruangbaca, band folk duo yang merupakan campaign project Katakerja. Ruangbaca yang malam itu tampil bersama pustakawan Katakerja lainnya yaitu Ale Said, Zaid Rasyid, dan Andi Ilhamsyah.

Ruangbaca, band folk duo yang merupakan campaign project Katakerja, malam itu tampil bersama pustakawan Katakerja lainnya yaitu Ale Said, Zaid Rasyid, dan Andi Ilhamsyah.

Puas dihibur oleh Ruangbaca, Zulkhair Burhan seorang Dosen Hubungan Internasional di Universitas 45 Bosowa, membacakan dua puisi dengan gaya teatrikal atau kadang disebut deklamasi puisi, salah satunya adalah “Menjadi Kemacetan”. Setelah itu ada seorang pengrajin craft yang juga pustakawan Katakerja, Eka Wulandari, yang juga membaca dua puisi yang salah satunya adalah “Mengamati Lampu Jalan”, sebuah puisi yang dipersembahkan Aan untuknya.

Zulkhair Burhan seorang Dosen Hubungan Internasional di Universitas 45 Bosowa, membacakan dua puisi dengan gaya teatrikal atau kadang disebut deklamasi puisi, salah satunya adalah "Menjadi Kemacetan".

Zulkhair Burhan seorang Dosen Hubungan Internasional di Universitas 45 Bosowa, membacakan dua puisi dengan gaya teatrikal atau kadang disebut deklamasi puisi, salah satunya adalah “Menjadi Kemacetan”.

Penampil setelah Eka adalah Dark Angel yang merupakan trio lip sync yang tidak butuh waktu lama membuat penonton tertawa dengan tingkah mereka. Mereka masing-masing menyanyikan satu lagu dan di akhir penampilan mereka menyanyikan Bang Bang bersama. Tawa tidak juga putus hingga mereka meninggalkan panggung.

pengrajin craft yang juga pustakawan Katakerja, Eka Wulandari, yang juga membaca dua puisi yang salah satunya adalah "Mengamati Lampu Jalan", sebuah puisi yang dipersembahkan Aan untuknya.

pengrajin craft yang juga pustakawan Katakerja, Eka Wulandari, yang juga membaca dua puisi yang salah satunya adalah “Mengamati Lampu Jalan”, sebuah puisi yang dipersembahkan Aan untuknya.

Dark Angel yang merupakan trio lip sync yang tidak butuh waktu lama membuat penonton tertawa dengan tingkah mereka. Mereka masing-masing menyanyikan satu lagu dan di akhir penampilan mereka menyanyikan Bang Bang bersama. Tawa tidak juga putus hingga mereka meninggalkan panggung.

Dark Angel yang merupakan trio lip sync yang tidak butuh waktu lama membuat penonton tertawa dengan tingkah mereka. Mereka masing-masing menyanyikan satu lagu dan di akhir penampilan mereka menyanyikan Bang Bang bersama. Tawa tidak juga putus hingga mereka meninggalkan panggung.

Suasana kembali hening ketika Aan Mansyur telah berada di panggung. Tak lengkaplah rasanya merayakan sebuah buku puisi tanpa sang penulis membacakan langsung karya-karyanya. Malam itu Aan membaca tiga puisi yang dia mulai dengan “Kau Membakarku Berkali-kali”. Untuk merayakan salah satu akhir pekan yang begitu menyenangkan dia melanjutkan dengan “Menikmati Akhir Pekan”. Puisi terakhir yang dia bacakan adalah “Hal-hal yang Dibayangkan Sajak Terakhir ini Sebagai Dirinya” yang merupakan puisi terakhir dalam buku tersebut.

Suasana kembali hening ketika Aan Mansyur telah berada di panggung. Tak lengkaplah rasanya merayakan sebuah buku puisi tanpa sang penulis membacakan langsung karya-karyanya. Malam itu Aan membaca tiga puisi yang dia mulai dengan Kau Membakarku Berkali-kali.

Suasana kembali hening ketika Aan Mansyur telah berada di panggung. Tak lengkaplah rasanya merayakan sebuah buku puisi tanpa sang penulis membacakan langsung karya-karyanya. Malam itu Aan membaca tiga puisi yang dia mulai dengan Kau Membakarku Berkali-kali.

Setelah Aan, penampil terakhir yang membacakan puisi adalah Ale Said. Namun tidak seperti penampil sebelumnya, Ale Said diiring dengan musik dan beatbox oleh Saleh Hariwibowo, Andi Ilhamsyah dan Zaid Rasyid. Ale Said membacakan dua puisi dan menutup Menyimak #14 dengan puisi yang kemudian menjadi judul buku tersebut, “Melihat Api Bekerja”.

Sampai jumpa di Menyimak selanjutnya! []