Saat berpesta di Taipei, Lucy diculik oleh kawanan gangster. Ia mendapat tugas berbahaya. MHC4 – jenis narkoba baru, ditanam di perutnya. Bersama beberapa orang, mereka dimanfaatkan untuk menyelundupkan narkoba ke luar negeri.

Setibanya di kota tujuan, ia dibawa ke ruangan sempit dengan tangan terborgol. Tiga lelaki Asia berdiri di depannya. Salah satu dari lelaki itu memasukkan tangannya ke baju Lucy. Hendak meremas payudaranya. Lucy yang menolak kemudian ditendang tepat dibagian perut. Sialnya, bungkusan narkoba yang ada di perutnya ikut menjadi korban. Beberapa butir narkoba berwarna biru itu terhambur dan menyebar dalam tubuhnya.

Narkoba tersebut ternyata memberikan reaksi yang tidak biasa bagi DNA-nya. Dosis berlebihan membuat Lucy – tanpa terduga, mampu meningkatkan kerja otaknya.

Di akhir Film, Lucy berhasil menggunakan seratus persen daya otaknya. Ia berubah menjadi Tuhan kecil yang dapat mengendalikan orang lain, benda-benda, dan segala kehidupan di sekitarnya.

Itulah ringkasan Film Lucy besutan sutradara Luc Besson.

***

Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak pernah berhenti dikembangkan manusia. Hal-hal yang kita anggap mustahil saat ini, mungkin menjadi kenyataan di masa depan.

Seperti yang dilakukan para peneliti sains. Mereka menyanggah anggapan bahwa kematian adalah pemberhentian terakhir.  Observasi ilmiah menemukan bahwa kehidupan dan kematian memiliki korespondensi dengan alam lain – multiverse.

Asumsi ini dirangkum dalam satu teori yang disebut biosentrisme. Teori ini menyatakan bahwa, meskipun tubuh dirancang untuk hancur sendiri, ada satu energi yang bekerja dalam otak, yaitu  “perasaan hidup” – mengenai siapakah saya.

Menurut Robert Lanza – ilmuwan terkemuka dunia dan pengarang buku Biocentrism, “Energi itu tidak musnah ketika manusia mati.” Lanza menyebutkan bahwa energi “perasaan hidup” itu tidak tercipta, tapi tidak juga musnah. Lantas apakah energi ini berpindah dari satu dunia ke dunia lain?

Satu eksperimen yang diekspos di jurnal sains memperlihatkan para ilmuwan bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu. Lewat percobaan menggunakan beam splitter – perangkat optik yang membelah berkas cahaya, partikel-partikel energi diputuskan keberadaannya.

Ternyata, dari sini dapat ditentukan apa yang berlaku pada partikel ini di masa lalu sehingga seseorang dapat menyelami pengalaman masa lalu.

Kaitan antara pengalaman dan semesta ini melampaui gagasan-gagasan manusia mengenai ruang dan waktu. Teori ini menyatakan, ruang dan waktu bukan objek yang sulit seperti yang dibayangkan. Tapi dalam dunia yang tidak ada waktu dan tidak ada ruang, tak ada istilah kematian.

Ulasan tentang biosentrisme ini saya temukan dalam pranala di internet yang diunggah kurang lebih dua tahun yang lalu.

***

Kemampuan manusia untuk menemukan sistem sosial hanyalah sketsa belaka. Satu ditambah satu sama dengan dua hanyalah kode. Pada dasarnya angka dan huruf tidak pernah ada. Manusia hanya berusaha untuk mengkodefikasi keberadaan sesuatu agar dapat dengan mudah dipahami.

Manusia membuat skala yang menjadikan kita lupa bahwa ada skala yang tak pernah terduga. Kita tak pernah benar-benar mampu membuktikan suatu keberadaan. Dan waktu. Waktu yang memberikan kita legitimasi akan keberadaan sesuatu.

Bagaimana kata Tuhan diciptakan oleh manusia untuk mewakili Tuhan di muka bumi. Apakah Tuhan ada di kata itu atau kata itu ada pada Tuhan. Sementara penciptaan huruf dan kata hanya upaya manusia untuk menyerahkan ketidakmampuannya memahami sesuatu.

Ini berlaku pada banyak hal. Kata cinta, cemburu, bahagia, sedih, patah hati, dan semua hal yang sebenarnya tak mampu kita pahami. Pemberian nama pada emosi manusia hanya cara untuk menyederhanakan sesuatu yang sama sekali tidak sederhana.

Pada akhirnya, kita begitu mudah melihat hilangnya sesuatu dari luar diri tapi sulit sekali menerka apa yang hilang dari dalam diri. Karena memang selama ini pengkodefikasian hanya dilakukan untuk yang berada diluar diri. Sementara yang ada di dalam diri luput dikodefikasi.

Yang terjadi kemudian, emosi, benda-benda, atau apapun yang telah dikodefikasi manusia kehilangan kenangan. Kita melepaskan kenangan cinta dari kisah-kisah yang pernah hidup bersamanya. Kita hanya melihat cinta dari apa yang pernah kita rasa. Padahal, cinta punya memori panjang, bahkan ketika kata itu belum ditemukan.

***

Uraian di atas menjadi penjelasan ketika salah seorang teman mengajak saya untuk bercerita. Setelah putus dengan kekasihnya, dia berusaha untuk melupakan orang yang pernah dia cintai. Tapi rasanya tidak mungkin.

Jawaban sederhana untuk teman saya dan mungkin untuk kita semua ketika berniat melupakan sesuatu. Karena tubuh dan diri itu terpisah. Sementara kenangan hidup dalam diri, bukan di dalam tubuh. Selain itu, kita bukan Lucy yang mampu secara total menggunakan kemampuan otaknya dan dapat mengendalikan kehidupan sesuai kehendak hati..

 

Sumber Ilustrasi: Reynold Ruffins