Teks dan Foto: Mega S. Haruna 

Hari kedua MIWF 2017 menyajikan narasi yang menarik. Perbincangan mengenai konflik, perempuan, dan keluarga. Tiga hal yang saling berkaitan tersebut dibagi ke dalam tiga sesi diskusi. Di Ruang Bersama, Museum I Lagaligo, pada pukul 10.00-12.30 Perbincangan Narration about Conflict and Resolution berlangsung hangat dalam lingkaran Tudung Sipulung.

Diskusi tersebut menghadirkan tiga pembicara muda yang di masa kecil mereka dipaksa menjadi saksi kekejaman konflik di daerah masing-masing. Seorang penulis wanita yang meraih Hibah Cipta Perdamaian Tahun 2016, berasal dari Banggae Laut, Sulawesi Tengah, Erni Aladjai; Andi Burhamzah, seorang pembuat film yang sedang meriset tentang konflik etnis Makassar-Cina juga menjadi salah satunya; Terakhir adalah M. Irfan Ramli, seorang sutradara dan penulis naskah dari film Cahaya dari Timur: Beta Maluku.

Irfan Ramli harus mengungsi dengan keluarganya saat berusia 10 tahun karena konflik Maluku di tahun 1999. Di atas Bukit Batu Merah, Irfan kecil menyaksikan panah-panah api menghanguskan perkampungan. Irfan menambahkan, bahwa media besar umumnya tidak pernah mendokumentasikan hal-hal kecil misalnya kebaikan pada saat konflik terjadi. Yang diangkat hanya seberapa banyak jumlah korbannya. Padahal selama konflik, ada banyak dari LSM maupun perorangan yang berusaha untuk mempertemukan dua pihak yang bertikai serta memulihkan trauma pada anak-anak.

Sampai saat ini, dampak konflik masih menyisakan sedikit ketakutan bagi beberapa pihak. Andi Burhamzah sendiri saat ini tengah melakukan riset mengenai konflik yang terjadi di Makassar pada tahun 1997-1998, bermula dari keresahan dia dengan seorang kawan berketurunan Cina yang menolak nongkrong di suatu café karena di sana kebanyakan pribumi. Hal ini menandakan masih adanya kekhawatiran yang berasal dari sisa konflik di beberapa tahun silam itu.

Konflik terjadi bukan hanya karena perbedaan. Erni Adjalai bercerita bahwa di kampungnya yang notabene bersuku sama dan bertetangga, pernah terjadi pembakaran pusat-pusat fasilitas di desanya disebabkan isu politik di tahun 1997-1998, di mana pemekaran wilayah kecamatan menimbulkan kecemburuan di beberapa pihak. Perbatasan pun dijaga ketat, perbatasan menjadi daerah paling angker. Dan saat ini, dia dengan beberapa teman tengah berupaya melakukan resolusi dengan melibatkan remaja-remaja dari dua pihak yang bertikai kemudian dikumpulkan di desa adat untuk diperkenalkan seni yang pernah hilang, atau seni yang pernah menjadi pemersatu di antara kedua desa dahulu. Salah satunya adalah syair-syair Paupe.

Berbicara mengenai isu politik, seorang peserta diskusi menanyakan hal menarik kenapa konflik-konflik tersebut terjadi di waktu atau tahun yang bersamaan. Hal ini memancing perbincangan yang cukup hangat mengenai politik, di mana Irfan Ramli menyalin ucapan Wiranto bahwa pasca kejatuhan Orde Baru, kran-kran konflik terbuka. Irfan Ramli juga menambahkan bahwa sebenarnya yang terjadi adalah konflik dipelihara, bisa diumpamakan sebagai api yang dibakar lalu dimatikan lagi, jika suatu saat nanti dibutuhkan akan dibakar lagi. Hampir sama dengan yang dijelaskan oleh Andi Burhamzah bahwa konflik etnis Cina- Makassar tidak hanya terjadi di tahun 1997, tetapi juga terjadi di tahun 1965 dan 1970 (Tragedi Tokola). Ini diartikan bahwa konflik selama ini dipelihara. Erni Adjalai sendiri mengatakan bahwa energi kekerasan dari satu tempat turut pula dirasakan di tempat lain.

Sebagai upaya resolusi dari pembicara, Irfan Ramli mengatakan bahwa keluarga adalah ruang terbaik untuk keluar dari trauma, keluarga adalah orang pertama yang mengajarkan tentang keikhlasan. Sedangkan, Andi Burhamzah, melalui filmnya mengisahkan tentang dua orang anak yang tinggal dalam satu rumah pada saat terjadi konflik dan mereka tidak tahu apa-apa mengenai yang terjadi di luar sana. Bagi seorang Andi Burhamzah, jangan ada lagi orang-orang yang merasa baik-baik saja di dalam rumahnya pada saat konflik terjadi di luar sana. Lalu, Erni Aladjai terus menyuarakan perlunya kembali pada tatanan kebudayaan zaman dulu di mana persaudaraan terjalin erat karena adanya ruang-ruang sebagai lintas desa misalnya pasar dan ruang seni.

Sebagai penutup, Shinta Febrianti, sebagai moderator, menyimpulkan bahwa seni adalah salah satu media untuk meminimalisir konflik dan kemudian menjadi pertumbuhan untuk perdamaian.

Dua jam lebih kemudian di Museum I Lagaligo program Ruang Bersama menghadirkan empat pembicara perempuan yaitu Maggie Tiojakin (Indonesia), Benedicte Gorrillot (Prancis), Bazyar Shida (Jerman), dan Xu Xi (Amerika). Devi Asmarani membuka pertanyaan tentang pendapat mereka sebagai penulis perempuan di negaranya.

Tidak semua negara mengakui keberadaan penulis perempuan atau menempatkan perempuan di dunia literasi. Xu Xi yang berdarah Indonesia berterima kasih kepada semua perempuan yang sudah menulis jauh sebelum dia. Sedangkan Bazyar Shida, mengatakan bahwa penting untuk dikatakan sebagai penulis perempuan. Berbeda kondisi di Prancis, Benedicte Gorrillot kenyataan di sana bahwa penyair perempuan di negaranya hampir tidak ada yang mengenal. Dan Maggie Tiojakin dalam kepenulisan tidak merasa perbedaan gender di Indonesia adalah masalah karena kebanyakan penulis di Indonesia adalah perempuan.

Sebagai seorang perempuan, pembicara pun merefleksikan itu dalam tulisan melalui karakter dengan cara berbeda. Misalnya Bazyar Shida, dia menulis untuk mewakili apa yang terjadi di sekitarnya. Dengan karakter, Xu Xi bereksperimen dengan menulis kondisi manusiawi dalam perjalan waktu, menulis apa saja yang mengandung sedikit tentang dirinya atau di luar dirinya. Maggie Tiojakin sendiri justru lebih banyak menulis tokohnya adalah seorang laki-laki, baginya menulis adalah sebagai pelarian dan keasingan.

Debat berkepanjangan di Prancis tentang tidak adanya penyair perempuan sudah berlangsung sejak 1988. Menurut Benedicte Gorrillot bahwa terdapat dua alasan, yang pertama pada zaman Yunani Kuno diasosiasikan bahwa perempuan adalah sumber inspirasi sedangkan laki-laki yang menuliskannya dan yang kedua adalah Revolusi Prancis yang lebih banyak melihat dari segi universal bukan personal. Xu Xi yang juga dipercaya sebagai editor di salah satu penerbitan di Amerika mengatakan bahwa hal tersebut adalah pertanyaan besar sampai sekarang, mengapa kebanyakan karya yang diterbitkan adalah penulis laki-laki padahal tulisan perempuan cukup maskulin juga. Sebagai penulis pemula, Bazyar Shida merasa belum tahu banyak hal mengenai perbedaan gender di dunia kepenulisan di negaranya tetapi dari banyak anugrah sastra, belum banyak perempuan yang meraihnya. Maggie Tiojakin memberikan jumlah peserta yang mengirimkan karyanya yaitu sebanyak 700 orang, 60% diantaranya adalah laki-laki.

Di akhir perbincangan, seorang peserta menanyakan mengenai Writer’s Block. Xu Xi menjawab lantang “I don’t believe Writer’s Block, kerja keras dan disiplin adalah kunci”. Pembicara sepakat bahwa menulis bukan magic, membaca yang banyak dan menulis yang baik adalah salah satu tips dari mereka.

Sebelum acara A Cup of Poetry An Afternoon Coffee with Poetry Reading di Taman Rasa, pada wilayah Kids Corner. Wendy Miller, Hasanuddin Abdurrakhman, dan Kazuhisa Matsui mengisi program diskusi How to Rise Readers in Your Family pada pukul 16.30. Antusias peserta mengikuti acara ini bukan hanya dari kaum perempuan melainkan banyak juga laki-laki yang terpaksa berdiri karena ruang di bawah Gedung Chapel terbatas.

Pak Matsui di Kids Corner menjelaskan tentang pentingnya mengenalkan buku pada anak-anak

Wendy Miller membuka fakta sebuah penelitian bahwa anak yang banyak membaca sebelum usia sekolah cenderung lebih sukses jika dewasa nanti ketimbang anak yang baru membaca di sekolah. Sebuah fakta menarik untuk menyinggung minat baca di Indonesia yang masih duduk di angka mengerikan.

Hasanuddin Abdurrakhman memberikan dua tips untuk menumbuhkan minat baca pada anak yaitu teknik dan konten. Memperkenalkan buku pada anak sedini mungkin merupakan teknik untuk minat baca anak ke depannya sedangkan konten, orang tua harus bisa menimbulkan rasa ingin tahu anaknya dengan cara-cara kreatif. Orang tua wajib memberikan waktu menemani anaknya membaca buku, seperti yang dilakukan Hasanuddin Abdurrakhman yang menyediakan dua jam per hari untuk menemani anaknya belajar. Program diskusi semakin seru ketika Matsui mencontohkan cara istrinya membacakan buku cerita pada anaknya: ekspresi dan suaranya menyesuaikan cerita dan karakter dalam buku cerita tersebut.

Salah satu pembahasan yang menarik adalah budaya di Jepang yang memperkenalkan buku pada anaknya yang berusia 0-1 tahun dengan bentuk fisik tebal dan bergambar tidak utuh untuk memancing imajinasi si anak. Nyatanya, ada buku khusus yang belum dimiliki Indonesia saat ini.