Oleh: Asyari Mukrim* ( @asyarimukrim )| Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Perayaan Hari Buruh atau May Day, seperti tahun kemarin, mungkin akan terasa berbeda. May Day kini telah menjadi hari libur nasional. Setelah 47 tahun menjadi momen yang terus distigma buruk oleh kekuasaaan, sebagai bentuk kegiatan yang subversif, dan menentang negara yang bertuhankan modal. Tahun 2014, Hari Buruh kembali menjadi hari libur nasional sesuai Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013 tentang Penetapan Tanggal 1 Mei Sebagai Hari Libur.

Sejarah pembusukan oleh rezim Orde Baru terhadap hari buruh telah dimulai sejak tahun 1967, ketika Awaluddin Djamin, Menteri Tenaga Kerja pada masa awal rezim Orde Baru, menghapuskan peringatan Hari Buruh dan mencabut perayaan hari libur nasional pada 1 Mei sesuai Keputusan Presiden Nomor 251 Tahun 1967 Tentang Hari-hari Libur. Hal tersebut diakibatkan kuatnya pengetahuan yang terus direproduksi oleh kekuasaan Orde Baru. Bahwa, aktivitas buruh dan segala bentuk perayaannya adalah bagian dari aktivitas subversif berideologi komunis.

Kini, situasinya sedikit berbeda. Kita mulai menikmati hari libur 1 Mei yang pada mulanya adalah tuntutan buruh sejak sekian lama. Menarik pertanyaan lebih jauh, apakah hari libur tersebut adalah betul-betul bentuk penghargaan rezim yang berkuasa terhadap perjuangan buruh? Ataukah hanya menjadi semacam ruang seremonial belaka yang malah disyukuri oleh para pekerja (bukan kelas buruh) lainnya? Sebab, tidak jarang saling mencemooh ketika buruh turun dan memacetkan jalan, sebagai kesempatan untuk terhindar dari jam kerja yang juga tidak manusiawi.

Tulisan ini bukanlah ring tinju yang berusaha menyudutkan satu pihak. Juga tidak sedang berusaha menjelaskan sejarah buruh baik secara nasional maupun internasional, melainkan cuma beberapa paragraf saja. Di dunia maya, ada banyak tulisan terkait sejarah buruh lintas generasi, ideologi, dan serikat kerjanya. Tulisan ini juga tidak sedang mendaur ulang perdebatan lama soal sepakat atau tidaknya dengan aksi turun ke jalan oleh para buruh yang membuat para (seolah-olah) non-buruh terjebak dalam mobilnya yang sejuk. Tulisan ini tidak akan membawa pembaca ke mana-mana, mungkin.

May Day: Sejarah Singkat dan Relevansinya Hari Ini

Tidak ada yang membayangkan bahwa sejarah perjuangan menuju May Day dimulai dari negara Amerika. Negara yang saat ini menjadi sumber kontradiksi ekonomi politik yang rentan krisis. Akhir abad ke-19, kelas pekerja berjuang untuk mendapatkan hari kerja berdurasi 8 jam. Para buruh dulu beraktivitas di dalam pabrik selama 10 sampai 16 jam sehari dalam kondisi yang tidak aman. Kematian dan cedera yang lumrah di banyak tempat kerja. Pada awal tahun 1860-an, buruh-buruh mulai menyiapkan gerakan untuk mempersingkat hari kerja tanpa pemotongan gaji, upaya untuk menyatukan perjuangan 8 jam kerja baru berhasil sampai akhir 1880-an.

Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis pada ekonomi-politik. Terutama di negara-negara kapitalis seperti di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja. Mulai bermunculan kampanye dan agitasi utnuk mendorong munculnya solidaritas bersama menentang jam kerja yang tidak manusiawi, perorganisiran bermula dari pekerja pabrik baja yang sedang berkembang saat itu.

Puncaknya ialah, pada tanggal 1 Mei 1886, ratusan ribu pekerja dari berbagai perusahaan berjalan dari tempat kerja mereka untuk bersama-sama merayakan May Day dengan tuntutan terkait 8 jam kerja. Tiga hari setelah demonstrasi dimulai, kelompok buruh semakin membesar. Solidaritas terus bermunculan membuat aparat keamanan kewalahan dan mulai menembaki para demonstran. Ratusan orang tewas, dan para inisiator demonstrasi ditangkapi dan dijatuhi hukuman mati. Untuk menghormati pengorbanan mereka, maka setiap tanggal 1 Mei buruh-buruh di seluruh dunia bersepakat menginterupsi kegiatan produksi dan turun ke jalan menyampaikan tuntutan mereka.

Di Indonesia, sejarah May Day pun adalah sejarah penuh babakan. Salah satu warisan orde baru ialah pemberangusan serikat pekerja secara khusus dan gerakan rakyat secara luas. Ketakutan Orde Baru terhadap konsolidasi buruh di Indonesia pada dasarnya adalah hal mendasar, mengingat kemampuan May Day untuk mengkonsolidasikan buruh dalam jumlah ribuan sehingga perlu disingkirkan agar tidak menjadi kekuatan politik di Indonesia.

Peringatan Hari Buruh sudah mulai dilakukan 97 tahun silam. Ratusan anggota Serikat Buruh Kung Tang Hwee Koan menggelar peringatan Hari Buruh di Surabaya. Serikat buruh itu sebetulnya bermarkas di Shanghai, tetapi punya ratusan anggota di Surabaya. Sebuah tulisan “Peringatan 1 Mei Pertama Kita” menjadi tanda dimulainya Hari Buruh di Indonesia. Meskipun sudah dipublikasikan secara luas dan besar-besaran, tetapi perayaan itu hanya menarik orang-orang Eropa dan hampir tidak ada orang-orang Indonesia. Meskipun demikian, sejarah kemudian mencatat bahwa perayaan 1 Mei 1918 di Surabaya itu adalah peringatan Hari Buruh sedunia pertama kali di Indonesia, bahkan juga disebut-sebut pertama-kali di Asia.

Konteks gerakan buruh di Indonesia tidak pernah terlepas dari persoalan sistem kerja, yaitu penghapusan sistem kerja outsourcing yang menempatkan buruh pada posisi yang rentan serta persoalan upah yang layak. Tidak sedikit di antara rakyat pekerja lainnya yang saling cemburu ketika menyangkut hak hidup layak. Kita masih ingat ketika buruh menuntut kenaikan Standar Komponen Kelayakan Hidup, banyak kritik yang bermunculan seolah-olah menganggap bahwa buruh tidak berhak atas hidup yang layak. Atau lebih jauh lagi, mendapatkan haknya sebagai warga negara. Yang paling lucu mungkin, arah dari segala diskusi terkait buruh di Indonesia ialah mendorong buruh untuk bersyukur dengan apa yang ada. Selalu saja mudah berekonsiliasi dengan keadaan selama bukan kita korbannya.

Lagi pula, struktur ekonomi politik di Indonesia masih memungkinkan setiap orang menjadi buruh. Naik atau turunnya kelas sosial seseorang di Indonesia sama halnya dengan bersin. Selama sistem imun tidak sehat, maka bersin bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Menjadi kelas menengah di Indonesia bukanlah jaminan untuk bisa bertahan hidup. Malah seringkali berakhir dengan middle income trap, kondisi pendapatan yang tidak bisa naik-naik lagi. Prinsipnya mungkin sederhana saja, selama bukan kita pemegang saham, maka ancaman dipecat selalu terbuka. Demikian juga dengan persoalan selama berada dalam himpitan ekonomi dan jam kerja yang tidak masuk akal, maka setiap orang berhak mengorganisir diri. Maka pada konteks tersebut, tidak perlu ada lagi pemisahan yang bias antara kelas buruh di pabrik dengan para pekerja di gedung kantor yang menjulang tinggi.

Merayakan ‘Ibadah’ May Day!

Seorang kawan yang bekerja di sebuah industri hiburan, pada satu malam sepulang kerja, bercerita tentang betapa melelahkan dan tidak menyenangkannya yang ia lakukan. Ia, mungkin juga teman-temannya, bekerja untuk memastikan orang lain terhibur meskipun baginya bukanlah hal yang menyenangkan lagi. Perlahan, dia merasa menjadi seorang robot pekerja. Bekerja untuk sesuatu yang mereka tidak nikmati sendiri–orang menyebutnya alineasi. Lalu, saya membayangkan kawan saya butuh sedikit rencana piknik untuk menemukan waktu bermalas-malasan. Menjalani hak untuk malas adalah dengan jeda dari aktifitas, turut ke jalan sambil ber-May Day.

Terkait hak untuk malas, sebuah buku yang ditulis oleh Paul Lafargue (1842-1911), seorang jurnalis sosialis, kritikus sastra, penulis, dan juga aktivis politik menuliskannya dengan begitu apik. Paul Lafargue beberapa kali dipenjara karena aktivitasnya seperti pemogokan dan pemilu. Buku itu merupakan hasil pemikirannya sendiri dalam mengkritik kapitalisme yang dianggapnya telah merenggut manusia yang kreatif, bebas dan bergembira. Kapitalisme, menurutnya, telah menyulap manusia menjadi komoditas yang terus bekerja dan menjadi pekerja yang tidak mengenal diri sendiri. Mereka, para pekerja, tidak berkarya dan mengkreasikan diri sendiri akan tetapi mereka berkerja untuk pekerjaan orang lain.

May Day menjadi seperti agenda piknik. Menikmati hasil kerja sembari mengukur ulang kapasitas diri adalah agenda terpentingnya. Perjuangan melenyapkan penghisapan kerja upahan dan membangun masyarakat tanpa penindasan manusia atas manusia, tentu bukanlah perkara mudah. Akan tetapi, harus tetap disemai dan dijaga tumbuh berkembangnya dalam serangkaian aksi solidaritas. May Day adalah waktu jeda sembari terus mengusung agenda yang paling substansial dalam dunia buruh, upah dan kesempatan kerja yang terbuka dan sehat bagi setiap orang.

Sejarah telah mengajarkan kita tentang akar militansi May Day. Kita harus ingat bahwa ada orang yang ditembak sehingga kita bisa memiliki jam kerja ‘hanya’ 8 jam. ‘Beribadah’ May Day adalah saluran politik yang paling memungkinkan untuk memperkenalkan penghisapan dan proses pembonsaian sistemik oleh pemilik modal. Pengorbanan begitu banyak orang tidak bisa dilupakan atau kita akan berakhir dengan sejarah kelam, bahwa kita telah gagal menjaga apa yang mestinya kita perjuangankan sepanjang hidup, sebuah mimpi untuk hidup layak. Selamat ‘ibadah’ May Day, kaum buruh dan (merasa bukan ) buruh, bersatulah! []

*Penulis adalah Buruh Angkut Lapak Kedai Buku Jenny