Ilustrasi: Aisyah Azalya (@syhzly)

Film ini boleh menjadi sebuah gebrakan di tengah dominasi industri film yang berpusat di pulau Jawa. Uang Panai’ secara mengejutkan mampu menembus jalur distribusi yang umumnya dikuasai para pemain lama, apalagi dengan mengusung budaya yang masih jarang diangkat, sutradara yang belum populer, atau para pemain yang tidak semuanya merupakan pemain seni peran berskala nasional. Penampilan Katon Bagaskara dan Jane Shalimar sebagai cameo, seolah memberi justifikasi bahwa film ini bukan sekadar film indie tetapi film nasional yang boleh disetarakan dengan film-film seperti yang dibintangi (katakanlah) oleh Reza Rahadian. Proses yang tidak mudah itu membuat kita patut mengapresiasi keberanian dan kesuksesan tim produksi Uang Panai’, Makkita Cinema Production.

Dibalut dalam genre komedi-romantis, Uang Panai’ mengangkat problematika percintaan yang khas dalam budaya Bugis-Makassar yaitu uang panai’ (mahar). Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pernikahan dalam budaya Bugis-Makassar bukan sekadar persatuan dua sejoli secara sah, namun juga tersembunyi tingkatan status sosial yang tak jarang menjadi ajang adu gengsi. Susan Bolyard Millar dalam bukunya Perkawinan Bugis (2009) menyatakan bahwa pernikahan Bugis sarat dengan interaksi simbolis yang menunjukkan setara atau tidaknya status sosial keluarga mempelai. Mulai dari calon mempelai, keluarga, erang-erang (seserahan), hidangan, tamu yang diundang, dan yang paling utama uang panai’. Rangkaian penilaian itu sangat erat dengan apa yang disebut sebagai siri’ (harga diri) baik bagi mempelai maupun dari pihak masing-masing keluarga. Siri’ tak hanya berhenti pada persoalan materi semata, namun menentukan relasi dan transaksi dalam kehidupan kedua keluarga dan mempelai di masa depan. Maka, jangan heran bila ada kejadian silariang (kawin lari) yang sampai berakhir dengan pertumpahan darah.

Film yang disutradarai Asril Sani dan Halim Gani Safia ini sesungguhnya belum menawarkan sesuatu yang luar biasa bahkan cenderung melanggengkan pengalaman kolektif. Kehadiran Tumming dan Abu lewat banyolan khas pergaulan anak muda di kota Makassar menjadi magnet sekaligus yang terlihat paling natural sepanjang film. Kisah cinta yang diangkat pun merupakan reproduksi wacana yang umumnya terjadi dalam romantika muda-mudi di kalangan orang Bugis-Makassar:

Si pria meninggalkan si perempuan karena merantau (suatu aktivitas sosial yang lumrah di kalangan orang Bugis-Makassar). Sekembalinya dari perantauan, ia bersatu kembali dengan kekasihnya. Mereka sepakat ingin menikah namun kemudian terhalang karena si perempuan yang berasal dari golongan bangsawan sangat tinggi uang panai’-nya sementara si pria berasal dari golongan orang biasa. Lalu keluarga pun campur tangan dan intrik pun dimulai.

Berbeda dengan Romeo dan Juliet, karya Shakespeare atau roman Perancis-Irlandia, Tristan dan Isolde, kisah cinta dengan bumbu uang panai’ menciptakan mitos yang lebih horor dari kematian:  perempuan menjadi perawan tua.

Dalam film yang berdurasi 119 menit ini, saya mencatat secara khusus dua poin menarik: gaya hidup kaum urban di Makassar dan posisi perempuan. Pertama, “kota” dalam film ini bercermin pada gambaran metropolitan a la ibukota dengan segala simbol penguatan seperti gedung-gedung mentereng, mobil mewah, hingga peralatan komunikasi yang canggih. Walaupun di beberapa adegan film terdapat simbol dan nuansa budaya Bugis-Makassar yang ditonjolkan seperti bahasa, rumah, pakaian adat, serta nilai-nilai kearifan yang dinarasikan oleh tokoh ayah Anca, namun tetap gaya hidup kaum urban kelas menengah di perkotaan muncul dalam porsi besar.

Teks film ini secara artistik maupun gamblang menunjukkan “Makassar Baru” yang tak kalah dibandingkan kehidupan di kota-kota besar lainnya. Nongkrong di cafe atau menonton live music adalah aktivitas sehari-hari. Dalam membaca hal itu, saya teringat Deleuze dan Guattari (1983) yang menulis bahwa untuk hidup selaras, manusia melakukan “tindakan merekam”. Tindakan yang tanpa disadari memengaruhi pilihan dan aktivitas seseorang dalam mengonsumsi. Dalam praktek konsumsi, pemuasan hasrat dimainkan dalam sistem kapitalisme. Itulah sebabnya ketika kencan, Anca (Ikram Noer) dan Risna (Nur Fadillah) sering digambarkan nongkrong di dalam cafe atau ketika Anca galau ia memilih berada di kedai kopi.

Pertentangan kembali dihadirkan dengan mengadu latar belakang Anca dengan Risna. Anca yang datang dari golongan orang biasa diupayakan mampu mengikuti gaya hidup kaum urban yang hedonis. Ketimbang rajin beribadah seperti Mas Boy di film Catatan si Boy, Anca dan dua sahabatnya Tumming dan Abu tetap menjalani rutinitas gaya hidup kelas menengah hari ini sebagai bagian dari “tindakan merekam” tadi. Keluarga Risna dan Farhan (Cahya Arya Nagari) yang semula akan dijodohkan dengan Risna, memapankan status sosial mereka dengan rumah mewah, mobil mewah, dan olahraga golf sebagai simbol kelas atas yang umumnya ada di kota metropolitan.

Berbagai tanda yang melekat itu membuat saya bertanya-tanya, jangan-jangan budaya Bugis-Makassar yang semula menjadi kekuatan dan nilai jual di film ini hanya berakhir sebagai tempelan karena pada akhirnya menjadi mimesis dari film-film a la ibukota kebanyakan.

Kedua, posisi perempuan dalam film ini cukup paradoks. Tokoh Risna adalah representasi perempuan bangsawan Bugis modern: cantik, berpendidikan tinggi, berpenampilan menarik, mandiri secara ekonomi, dan mudah bergaul. Gambaran ini sesungguhnya sudah menjadi lompatan besar mengingat di masa lalu, perempuan bangsawan cenderung pasif. Ia juga digambarkan berani terutama karena ia sendiri berani memilih calon suaminya, berani meminta dilamar, tak masalah mengantar jemput Anca dengan mobilnya, dan tanpa sungkan ikut membantu kekasihnya Anca mengumpulkan uang panai’. Dengan menggunakan kacamata modern (yang dipengaruhi relasi transaksional), Risna mewakili perempuan Bugis generasinya yang merasa seperti barang yang dilabeli harga karena jika mahar tak terpenuhi, maka pernikahan tak akan terjadi. Gugatan Risna sangat berbeda dengan perempuan Bugis generasi sebelumnya yang memandang uang panai’ sebagai simbol untuk memuliakan dirinya.

Angela McRobbie dalam bukunya The Aftermath of Feminism: Gender, Culture, and Social Change (2009) menyatakan terdapat disartikulasi yaitu terputusnya/terpisahnya generasi yang sebelumnya dengan generasi yang sekarang. Dalam mesin kapitalisme, para perempuan generasi Risna tercerai dari makna adat dan budayanya. Mereka dibentuk untuk memiliki identitas samaran yang berwujud perempuan modern yang memenuhi idealitas pasar. Secara fisik mereka memenuhi standardisasi kemandirian ala feminisme, namun secara mental mereka masih beriman dengan nilai-nilai yang membuat mereka bergantung pada laki-laki, seperti takut tidak menikah, menjadi perawan tua, atau melekatkan kebahagiannya pada laki-laki tertentu. Hasilnya, relasi Risna dan Anca berujung pada pemuasan idealitas. Hal ini terlihat ketika Risna ingin menikah bukan karena siap, tetapi karena takut Anca meninggalkan dia lagi. Akibatnya, Risna nekat melakukan tindakan yang oleh perempuan generasi sebelumnya dianggap sangat tercela yaitu meminta untuk “dibawa lari” oleh Anca. Tindakan itu bukan saja mempermalukan keluarganya, tetapi menyulitkan posisi Anca.

Di luar catatan tersebut, tentu masih banyak aspek-aspek lain yang bisa ditinjau lebih jauh, misalnya Anca sebagai representasi laki-laki yang hidup dalam kelindan adat-istiadat dan ego patriarki yang ternyata justru memberinya beban secara psikologis, sosial, dan ekonomi. Secara umum, film ini cukup menghibur terutama jika kamu jauh dari rumah dan merindukan percakapan dengan bahasa Melayu-Makassar. Satu hal yang hampir terlewatkan adalah persahabatan Anca, Tumming, dan Abu yang juga merupakan manifestasi dari siri’. Sebuah solidaritas yang di zaman sekarang ini sudah hampir-hampir tenggelam dengan individualisme dan kompetisi.

Referensi:

Deleuze, Gilles & Feliz Guattari. 1983. Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia. USA: University of Minnesota Press.

Millar, Susan Bolyard. 2009. Perkawinan Bugis. Makassar: Penerbit Inninawa

McRobbie, Angela. 2009. The Aftermath of Feminism: Gender, Culture, and Social Change. London: Sage Publication


Baca tulisan lainnya

Maksud Hati Ingin Menikah, Apa Daya Adatnya Posesif

Cantik: Luka tapi Suka

Appabotingeng ri Tana Ugi

Yang Berbatu yang Ber-AKSI

Upaya Menghapus Stereotip Gender dan Ras di Mata Perempuan