oleh: Ishak Salim (@isangkilang) Ilustrasi: Tristania Indah 

Saya memiliki banyak mimpi yang sulit terwujud. Bahkan andai ada beberapa kerabat atau kawan baik bersedia membantu, mimpi-mimpi itu tidak akan terpenuhi seluruhnya dalam dua atau tiga tahun ke depan.

Semua mimpi saya berhubungan dengan aksesibilitas bagi difabel di Kota Makassar.

Rumah Akses

Mimpi pertama, saya simpan di rumah kami dan semoga bisa mewujudkannya. Ini soal desain rumah. Saya bermimpi memiliki rumah yang seratus persen akses bagi kawan-kawan kami yang memiliki beragam kemampuan.

Saya punya banyak teman dengan kemampuan berbeda satu sama lain. Beberapa kawan saya buta dan tuli. Jika mereka berkunjunung ke rumah, sekadar bertamu atau berdiskusi, orang-orang di rumah saya mesti tahu bagaimana berinteraksi dengan mereka. Anak-anak saya mesti bersikap sopan dan bersalaman dengan paman atau bibi mereka, kawan-kawan saya itu.

Bagaimana jika kawan-kawan Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia SulSel) datang membawa sekotak donat ke rumah kami? Mutiara dan kakaknya tentu senang, tetapi mereka dan ibunya, bahkan saya sendiri, belum tahu bagaimana mengucapkan terima kasih dengan bahasa isyarat—baik Bisindo maupun SIBI. Lalu, bagaimana kami bisa mengobrol? Ada, tentu saja, cara lain. Hajjah Ramlah biasanya membawa penerjemah bahasa isyarat jika mengunjungi orang-orang yang ia tahu tidak paham bahasa isyarat.

Namun kunjungan bukan sekadar obrolan, bukan? Kunjungan harus dimulai dengan salam dan mesti melewati pagar dan halaman rumah. Nah, saya bermimpi membuat halaman rumah kami aksesibel bagi Paman Joni atau Paman Nasrafuddin dan istrinya yang sesekali menggunakan tongkat. Tentu lantai rumah saya haruslah menggunakan guiding block. Tetapi, biasanya hal itu hanya dibutuhkan pada kunjungan pertama. Selebihnya, setelah orientasi dan monitoring, ruang halaman saya akan segera dihapal oleh kawan-kawan kami ini. Lalu bagaimana kalau Mbak Risnah dari Yogyakarta dan suaminya David datang. Mbak Risna menggunakan kursi roda dan dalam kondisi tertentu mengenakan kedua kruknya. Ia mengalami polio sejak usia 4 tahun dan sejak itu mengandalkan kursi roda sebagai kakinya.

Jadi, kalau begitu, selain memiliki guiding block bagi kawan-kawan yang menggunakan tongkatnya, saya perlu juga mendesain halaman rumah kami tanpa undakan yang menyulitkan mbak Risna. Halaman datar atau dengan rampa adalah syarat utama agar rumah kami akses sampai ke ruang tamu. Karena punya beberapa kawan dengan alat bantu mobilitas yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka seluruh ruang dan perangkatnya haruslah menyesuaikan dengan kawan-kawan dan tetamu yang akan bertandang. Lebar pintu adalah salah satu yang harus diperhatikan. Bukan hanya pintu depan, tetapi juga seluruh pintu di dalam rumah, termasuk kamar mandi, ruang kerja, dan ruang bermain anak-anak.

Lalu bagaimana dengan kamar mandi, ruang keluarga, dapur, dan meja makan? Apakah ada desain khusus yang memudahkan tamu-tamu kami nanti? Tentu. Kamar mandi, misalnya, yang identik dengan lantai basah. Jika kawan-kawan yang menggunakan kursi roda, kruk atau kaki palsu, bisa terganggu. Apalagi jika tak ada pegangan di dinding, pasti akan jauh kesulitan lagi. Mereka bisa terpeleset. Toilet di rumah pun harus segera saya ganti, tidak boleh memakai toilet jongkok karena akan menyulitkan mereka buang air. Juga menyulitkan nenek yang sudah renta dan melemah. Jadi, sebaiknya kamar mandi dan toilet harus didesain ulang.

Sebaiknya saya segera beli buku tentang desain rumah yang akses bagi kawan-kawan difabel. Lagi pula, tentu bukan hanya kawan-kawan saya saja ada yang difabel, keluarga dekat maupun kerabat pastilah ada juga yang difabel. Satu atau beberapa orang di rumahpun berpotensi jadi difabel, karena renta, bencana, atau sebab lain entah apa. Mungkin kalian juga begitu, memiliki kawan-kawan, tetangga, dan keluarga yang difabel. Tetapi, karena rumah kita tidak akses, maka mereka memilih tidak datang bertamu. Mereka tidak mau kesulitan atau menyulitkan kita. Kalau sudah begitu, tertutup sudah pintu silaturahim.

Kalian mau punya rumah yang seperti itu? Sebaiknya mulailah memikirkan hal itu. Jika ada sedang mendesain rumah, beritahu arsitek Anda untuk memasukkan aspek-aspek aksesibilitas itu. Saya percaya, biaya membangun rumah akses akan jauh lebih murah ketimbang meredesain yang sudah terlanjur berdiri dan tidak akses di sana-sini.

Kantor PERDIK Akses dan Perpustakaan Disabilitas

PERDIK adalah organisasi pergerakan yang baru-baru saja kami dirikan. Singkatan dari Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan. Sebenarnya PERDIK masih berkantor di rumah yang tidak akses tersebut. Tetapi, sudah ada keinginan untuk mendesainnya menjadi rumah kerja untuk isu difabilitas.

Saya membayangkannya seperti ini:

Ruang depan akan menjadi etalase PERDIK. Ruang tamu akan disulap menjadi perpustakaan Akses bagi difabel sensorik maupun kinetik. Juga harus ada sudut khusus untuk anak-anak yang akses bagi anak difabel. Kebetulan ada cukup banyak buku yang kemungkinan mengundang pembaca datang. Nanti saya akan membeli sebuah komputer yang sudah terpasang program pembaca layar (screen reader) yang bisa bisa diaktifkan jika ada pembaca netra datang berkunjung dan ingin menikmati perpustakaan digital kami.

Halaman depan kantor ini, akan menjadi ruang baca bagi pengguna kursi roda atau kawan-kawan lain yang enggan untuk ke lantai dua. Betul, saya berpikir untuk mengecor sebagian atap dan membuat ruang terbuka di atas untuk bekerja, berdiskusi, dan membaca.

Mungkin akan butuh sekian belas juta untuk mengecornya. Kami bisa menabung untuk itu. Saat ini, kawan-kawan PERDIK belum membudayakan diri untuk datang dan bekerja di salah satu ruang paviliun yang kami sulap menjadi tempat kerja. Mungkin mereka belum terbiasa datang berkantor. Kebanyakan belum melihat pekerjaan pengorganisasian dan mengadvokasi isu-isu difabel mesti dikelola serius dan bukan asal kongkow-kongkow di kafe.

Pagi sampai sore adalah waktu untuk bekerja. Jika malam tiba, silakan kalau mau ngopi di kafe. Tetapi, janganlah sampai subuh atau pagi. Kalian toh harus berjuang lagi dan bertemu kawan-kawan di luar sana yang sudah ke jalan di awal pagi. Lihat saja kawan-kawan eks-pengidap kusta yang sudah sembuh. Mereka sudah berada di sejumlah titik di jalan utama Makassar. Siapa peduli dengan peningkatan kesejahteraan mereka. Mengemis adalah pekerjaan yang bisa membuat mereka makan siang dan makan malam serta memberi anak-anak jajan setiap pagi.

Kelak, saya membayangkan, PERDIK akan berisi sejumlah aktivis difabel. Baik oleh mereka yang merasa diri sebagai penyandang disabilitas ataupun tidak dan kami melebur diri menjadi aktivis difabel. Di sana, ada banyak kegiatan untuk meningkatkan kapasitas diri aktivis. Belajar sejumlah hal penting dan teknis dalam mendukung gerakan ini. Aktivis difabel harus diproduksi terus-menerus sampai tersedia banyak pasukan untuk bekerja dan memenangkan perjuangan ini.

Ya, memproduksi Aktivis Difabel. Dua puluh tahun lalu, kata ‘difabel’ memang merupakan kata atau konsep tanding melawan istilah penderita dan penyandang cacat. Cacat itu berarti rusak, masa manusia disamakan dengan barang. Tetapi, kini difabel sudah tumbuh menjadi ‘identitas gerakan’ yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia, khususnya mereka yang memiliki perbedaan kemampuan. Banyak sudah orang dan lembaga menggunakannya. Tentu tak perlu alergi dengan istilah ini bukan? Paling penting dari sekadar kata ini adalah mari berjuang bersama-sama untuk kepentingan orang banyak dan orang tertindas.

Kalau nanti aktivis difabel yang tergabung dalam PERDIK ada yang Tuli, Pengguna kursi roda, kaki palsu, Cerebral palsy, Paraplegia, Sindroma Down, dan sebagainya pasti kantor ini akan ramai dan aksesibilitasnya harus terjamin. Pokoknya, kantor PERDIK harus menjamin seluruh pekerja nyaman bekerja dan merasa setara. Untuk itu, segala bentuk akomodasi yang sesuai atau reasonable accommodation dengan aktivis ini harus disediakan oleh pengelola PERDIK. Apalagi kalau kelak PERDIK mulai membangun jaringan gerakan difabel Indonesia dengan cakupan organisasi yang lebih luas, tentu kami harus segera pindah ke kantor lain yang lebih luas. Untuk itu, PERDIK harus memiliki unit usaha mandiri agar PERDIK mengelola keuangannya secara mandiri dan kelak membeli tanah, lalu membangun kantornya sendiri. Banyak pilihan untuk berusaha, misalnya mendirikan Bengkel Disabilitas, Koperasi atau bisnis alat-alat bantu kesehatan dan sebagainya.

Tetapi harus diingat, semakin kuat PERDIK maka seharusnya semakin bertambah luas cakupan aksesibilitas di kota Makassar dan sekitarnya.

Sekolah-sekolah Akses

Sejak setahun terakhir mengantar anak ke sekolah, saya tidak pernah melihat anak-anak difabel berkursi roda, menggunakan tongkat, berbahasa isyarat, kesulitan berkonsentrasi, atau sindroma down ada di sekolah tersebut. Mungkinkah mereka dilarang? Mungkin saja.

Ada kepercayaan dan kebijakan yang mengharuskan anak difabel bersekolah di sekolah luar biasa atau SLB. Inilah bentuk praktik Eksklusi bagi anak-anak dalam pendidikan.

Mengapa pemerintah dan para guru harus memisahkan sekolah mereka? Mengapa mereka tidak membiarkan anak-anak bersekolah bersama dan membiasakan bermain dan belajar bersama-sama? Bukankah kita orang-orang dewasa saat ini gamang ketika bertemu orang buta, tuli, orang berkursi roda, kawan-kawan Cerebral palsy dan paraplegia, atau orang dewasa tetapi dengan usia mental kanak-kanak? Ya, itu karena orang-orang tua kita, pemerintah kita, ulama kita, dan guru-guru kita memang tidak membiarkan kita hidup bersama dalam keragaman kondisi kemampuan.

Butuh berapa pertanyaan yang harus saya ajukan agar Anda turut menyetujui pendapat saya bahwa sistem Sekolah Luar Biasa itu tidak sepantasnya ada di tanah Republik ini? Seharusnya, setiap sekolah menerapkan sistem pendidikan inklusi. Setiap pendidik menempatkan persoalan kepada [penyesuaian] sistem pendidikan dan tidak menimpakan kesalahan atau persoalan kepada anak-anak dan kondisi diri mereka.

Cara atau corak berpikir pendidik yang memusatkan anak didik sebagai sumber persoalan gagalnya anak dalam belajar adalah pendidik yang kurang pengetahuan dan pengalaman. Kita seharusnya selalu menunjuk kesalahan kepada sistem pendidikan yang kita bangun ketika ada anak-anak didik yang selalu tinggal kelas—bahkan selama bertahun-tahun. Kita, para pendidik seharusnya menyalahkan isi kepala kita yang kekurangan nutrisi pengetahuan ketika anak-anak didik gagal pandai membaca secepat yang kita rencanakan. Bahkan pendidik kita seharusnya tidak pernah menolak orang-orang tua yang membawa anaknya ke sekolah regular apalagi unggulan hanya karena anak itu mengenakan kursi roda dan jemari dan kakinya kaku akibat Cerebral Palsy. Kita seharusnya menerima semua ragam anak didik itu dan mulai mencari cara bagaimana membuat sejumlah penyesuaian atau Reasonable Accommodation di sekolah disediakan sedikit demi sedikit.

Lalu, bagaimana saya bisa mewujudkan mimpi itu?

Bersama PERDIK, di mana ada beberapa kawan lulusan Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNM kami yang bersemangat untuk bekerja sama. Di setiap sekolah, diupayakan berdiri satu unit khusus untuk membantu proses membawa sekolah menjadi lebih inklusi. Namanya adalah unit layanan disabilitas.

Unit ini berkoordinasi langsung dengan walikota melalui kepala dinas pendidikan, sejumlah perguruan tinggi, kepala sekolah dan guru-guru setempat untuk menyiapkan seluruh kebutuhan sekolah agar anak-anak difabel memperoleh hak belajar yang setara. Berbagai jenis akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan anak didik, guru, maupun staf sekolah harus mulai diupayakan dan ditargetkan setidaknya secara fisik, intelektual, maupun pola pelayanan ada peningkatan kualitas 10 persen setiap tahunnya. Misalnya, tahun ini mulai menerima 2-3 anak didik difabel, mulai membangun rampa dan meredesain kelas, ruang guru, ruang olah raga, toilet dll. Jika perbaikan dan pemenuhan ini dilakukan, maka dalam 10 tahun sekolah ini sudah bisa inklusi keseluruhannya. Secara fisik, sekolah ini sudah akses, perpustakaan sudah akses, jumlah guru pendukung sudah memadai, kapasitas guru meningkat melalui sejumlah training, dan seterusnya.

Bengkel Difabel

Ini sebenarnya mimpi seorang teman, namanya Eko Peruge. Dia ingin sekali mendirikan sebuah bengkel Kapal. Ya kapal, alias Kaki Palsu.

Harga kapal yang diproduksi oleh kota ini mencekik keluarga yang memiliki anak yang diamputasi kakinya. Bisa mencapai belasan juta dengan kualitas jauh di bawah standar. Eko beruntung karena sudah belajar di beberapa tempat untuk membuatnya. Dia pernah ke Solo dan Banyuwangi mendapat ilmu dari para ahli desain dan pembuat kaki palsu profesional.

Lebih dari itu, kami juga memimpikan mendirikan bengkel kursi roda dan menjual sejumlah alat bantu aktivitas sehari-hari sampai alat bantu terkait upaya menjaga kesehatan difabel. Ya, kenapa tidak. Saya punya sahabat namanya Risnawati, Ia direktur Perhimpunan OHANA dan suaminya David dari Amerika sangat jago membuat kursi roda. Suatu saat saya kan mengajaknya ke Makassar dan menyampaikan soal gagasan ini. Saya yakin, pasti dia mau mengajar aktivis PERDIK dan teman-teman lain di luar PERDIK dari berbagai lembaga manapun untuk turut belajar. Jika berdiri, artinya difabel bisa bekerja guna menopang biaya hidup dan keluarganya.

Soal mendirikan bengkel, pasti ada jalan. Masa orang Makassar tidak mau berdonasi. Kalaupun malas, yah terpaksa melobi kakek Jusuf Kalla. Siapa tahu dia tertarik. Kami siap kok mencetak di setiap kursi roda itu tulisan “Kursi Roda untuk Indonesia, terima kasih Pak JK!”

LBH Disabilitas

Tak lama setelah PERDIK berdiri, sudah ada dua kasus pemerkosaan terhadap anak-anak perempuan difabel. satu terjadi di Pasar Terong, satu lagi terjadi di salah satu SLB di kab. Soppeng. Satu pelakunya adalah buruh bangunan di pasar, satu lagi adalah kepala sekolah SLB tersebut. Nah, Ironis sekali. Orang-orang dengan kerentanan karena kondisi tubuhnya ini menjadi korban kejahatan seksual lelaki jahat. Padahal, seharusnya anak-anak ini dilindungi dan diperlakukan secara bermartabat oleh siapapun, terutama oleh negara. Apalagi, kerentanan mereka berlapis-lapis: difabel, perempuan, anak-anak, keluarga miskin, dan tinggal di tempat yang rawan. Kalau di Pasar konon banyak preman, sementara SLB tempat yang jarang diakses oleh publik luas.

Saya tahu kedua kasus ini dari media massa, dan memang media suka memberitakan saat kejadian terjadi. Sayangnya, biasanya kabar bagaimana proses hukumnya berjalan ini yang sering tidak muncul di Koran. Tapi saya bisa memaklumi. Salah satu yang paling positif yang saya pikirkan adalah kerja paralegal yang mendampingi difabel berhadapan dengan hukum ini memang sebaiknya tidak diberitakan. Ada kekhawatiran kalau-kalau pelaku melarikan diri jika tahu kalau sedang diproses. Jadi, bergerak dalam kesunyian memang dibutuhkan oleh paralegal. Apalagi kalau pelakunya dari keluarga terpandang.

Tetapi media memang kurang memberi informasi lebih lengkap di akhir proses ini. Ada baiknya, media melakukan kerja-kerja investigatif dan membantu paralegal memproses tindakan jahat tersebut di jalur hukum.

Bayangan paling buruk adalah, kasus-kasus ini tidak dikelola dengan serius oleh para pelaku advokasi dari berbagai institusi bantuan hukum. Untuk itulah kalau memang ini soal kinerja yang buruk dari paralegal, maka saya pun memimpikan suatu saat akan mendirikan LBH Disabilitas untuk khusus mengurusi isu-isu difabel berhadapan dengan hukum di SulSel. Tapi kalau sudah ada, berarti bagus, saya nanti tinggal bantu-bantu yang bisa saya bantu. Kalau tidak, ya kayaknya lebih baik bikin sendiri juga! Lebih dari satu LBH tidak apa-apa, bukan?

Media Solusi Inklusi.

Nah kalau mimpi ini awalnya hasil diskusi bersama M. Aan Mansyur. Saat itu di Katakerja, saya datang dan meminjam beberapa buku terkait media. Dia tanya mau buat apa? Saya bilang kami akan ada diskusi soal media dan disabilitas bersama dengan kawan-kawan jurnalis AJI Kota Makassar. Dia lalu bilang kalau saat ini ada yang namanya Solutions Journalism. Apa itu?

Dia memperlihatkan website dan berselancar ke sejumlah laman. Saat itu saya belum paham benar karena waktu mengobrol kami singkat saja.

Saat saya sedang mengedit sebuah buku yang akan diterbitkan oleh SIGAB terkait Perilaku Media dan Isu Disabilitas, saya teringat dengan perbincangan dengan Aan. Saya pun mulai mencari tahu dan mengunjungi beberapa link berita yang dipublikasikan oleh para jurnalis Solusi Jurnalisme ini. Lalu, muncullah mimpi itu. Seharusnya, dalam isu disabilitas, media seperti ini juga perlu ada.

Dalam buku SIGAB ini, banyak penulis difabel mengkritik media yang menampilkan difabel secara keliru. Salah satunya Jonna Damanik. Dia bilang dalam tulisannya, pola pemberitaan disabilitas yang ditampilkan kebanyakan media mainstream saat ini masih bersifat bombastik, penuh rasa kasihan, identik dengan sakit, visualisasi tidak tepat, serta berkaitan dengan keanehan dan keterbelakangan. Berbeda dengan cara media mainstream yang fokus kepada permasalahan yang dihadapi difabel, baik berupa kemuraman hidup dan masa depan ataupun ketidakberdayaan, maka Jurnalisme Solusi ini fokus kepada upaya-upaya orang, kelompok, institusi, atau siapapun terkait menyelesaikan sejumlah permasalah orang-orang.

Bagaimana mewujudkan mimpi ini? Gampang! Ajak wartawan-wartawan berkumpul, sampaikan gagasan ini, kalau bersepakat buat kesepakatan menjadi jurnalis solusi maka bangunlah komitmen bersama, lalu rekrut juga beberapa jurnalis difabel yang muda dan mau belajar, latih mereka dan bekerjalah sebagai jurnalis yang mengabarkan jalan-jalan keluar yang sedang dijalani.

Bayangkan, kalau banyak jurnalis dari berbagai pelosok Indonesia mau bergabung, maka akan ada banyak cerita difabel terkait jalan keluar dari permasalahan difabel. Orang-orang akan mengadopsi dan membuat di tempatnya masing-masing.

Nah, saat ini saya sudah membeli domain dan hosting untuk itu. Namanya masih saya rahasiakan dulu. Jadi pi baru kami launching di PERDIK.

Makassar Bebas Hambatan Bagi Difabel

Di Jakarta, ada program bernama Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT). Acaranya sederhana. Setiap hari libur, bersama belasan sampai puluhan partisipan, bertamasya ke beberapa tempat wisata di Jakarta. Selain untuk membiasakan orang-orang Jakarta melihat dan berinteraksi dengan difabel, rombongan JBFT ini juga menilai seberapa akses tempat-tempat publik tersebut bagi difabel.

Dari video beberapa kegiatan yang disiarkan teman JBFT di Youtube, tampak kegiatan itu dilakukan dengan riang gembira. Ya, seharusnya piknik memang identik keceriaan dan kegembiraan. Walaupun keceriaan itu kadang sirna karena beberapa hambatan yang ditemui difabel akibat desain fisik area yang tidak sesuai dengan mereka. Misalnya jika jalan tidak akses, maka mereka harus bergantung kepada bantuan seseorang. Tetapi dalam konteks ini, kegagalan sebuah desain tempat publik dalam memenuhi hak pengguna jalan maupun gedung merupakan sebentuk ‘kritik langsung’ yang mengena telak ke dada para pemberi layanan publik, ditambah para desainer yang kurang kreatif dan kurang luas pengetahuannya soal manusia.

Aktivitas JBFT yang positif itu patut ditiru. Saya pun bermimpi bisa membuat hal sejenis bersama kawan-kawan PERDIK dan mitranya dengan cara berbeda. Misalnya, kampanye mainstreaming aksesibilitas di Pantai Losari. Mengapa Pantai Losari?

Setiap Minggu pagi di Pantai Losari berlaku ketentuan ‘Car Free Day’ atau jalan raya tanpa mesin dan deru kendaraan. Orang-orang datang menikmati hari pagi dengan berjalan kaki dan berkursi roda tentu saja. Ada banyak hal yang bisa menghibur diri kita sebagai orang kota. Keramaian adalah salah satunya.

Saat ini, trotoar di sepanjang pantai Losari bisa dibilang bagus dan akses bagi difabel netra. Guiding block-nya tersedia. Eh, tapi tak semua orang rupanya tahu apa itu guiding block di trotoar. Kebanyakan mungkin hanya mengira panduan rabaan tongkat atau tapak kaki difabel netra tersebut, hanya ubin kuning bergaris sebagai hiasan lantai.

Ketidaktahuan sejumlah orang akan fungsi-fungsi aksesibilitas itu sebenarnya bisa dipahami. Salah satunya adalah kurangnya difabel netra yang menggunakannya dan memperlihatkan kepada orang-orang, baik sebagai pemilik toko, tukang parkir atau pedagang jalanan yang biasanya dengan sewenang-wenang menutup guiding block itu.

kita bisa memanfaatkan momen Car Free Day itu. PERDIK bisa mengorganisir untuk melakukan kampanye itu. Dan kami percaya ada begitu banyak kelompok atau komunitas warga di kota ini yang bisa diajak bekerja sama. JBFT juga sesungguhnya berasal dari beragam organisasi dan bukan hanya diikuti oleh difabel saja. Lagi pula, ada juga lembaga bernama Accesseible Indonesia yang fokus kepada isu ‘Tourism for All’ dan lembaga ini bisa saja membantu atau bermitra untuk berkampanye.

Sebutlah misalnya pada minggu pertama, kita hanya mengusung isu soal Difabel Netra. Pertama kita bisa buat lokasi nongkrong di sana dan membawa sejumlah alat-alat pendidikan, alat-alat bantu difabel netra, serta beberapa contoh alat bantu kesehatan dan memperlihatkan ke pejalan kaki tentang semua hal terkait isu difabel netra ini. Lalu, bisa pula beberapa difabel netra mempraktikkan atau mencoba trotoar akses tadi serta menilai apakah sudah memenuhi standar aksesibilitas atau tidak. Jika benar-benar ada pengguna yang sewenang-wenang merampas sejumlah ubin kotak kuning sebagai guiding block itu menjadi area berjualan, papan reklame atau lainnya maka kita bisa langsung memberinya teguran bahwa tidak semestinya mereka menutup jalan bagi difabel itu.

Jika kegiatan masih berlanjut, maka kunjungan minggu kedua dan seterusnya, isu kampanye bisa diubah dengan peserta berbeda. Misalnya, temanya adalah Budaya Tuli. Baik sekali memperlihatkan bahwa Tuli bisa berkomunikasi satu sama lain. Persoalannya hanya pada kita yang tidak paham berbahasa isyarat. Sebenarnya teman-teman Gerkatin juga sudah punya acara seperti ini, tetapi semakin banyak titik kegiatan akan semakin baik.

Intinya, jika difabel keluar rumah dan bergabung dengan warga kota di pusat keramaian seperti Pantai Losari, maka orang-orang akan mulai belajar bagaimana berinteraksi dan menghargai hak-hak para difabel. Hal yang sama berlaku bagi difabel yang larut ke dalam dunia publik, di mana mereka bisa membiasakan diri dengan keberagaman dan dunia luar.

Literasi Difabel di SulSel dan Difabelpedia

Informasi soal bagaimana difabel menghadapi kehidupan sehari-hari  (stigma, pengabaian, peminggiran, bahkan pemiskinan atau hal-hal yang menyenangkan di setiap momen hidup) merupakan hal yang sulit ditemukan. Ada banyak kisah, tetapi kisah-kisah itu tidak tertuliskan. Kita bisa mengumpulkan cerita-cerita tersebut sepanjang kita mau menanyai difabel satu per satu dan menuliskannya.

Tentu akan banyak cerita ditemukan di banyak tempat dari banyak informan. Untuk itu, tentu butuh lebih banyak orang untuk menuliskannya. Saya bermimpi bisa mengumpulkan sejumlah difabel muda yang punya talenta untuk menulis dengan baik. Saya punya banyak teman penulis, peneliti, dan tentu saja jaringan organisasi di sejumlah daerah. Ada baiknya membuat pelatihan menulis, live in di rumah informan, dan larut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bukankah salah satu syarat tulisan yang baik adalah ketika kita benar-benar hidup bersama informan dan merasakan denyut kehidupannya?

Kalau banyak difabel dibiasakan membaca, diberikan bahan bacaan berkualitas lalu meneliti dan menulis, maka ke depan akan tersedia banyak stok penulis. Para penulis difabel ini malah akan bisa menuliskan kehidupan mereka sendiri atau keluarga kecil mereka—autoetnography.

Jika tulisan ini sudah terkumpul, maka jadilah ia bahan buku terkait difabel.

Saya juga bermimpi untuk membuat sebuah buku yang menyediakan sebanyak-banyaknya informasi soal difabilitas, organisasi, kerangka kerja dan berbagai program, alat-alat penopang aktivitas, dan seterusnya. Sebutlah buku itu dengan nama DifabelPedia. Mungkin awalnya tidak harus tebal, tetapi infromasi-informasi tambahan bisa terhimpun dari waktu ke waktu.

Lebih serius lagi, mimpi membuat DifabelPedia ini seharusnya tampil bukan hanya dalam buku tetapi juga di dalam website. Setiap laman pada website itu harus akses dan memungkinkan difabel Netra dan teman Tuli bisa mengaksesnya. Bahasanya mudah dicerna dan harus ada laman khusus informasi dengan bahasa isyarat. Pokoknya, DifabelPedia ini bisa menjadi semacam arsip difabilitas bagi setiap orang yang mau tahu soal difabilitas sebagai pengantar.

Nah, dari sekian mimpi itu, kira-kira, yang mana yah yang bisa diwujudkan lebih dulu? Memang sulit, namun seperti kata pepatah, “perjalanan yang bermil-mil jauhnya selalu dimulai dengan satu tarikan putaran kursi roda.