Teks: Harnita Rahman | Foto: Tim Dokumentasi Kampung Literasi

Ada yang mencolok pada Minggu siang, 7 Mei 2017, di lapangan Wesabbe. Matahari masih sama, menyengat seperti biasa, tapi tidak cukup berpengaruh bagi sekelompok anak muda yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Umbul-umbul kelihatan mewarnai lapangan, beberapa pallet dari balok kayu juga mulai disusun. Anak-anak kecil makin semangat melibatkan diri, sesekali ibu-ibu, bapak-bapak, dan warga kompleks Wesabbe lain, keluar mengamati–sebagian dari jarak cukup jauh. Ketika siang mulai surut, seperangkat amply sound terpasang. Lapangan yang biasanya dipakai para remaja kompleks bermain bola, berubah ceria, dialasi karpet, kain-kain Prancis dan beanbag dengan warna yang juga semarak. Wesabbe siap menyambut Minggu Sore yang tidak biasa.

Wesabbe adalah sebuah kompleks kecil di Makassar yang gerbang utamanya berada tepat di depan Pintu dua Universitas Hasanuddin. Permukiman ini tersambung langsung dengan Perumahan Dosen Unhas yang lebih besar dan lebih dikenal. Bahkan di aplikasi peta beberapa layanan online pun sering menyebut kompleks ini bagian dari kompleks sebelahnya. Tetapi Wesabbe tidak sesunyi itu, sejak tiga tahun terakhir Wesabbe bergeliat di kalangan anak muda yang mencintai buku, musik, dan kegiatan-kegiatan kreatif lainnya. Café Dialektika, Kata Kerja, dan Kedai Buku Jenny, ketiga komunitas ini menjadi sumber suara yang begitu bising dan hingar di kompleks ini tiga tahun belakangan. Namun, suara-suara itu terdengar indah di kalangan tertentu saja. Justru warga kompleks Wesabbe yang sangat dekat dengan geliat kerja-kerja komunitas ini, tidak terlalu ngeh atau bahkan hanya menangkap geliat itu sebagai “kebisingan” semata. Ironis memang.

Tahun 2017 diharapkan menjadi tahun yang akan menghapus cerita ironis tersebut. Komunitas Katakerja dan selanjutnya berkolaborasi dengan Kedai Buku Jenny menginisiasi program (didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) bertajuk Kampung Literasi. Program ini akan dilaksanakan selama setahun penuh, dan Minggu Sore kemarin menjadi rangkain kegiatan Kampung Literasi yang pertama sekaligus me-launch seluruh kegiatan Kampung Literasi yang akan diadakan sampai 7 Mei 2018 nanti.

Mencari Pojok Baca di Booklet Kampung Literasi

Kira-kira pukul 16:00, selang beberapa waktu setelah salat Ashar selesai, lapangan Wesabbe mulai ramai. Persiapan teknis juga kelar. Panggung siap, kursi-kuris sudah diatur, dan para pelapak mulai berdatangan. Hampir semua pelapak adalah warga Wesabbe, sebagian yang lain adalah teman-teman yang memulai industri rumahan dengan mengusung konsep DIY. Produk yang dijajakan beragam, namun fashion dan makanan, mendominasi sore itu. Menariknya, pelapak tidak hanya dari kalangan dewasa saja. Anak-anak juga memperlihatkan semangat enterpreneurship-nya. Mereka menjual marshmallow, es teh dan slime yang mereka buat sendiri. Kegiatan Minggu Sore di Wesabbe, adalah salah satu rangkaian Kampung Literasi yang mengadopsi konsep piknik literasi dan bazaar. Akan diadakan sekali sebulan sebagai ruang sederhana bagi warga untuk berkumpul dan menikmati pertunjukan seni yang diisi oleh warga dan komunitas seni di Makassar.

Warga Wesabbe menyiapkan lapakan jualan di acara pembukaan Kampung Literasi

Lapangan Wesabbe sore itu menjadi sangat berbeda.

Pertunjukan seni dimulai oleh pentas pembuka dari anak-anak. Hampir semua pementasan diisi oleh anak-anak. Mereka bernyanyi, menunjukan hafalan AlQur’an dan membaca puisi. Remaja Wesabbe dan beberapa tamu juga turut memeriahkan panggung dengan membaca puisi. Antusias warga Wesabbe tidak hanya terbaca dari membludaknya lapangan, tapi juga diamini oleh tokoh masyarakat yang sempat menyampaikan sambutannya. Menurut beliau, warga menunggu-nunggu hari ini tiba, anak-anak berlatih untuk pertunjukannya, dan ibu-ibu sibuk menyiapkan lapakan mereka.

Anak-anak Wesabbe turut berpartisipasi sebagai pengisi acara di Panggung.

Selain Minggu Sore di Wesabbe, setiap bulannya akan diadakan kelas-kelas rutin berupa kelas Recycle and Craft, kelas menggambar, dan kelas menulis. Bukan hanya itu, tim Kampung Literasi juga menyediakan Pojok Baca yang berupa box telepon berisi buku di beberapa sudut kompleks yang memudahkan anak-anak dan remaja untuk mengakses buku-buku yang menarik. Kemudahan-kemudahan itu diharapkan akan membantu warga Wesabbe untuk mencintai buku.

Launching Kampung Literasi kemarin, dibuka oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar. Dia menaruh harapan besar bahwa kegiatan ini akan menjadi pilot project untuk pengembangan literasi di Kota Makassar. Minggu Sore yang mendung ditutup dengan penampilan manis dan hangat oleh Ruang Baca, music project Katakerja, lagu Sepanjang Jalan Kenangan yang mereka cover mengajak semua warga bernyanyi dengan bahagia. Selain cuaca yang cukup mengkhawatirkan, Minggu Sore ini berjalan sesuai harapan. Yang paling utama: warga Wesabbe antusias terlibat dan menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan mereka–dan berharap acara ini lebih sering digelar.

Sepanjang Jalan Kenangan terlantun dari Ruang Baca X Ibu RT

Namun, tidak akan selesai hingga tikar tergulung, panggung dan kursi dibereskan, lapangan telah dibersihkan atau warga telah pulang ke rumah dengan senyum bangga dan bahagia. Justru kerja keras dan konsistensi untuk kegiatan ini, sangat dibutuhkan tepat setelah Minggu Sore berakhir. Piknik Literasi yang menjadi bagian dari Minggu Sore di Wesabbe, bisa dinikmati oleh siapa saja mulai hari ini di Benteng Rotterdam dalam acara Pesta Pendidikan hingga penutupan Makassar International Writers Festival 2017. Sampai jumpa!

*Untuk teman-teman yang ingin bergabung melapak jualan buku, kerajinan, dan pakaian dalam Minggu Sore berikutnya pada tanggal 11 Juni, sila hubungi 085341912159 a.n. Nurul Aqilah M.