Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )| Ilustrasi: Randy Rajavi ( @randy_rajavi ) & Cautsar Kahvy ( @cautsar.kahvy )

Untuk wawancara Musik Hutan 2015 kali ini, Revius ingin melibatkan para talenta-talenta musik yang bakal tampil untuk bisa saling bertanya jawab satu sama lain dalam hal apa saja. Lebih tepatnya, serupa wawancara silang. Revius pun memilih Minorbebas, kuartet alt- rock/grunge dari Makassar yang terdiri dari Radhit (vokal/gitar), Suwandi Suleman (bass), Febrizal Ichal ( gitar) dan Rendy Mulandy ( drum) untuk saling bertanya jawab dengan Wildhorse yang kental dengan psych/rock n’ roll dan sekarang mantap dengan formasi dua orang saja yakni Remi Setiawan (vokal/ gitar) dan Naldy Rachman (bass).

Walaupun tidak dihadiri Rendy (Minorbebas) dan Naldy (Wildhorse), sesi wawancara silang kali ini berlangsung di luar ekspetasi Revius yang mengiranya bakal sangat kaku. Ternyata, Remi, Radhit, Suwandi dan Ichal bisa saling bertanya jawab diselingi dengan canda dan tawa, curhat yang terselubung, bagaimana faktor upa’ mempengaruhi bermusik mereka dan informasi tentang Musik Hutan dalam wawancara plus join kopi berikut ini. Cheers!

Revius : Sebagai pembuka, Seberapa penting makna dari sebuah nama band bagi kalian?

Remi (Wildhorse): Kalau saya sendiri nama sebagai fondasi band yang mencerminkan genre yang saya bawakan.

Radit (Minorbebas): Ok. Saya mau bertanya, Kalau Wildhorse itu kan bermakna ‘kuda liar’, nah sisi liar apa yang mau ditunjukkan dari musiknya Wildhorse?

Remi (Wildhorse: Dari lirik mungkin, dari instrumen, musik, yah sebagian dari itu lah.

Revius: Kalau Minorbebas?

Radit (Minorbebas): Kalau Minorbebas kayak semacam apa yah. Kemarin sempat mengalami fase hidup yang bersifat pribadi. Ada masalah percintaan. Hahahah. Tapi sebenarnya, itu kemasan popnya. Untuk kemasan serius dari kehidupan sehari-hari, biasanya kalau orang tunggal berarti tidak jamak atau sendiri. Kalau Minorbebas sendiri cenderung lebih bebas untuk berekplorasi dari sisi kepribadiannya. Biasanya kita kalau di dalam kamar sendirian, pikiran liar kadang lebih bermain bebas. Jadi tidak ada batasan. Tidak ada norma, tidak ada hukum. Betul-betul sejatinya bebas merdeka, makanya minor.

Revius: Kalau dari Wildhorse sendiri, ada yang ingin ditanyakan ke Minorbebas?

Remi (Wildhorse): Kenapa namanya bukan mayorbebas atau seksbebas?

Suwandi (Minorbebas): Hahahaha. Apa yah, kalau mayor bebas, maka band sudah bubar karena anak-anak sudah punya pacar semua.

Radit (Minorbebas): Iya, kemarin sebenarnya konteksnya lebih pada perjanjian. Ada komitmen. Jadi ini minor masuk dalam terminologi kata jomblo gitu. Kalau jomblo yah bebas, tidak ada ikatan. Cuma beberapa dari kami, alhamdulillah akhir-akhir ini tidak jomblo lagi. Sebagian. Jadi anak-anak bilang, ketika semua sudah mayor maka band bubar. Tapi kalau minor lagi jadi reuni lagi. Balikan.

Remi (Wildhorse): Jadi lebih ke cinta gitu?

Suwandi (Minorbebas): Mungkin kalau saya lebih enak ji didengar. Lebih santai untuk telinga Indonesia.

Revius: Kenapa disambung minor sama bebasnya?

Radit (Minorbebas): Karena sejatinya tunggal maka dia tidak butuh jarak. Maka spasi itu tidak perlu. Jadi minor dan bebas itu saling rapat. Teman jaki. Saling membantu. Curhat sih sebenarnya ini. Teman jaki tapi enak.

"Karena sejatinya tunggal maka dia tidak butuh jarak. Maka spasi itu tidak perlu. Jadi minor dan bebas itu saling rapat." Minorbebas tentang namanya dan mantap dengan formasi setelah momen Suwandi membanting bassnya di One Way One Vision.

“Karena sejatinya tunggal maka dia tidak butuh jarak. Maka spasi itu tidak perlu. Jadi minor dan bebas itu saling rapat.” Minorbebas tentang namanya dan mantap dengan formasi setelah momen Suwandi membanting bassnya di One Way One Vision.

Revius: Sebetulnya, tujuan kalian membentuk band untuk apa? Apakah sekedar hobi atau ada pesan yang ingin disampaikan?

Radit (Minorbebas): Awalnya sih tidak terpikirkan mau bikin band. Kan sebelumnya saya tidak di gitar. Posisi ini baru. Cuma, ini semacam cita-cita masa kecil. Dulu sering dengar Nirvana dan instrumen pertama kali yang saya mainkan, gitar. Terus lihat orang main musik, yah Kurt Cobain. Jadi kalau main gitar, yah harus nyanyi. Jadi terinspirasi. Iseng-iseng kemarin dengan sepupu-sepupu main di studio dan kemudian ada teman di KBJ selalu follow up dan berpikir ‘kenapa ini kayak mau diseriusi? padahal iseng-iseng ji’. Akhirnya awal 2015 kemarin, saya menguatkan tekad untuk panggil anak-anak dan ‘ayo deh dicoba dan kita bikin ini serius!’ Sebenarnya, peresmiannya waktu Suwandi banting bass. Di situ sebenarnya muncul ‘oh ini kayaknya racci-raccinya mi. Greget sekalinya mi’. Itu ji awal mulanya. Momentumnya itu. Awalnya saya cuma lihat itu (banting bass, red) di MTV bro, dan sekarang lihat langsung dan di sampingku. saya tidak tahu ada masalah apa.

Remi (Wildhorse): Kan tadinya awal ngeband-nya ini iseng-iseng, terus mau dibawa ke mana ini bandnya?

Radit (Minorbebas): Jadi saya lanjutkan, setelah Suwandi banting bass, sebenarnya dari situ mulai ada niat untuk aktif lagi setelah Suwandi pulang dari Solo. Saya tidak melihat keseriusan sejak dia pulang, sampai kemudian dia banting bassnya. Setelah ada keseriusan, ditambah fasilitas dan skill merekam lagu, jadi, ayo kita coba serius. dan soal mau dibawa ke mana, kita tidak terlalu seperti manusia-manusia visioner mau dibawa ke mana gagasannya. Paling buat lagu, buat merchandise, buat album. untuk album pertama sudah sampai 10 tracks dan sementara masih revisi.

Revius: Kalau dari Wildhorse?

Remi (Wildhorse): Tujuannya sih kan kami dari band SMA dan isi acara Pensi. dari 2009 ada semacam kejadian yang terjadi dalam hidup saya dan membuat saya marah. Mau berteriak tapi tidak tahu apa, makanya saya keluarkan ke dalam lagu. Jadi buat band ini ada sebuah kegelisahan di kepala yang mau diteriakkan tapi tidak tahu ke mana.

Radhit (Minorbebas): Melihat Remi, dia semacam panggil sana-sini untuk isi posisi bandnya karena dia tidak mungkin seperti Glenn Fredly, terus itu teringat saja awal-awalnya Minorbebas sebelum Suwandi banting bassnya. Jadi saya tidak tahu siapa yang mau saya panggil. Yang mau saya tanyakan, setelah mendapat medium untuk segala keluh kesah atas apa yang menimpa hidupnya, ke depannya apakah nyaman dengan kekososngan itu atau bagaimana?

Remi (Wildhorse): Untuk sementara sih saya jalan berdua saja dulu. Karena kemarin ada personil yang tidak sejalan dan ada juga proyekan lainnya. Jadi lebih baik bagaimana biar band ini tetap hidup dan tetap jalan produksi lagu, jadi fokus saja dulu berdua.

Radit (Minorbebas): Jadi tetap panggil-panggil?

Remi (Wildhorse): Iya tetap ada additional. Kemarin Bangkeng (The Jokes) dipanggil. Kalau di band sih komitmen dan konsisten yang susah.

Revius: Kenapa kalian memutuskan memainkan genre ini? apakah kalian melihat musiknya atau terpengaruh dari musisinya?

Remi (Wildhorse): Saya memainkan musik rock, karena dari SMP pulang sekolah saya lihat almarhum bapak saya putar lagu-lagu rock dan klasik. Jadi masih SMP saya sudah lihat dan tidak ada gangguan dari luar, tidak ada yang dikte jadi bebas saja. Secara pribadi milih rock karena itu, kebebasan dalam berekspresi.

Radit (Minorbebas): Kalau saya lihat Wildhorse rock lebih cross over, dan tidak terpatron dengan beberapa nama band. kalau sekarang lebih nyaman eksplorasi atau dengar band apa? karena kemarin saya lihat di rooftop sempat bawa Kings of Leon yang menurutku sangat jauh dari classic rock, itu bagaimana?

Remi (Wildhorse): Untuk sekarang, lagi asyik dengar band rock yang masih kental blues-nya. Kings of Leon juga lumayan nge-rock. Pengaruh band ke musik sih kebanyakan dari band 60’s atau 70’s.

Secara pribadi saya memilih  memainkan musikrock karena itu kebebasan dalam berekspresi," terang Remi.

Secara pribadi saya memilih memainkan musikrock karena itu kebebasan dalam berekspresi,” terang Remi.

Revius: Nah, bagaimana dengan Minorbebas?

Radit (Minorbebas): Kalau awal, saya jamming sama sepupu-sepupu. Mainnya Nirvana karena masa kecil diisi lagu-lagu itu. Jadi kebanyakan Nirvana atau Foo Fighters. Tapi semakin ke sini, kami berempat serius bicara dan latihan, materinya ada beberapa yang bisa dibilang 30 % lebih ke indie rock. Dan saya sebenarnya mendengar terminologi grunge, grunge yang mana dulu? Sejauh yang saya telusuri grunge bukan aliran musik tapi komunitas yang berpengaruh di zaman itu. Kalau warna musiknya lebih terpengaruh pada thrash metal akhir 80-an dan punk. Dan kalau dikontekskan, Minorbebas lebih banyak dengar Blur, Arctic Monkeys, sama Weezer.

Remi (Wildhorse): Kalau saya dengar grunge sejauh ini paling banter dapatnya Blur. Nah, kalau di Makassar band grunge siapa saja?

Radit (Minorbebas): Sekarang ada Pattingalo, dia nongkrong di dekat rumahnya Bangkeng. di situ banyak. Kalau yang dulu-dulu, saya juga tidak sempat menelusuri kalau di Makassar. Kalau tidak salah ada proyekan band grunge-nya Oji Game Over (Salah satu band Punk Makassar) . cuma mungkin belum tampil.

Remi (Wildhorse): Saya pernah baca artikel, Neil Young katanya pencetus musik grunge. Bagaimana menurut Minorbebas?

Radit (Minorbebas): Terus terang saya belum pernah baca, cuma kalau saya sendiri spesifik musik grunge pencetusnya itu adalah gerakan di Seattle dari Mother of Bone, kemudian jadi pearl jam, ada Nirvana masuk, juga Sonic Youth. Di periode 1989 sampai tahun 1994 khusus di sana. Tapi periode 90-an sampai 2000 itu meluas dan tidak putus, meskipun ada perdebatan soal itu (Pencetus Grunge, Red). Mungkin saya sepakat dengan Nirwan (Speed Instinct) yang mencetuskan nama grunge yah wartawan. Karena mereka tidak tahu ini musik apa.

Minorbebas for Musik Hutan 2015 ( Ilustrasi: Randy Rajavi)

Minorbebas for Musik Hutan 2015 ( Ilustrasi: Randy Rajavi)

Revius : Seni lain apa saja yang mempengaruhi penciptaan musik kalian?

Radit (Minorbebas): Sejauh ini sama sekali tidak ada. Cuma yang kami tahu, seni itu universal dan kehidupan itu seni, dan cinta itu seni. Misalnya ada teman suka fotografi, ada juga suka film, kalau Suwandi suka manga, cuma kalau terpengaruh tidak direct dan jujur mengambil dari karya seni itu.

Suwandi (Minorbebas): Kalau saya pernah baca komiknya Beck Mongolian ChopSquad. Wih, bagaimana kalau saya pakai gitar telecaster di’. Jadi bagus mungkin kalau kita pakai sepatu ini, dari potongan rambut dan fashion juga. Terinspirasi dari situ ji. Kan gitarisnya itu suka sekali Kurt Cobain jadi banyak dia singgung di situ. Ada lagunya itu full moon sway. Jadi terinspirasi dari komik.

Remi (Wildhorse): Dalam pembuatan album atau artworknya bagaimana?

Radit (Minorbebas): Jadi momen ini bagus karena belum kami diskusikan. Jadi saya harap bisa didiskusikan di sini. kalau saya secara personal suka fotografi untuk cover album.

Suwandi (Minorbebas): Kalau saya lebih suka desain grafis. Artwork-nya itu klasik. Entah itu kalau dari vynil. Cuma foto dari samping dan seperti tahun 60-an. Jadi misalnya ceweknya cantik tapi ganti monyet. Misalnya Black Sabbath, bukan mukanya mereka.

Remi (Wildhorse): Kalau saya sudah jelas akan memakai Artwork. saya lebih suka lihat ilustrasi dan saya antusias sekali kalau ada yang mau gambarkan ka’. Kalau kemarin buat lagu ada inspirasi dari buku yang saya baca, ada juga film yang saya tonton. Semua berpengaruh buat saya.

Radit (Minorbebas): Ada tidak misalnya Remi suka film, lukisan, atau puisi, atau cerpen, ada tidak lagunya Wildhorse berangkat dari karya itu?

Remi (Wildhorse): Ada. Ada lagu di album kami, saya buat setelah saya baca buku tentang usia bumi. Tentang kerusakan yang terjadi.

Tiger Eyes - Wildhorse for Musik Hutan 2015 (Ilustrasi : Cautsar Kahvy)

Tiger Eyes – Wildhorse for Musik Hutan 2015 (Ilustrasi : Cautsar Kahvy)

 

Revius: Percaya tidak dengan faktor X atau boleh dibilang seperti upa’ (keberuntungan ) dari kalian sampai bisa jadi musisi? Atau kah karena berlatih keras?

Remi (Wildhorse): Kalau saya percaya yang begitu. Karena saya rasa di diriku mau kerja bagaimana pasti selalu mau musik. Kayak ada dorongan dari dalam kalau nyamannya di musik.

Radit (Minorbebas): Nah, pertanyaanku soal itu. Kalau saya soal perjalanan Wildhorse sampai sekarang, hal-hal yang dinilai upa’ apa saja?

Remi (Wildhorse): Pas kemarin ada momen waktu mau buat album. Kebetulan yang kerja adalah personil yang hengkang. Pas mau take lagu, terakhir saya merasa ribet dan hari itu saya bertemu dengan musisi di Makassar dan jago ki main blues. Pas saya mau take malamnya, sorenya saya ketemu. Dan di situ saya rasa upa’nya.

Remi (Wildhorse): Sama ji kayaknya pertanyaanku. selama Minorbebas main band, kalian pernah merasakan namanya juga upa’?

Radit (Minorbebas): Sangat percaya sekali. Karena di luar usaha kita sebagai manusia memperbaiki dirinya, di luar itu pasti ada tangan-tangan Tuhan. Kemarin, terus terang untuk musik hutan kami beruntung karena bertemu dengan kak Ari (Panitia Musik Hutan, Red) dan kalau dilihat juga kami ini siapa? Kami belum punya album, dan hanya di panggung kebanyakan komunitas. Jadi sangat berpengaruh, terlebih memang faktor X itu soal banting bass. Hahahah. Saya waktu penelitian di Jakarta pas Desember tahun lalu, upa’ja ada orang jual gitar Squier Jaguar seperti yang saya pakai sekarang. Itu dengan harga yang menurutku sangat miring. Kebetulan waktu di Jakarta, lokasiku berada di lokasi yang disanggupi untuk COD-an. jadi merasa ja’ upa’. Bahkan saya dicoba main di studio. Dan itu bisa jadi faktor untuk serius dengan Minorbebas karena ada mi instrumenku.

Suwandi (Minorbebas): Kalau saya di Minorbebas itu tidak kenal Ical, dan tiba-tiba dihubungi sama Radit untuk bisa dibantu isi bass. Saya tidak pernah main bass untuk lagu grunge. Saya tahunya cuma punk. Pas ketemu lagi, saya suka cara mainnya dan dapat lagi Rendi yang enak pukulannya. Jadi nyaman begitu.

Ichal (Minorbebas): Saya merasa beruntung ketemu Radit. Karena dari awal mau punya band grunge. sempat ji saya ajak teman band lama tapi tidak dapat. dan kemarin diajak jadi saya senang sekali. dan jujur saya ngefans sama Minorbebas.

Revius: Kalian punya tingkat kesulitan tidak dalam menulis lirik?

Radit (Minorbebas): Kalau menulis lirik kebetulan itu tugasku dan sejauh ini tidak ada kesulitan. Karena dari bulan desember sampai Juni kemarin sampai awal puasa, kehidupanku sangat ber-adrenalin. Terutama persoalan asmara. Jalannya begitu terjal dan berliku sampai tiba di bukit yang menyajikan pemandangan yang asik. Dan menurutku perjalanan itu yang saya jadikan waktu untuk menulis lirik buat MinorBebas dan kebetulan fase-fase itu, waktu bikin lagunya Minorbebas. Jadi sama sekali tidak ada hambatan kalau mau bikin lirik. Kebetulan selama penulisan materi dan lirik saya sendiri dan kemarin mereka belum tetap sebagai personil jadi ke depannya kita bagi-bagi tugas.

Remi (Wildhorse): Dari beberapa lagu, mana yang paling mewakili hidup kalian?

Radit (Minorbebas): Susah pertanyaannya. Cuma kalau disuruh pilih satu, saya pilih Astigmatisma. Selalu dibawakan Minorbebas di set-list terakhir. Itu sebenarnya soal penyakit mata, silinder. Itu baru saya dapat saat desember juga. Kaget ja, bisa-bisaku karena tidak ada keturunan minus atau silinder jadi sempat dumba’ dan panik. Sudah tanya-tanya Suwandi juga. Kalau secara pribadi saya pilih itu.

Suwandi (Minorbebas): Ada andalanku tapi tidak masuk dalam album. Belum ada judulnya.

Radit (Minorbebas): Tidak dibuat karena itu materinya band sebelum MinorBebas.

Suwandi (Minorbebas): Kalau itu masuk album juga maka saya mau judulnya jalan saja. Itu tentang kisah asmaranya Radit.

Remi (Wildhorse):  Jadi, paling mendominasi dalam lirik soal cinta yah?

Radit (Minorbebas): Baru yang jalan saja. Saya cerita saja liriknya dan maaf kalau dituduh bias gender, tapi kami di MinorBebas agak kecewa dengan beberapa kali keputusan perempuan yang pernah ada dalam hidup kami. Ketika ditanya tentang komitmen, mereka bilang ‘jalan-jalan begini mo saja dulu’ tuh kan sangat tidak bertanggung jawab sedangkan kami penuh tanggung jawab.

Remi (Wildhorse): Selama buat lagu di Wildhorse tidak ada yang sulit. Semua berjalan seperti air. Kebanyakan saya buat lirik saat naik motor, jadi kalau ada saya dapat nada biasa saya rekam di HP biar tidak lupa. Dan begitu juga liriknya saya catat. Jadi ketika sampai di kamar langsung saya garap saja.

Radit (Minorbebas): lebih nyaman pakai Bahasa Inggris atau Indonesia?

Remi (Wildhorse): Semuanya nyaman ji, kalau bahasa inggris yah lebih asik. saya juga berusaha buat lagu Bahasa Indonesia cuma vocal-nya saya susah kalau Bahasa Indonesia.

Revius: Di Minorbebas dan Wildhorse kalau dari pengamatan, frontman tiap band ini sepertinya Radit dan Remi. Apakah secara naluri atau memang sudah diatur seperti itu?

Remi (Wildhorse): Kalau di band-ku iya di Wildhorse saya ji sendiri yang jalan dan saya ji sendiri yang take. Jadi saya semua yang garap tapi saya juga capek dan butuh ada partner yang bisa bantu. Karena sampai kapan mau sendiri, apalagi genre musiknya Wildhorse berat.

Radit (Minorbebas): Dalam posisi ini selain hambatan tadi itu, merasa tidak ini sebagai semacam pengembangan diri dalam hal musikalitas, apa memang betul-betul part hanya gitar dan nyanyi? Untuk gitar dan bass apa diatur juga?

Remi (Wildhorse): Memang hampir semua saya yang atur bass, drum, semuanya. Tapi saya rasa juga capek kalau kayaki begitu. Next saya bisa sharing ke teman-teman. Karena kemarin juga teman-temanku cuek dan dilihat saya bisa ji jalan sendiri. Jadi next ajak sharing dan lebih terbuka.

Radit (Minorbebas): Sebagai frontman sudah diatur karena dari awal memang posisiku sudah di situ. Untuk pertanyaan itu sebagian besar aransemen, konsep, ide, dan musik sebagian besar itu saya. Cuma kembali lagi ke fenomena banting bass itu karena dari situ kami serius. Makin ke sini saya lebih menanyakan bagaimana jadi saya tinggal bikin guide-nya saja. Untuk Rendi juga karena kebetulan saya juga drummer dan enak komunikasinya karena dapat. Untuk gitar di lagu, jalan saja saya kasi ical kebebasan, Suwandi juga bebas. pattern sebenarnya tantangannya ke melodi vokal karena saya kurang referensi. Setelah bikin part-part instrumen saya bingung jadi kebanyakan berat di situ. Jadi biasa sharing dengan teman-teman yang lain. Sebenarnya kebanyakan untuk band baru rilis album terkesan meng-copy.

Remi (Wildhorse): Untuk Radit, apakah pernah merasa ndak cocok jadi frontman?

Radit (Minorbebas): Saya merasa begitu karena basic saya bukan di gitar dan vokal. Saya tanya ji ical waktu itu saya ajak. ‘biasa-biasa ji itu caraku main. ndak bagaimana sekali ja’ dan memang sampai sekarang malah. Apalagi nanti di musik hutan banyak band bagus, banyak vokalis bagus, teknisinya juga orang gitar, jadi merasa ja I am not supposed to be here, but I have to rock the show. show must go on. jadi dumba-dumba.

Revius: Soal musisi yang sedang kalian dengar siapa saja? Terus, siapa musisi Makassar yang kalian apresiasi musiknya?

Radit (Minorbebas): Kalau untuk pengaruh dan sekarang yang didengar kalau saya Blur, karena eksplorasinya tidak pakai batas, makanya saya coba dengar terus dan berusaha mencari bagaimana titik temunya karena meskipun dalam tiap album beda tapi tetap terangkum dalam musik satu band. Kalau indonesia, itu terjadi pada Navicula. Saya suka sekali karena pattern gitarnya tidak melulu soal itu dan sangat variatif. Untuk luar selain Blur sekarang saya dengar Arctic Monkey. Untuk Makassar yang sangat diapresiasi jelas orang-orang yang sudah mengeluarkan album dan band yang berusaha mengeluarkan album, dan band yang sedang masuk studio dan mau seriusi bandnya. Saya sempat diskusi dengan beberapa sahabat kalau bagaimana mau di-support bandnya kalau tidak berkualitas. Saya pikir pelan-pelan, bro, Makassar belum seperti Bandung, Yogya, atau Jakarta. Jadi kalau memang kau peduli dengan musik Makassar sudah seharusnya kau membelinya apapun musik atau merchendise-nya silakan beli. Karena itu cara untuk support. Kalau mau sebut nama, banyak sekali, yang jelas mereka tunjukkan dedikasinya dalam bermusiklah.

Suwandi (Minorbebas): Kenapa bisa bikin pola seperti ini, kenapa cuek sekali di panggung, kenapa dempet sekali mainnya. Padahal itu panggung besar sekali. Kalau Indonesia saya dengar morphem, saya suka bandnya Radit yang death of destiny. Saya sebenarnya tidak suka metal tapi pas dengar di 2010 pertama kali saya dengar kenapa ada band teriak-teriak tapi enak musiknya. Kalau band dulu saya suka The Hotdogs.

Remi (Wildhorse): Kalau saya sering dengar folks suka musik dan sound. Saya suka Bon Iver, penuh halusinasi dan enak dengar tengah malam. Saya suka sekali Pink Floyd. terus untuk indonesia saya lebih Shark Move, itu bandnya Benny Soebardja. Hanya satu saja albumnya. Untuk di Makassar, saya suka band yang trus berproduksi dan tetap bersemangat. Kemarin saya sempat lihat Theory of Discoustic. Saya suka sekali musiknya. ada suasana Makassarnya, Speed Instinct juga. Hahaha.

Revius: Bagaimana pendapat Remi soal Kelompok Penerbang Roket di Jakarta?

Remi (Wildhorse): Kemarin saya dengar Soundcloud-nya, lumayan bagus tawwa. Untuk cover album juga keren. Saya kira itu grunge.

Revius: untuk Wildhorse kan kalian eksplorasi dalam album terutama yang saya dengar di Delirium. Dari penampilan kalian berpindah-pindah, Apakah kalian memang sulit menemukan pola? Atau memang kalian cepat bosan?

Remi (Wildhorse): Kalau menemukan pola agak sulit iya karena tergantung ke personel yang saya gandeng. Mungkin ke depan musiknya sudah berpola.

Revius: Okay. Minorbebas kan kalian dari beberapa band. Ini soal komitmen. Apakah kalian mau konsisten main di Minorbebas? Kalian berani tidak, keluar dari band yang pernah bersama kalian?

Suwandi (Minorbebas): Kalau saya bisa iya. Kan saya ada band juga selain Minorbebas. Saya main di Eddington, saya main di Spiral Rose. Kalau memang Minorbebas bikin saya nyaman kenapa tidak? Kalau MinorBebas bisa bikin album sampai sepuluh kenapa tidak. Daripada saya sama band yang tidak jelas buat apa, latihan saja tidak. Karena saya pribadi, haus akan panggung.

Revius: Misalnya band yang satu tabrakan jadwalnya dengan Minorbebas, yang mana yang kalian pilih?

Ical (Minorbebas): (Terdiam beberapa saat) Hmmm, Untuk itu, jalani saja. Hahaha.

Radit (Minorbebas): BDTA dan DOD saya juga punya tanggung jawab di situ. Cuma siapa yang tidak mau living on the dream, gitu kan? Maksudnya kau hidup di mimpimu. Saya pikir untuk BDTA dan DOD itu pernah dan sudah tapi belum finish dan menurutku tidak akan pernah finish. Dan menurutku kalau di Minorbebas semakin ke sini saya semakin memprioritaskan jadwal latihan Minorbebas ketimbang BDTA dan DOD. Cuma kalau toh ke depannya semakin serius, karena saya tidak bisa pungkiri, respon anak-anak bagus ke Minorbebas jadi pasti saya prioritaskan. Karena siapa yang tidak mau mimpinya jadi kenyataan. Mimpi saya kan, saya di panggung main gitar, menyanyi lagu rock, lagu Foo Fighters, lagu grunge. Dan bertemu anak-anak tiba-tiba bisa. Artinya mimpi yang jadi nyata dan pasti saya kejar mimpiku. Kalau jadwal tabrakan itu susah.

Suwandi (Minorbebas): Kalau dibilang sih teman. Kalau kita dalam satu band itu kita sudah anggap saudara. Dan tidak mungkin kita tinggalkan saudara. Jadi kalau tiga band ta’ jadi tiga keluarga kita pegang. Jadi kita harus jaga.

Radit (Minorbebas): Sebenarnya ada musisi yang begini juga. Misalnya saya bertemu Dave Grohl pasti bakal saya tanya juga karena dia musisi yang paling banyak proyekannya dan jalan semua.

Suwandi (Minorbebas): Kalau dibilang jadwal yang sama dan tiba-tiba, kalau saya ‘lalang pi siatoro’. Dan kedua kalau ada dibilang cari pembeli beras. Ada tidak uangnya?

Revius: Kan tadi Minorbebas bilang band itu seperti keluarga, jadi bagaimana menurut Remi?

Remi (Wildhorse): Band seperti keluarga kedua.

Revius: Bagaimana dengan teman-teman yang sudah hengkang?

Remi (Wildhorse): Tetap juga saya jaga hubungan baiknya karena mereka sudah seperti keluarga.

Revius: Yang kalian ketahui dari Musik Hutan sejauh ini? Boleh diceritakan?

Radit (Minorbebas): Tahun lalu saya datang sebagai pengunjung dengan Ical. Sama anak-anak lorong Ceria. Gigs-nya out of the box, ide-idenya juga. Cuma untuk pertama kalinya jadi talent jadi lebih banyak dumba-dumbanya. Itu hari saja sebagai pengunjung lumayan ribet karena harus atur tenda sendiri. Dan barang juga harus dijaga baik-baik. Itu saja ribet gimana nanti bawa alat, bawa alat musik dan siap-siap di backstage. Tapi kalau untuk Musik Hutan spirit-nya sangat relevan dengan kondisi sekarang. Tentang kritik terhadap kerusakan lingkungan. Perusakan hutan  dan kita mainnya di hutan. Jadi memang tepat konteks. Kalau saya dengan event seperti ini bisa mengajukan proposal ke greenpeace. Kalau pemerintah saya pikir tidak karena tendensi politiknya lebih besar. Jadi organisasi-organisasi yang bergerak di lingkungan hidup seperti Greenpeace atau Walhi. Itu kan bisa sangat besar. Karena Greenpeace kemarin bikin kampanye hutan dan brand ambassador-nya itu Navicula. Jadi mereka keliling kampanye di Kalimantan dan Sumatera. Dan itu skripsiku.

Suwandi (Minorbebas) : Tahun lalu saya ikut sebagai antek-anteknya Tabasco dan jalan juga lihat di sana, asyik. Tapi waktu saya tidak banyak jadi saya cepat pulang. Dari berapa jam di sana itu enak. Ini seperti woodstock, tapi mudah-mudahan di musik hutan tahun ini penontonnya seperti woodstock. Jadi gila-gilaan di sana. Jangan cuma jadi ajang nongkrong dan pergi ketemu atau cari cewek atau cowok. Kita kan mau menikmati apa itu alam dan bagaimana musik di sana. Mudah-mudahan penonton mengapresiasi apa yang ada di sana. Jadi saling menjaga lingkungan. Karena di woodstock kotor kalau habis nonton. Jadi mudah-mudahan tidak seperti woodstock sampah-sampahnya. Jangan kayak naik gunung tapi kau tinggal sampahmu di gunung. Sama ji. Bukan suka alam itu.

Ical (Minorbebas): Kan tahun lalu saya ikut juga, sama Radit. Ikut sama Terts dan anak-anak Ceria. Mau sekali ka iya main. Jadi doaku mungkin didengar. Jadi tahun ini dua kali saya main.

Suwandi (Minorbebas): Jadi kapan lagi bikin dalam hutan yang betul-betul hutan dan bikin susah-susah cari itu tempat. Jadi perjalanannya agak ekstrim memang. Jadi kalau sampai sana mikir kalau mau pulang. Jadi ada rasa-rasa mau tinggal. Mudah-mudahan penonton beserta talent bisa saling menghargai dan saling mengapresiasi.

Remi (Wildhorse): Kalau saya secara pribadi lebih ke silaturahmi bersama musisi Makassar. Jadi bisa lebih banyak sharing tentang musik. Tentang bagaimana memproduksi album dan tentang sound. Jadi itu masukan saya. Jadi bisa lebih banyak sharing-lah dengan banyak musisi dan seniman-seniman. Terus edukasi tentang alam bisa lebih kental lagi. Karena jujur, saya lebih cenderung ke lingkungan hidup. Saya lebih suka kritik soal kerusakan alam.

Ical (Minorbebas): Kalau di sana juga nantinya menjadi ajang ketemu. Kalau tadinya tidak kenal pas di sana bisa akrab. Karena kan nginap.

Revius: Upaya lingkungan hidup yang dari kecil hingga besar yang kalian lakukan? dari individu atau secara band. Tadi Remi sudah bisa dalam liriknya.

Remi (Wildhorse): Kalau saya pribadi kalau belanja di Alf*m*rt saya tidak pernah minta kantong plastiknya. Karena itu saja upayaku. Jadi walaupun kecil, tapi mungkin berpengaruh. Saya mau mengedukasi kalau belanja bawalah tas sendiri, totebag mungkin.

Suwandi (Minorbebas): Kalau saya hampir sama ji. Kan kalau kita masuk ke toko ada tempat penitipan barang, di situlah pegawai yang betul-betul awasi pengunjungnya. Tidak apa-apa bawa tas masuk. Kan lumayan mengurangi kantong plastik. Kan percuma kalau ambil lagi tapi kantong plastiknya dibuang juga, kan sama jadi sampah. Mending bawa saja kan kalau di toko buku begitu.

Remi (Wildhorse): Yang saya ketahui plastik itu bahan yang sulit diurai sama tanah. makanya edukasi tentang ini yang diperdalam di musik hutan. Bukan hanya musiknya atau euforianya tapi ke edukasi soal ini. Kalau band yang soal lirik itu tadi, kita ini berasal dari alam yang baik, jadi apa yang kau beri selama ini ke alam? alam sudah banyak memberi ke kau, jadi sekarang kau apa? masa cuma polusi dan efek-efek yang buruk yang kau tinggalkan ke anak cucu kita. Setidaknya karyaku yang mewakili isi kepalaku selama ini.

Suwandi (Minorbebas): Karena panitia bilang kalau buang sampah didenda per-orang. Itu upaya bagus kalau saya jadi betul-betul ditegur. Supaya dijaga ini tempat karena bukan tempatmu. Ujung-ujungnya panitia lagi yang disusahkan. Makanya kalau kau merokok mending kau bawa asbak. Karena itu bukan tempatmu. Jagalah alam, jaga tempat orang.

Radit (Minorbebas): Kalau saya sudah banyak gaya hidup urban yang go green. Bagaimana menyikapi plastik dan kendaraan bermotor. Saya sih lebih berbau tentang akademisi dan ke penelitian. Saya jadi volunteer di LSM lokal dan background studi juga lingkungan global jadi lebih mendalami isu lingkungan hidup dari skala lokal hingga global. Kalau di Makassar banyak LSM yang bergerak baik lokal maupun internasional, dan saya banyak berpartisipasi jadi volunteer. Kita juga melihat potensi lingkungan kita karena agak susah kita go green kalau kita tidak mengenali potensi dari kawasan kita sendiri. Misalnya arus air di mana. Terus soal tata ruang di Makassar sangat tidak memliki landasan politik yang berbasis ke lingkungan hidup. Di mana kalau bisa dilihat selokan kecil dan gampang sekali orang bangun ruko. Ketika musim hujan baru ki mengeluh. Dan media online atau cetak hanya meliput dan memberikan gambaran mengenai kondisi lingkungan misalnya banjir di Makassar. Misalnya dari hari apa sampai hari apa, surutnya kapan. Tidak ada yang bertanya kenapa. Mengapa banjirnya begini. Kalau pertanyaan itu dikasih, artinya alurnya bisa merujuk pada kebijakan apa yang pemerintah aplikasikan di kota Makassar. Itu sama sekali tidak berbasis pendekatan lingkungan. Ruang terbuka hijau misalnya, kalau kategori ruang terbuka hijau menurut WWF, Makassar hanya punya Unhas. Tapi pemerintah mengklaim bahwa semua tanaman yang ditanam di trotoar itu ruang terbuka hijau. Paradigma sangat bobrok. Jadi sedari pikiran memang kita belum mengenal lingkungan kita. Memang bagus kita punya gaya hidup go green tapi mari kita sama-sama gali potensi. Kita tinggal di RW mana, RT berapa, dan coba lihat selokannya. Kalau musim hujan kita banjir kalau kemarau kita demam berdarah. Selalu seperti itu. Dan itu memang kita tidak punya sense of belonging. Di mana kita hidup di situ kita harus peduli. Kita hanya peduli pada diri kita. Manusia rakusnya tidak ada batasnya. Cuma itu yang harus kita lawan. Kebanyakan anak muda sering lupa dan dari musik hutan ini bisa ditransformasikan pemahamannya melalui itu.

*Upa’ itu artinya keberuntungan dalam bahasa Makassar.


Kamu bisa menyimak lagu-lagu Wildhorse di sini dan juga Minorbebas via SoundCloud.

INFO terkait reservasi, daftar penampil, atau pemesanan merchandise Musik Hutan 2015, bisa anda temukan di @musikhutan atau Facebook fanpage “Musik Hutan” dan musikhutan.com


Musik Hutan official Account


Baca seri wawancara lainnya dengan penampil Musik Hutan 2015

Bhulu Ayam: “Membuat Lagu Parodi Lebih Susah dari Lagu Cinta”

Aan Mansyur: “Menghasilkan Tulisan yang Bagus Memang Tidak Pernah Mudah”

Ferry Febriansyah: “Disiplin dengan Kebersihan Sekitar”

DJ Austyn: Kuncinya, Tetap Berkarya dan Jalan Terus!

R.A.V.D.: Anak Band Harus Tahu Musik Hutan

10 Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang FirstMoon

Galarasta: “Musik Hutan adalah Ajang Temu dan Berbagi para Musisi”

Didit Palisuri: “Dengan Musik Hutan, Kita Bisa Sejenak Beristirahat dari Hiruk Pikuk Kota”

Speed Instinct: “Hutan adalah Nyawa untuk Kehidupan Manusia”

The Joeys: Ubah Pola Pikir, Jangan Buang Sampah Sembarangan!

Theory of Discoustic: “Musik Hutan adalah Salah Satu Perhelatan Musik yang Paling Serius Digodok”

Ska With Klasik: Sadar Lingkungan Mulai dari Diri Sendiri

Hollywood Nobody: Musik & Hutan are The Best Gifts