Foto: Makassar International Writers Festival ( @makassarwriters )

Perjalanan program dan workshop di MIWF 2016 pada hari pertama ditandai dengan kehadiran Dee Lestari di Chapel Benteng Rotterdam siang kemarin (18/03). Lalu, disusul dengan rangkaian kegiatan dengan begitu banyak pilihan yang menyenangkan dan bermanfaat hingga malam pembukaan MIWF 2016, sebagai berikut.

Fenomena Supernova dan Perpustakaan Berjalan

MIWF 2016 diawali dengan program Growing Up With Supernova bersama Ibu Suri, Dewi Lestari. Tahun ini seri Supernova berakhir di buku keenam, Intelegensia Embun Pagi. Pada pukul 13.00 WITA, Chapel Fort Rotterdam dipenuhi pembaca Supernova. Entah mereka telah mengikuti seri ini selama belasan tahun atau baru satu atau dua tahun belakangan, semuanya menyatu dan tak ingin menyiakan kesempatan untuk bertemu dan mendengar langsung sang pencipta semesta Supernova bercerita tentang segala hal yang dilaluinya mulai dari proses kreatif hingga hubungannya dengan seluruh karakter yang dibangunnya selama 15 tahun. Selengkapnya baca dalam liputan dari Kemal Putra, Growing Up With Supernova.

Permission Needed

Sang ibu suri Supernova, Dewi “Dee” Lestari di MIWF 2016.

Pertemuan dengan Ibu Suri berakhir dan langsung dilanjut dengan dua program book launch, From Now on Everything Will Be Different karya Eliza Vitri Handayani dan Natisha sebuah novel dari Khrisna Pabhicara. Keduanya dilaksanakan di bagian Selasar Fort Rotterdam.

Permission Needed

Eliza Vitri Handayani saat berbincang dengan hadirin di MIWF 2016.

Hadirin yang antusias mengikuti peluncuran Natisha, novel terbaru dari Khrisna Pabichara.

Hadirin yang antusias mengikuti peluncuran Natisha, novel terbaru dari Khrisna Pabichara.

Sedikit bergeser ke gedung lain di salah satu sudut Fort Rotterdam, di galeri DKM, pada saat yang sama juga berlangsung diskusi panel tentang perjalanan perpustakaan bergerak di Indonesia. Program bertajuk The Journey of Moving Libraries in Indonesia ini menghadirkan beberapa penggerak perpustakaan bergerak seperti Nirwan Arsuka dan Ridwan Alimuddin. Program ini mempertemukan beberapa penggiat perpustakaan bergerak untuk pertama kali, setelah selama ini mereka hanya saling bercerita lewat dunia maya. Juga saling memantau pergerakan kampanye literasi yang mereka jalankan. Diskusi selengkapnya telah dirangkum dalam tulisan Bukan Sekadar Pengentasan Buta Aksara oleh Hafsani H. Latief.

Permission Needed

Acara diskusi panel dengan para penggerak perpustakaan berjalan, Nirwan Arsuka dan Ridwan Alimuddin dan dipandu oleh Maman Suherman.

Pada pukul 16.00 WITA, di Chapel Fort Rotterdam juga sedang berlangsung workshop menulis dan fotografi bersama Agustinus Wibowo. “Foto yang bagus itu seperti apa?” Agustinus Wibowo membuka workshop dengan pertanyaan yang ditimpali beragam defenisi oleh peserta. “Foto yang bagus adalah foto yang sesuai gunanya,” kunci Agustinus. Penjelasannya tentang detail dalam fotografi, kemudian dijeda dengan pemberian tugas. Peserta diajak membayangkan sebuah cerita dari foto-foto yang mereka pernah lihat atau inginkan. Kemudian salah seorang peserta diminta untuk menceritakan seperti apa idenya. Tentang workshop ini, selengkapnya lihat di Fotografi Bukan Hanya Tentang Kamera dari liputan Arkil Akis.

Agustinus Wibowo dalam lokakarya fotografinya di MIWF 2016.

Agustinus Wibowo dalam lokakarya fotografinya di MIWF 2016.

Di gedung Museum La Galigo berlangsung program Enrich not Exploit bersama Alia Gabres, Zanas Fotouhi dan Lily Yulianti. Program ini terselenggara berkat kerjasama dengan The Body Shop, brand besar yang peduli terhadap isu-isu lingkungan dan sosial. Sedang di ujung teras gedung, ada kak Heru Dongeng memandu acara untuk adik-adik di Kids Corner.

Enrich not Exploit bersama Alia Gabres, Zanas Fotouhi dan Lily Yulianti.

Enrich not Exploit hari pertama bersama Alia Gabres, Zanas Fotouhi dan Lily Yulianti.

Mendengarkan dongeng bersama Kak Heru di Kids Corner.

Adik-adik mendengarkan dongeng bersama Kak Heru di Kids Corner.

Senja mulai muncul, di Taman Rasa, ada Luna Vidya mulai memandu program A Cup of Poetry. Semakin lama kerumunan orang yang melingkar semakin banyak. Selain Luna, salah satu Emerging Writers, Chalvin Jems Papilaya juga turut membacakan puisi.

Luna Vidya bersama salah satu Emerging Writers, Chalvin Jems Papilaya juga turut membacakan puisi di A Cup of Poetry.

Luna Vidya bersama salah satu Emerging Writers, Chalvin Jems Papilaya juga turut membacakan puisi di A Cup of Poetry.

Seruan Tentang Pemberangusan Buku

Malam menjelang dan pengunjung banyak mengisi tempat di Taman Cahaya. Pandangan mereka berfokus pada panggung utama. Ada sembilan orang penari, lelaki-perempuan, yang muncul di atas panggung dengan bersarung, memainkan pertunjukan seni gerak yang diiringi musik dan latar video animasi. Panggung malam itu dibuka dengan pementasan La Galigo: The Beginning dari kolaborasi koreografer Abdi Karya, musisi Juang Manyala, dan animator Dana Riza. La Galigo: The Beginning menceritakan tentang napak tilas manusia pertama di kerajaan bumi. Cerita disadur dari kitab epik terpanjang suku Bugis I La Galigo. Abdi Karya yang menjadi salah satu aktor malam itu terlihat begitu menghayati karakter yang diperankan olehnya. Olah tubuhnya begitu luwes mengikuti alur naik turun dari musik gubahan Juang Manyala dan dilatari dengan animasi buatan Dana Riza.

Abdi Karya dalam pementasan La Galigo: The Beginning di malam pembukaan MIWF 2016.

Abdi Karya bersama delapan penari lainnya dalam pementasan La Galigo: The Beginning di malam pembukaan MIWF 2016.

Setelah pementasan yang mengundang aplaus panjang, Lily Yulianti Farid sebagai founder dari MIWF didaulat ke panggung memberikan sambutan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Lily juga memanggil serta tiga kurator yang menyeleksi karya yang masuk ke MIWF untuk kemudian dipilih beberapa sebagai Emerging Writers, yaitu Aslan Abidin, Shinta Febriany, dan M Aan Mansyur. Pula Emerging Writers tahun ini, Ibe S. Palogai (Makassar), Cicilia Oday (Manado), Chalvin James Papilaya (Maluku), Wahid Affandi (Makassar), Irma Argyanti (Mataram), dan yang tidak sempat hadir, Anta Kusuma (Sangkulirang).

Permission Needed

Sambutan MIWF 2016 dari Lily Yulianti Farid, founder dari Rumata’ dan dilanjutkan dengan memperkenalkan para Emerging Writers tahun ini.

Selain kebanggaan atas berlangsungnya MIWF dan bagaimana perkembangannya dari tahun ke tahun, juga hal yang paling penting di malam pembukaan MIWF adalah seruan yang dibacakan oleh Lily, mewakili penulis-penulis Makassar. Seruan ini adalah sebagai respon atas pemberangusan buku yang sedang marak terjadi. Ini adalah sebuah ironi, karena di satu sisi orang mengupayakan budaya baca, namun di sisi lain aktivitas literasi dikebiri. Sikap MIWF tegas, menentang upaya pemberangusan tersebut dengan mengeluarkan Seruan Makassar.

Seruan Makassar

Mencermati serangkaian pemberangusan buku dan intimidasi terhadap kegiatan literasi serta kebebasan berekspresi yang terjadi belakangan ini, kami penulis-penulis Makassar menyatakan:

1. Mendukung maklumat yang telah dikeluarkan penulis pegiat literasi dan aktivis di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang dan kota-kota lainnya yang mendesak aparat kepolisian dan militer menghentikan intimidasi dan pemberangusan terhadap buku, acara diskusi, dan aktivitas literasi lainnya.

2. Menuntut pihak-pihak yang melakukan pemberangusan buku, baik dari kelompok sipil maupun negara untuk menghentikan aksinya dan menghormati kebebasan berkumpul dan berpendapat.

3. Menuntut negara untuk menindak tegas aksi pemberangusan buku dan intimidasi terhadap aktivitas literasi yang dilakukan pihak-pihak tertentu.

4. Mengajak kawan-kawan MIWF sekalian untuk membawa satu buah buku favoritnya pada hari terakhir pelaksanaan MIWF 21 Mei yang bertepatan dengan 18 tahun reformasi sebagai lambang perlawanan terhadap pemberangusan buku yang kembali marak di tanah air.

Setelahnya, Nirwan Arsuka tampil membacakan pidato kebudayaannya yang berjudul Berbagi Rasa Merdeka. Di mana ia menceritakan perjalanan saat bertemu dengan bacaan dan pentingnya membaca. Sesuai tema MIWF tahun ini, BACA!, Nirwan mengungkapkan pengalamannya membentuk simpul jejaring pustaka di nusantara. Menurut Nirwan, di era revolusi teknologi dan informasi ini listrik dan buku adalah dua tanda kemerdekaan. Keduanya membantu manusia membebaskan diri dari cengkeraman kegelapan; kegelapan lahir dan batin.

Nirwan Ahmad Arsuka membacakan pidato kebudayaannya di malam pembukaan MIWF 2016.

Nirwan Ahmad Arsuka membacakan pidato kebudayaannya di malam pembukaan MIWF 2016.

MIWF pada tahun ini kembali memberikan persembahan atau tribute to dalam bentuk film untuk Colli’ Pudjie, sosok perempuan pertama yang dipilih MIWF atas jasanya dalam menyalin dan menuliskan ulang epos La Galigo. Dalam film dokumenter yang disutradarai oleh Andi Burhamzah, disebutkan bahwa dengan perlawanan intelektualnya Colli’ Pujie meninggalkan satu warisan yang penting. “Dia tidak hanya menyalin kisah-kisah La Galigo, tapi juga menyusun bab-bab cerita. Dan itu pekerjaan intelektual.”

Andi Burhamzah (tengah), sutradara dari film dokumenter Colli Pudjie, saat berada di malam pembukaan MIWF 2016.

Andi Burhamzah (tengah), sutradara dari film dokumenter Colli Pudjie, saat menyerahkan filmnya kepada pihak sponsor utama di malam pembukaan MIWF 2016.

Setelah pemutaran film dokumenter, para hadirin dibuat merinding bahkan ada yang menitikkan air mata saat Deborah Emmanuel membacakan puisinya. Pembacaan puisi yang dilakukan Deborah ini sungguh memukau dengan sajak-sajaknya yang bercerita tentang benturan sosial. Salah satu sajaknya tentang ibunda yang meninggalkan anaknya.

Permission Needed

Penampilan memukau Deborah Emmanuel di malam pembukaan MIWF 2016.

Memasuki penghujung malam pembukaan, AriReda menjadi penampil paling akhir. Duo folk akustik Indonesia ini tidak sekadar datang khusus di MIWF 2016. Tetapi, juga merupakan titik terakhir dari rangkaian tur mandiri pertama mereka, Still Crazy After All These Years Tour. Membawakan sejumlah lagu yang merupakan musikalisasi puisi, salah satunya dari puisi Sapardi Djoko Damono berjudul Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Fransisco.

AriReda saat tampil di panggung pembukaan MIWF 2016.

AriReda saat tampil di panggung pembukaan MIWF 2016.

“Makassar jadi kota terakhir tur AriReda dan penentu bagi kami untuk melakukan tur. Sambutan di MIWF juga membuat kami merencanakan tur berikut ke kota-kota lainnya,” kata Reda Gaudiamo, rekan duet Ari Malibu. Selain itu, Reda juga mengatakan bahwa mereka akan tampil lagi hari ini bersama Joko Pinurbo dalam program Singing Your Poetry bersama Joko Pinurbo.

Hari pertama MIWF 2016 yang beragam masih berlanjut pada hari ini. Untuk informasi jadwal MIWF 2016 yang lengkap, silakan cek di makassarwriters.com.


Baca tulisan lainnya dari MIWF 2016

Wahid Affandi: Dari Komunitas, Saya Belajar Menulis

Chalvin Jems Pepilaya: Generasi Kita Jangan Takut-takut

Irma Agryanti: Cerpen dan Puisi adalah Mengalami

Cicilia Oday: Semua Dimulai dari Lamunan dan Perasaan Sepi

Anta Kusuma: Aku Terinspirasi dari Kejadian Nyata

Ibe S. Palogai: Tulis Mi Apa Maumu!